Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Lingkaran yang Mulai Menyempit
Ujian dari Maya
Malam itu café sudah tutup.
Anak-anak di atas.
Aruna lagi mandiin Arkana.
Maya duduk di meja paling ujung.
“Duduk,” katanya ke Arka.
Arka nurut.
Nggak ada kopi.
Nggak ada basa-basi.
“Lo tau nggak gue hampir benci banget sama lo?” Maya mulai.
Arka angkat bahu kecil.
“Pantes.”
“Gue yang gendong Aruna ke UGD. Gue yang tanda tangan persetujuan operasi.”
Arka membeku.
“Operasi?”
“Lo kira lahir kembar tiga itu kayak lahir anak kucing?”
Arka menunduk.
Maya lanjut, suaranya lebih pelan tapi tajam.
“Waktu dokter bilang salah satu detak jantung melemah, Aruna cuma bilang satu hal.”
Arka angkat kepala.
“‘Selamatin anak-anak gue dulu.’”
Sunyi.
“Dia nggak nyebut nama lo. Bukan karena benci. Tapi karena dia udah mutusin lo nggak ada.”
Kalimat itu berat banget.
Arka tarik napas dalam.
“Aku nggak akan lari lagi.”
Maya miringkan kepala.
“Semua orang bisa ngomong.”
“Aku siap dites.”
Maya senyum tipis.
“Oke. Jangan cuma deket sama yang paling lembut.”
“Arsha.”
“Iya. Yang paling keras itu Arven. Yang paling bahaya itu Arkana.”
Arka hampir senyum.
“Aku sadar.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari Aruna bilang ‘cukup’, lo harus hormat.”
Arka diam beberapa detik.
“…iya.”
Maya berdiri.
“Gue nggak janji dukung lo. Tapi gue juga nggak akan sabotase. Buktikan aja.”
sepulangnya arka dari toko Aruna dia lansung kembali ke kota untuk mengurus bisnisnya yang urgent sebelum kembali lagi ke kota kecil itu.
---
Lingkaran Arka
Di sisi lain kota.
Ruang kerja besar.
Empat pria duduk santai dengan minuman di tangan.
Raven — pengusaha properti, paling cerewet.
Kael — investor, logis, dingin.
Aidan — pemilik jaringan hotel, santai tapi tajam.
Dan Dimas — dokter pribadi Arka, yang dulu pernah diminta nyari data persalinan Aruna.
Raven yang pertama buka suara.
“Jadi lo serius? Anak tiga?”
Arka duduk bersandar.
“Iya.”
Aidan hampir tersedak minumannya.
“Bro… tiga? Lo nyimpen plot twist buat hidup lo sendiri?”
Kael geleng pelan.
“Umur lima tahun berarti mereka udah punya karakter. Lo telat.”
“Gue tau,” jawab Arka datar.
Dimas angkat alis.
“Yang dulu gue bilang ‘lebih dari satu janin’ itu… ternyata tiga ya.”
Arka cuma ngangguk.
Raven bersiul pelan.
“Gokil. Jadi sekarang lo mau apa? Tiba-tiba masuk terus bilang ‘Papa pulang’?”
Arka menatapnya datar.
“Gue nggak akan maksa.”
Aidan ketawa kecil.
“Bagus. Karena anak lima tahun sekarang lebih galak dari investor.”
Kael serius.
“Lo siap ditolak?”
“Udah.”
Raven condong ke depan.
“Lo nggak bisa pake cara bisnis di sini.”
Arka hampir senyum tipis.
“Gue tau.”
Dimas ikut nimbrung.
“Anak perempuan biasanya paling dulu luluh.”
Arka menatapnya.
“Udah.”
“Tuh kan,” Raven langsung nyengir.
“Classic.”
“Tapi yang cowok?” tanya Aidan.
Arka diam sebentar.
“Yang satu frontal. Yang satu diem tapi ngukur.”
Kael mengangguk.
“Berarti yang diem itu bahaya.”
“Iya.”
Raven ketawa.
“Selamat datang di dunia yang nggak bisa lo kontrol, Bos.”
Arka menghela napas.
“Gue nggak mau kontrol. Gue cuma mau ada.”
Sunyi sebentar.
Aidan menatapnya lebih serius.
“Lo masih cinta ibunya?”
Pertanyaan itu bikin ruangan beda.
Arka nggak langsung jawab.
“…iya.”
Raven menggeleng pelan.
“Berarti ini bukan cuma soal anak.”
Kael menyandarkan badan.
“Masalahnya bukan cuma diterima anak. Tapi juga diterima perempuan yang udah belajar hidup tanpa lo.”
Arka tahu itu.
Dan itu justru yang paling berat.
Dimas akhirnya berdiri.
“Kalau lo jatuh lagi kali ini, jangan sendirian. Minimal kabarin.”
Raven ketawa.
“Iya, jangan tiba-tiba mabok terus nyalahin takdir.”
Arka berdiri juga.
“Gue nggak akan mundur.”
Kael menatapnya tajam.
“Pastikan lo nggak cuma ngejar rasa kehilangan. Tapi siap jadi ayah.”
Arka mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Dia masuk ke medan yang nggak bisa dibeli,
nggak bisa dimenangkan dengan strategi cepat,
dan nggak bisa diselesaikan dengan satu keputusan besar.
Karena ini bukan soal bisnis.
Ini soal tiga anak
yang lahir tanpa namanya.
---