Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Saksi di Ujung (2)
Liu Haifeng masih duduk di kursinya.
Ruangan itu tidak berubah—meja kayu sederhana, dua gelas air, dan cahaya lampu putih yang sedikit terlalu terang. Namun atmosfernya terasa lebih berat dibanding beberapa menit sebelumnya.
Keputusan untuk mundur sudah diucapkan.
Sekarang yang tersisa hanyalah konsekuensinya.
Gu Yanqing tidak segera berbicara.
Ia memperhatikan Liu Haifeng dengan tenang.
Mandor proyek Dongkou Port itu tampak seperti seseorang yang berdiri di tepi jurang. Tidak jatuh, tetapi juga belum mundur.
Tangannya masih berada di atas meja.
Jari-jarinya bergerak kecil, seolah menekan sesuatu yang tidak terlihat.
“Jika Anda sudah memutuskan,” kata Gu akhirnya, “saya tidak akan menghentikan Anda.”
Nada suaranya tetap datar.
Tidak ada upaya membujuk.
Tidak ada tekanan.
Justru karena itu, Liu Haifeng sedikit mengangkat kepalanya.
“Begitu saja?”
Gu Yanqing mengangguk ringan.
“Kesaksian di pengadilan harus diberikan secara sukarela.”
Ia berhenti sejenak.
“Jika seseorang dipaksa, kesaksian itu justru akan kehilangan nilainya.”
Liu Haifeng menatapnya beberapa detik.
Seolah mencoba memastikan apakah kalimat itu benar-benar tulus.
“Kalau begitu,” katanya perlahan, “kasus ini akan menjadi lebih sulit bagi Anda.”
Gu Yanqing tidak menyangkal.
“Itu benar.”
Jawaban yang terlalu jujur.
Liu Haifeng menghela napas panjang.
Ia menggosok wajahnya dengan kedua tangan.
Selama beberapa detik ruangan kembali sunyi.
Gu Yanqing menunggu.
Ia memahami satu hal: seseorang yang berada di bawah tekanan sering membutuhkan ruang untuk memikirkan ulang kata-katanya sendiri.
Akhirnya Liu berkata lagi.
“Saya tidak takut pada pengadilan.”
Ia berhenti.
“Saya takut pada hal-hal di luar pengadilan.”
Kalimat itu diucapkan pelan, tetapi jelas.
Gu Yanqing memandangnya tanpa perubahan ekspresi.
“Ada yang menghubungi Anda.”
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Liu Haifeng tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia tertawa kecil.
Tawa yang kering.
“Anda cukup pintar.”
“Cukup untuk mendengar apa yang tidak dikatakan.”
Liu menggeleng.
“Itu hanya telepon.”
“Tidak ada ancaman langsung.”
“Tapi cukup jelas.”
Ia menatap meja.
“Saya disarankan untuk tidak ikut campur.”
Gu Yanqing tidak bertanya siapa yang menelepon.
Ia juga tidak bertanya kapan.
Hal-hal seperti itu bisa dibahas nanti.
Sekarang yang penting adalah keadaan Liu sendiri.
“Apakah mereka menyebut kasus Dongkou Port?”
Liu mengangguk.
“Secara tidak langsung.”
“Bagaimana?”
“Mereka bilang beberapa proyek besar tidak suka diganggu.”
Gu Yanqing mencatat kalimat itu dalam pikirannya.
Bahasanya kabur.
Tetapi maknanya sangat jelas.
Liu Haifeng menatap Gu lagi.
“Menurut Anda… orang seperti saya bisa melawan hal seperti itu?”
Pertanyaan itu bukan retorika.
Ia benar-benar ingin tahu.
Gu Yanqing berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Melawan bukan kata yang tepat.”
Liu mengerutkan kening.
“Lalu apa?”
“Memberikan kesaksian.”
Gu menjawab dengan tenang.
“Di pengadilan, Anda tidak melawan siapa pun.”
“Anda hanya mengatakan apa yang Anda lihat.”
Liu tersenyum pahit.
“Dunia nyata tidak sesederhana itu.”
“Benar.”
Gu tidak menyangkal.
“Tapi hukum tetap berjalan dengan cara itu.”
Ia bersandar sedikit di kursinya.
“Jika setiap saksi mundur karena tekanan, maka tidak ada kasus besar yang pernah sampai ke pengadilan.”
Liu Haifeng terdiam.
Kalimat itu tidak terdengar seperti pidato.
Lebih seperti fakta yang dingin.
Gu melanjutkan.
“Namun saya tidak akan meminta Anda mengambil risiko yang tidak Anda inginkan.”
Ia menunjuk map di atas meja.
“Kasus ini tidak bergantung sepenuhnya pada satu orang.”
Liu mengangkat alis.
“Maksud Anda?”
Gu tidak membuka map itu.
Namun di dalam pikirannya, panel sistem yang muncul sebelumnya kembali teringat.
Rekaman percakapan internal proyek.
Bukti yang dapat memperkuat struktur gugatan.
“Beberapa bukti lain sudah disiapkan,” kata Gu dengan tenang.
“Kesaksian Anda penting.”
“Tetapi bukan satu-satunya dasar.”
Liu Haifeng tampak sedikit terkejut.
“Kalau begitu… kenapa Anda masih ingin saya bersaksi?”
Gu Yanqing menjawab tanpa ragu.
“Karena kebenaran lebih kuat jika didukung oleh seseorang yang benar-benar melihatnya.”
Ruangan kembali sunyi.
Liu menatap tangan sendiri.
Gerakan jari-jarinya perlahan berhenti.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian ia berkata pelan.
“Dua hari lalu saya melihat berita tentang kecelakaan itu lagi.”
Gu menunggu.
“Ada keluarga pekerja yang meninggal.”
Suaranya semakin rendah.
“Mereka masih menunggu hasil penyelidikan.”
Liu menarik napas panjang.
“Saya tahu apa yang terjadi di lokasi.”
Ia menutup matanya sejenak.
“Jika saya mundur… mungkin hidup saya akan lebih tenang.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Gu Yanqing tidak menyela.
Liu membuka matanya kembali.
“Tapi setiap kali saya melihat berita itu… saya akan tahu bahwa saya sebenarnya bisa mengatakan sesuatu.”
Ia menatap Gu langsung.
Tatapannya berbeda sekarang.
Lebih stabil.
“Saya tidak pernah menganggap diri saya orang berani.”
Ia tertawa kecil.
“Tapi saya juga tidak ingin menjadi orang yang pura-pura tidak melihat.”
Beberapa detik hening berlalu.
Lalu Liu Haifeng berkata dengan jelas.
“Saya tidak akan menarik kesaksian saya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun beratnya terasa nyata.
Gu Yanqing menatapnya beberapa saat.
Ia tidak tersenyum.
Tidak ada ucapan selamat.
Ia hanya mengangguk sekali.
“Saya mengerti.”
Liu sedikit mengernyit.
“Itu saja?”
“Ini keputusan Anda.”
Gu menjawab tenang.
“Bukan kemenangan saya.”
Liu Haifeng menghela napas panjang.
Seolah sesuatu yang berat akhirnya dilepaskan dari dadanya.
Namun ekspresinya tidak benar-benar lega.
Lebih seperti seseorang yang baru saja menerima risiko.
“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini,” katanya.
Gu menjawab singkat.
“Tidak ada yang tahu.”
Liu berdiri dari kursinya.
Ia merapikan pakaian kasualnya secara refleks.
Gerakan kecil yang menunjukkan ia mencoba mengembalikan ketenangan.
Sebelum pergi, ia berhenti di dekat pintu.
“Jika mereka menelepon lagi…”
Ia berhenti.
“Apakah saya harus memberi tahu Anda?”
Gu Yanqing menjawab tanpa ragu.
“Ya.”
Liu mengangguk pelan.
Kemudian membuka pintu.
Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.
“Saya hanya berharap semua ini ada artinya.”
Gu Yanqing memandangnya.
“Kebenaran selalu memiliki arti.”
Liu tidak berkata apa-apa lagi.
Ia keluar dari ruangan itu.
Pintu tertutup pelan.
Keheningan kembali memenuhi ruang pertemuan kecil itu.
Gu Yanqing tetap duduk di kursinya selama beberapa detik.
Kemudian—
panel sistem muncul kembali di dalam kesadarannya.
───────────────
SISTEM KENAIKAN KEKAYAAN
Status Saksi Utama: Stabil
Kemungkinan keberhasilan gugatan: meningkat
Bukti cadangan: siap digunakan
Analisis Risiko:
Kemungkinan tekanan terhadap saksi tetap tinggi
───────────────
Panel itu perlahan memudar.
Gu Yanqing berdiri dari kursinya dan berjalan ke jendela kecil di ujung ruangan.
Di luar, kota Linhai tetap bergerak seperti biasa.
Mobil berlalu.
Orang-orang berjalan di trotoar.
Seolah tidak ada yang berubah.
Namun Gu Yanqing tahu satu hal dengan sangat jelas.
Keputusan Liu Haifeng hari ini hanyalah langkah pertama.
Jika pihak yang terlibat dalam proyek Dongkou Port benar-benar ingin menghentikan kasus ini—
maka tekanan terhadap saksi tidak akan berhenti pada satu panggilan telepon.
Permainan sebenarnya…
kemungkinan baru saja dimulai.