NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / CEO / Romantis / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:62.5k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian yang tersembunyi

"Biar saja Mbok. Memang pada dasarnya dia kampung. Dikasih hidup enak, jadi istri konglomerat secara instan malah milih jadi pembantu!"

Gia dan Mbok Yem sama-sama menoleh pada suara yang terdengar menghina itu.

"Saya hanya ingin menantu Mbok Yem saja Mama mertua" Jawab Gia dengan suara yang lebih keras, karena sebelumnya Nyonya besar Ardiansyah itu menyebutnya seperti tikus.

Dia sedikit merasa tidak enak pada Mbok Yem karena ucapan Nyonya besar seperti menghina profesi seorang asisten rumah tangga.

"Kamu harusnya tau apa saja yang harus kamu lakukan untuk menjadi.seorang Nyonya Ardiansyah. Daripada kamu berkutat di dapur, lebih baik belajar tata krama, cara makan yang bagus, cara berpenampilan yang baik, atau minimal mencari tau hal-hal apa saja yang dilakukan oleh Ares saat bertemu koleganya. Kamu jangan sampai membuat anak saya malu!"

Tangan Gia mengepal dengan kuat. Sampai sekarang dia tidak berani melakukan apa yang diperintahkan oleh Ares untuk melawan apa pun yang menyakiti hatinya. Karena memang pada dasarnya, apa yang dikatakan Nyonya besar adalah kebenaran.

Dia tidak tau apa-apa. Dia tidak bisa sebanding dengan Ares seperti Siska.

"Saya akan belajar untuk tidak membuat Mas Ares malu Ma!"

"Ck, saya bosan mendengar omongan kamu itu. Nyatanya tidak ada bedanya sama sekali setelah beberapa hari!"

Nyonya besar dengan rambut sanggul tingginya itu berlalu begitu saja dengan kipas yang menari-nari di depan wajahnya.

"Yang sabar ya Non, Nyonya besar itu sebenarnya baik. Tapi dia menang tegas seperti itu!"

Gia tersenyum dengan kaku, memaksa bibirnya untuk tersenyum saat hatinya sedang sakit tentu saja tidaklah mudah.

"Tidak papa Bi, aku yakin Mama melakukan itu demi kebaikanku!"

🌹🌹🌹

Hujan turun deras membasahi kaca jendela mansion malam itu. Ares baru saja masuk ke dalam rumah yang sudah gelap saat ia melihat Gia berjalan menuju dapur dengan langkah jinjit, seolah takut mengganggu kesunyian rumah.

​Gia mengenakan piyama katun panjang dengan motif bunga kecil, tampak sangat kontras dengan kemewahan dapur marmer tersebut. Ia sedang berusaha meraih kotak teh di lemari atas, namun tubuhnya yang mungil membuatnya kesulitan.

​Tiba-tiba, sebuah lengan kekar terulur dari belakang tubuhnya. Aroma maskulin yang familiar seketika mengepung indra penciuman Gia. Tanpa suara, Ares mengambilkan kotak teh itu dan meletakkannya di depan Gia.

​"Mas Ares?" Bisik Gia terkejut. Dia menunduk dalam karena jarak mereka yang sangat dekat.

​"Belum tidur?" tanya Ares. Suaranya rendah, beradu dengan suara rintik hujan di luar.

​"Belum, Mas. Saya... saya merasa sedikit kedinginan, jadi mau buat teh hangat. Mas baru pulang?"

"Hmm, ada beberapa masalah, jadi Mas pulang agak terlambat" ​Ares tidak langsung pergi. Ia justru menyalakan pemanas air.

"Duduk saja. Biar Mas yang buatkan!"

"Tapi Mas baru pulang, pasti capek. Biar Gia yang buatkan Mas!"

Ares terdiam, dia.melirik Gia yang masih berdiri di sampingnya.

"Mas senang kamu menyebut namamu sendiri saat bicara sama Mas. Kita terasa lebih dekat!"

Gia menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Sudah duduk saja!" Ares mendorong bahu Gua pelan agar duduk di kursi bar menunggu dirinya membuat teh.

​Gia tertegun. Seorang CEO besar seperti Ares membuatkan teh untuknya. Ia terus memperhatikan punggung lebar Ares yang bergerak efisien. Ada rasa nyaman yang aneh, namun juga rasa asing yang besar. Mereka berbagi ruang, tapi mereka belum benar-benar berbagi cerita.

​Ares menyodorkan cangkir teh hangat itu. Ia tetap berdiri di seberang meja, menjaga jarak yang sopan.

​"Gia, apa kamu betah di sini?" tanya Ares tiba-tiba. Pertanyaannya terdengar sangat berhati-hati.

​Gia mengaduk tehnya perlahan, dia ingin bicara namun takut salah kata dan menyinggung Ares.

"Rumah ini sangat indah, Mas. Tapi, kadang Gia merasa terlalu kecil untuk berada di sini"

"Kamu memang kecil!" Ares mengacak pucuk kepala Gia dengan pelan disertai senyum tipis diwajahnya selalu mengejek Gia yang memang memiliki tubuh kecil jika dibandingkan dengan Ares.

"Lucu juga kalau panggil kamu kecil, cil..kecil!"

"Mas!" Geram Gia dengan suara pelan dan kening berkerut, bibir cemberut. Sungguh tampak menggemaskan hingga membuat Aresta Ardiansyah yang terkenal kaki dan menyeramkan di laut sana justru terkekeh di hadapan Gia.

"Mas punya sesuatu buat kamu!"Ares beranjak namun tak lama kembali membawa satu kotak kardus berukuran cukup besar.

"Apa ini Mas?" Gia penasaran.

"Buka saja!"

Gia sesekali menatap Ares, tangan kecilnya kemudian mulai membuka kotak itu.

Bukan perhiasan berlian atau tas mahal, melainkan sebuah kamera polaroid dan sebuah buku sketsa berkualitas tinggi.

​"Mas dengar dari Mbok Yem kamu suka menggambar dan mengambil foto. Pakai ini, jangan pernah merasa harus meminta izin untuk menjadi dirimu sendiri di rumah ini!"

"Terima kasih Mas!" ​Gia memeluk buku sketsa itu di dadanya. Matanya berkaca-kaca. Ares tidak menghujaninya dengan kata-kata cinta yang muluk dan tak mungkin juga Gia dapatkan, tapi pria itu memperhatikannya. Ares mendengarkan hal-hal kecil tentangnya dari Mbok Yem.

​"Kalau kamu butuh sesuatu untuk kesibukanmu, seperti ini contohnya, kamu bilang saja sama Mas!" Perintah Ares dengan lembut.

"Jangan hanya mengurung diri. Mas tidak mau kamu merasa seperti tahanan di sini!"

​Ares kemudian melangkah mendekat, hanya untuk menyelipkan sehelai rambut Gia yang jatuh ke depan wajahnya. Sentuhan jarinya sangat singkat, namun jemarinya terasa hangat di kulit Gia.

"Tadi Mama menyakitimu lagi ya?"

"T-tidak Mas. Mama melakukan itu demi kebaikan Gia juga!"

​"Maaf karena Mas tidak ada di sini waktu Mama menyakitimu!" Ares mengusap lembut pipi Gia, dia terdengar menyesal dari nada bicaranya.

"Tidak papa Mas. Gia benar-bener tidak papa. Gia menganggap itu adalah perhatian dari Mama agar Gia bisa belajar lebih baik lagi"

"Nanti Mas akan bicara sama Mama. Sekarang habiskan tehmu, Mas mandi dulu!" Ares kembali memberikan usapan lembut di pipi Gia sebelum melangkah pergi meninggalkan dapur dan Gia.

Gia memegang pipinya yang baru saja tersentuh jemari Ares. Perlakuan Ares begitu manis, begitu menjaga, namun ada sekat yang tidak terlihat. Ares memperlakukannya seperti sebuah porselen mahal yang mudah pecah, dijaga dengan penuh kehati-hatian, namun belum berani ia peluk dengan sepenuh hati.

1
Cindy
lanjut
Esther
Ares cemburu berat sama Satria🤭
astr.id_est 🌻
cieee celembu 🤭😄😄😄
astr.id_est 🌻
romantis bgtt ares 🥰🥰🥰
Shee_👚
gpp di posesif suami sendiri, toh posesif juha kebutuhan dan ke ingin gia terpenuhi jadi nikmati aja di cintain sebegitu besarnya sama suami
Shee_👚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Shee_👚
ada yang kebakaran tapi bukan karena api🤭
Shee_👚
aduh cilaka ini di pasangin sama satria, bisa-bisa ares berasap 🤣🤣🤣
Hanima
Lanjut Gia
Hanima
👍👍
Esther
Ares bener2 ya😄
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Gia semoga kamu selalu bahagia 🥰🥰
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tahu yang lembut?
Maharani Rani
lanjuttt😍
astr.id_est 🌻
sukaaaaaa
Nar Sih
tuh kan jdi pusat perhatian gia yg yg sdh ketahuan istri ceo ares ardiansyah pasti bnyk mahasiswa yg patah hti nih
Hanima
Lanjut Aress
Shee_👚
gpp lah di posesif selama itu untuk kebaikan, selama tidak mengekang pa pun ke bahagian gia.
merry yuliana
crazy up kak 💪🙏
Shee_👚
satria lngsung kicep dah liat ares, sabar ga satria belum jodoh🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!