NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Tamat
Popularitas:579.2k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian yang tersembunyi

"Biar saja Mbok. Memang pada dasarnya dia kampung. Dikasih hidup enak, jadi istri konglomerat secara instan malah milih jadi pembantu!"

Gia dan Mbok Yem sama-sama menoleh pada suara yang terdengar menghina itu.

"Saya hanya ingin menantu Mbok Yem saja Mama mertua" Jawab Gia dengan suara yang lebih keras, karena sebelumnya Nyonya besar Ardiansyah itu menyebutnya seperti tikus.

Dia sedikit merasa tidak enak pada Mbok Yem karena ucapan Nyonya besar seperti menghina profesi seorang asisten rumah tangga.

"Kamu harusnya tau apa saja yang harus kamu lakukan untuk menjadi.seorang Nyonya Ardiansyah. Daripada kamu berkutat di dapur, lebih baik belajar tata krama, cara makan yang bagus, cara berpenampilan yang baik, atau minimal mencari tau hal-hal apa saja yang dilakukan oleh Ares saat bertemu koleganya. Kamu jangan sampai membuat anak saya malu!"

Tangan Gia mengepal dengan kuat. Sampai sekarang dia tidak berani melakukan apa yang diperintahkan oleh Ares untuk melawan apa pun yang menyakiti hatinya. Karena memang pada dasarnya, apa yang dikatakan Nyonya besar adalah kebenaran.

Dia tidak tau apa-apa. Dia tidak bisa sebanding dengan Ares seperti Siska.

"Saya akan belajar untuk tidak membuat Mas Ares malu Ma!"

"Ck, saya bosan mendengar omongan kamu itu. Nyatanya tidak ada bedanya sama sekali setelah beberapa hari!"

Nyonya besar dengan rambut sanggul tingginya itu berlalu begitu saja dengan kipas yang menari-nari di depan wajahnya.

"Yang sabar ya Non, Nyonya besar itu sebenarnya baik. Tapi dia menang tegas seperti itu!"

Gia tersenyum dengan kaku, memaksa bibirnya untuk tersenyum saat hatinya sedang sakit tentu saja tidaklah mudah.

"Tidak papa Bi, aku yakin Mama melakukan itu demi kebaikanku!"

🌹🌹🌹

Hujan turun deras membasahi kaca jendela mansion malam itu. Ares baru saja masuk ke dalam rumah yang sudah gelap saat ia melihat Gia berjalan menuju dapur dengan langkah jinjit, seolah takut mengganggu kesunyian rumah.

​Gia mengenakan piyama katun panjang dengan motif bunga kecil, tampak sangat kontras dengan kemewahan dapur marmer tersebut. Ia sedang berusaha meraih kotak teh di lemari atas, namun tubuhnya yang mungil membuatnya kesulitan.

​Tiba-tiba, sebuah lengan kekar terulur dari belakang tubuhnya. Aroma maskulin yang familiar seketika mengepung indra penciuman Gia. Tanpa suara, Ares mengambilkan kotak teh itu dan meletakkannya di depan Gia.

​"Mas Ares?" Bisik Gia terkejut. Dia menunduk dalam karena jarak mereka yang sangat dekat.

​"Belum tidur?" tanya Ares. Suaranya rendah, beradu dengan suara rintik hujan di luar.

​"Belum, Mas. Saya... saya merasa sedikit kedinginan, jadi mau buat teh hangat. Mas baru pulang?"

"Hmm, ada beberapa masalah, jadi Mas pulang agak terlambat" ​Ares tidak langsung pergi. Ia justru menyalakan pemanas air.

"Duduk saja. Biar Mas yang buatkan!"

"Tapi Mas baru pulang, pasti capek. Biar Gia yang buatkan Mas!"

Ares terdiam, dia.melirik Gia yang masih berdiri di sampingnya.

"Mas senang kamu menyebut namamu sendiri saat bicara sama Mas. Kita terasa lebih dekat!"

Gia menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Sudah duduk saja!" Ares mendorong bahu Gua pelan agar duduk di kursi bar menunggu dirinya membuat teh.

​Gia tertegun. Seorang CEO besar seperti Ares membuatkan teh untuknya. Ia terus memperhatikan punggung lebar Ares yang bergerak efisien. Ada rasa nyaman yang aneh, namun juga rasa asing yang besar. Mereka berbagi ruang, tapi mereka belum benar-benar berbagi cerita.

​Ares menyodorkan cangkir teh hangat itu. Ia tetap berdiri di seberang meja, menjaga jarak yang sopan.

​"Gia, apa kamu betah di sini?" tanya Ares tiba-tiba. Pertanyaannya terdengar sangat berhati-hati.

​Gia mengaduk tehnya perlahan, dia ingin bicara namun takut salah kata dan menyinggung Ares.

"Rumah ini sangat indah, Mas. Tapi, kadang Gia merasa terlalu kecil untuk berada di sini"

"Kamu memang kecil!" Ares mengacak pucuk kepala Gia dengan pelan disertai senyum tipis diwajahnya selalu mengejek Gia yang memang memiliki tubuh kecil jika dibandingkan dengan Ares.

"Lucu juga kalau panggil kamu kecil, cil..kecil!"

"Mas!" Geram Gia dengan suara pelan dan kening berkerut, bibir cemberut. Sungguh tampak menggemaskan hingga membuat Aresta Ardiansyah yang terkenal kaki dan menyeramkan di laut sana justru terkekeh di hadapan Gia.

"Mas punya sesuatu buat kamu!"Ares beranjak namun tak lama kembali membawa satu kotak kardus berukuran cukup besar.

"Apa ini Mas?" Gia penasaran.

"Buka saja!"

Gia sesekali menatap Ares, tangan kecilnya kemudian mulai membuka kotak itu.

Bukan perhiasan berlian atau tas mahal, melainkan sebuah kamera polaroid dan sebuah buku sketsa berkualitas tinggi.

​"Mas dengar dari Mbok Yem kamu suka menggambar dan mengambil foto. Pakai ini, jangan pernah merasa harus meminta izin untuk menjadi dirimu sendiri di rumah ini!"

"Terima kasih Mas!" ​Gia memeluk buku sketsa itu di dadanya. Matanya berkaca-kaca. Ares tidak menghujaninya dengan kata-kata cinta yang muluk dan tak mungkin juga Gia dapatkan, tapi pria itu memperhatikannya. Ares mendengarkan hal-hal kecil tentangnya dari Mbok Yem.

​"Kalau kamu butuh sesuatu untuk kesibukanmu, seperti ini contohnya, kamu bilang saja sama Mas!" Perintah Ares dengan lembut.

"Jangan hanya mengurung diri. Mas tidak mau kamu merasa seperti tahanan di sini!"

​Ares kemudian melangkah mendekat, hanya untuk menyelipkan sehelai rambut Gia yang jatuh ke depan wajahnya. Sentuhan jarinya sangat singkat, namun jemarinya terasa hangat di kulit Gia.

"Tadi Mama menyakitimu lagi ya?"

"T-tidak Mas. Mama melakukan itu demi kebaikan Gia juga!"

​"Maaf karena Mas tidak ada di sini waktu Mama menyakitimu!" Ares mengusap lembut pipi Gia, dia terdengar menyesal dari nada bicaranya.

"Tidak papa Mas. Gia benar-bener tidak papa. Gia menganggap itu adalah perhatian dari Mama agar Gia bisa belajar lebih baik lagi"

"Nanti Mas akan bicara sama Mama. Sekarang habiskan tehmu, Mas mandi dulu!" Ares kembali memberikan usapan lembut di pipi Gia sebelum melangkah pergi meninggalkan dapur dan Gia.

Gia memegang pipinya yang baru saja tersentuh jemari Ares. Perlakuan Ares begitu manis, begitu menjaga, namun ada sekat yang tidak terlihat. Ares memperlakukannya seperti sebuah porselen mahal yang mudah pecah, dijaga dengan penuh kehati-hatian, namun belum berani ia peluk dengan sepenuh hati.

1
Eltopia Pia
....
Violet
Disuruh minta apapun, hal yg Gia hrus lakukan adl meneruskan pendidikan kalo perlu extra panggil guru les bahasa asing, les coding, bljar sdkit bela diri atau kursus apapun biar ga di bodoh2in oleh org2 culas & siap memantaskan diri sbg pendamping suaminya!
Praised26
Pertama kuliah kok langsung suruh gambar? bukannya awal kuliah belajar Mata Kuliah Dasar Umum dulu satu semester dan baru di semester 3 dst baru belajar sesuai jurusannya, itu kalau kuliah di negeri Konoha ya tak tahu kalau kuliah di paman USA mungkin langsung suruh gambar
Praised26: bahkan sebelum menggambar juga akan diajarkan beberapa teori pendukung nya dan baru ke praktek nya, masa iya langsung praktek tanpa belajar teori dulu
total 2 replies
Qaisaa Nazarudin
Tadi aja baru berminggu-minggu, Sekarang udah berbulan aja, Masih belum dapat menemukan jejak Gia..good Job Gia..
Qaisaa Nazarudin
Keliatan kan disini dengan Ares gak bisa menemukan Gia,Itu berarti Ares gak punya kuasa yg tinggi, Pasti ada seseorang yang melindungi kepergian Gia,Dan orang itu lebih berkuasa dari Ares..
Qaisaa Nazarudin
Bagus Gia tdk datang kesini,Mungkin dia tau kalo dia kesini,Ares dengan mudah menemukannya..👏👏👍👍
Qaisaa Nazarudin
Hilman Hilman..Selama ini kau bertahan juga karena HARTA Sarah, Sudah Bangkrut baru mau bersikap TEGAS..Dasar PENGECUT dan LICIK, Sekarang dia milih anaknya yg KAYA MENANTU KELUARGA ARDIANSYAH,Walau harus menurunkan harga dirinya didepan keluarga Ardiansyah, Yang bisa nyicipin harta Ares lewat Anak yg tdk dia Anggap..benaran LICIK Hilman gak punya urat malu, Dan Gia dgn senang hati MEMAAFKAN..ckkk
Qaisaa Nazarudin
Aelah harta alanyay,Udah bangkrut juga,Gak sadar kah..
Qaisaa Nazarudin: Harta apanya,Udah bangkrut juga
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Potong aja burung mu pake rok leboh COCOK buat kamu Hilman..
Qaisaa Nazarudin
Kata2 yang TIDAK BISA BERBUAT APA-APA bikin aku muak..
Qaisaa Nazarudin
Hah hiduplah kamu dengan PENYESALAN Ares..
Qaisaa Nazarudin
Mantap mampos kau Ares..
Qaisaa Nazarudin
Tapi cara kamu itu SALAH,Gia punya Trauma dengan masa lalunya sebagai anak haram anak yg tdk diinginkan, Sekarang kamu juga seakan tidak menginginkan nya lagi, makanya dia kabur,ngapain juga bertahan dengan orang yang sudah tidak PERCAYA kita lagi..
Qaisaa Nazarudin
Ngapain mikirin Gia,Urus aja Ego dan Cemburu mu itu..
Qaisaa Nazarudin
Lumayan
Qaisaa Nazarudin
Kenapa baru nyadar sekarang,Udaj terlambat, Katanya CEO tp BODOH percaya gitu aja dgn orang yg tdk dikenal,udah jelas2 itu ulah nya Siska..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Dia mendapat kan secara Instant, sekarang biarkan dia berjuang untuk mendapatkan kamu Gia,Bukannya gak terimakasih dengan pengorbanan Mertua dan Ares selama ini, Tapi kamu juga punya harga diri..
Qaisaa Nazarudin
Aku dukung kamu, pergi aja Gia,biar dia NYESEL..sama2 berpikir ulang utk hubungan KALIAN..
Qaisaa Nazarudin
udah tuir juga,Tapi Lebay..
Qaisaa Nazarudin
Keterlaluan,Mana bisa kayak gitu Aneh, CINTA sudah berubah jadi OBSESI..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!