NovelToon NovelToon
Sang Penjinak Semut: Evolusi Raja Naga Merah

Sang Penjinak Semut: Evolusi Raja Naga Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Action / Fantasi Timur
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

​Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: JANJI DI BAWAH LANGIT RUNTUH

​Kegelapan di dalam Makam Naga terasa berbeda dari kegelapan malam biasanya. Ini adalah kegelapan yang padat, yang seolah memiliki berat dan massa, menekan dinding dada hingga setiap tarikan napas terasa seperti usaha yang sia-sia. Lu Chen masih bersandar pada dinding batu yang lembap. Sisa-sisa getaran dari peringatan sistem tadi masih terasa di sarafnya, seperti sengatan listrik yang halus namun terus-menerus mengganggu fokusnya.

​Suara langkah kaki yang ringan mendekat. Yue Bing berdiri di sana, siluet tubuhnya diterangi oleh pendar biru redup dari api Ignis yang melayang di atas mereka. Gadis itu tidak langsung bicara. Dia mengamati Lu Chen dengan saksama, memperhatikan bagaimana bahu pemuda itu naik turun dengan tidak teratur, dan bagaimana jemarinya mencengkeram jubahnya sendiri hingga terdengar suara cengkraman.

​Tanpa suara, Yue Bing melangkah maju. Dia mengangkat tangan kanannya, ragu sejenak di udara, sebelum akhirnya mendaratkan telapak tangannya yang hangat di bahu Lu Chen.

​Sentuhan itu kecil. Sederhana. Namun bagi Lu Chen, itu terasa seperti jangkar yang dilemparkan ke tengah badai. Keheningan yang menyesakkan di antara mereka pecah seketika, bukan oleh kata-kata, melainkan oleh kontak fisik yang begitu manusiawi di tempat yang dipenuhi sisa-sisa kematian ini.

​Lu Chen tersentak sedikit, kepalanya tertunduk lebih dalam. "Aku baik-baik saja, Yue Bing. Hanya sedikit... kelelahan."

​"Jangan berbohong padaku," suara Yue Bing mengalir pelan, hampir seperti bisikan angin di sela-sela batu. "Tanganmu gemetar. Nafasmu tidak stabil. Kau bukan sedang lelah, Tuan. Kau sedang menahan sesuatu yang ingin menghancurkanmu dari dalam."

​Lu Chen perlahan mengangkat wajahnya. Di bawah cahaya biru yang dingin, mata pemuda itu terlihat berbeda. Pupil matanya sesekali berkilat dengan warna emas yang tidak alami, tanda bahwa sistem SSS+ miliknya sedang bergejolak hebat. Dia menatap tangan Yue Bing yang masih bertengger di bahunya.

​"Dulu, kau memanggilku Tuan karena kontrak," kata Lu Chen, suaranya parau. "Kau mengikutiku karena kau tidak punya pilihan lain setelah keluargamu dikhianati. Tapi sekarang... lihat aku. Aku bukan lagi orang yang kau kenal di paviliun luar. Ada sesuatu yang tumbuh di dalam diriku, Yue Bing. Sesuatu yang lapar, yang tidak mengenal belas kasihan."

​Yue Bing tidak menarik tangannya. Sebaliknya, dia meremas bahu Lu Chen sedikit lebih kuat, seolah berusaha menyalurkan sedikit kekuatannya sendiri ke dalam tubuh yang gemetar itu.

​"Aku mengenalmu lebih baik daripada kau mengenal dirimu sendiri saat ini," balas Yue Bing. Matanya menatap lurus ke dalam mata emas Lu Chen, tidak ada rasa takut di sana, hanya kejujuran yang telanjang. "Aku melihatmu saat kau masih dianggap sampah. Aku melihatmu saat kau hanya memiliki seekor semut sebagai teman. Dan aku melihatmu sekarang, saat kau bisa meruntuhkan langit hanya dengan satu lambaian tangan."

​Dia menjeda kalimatnya, menarik napas panjang yang terdengar gemetar.

​"Kekuatan itu... itu mungkin monster. Tapi hatimu tetap milikmu, Lu Chen. Kecuali jika kau memutuskan untuk menyerahkannya pada kegelapan itu."

​Lu Chen membuang muka, menatap ke arah kegelapan lorong yang seolah menelan cahaya mereka. "Sistem ini... ia memberiku segalanya, tapi ia juga meminta segalanya. Kadang aku merasa aku hanyalah sebuah wadah. Sebuah boneka yang digerakkan oleh angka-angka dan perintah. Jika suatu hari aku kehilangan kendali... jika aku berubah menjadi seperti Tetua Kuang atau lebih buruk lagi... apa yang akan kau lakukan?"

​Ying Bing terdiam. Suasana di sekitar mereka mendadak terasa lebih dingin. Di atas, Ignis mengeluarkan suara dengkingan rendah, seolah ia pun merasakan kegalauan di hati tuannya.

​Yue Bing melepaskan tangannya dari bahu Lu Chen, namun bukan untuk menjauh. Dia melangkah maju hingga jarak di antara mereka hilang. Dia menatap ke atas, ke arah langit-langit makam yang retak, di mana sisa-sisa energi spiritual dari pertempuran di luar masih berpendar seperti bintang-bintang yang sekarat.

​"Jika hari itu tiba," ucap Yue Bing dengan nada yang begitu tenang hingga terasa mengerikan, "aku tidak akan lari. Aku akan berdiri di depanmu, menghalangi jalanmu, sampai kau membunuhku atau sampai kau tersadar kembali. Itulah janjiku."

​Lu Chen menatapnya dengan tidak percaya. "Kau gila. Kau tahu apa yang bisa kulakukan dengan satu pikiran saja?"

​"Aku tahu," Yue Bing tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kesedihan sekaligus keteguhan. "Tapi aku lebih suka mati di tangan orang yang memberiku alasan untuk hidup, daripada hidup di dunia di mana orang itu telah menghilang dan digantikan oleh kehampaan."

​Kata-kata itu menghantam Lu Chen lebih keras daripada serangan tingkat tinggi mana pun. Dia merasakan sesuatu yang hangat merayap di dadanya, bukan panas membakar dari sistem, melainkan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan yaitu kemanusiaan.

​Dia menyadari bahwa hubungan mereka telah melampaui sekadar pelayan dan tuan. Mereka adalah dua orang buangan yang saling menemukan di bawah reruntuhan dunia yang tidak menginginkan mereka. Mereka terikat oleh nasib yang ditulis dengan darah dan air mata.

​Lu Chen mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh pipi Yue Bing yang dingin. Ibu jarinya mengusap sedikit noda debu di sana. Gerakannya sangat pelan, seolah ia takut gadis itu akan hancur jika ia menekannya terlalu keras.

​"Langit sudah runtuh, Yue Bing," bisik Lu Chen. "Sekte-sekte itu akan memburu kita sampai ke ujung dunia. Benua Tengah akan menjadi medan perang. Tidak ada lagi tempat yang aman."

​Yue Bing memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Lu Chen. "Biarkan saja. Biarkan dunia terbakar. Selama kita berjalan di jalur yang sama, abu dari dunia itu akan menjadi fondasi bagi kerajaan baru yang akan kau bangun."

​Lu Chen menarik napas dalam-dalam, kali ini terasa lebih ringan. Gejolak di dalam sistemnya perlahan-lahan mereda, seolah-olah emosi manusiawi yang kuat ini mampu menjinakkan sementara energi liar SSS+ yang haus darah.

​"Aku berjanji padamu," kata Lu Chen, suaranya kini terdengar penuh otoritas namun tetap lembut. "Aku tidak akan menjadi monster yang mereka takuti. Jika aku harus menjadi dewa untuk melindungimu, maka aku akan menjadi dewa. Jika aku harus menjadi iblis untuk menghancurkan musuhmu, maka aku akan menjadi iblis. Tapi di hadapanmu... aku akan selalu tetap menjadi Lu Chen."

​Yue Bing membuka matanya, ada binar harapan di sana. Dia mengangguk pelan.

​Di kejauhan, suara reruntuhan batu terdengar jatuh, menggema melalui lorong-lorong makam. Waktu mereka tidak banyak. Musuh mungkin sudah berada di pintu masuk, atau mungkin sesuatu yang lebih berbahaya sedang terbangun di dasar makam naga ini.

​Lu Chen menurunkan tangannya, lalu mengepalkan tinjunya. Rasa lelahnya belum hilang sepenuhnya, tapi beban di pundaknya terasa lebih seimbang sekarang. Dia melirik Ignis, yang membalas dengan semburan api biru kecil yang penuh semangat.

​"Ayo," ajak Lu Chen. Dia tidak lagi berjalan di depan sebagai pemimpin yang angkuh, tapi dia berjalan di samping Yue Bing, langkah mereka selaras di atas lantai batu yang retak.

​Mereka berjalan menuju pusat makam, meninggalkan sisa-sisa abu Gerbang Naga di belakang. Di bawah langit yang telah runtuh, di dalam kegelapan yang abadi, sebuah janji telah dipahat. Janji yang tidak akan ditemukan dalam kitab suci mana pun, namun janji yang akan menentukan masa depan seluruh Benua Tengah.

​Setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat pada Jantung Naga, tapi juga lebih dekat pada kebenaran yang mengerikan tentang asal-usul sistem Lu Chen. Namun bagi Lu Chen, selama Yue Bing ada di sampingnya, kegelapan itu tidak lagi terasa begitu mengancam.

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
berharap Lu Chen yang menangkan pertaruhan dengan Han Xiao
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Lu Chen kau pasti bisa mengalahkan tetua Bai ini ayo musnahkan sekte pedang suci
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
sekte pedang suci siap siap aja kalian musnah dari muka bumi benua tengah
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Lu Chen pasti bisa mengalahkan Tetua Bai dari sekte Pedang suci itu
REY ASMODEUS
woooy mana kalian semua... ini seru loh ceritanya
Kaka's: 🤭🤭💪💪💪💪💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
kok aku sedih dengan pengorbanan you bin
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
untung ada Yue Bing yang nekat memeluk Lu Chen kalo tidak bisa bisa hancur sendiri Lu Chen ini gara gara rasa kasian terhadap pengkhianat yang sudah dia bunuh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
entah mau komen apa lagi ga fokus 🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
ternyata Ah San anteknya sekte Pedang suci tetap semangat Lu Chen kau pasti bisa menghempaskan mereka semuanya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
akhirnya Lu Chen berhasil yesss dan Ignis juga mulai ada rasa hormat lagi
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Lu Chen kau harus tetap hati hati dan kuat kau pasti bisa melewati semuanya biarpun Ignis sudah tak seperti dulu kau tetap inang dia😒💪🏻
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
ihhh Ignis jadi aneh sombong arogan malah menghina Lu Chen inangnya gak suka sama Ignis lagi gw😒😒
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
labirin memori tadinya kukira masuk ke dalam kabut ilusi 🤭🤔 untungnya Lu Chen cepat terbebas dari labirin memori masa lalunya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
untungnya Yue Bing bisa meredam kegalauan hati Lu Chen yang menyamakan dirinya dengan tetua Kuang padahal beda lah kau lebih baik dan manusiawi 🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Lu Chen akhirnya memberikan setetes darahnya yang mengandung sistem SSS pada penjaga Gurun dan menerima topeng Kedua
Kaka's
makasih kakak atas kritikannya.. 👍.. di bab 6 selesai secara naratif misi pun selesai kakak.. Lu Chen berkarakter manipulatif yang tidak ingin brgantung pada sistem jadi tidak ada Ding sistem tpi kalau perlu di tambahkan akan sy tambahkan kakak.. karena investigasi dari Lin Xin tdk terbukti di Bab 6 di anggap misi selesai. 🤭🤭
Raja Semut
kocak dah lu ngasih misi terus penyelesaian misi nya ngak ada di bab selanjutnya. terlalu mengabaikan hal hal yang kecil itu bisa jadi bumerang buat lu
Zahry Aditia Rangkuti
Ada sebuah dunia yang terdiri dari 7 Lapisan Dimensi, yang di sebut 7 Alas Dimensi. dimana disetiap dimensi terdapat ratusan Dimensi dengan Kehidupan, Mahluk, Budaya, Geografis, dan Misteri Yeng berbeda-beda.

aku mau mengajak kalian untuk berpetualang ke dunia yang baru aja aku buat. di tunggu kedatangannya ya.

terkhusus untuk Autor. semangat ya.💪
ヾ⁠(⁠˙⁠❥⁠˙C)aca²(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧
😍😍
𝐙⃝🦜𝐂umi 𒈒⃟LBC
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!