NovelToon NovelToon
MISIDENTIFIED

MISIDENTIFIED

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Dark Romance / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: aiyuki

Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.

Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima gelas kejujuran

Serra sudah berada di depan pintu apartemen, setelah bersusah payah pulang dengan langkah sempoyongan. Ia berusaha memasukkan kunci kedalam lubang pintu, namun selalu meleset, hingga setelah beberapa menit, akhirnya berbunyi klik.

Gadis itu tersenyum sendiri, lalu menempelkan dahinya ke pintu sejenak, seolah memberi waktu pada dunia untuk berhenti berputar. Bau minuman beralkohol menempel di napasnya.

Di dalam, lampu ruang tamu mati. Hanya ada bias cahaya dari dapur yang remang. Ethan tampak masih terlelap di atas sofa ruang tamu.

"Tetangga baik," gumam Serra lirih seraya melepas salah satu sepatunya.

Ia menahan tawa kecil yang tiba-tiba muncul entah dari mana, lalu kembali terdiam. Tawa itu pergi begitu saja, terganti oleh rasa sesak di dalam dada. Serra mulai berjalan pelan ke arah Ethan, tentunya dengan langkah terhuyung.

Namun tiba-tiba, tanpa sengaja ia menabrak meja ruang tamu, memecahkan piring berisi sandwich di atasnya.

Prang!

Ethan pun terbangun karena terkejut, dan lebih terkejut lagi setelah melihat sosok Serra yang tak seperti biasanya. Gadis itu bersandar di sisi sofa, dengan rambut yang berantakan serta wajah kemerahan.

"Lu-cas... ah bukan, kau Ethan hihi," Serra mulai bersuara. Ethan tetap terdiam, namun kali ini dengan penuh keheranan.

"Ini salahku..," Serra menatap wajah pemuda itu dengan serius, "seharusnya aku mati saja ya, lalu.. kau bisa terus hidup dengan tenang," lanjutnya.

Kedua netra cokelat yang semula tenang itu, seketika membola.

"Haha, kau Ethan Hale.. hiks," setelah tertawa kecil, Serra mulai terisak, "ini semua kesalahanku.. hiks, maaf pun tak cukup huwee~", Serra menangis sesenggukan, wajahnya semakin memerah.

"Se-Serra."

Setelah sekian lama, sepatah kata mulai terucap dari bibir pemuda itu. Tangannya mengerat karena merasa bingung dan gelisah. Ia tak mengerti maksud dari perkataan Serra, kecuali ungkapannya soal kematian. Hal itu membuat dadanya merasa sesak. Serra tidak sepenuhnya salah, gadis itu bahkan tidak pernah meminta untuk ia diselamatkan.

"Huu... tidak cukup, aku harus bagaimana?! hiks," Serra kembali terisak.

"Ada apa denganmu?," tanya Ethan lirih.

"Hiks.. kau bicara? Ethan kau bicara?," Serra menatap kembali wajah Ethan yang kebingungan, "hiks.. sepertinya bukan."

Serra mulai beranjak dari posisinya, hendak masuk ke dalam kamar. Namun ia tak memperhatikan langkah, hingga kehilangan keseimbangan.

GUBRAK!

Segalanya terjadi dengan cepat dan bodoh. Serra tersandung kaki meja.Tubuhnya jatuh telungkup atas lantai yang keras. Rambut panjangnya pun tergerai menyebar seperti kipas.

"SERRA!."

Ethan yang terkejut sampai melompat dari sofa. Dengan panik menghampiri Serra yang sudah tergeletak lemas di atas lantai. Tubuh gadis itu, ia balikkan secara perlahan. Tampak benjolan serta sedikit lecet di bagian pelipis wajah akibat benturan keras.

"Serra..," Ethan menepuk pelan wajah Serra, namun tetap bergeming. Dengan gemetar, ia menyentuh lubang hidung Serra, memastikan jika napas gadis itu masih terasa, "hanya pingsan", gumamnya.

Dengan perlahan Ethan mulai mengangkat tubuh Serra, kemudian membawanya ke dalam kamar untuk dibaringkan.

...----------------...

Cahaya pagi menembus jendela tirai tipis apartemen kecil itu, menyelinap pelan ke dalam ruang kamar. Tercium aroma samar alkohol bercampur dengan wangi sabun lantai yang mulai mengering.

Gadis itu mengerjap pelan, membuka matanya dengan napas berat. Kepalanya terasa berdenyut seperti habis dipukul berkali-kali. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada langit-langit apartemen yang asing namun sudah mulai terasa seperti rumah.

"Errghh..," Serra mengerang pelan.

Tangannya refleks memegang pelipis, mencoba menahan rasa pusing yang menusuk. Ingatan mengenai kejadian semalam muncul dalam potongan-potongan pendek. Warna-warni lampu perjamuan, suara tawa para tetangga, gelas bir yang terus diisi ulang, alunan musik yang menghentak, lalu... langkahnya yang goyah saat pulang.

Serra mencoba bangkit perlahan dari ranjang tidurnya. Namun begitu duduk, rasa mual langsung menyerang. Ia menutup mulutnya, nyaris tersedak, lalu berlari dengan terburu menuju kamar mandi.

"Huek~."

Ia bertumpu pada wastafel, napasnya tersengal, rambut hitamnya berantakan menutupi sebagian wajah. Tampak luka memar dan sedikit lecet di bagian pelipis wajahnya. Serra terdiam sejenak, sambil berusaha keras mengingat. Namun percuma saja, ingatannya hanya berakhir sampai di depan pintu apartemen.

Masih dengan kondisi perut yang mual, ia menyalakan keran dan membilas mulutnya dengan tangan gemetar, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Gadis itu menghela napas panjang sebelum membasuh wajahnya berkali-kali, mencoba menyegarkan diri.

Srrrsh..!

Saat ia keluar dari kamar mandi dengan langkah sedikit goyah, terdengar suara seperti seseorang yang sedang menggoreng sesuatu di dalam minyak panas. Dari arah dapur, tercium aroma makanan hangat yang ia yakini sebagai sup.

Serra mengintip dari balik sekat dinding.Terlihat sosok Ethan yang sedang berdiri membelakangi nya. Pemuda itu mengenakan kaus rumah sederhana, sibuk mengaduk sup di atas kompor portabel. Gerakannya tenang seperti biasa, tidak terburu-buru dan tidak menunjukkan emosi apa pun.

Tek!

Ethan mematikan kompor, lalu menuangkan sup ke dua buah mangkuk di hadapannya. Baru setelah itu ia menoleh sedikit, karena merasa sedang diawasi. Namun setelah melihat ke arah sekat dinding di belakangnya, tak ada siapapun di sana.

Setelahnya, ia mulai meletakkan kedua mangkuk berisi sup tersebut di atas meja kecil ruang tamu. Di sana sudah ada Serra yang terduduk diam tanpa menatapnya. Keheningan menggantung di antara mereka.

Serra yang duduk tepat di seberangnya hanya menatap sup hangat yang Ethan buat. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang berbeda pagi ini.

"Ehm.. apa yang terjadi padaku semalam?," tanya Serra dengan tiba-tiba.

Ethan menatap sejenak wajah gadis di seberangnya, "tidak terjadi apapun."

Serra menunduk, jawaban itu justru membuatnya menjadi gelisah. Ia mencoba mengingat, akan tetapi pikirannya tetap kosong. Beberapa detik pun berlalu dalam diam. Suara sendok Ethan yang menyentuh mangkuk menjadi satu-satunya bunyi di ruangan itu, namun tiba-tiba,

"Jelaskan padaku," Suara Ethan yang terdengar berat dan menekan, membuat Serra segera mengangkat kepala.

Tatapan pemuda itu masih tertuju pada sup miliknya, "semua yang terjadi sejak kita bertemu," lanjutnya, "tentang orang yang menghancurkan rumahku dan... mengapa kita ada disini," kini tatapan Ethan beralih sepenuhnya pada Serra.

Udara di paru-paru Serra terasa tertahan.nIa tahu momen ini akan datang, tapi setelah mendengarnya langsung dari Ethan membuat dadanya sesak.

Serra menatap sejenak wajah pemuda di hadapannya. Wajah yang dulu penuh ketenangan, kini terlihat begitu serius namun tampak rapuh, seperti seseorang yang berusaha berdiri di tengah reruntuhan. Perlahan ia menarik napas dalam.

"Ethan," Serra mulai bicara, "entah kali ini kau akan percaya atau tidak, tapi tolong dengar sampai selesai."

Ethan tidak bereaksi, tapi Serra tahu jika pemuda itu mendengarkan dengan serius.

"Aku pernah menceritakan padamu tentang pekerjaanku sebelumnya. Pekerjaan yang jauh dari kata bersih. Saat kita di pasar, aku diam-diam bertemu dengan Riven, dia adalah rekan ku dulu. Dan dialah.. orang yang telah menghancurkan rumahmu", kalimat itu terasa berat keluar dari bibirnya.

Sendok di tangan Ethan berhenti, rahangnya terlihat mengeras, "lanjutkan," ujarnya kembali menyimak penjelasan Serra.

"Kami memiliki perselisihan kecil mengenai misi penting yang sedang berlangsung di dalam organisasi tempat kami bekerja. Misi penangkapan Adrian Vale," Serra menyodorkan ponsel yang berisi potret wajah Adrian Vale didalamnya.

Sejenak situasi menjadi hening, raut wajah Ethan seketika berubah setelah melihat sosok Adrian Vale yang begitu mirip dengannya.

"Riven mengira jika kau adalah Adrian yang berpura-pura sebagai orang lain," lanjut Serra, "namun aku sudah menyelidikinya, kau bukan Adrian Vale, dan alasan kita berada disini adalah untuk bersembunyi," jelas Serra.

Ethan menatap kosong ke arah meja, napasnya terdengar sedikit berat. Serra mengangkat kepala, dengan mata yang mulai tergenang.

"Maaf karena melibatkan mu.. aku mencoba menghentikan semuanya, lalu keluar dari organisasi. Tapi Riven tidak menyerah, dan aku memilih melindungi mu, orang yang telah menyelamatkan nyawaku."

Serra menatap Ethan dalam-dalam, seolah siap menerima kebencian yang mungkin muncul.

"Tapi sepertinya, usahaku gagal," lanjutnya lirih, "rumahmu... hidupmu... semuanya hancur karena kehadiranku."

Suasana menjadi lebih hening, keduanya sama-sama terdiam. Ethan duduk dengan bahu sedikit menegang, sedangkan Serra menunduk, menunggu kata-kata yang mungkin akan mengakhiri semuanya. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

Hingga akhirnya Ethan mulai menghela napas panjang, lalu menatap lawan bicaranya dalam-dalam. Tatapan yang semula dingin itu mulai sedikit menghangat. Secara perlahan dengan sedikit gemetar, pemuda itu meraih jemari gadis dihadapannya.

"Serra.." ucapnya pelan, "aku tidak tahu harus berkata apa," katanya jujur. "Aku merasa sangat marah, tapi juga tidak bisa membencimu. Tolong beri sedikit waktu untuk mengerti semuanya."

Serra mengangguk pelan seiring dengan lepasnya jemari Ethan yang sempat menggenggamnya. Pemuda itu mulai beranjak, membawa mangkuknya ke wastafel, "tapi setidaknya, terimakasih karena sudah melindungi ku," ucapnya tanpa menoleh.

Serra menatap punggung pemuda itu dengan napas tertahan. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh perlahan. Untuk pertama kalinya sejak malam pelarian itu, ia merasa lega karena pemuda itu sudah mau berbicara dan tidak benar-benar membenci dirinya.

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
semoga itu Adrian Vale bukan Ethan berharap salah aja pokoke dah🤭
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
apakah kira kira Ethan ini adalah Adrian Vale atau hanya mirip 🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Serra Lune padahal kau mengkhawatirkan Ethan makanya balik lagi kerumahnya iya kan wkwkwkkw🤭
Aiyuki: 🤭🤭 sepertinya bgcu
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
sepertinya Ethan senang hati karena peralatan yang dia buat dipakai latihan sama Serra 🤭
Aiyuki: 🤭 sepertinya bgcu
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
masih meraba raba Serra Lune kenapa bisa terluka parah karena apa dan siapa yang melukainya hingga hampir game over 🤔
Aiyuki: siapa hayoo🤭
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
singgah dimari kiteee 🤭🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
Aiyuki: mari2 silahkan, enjoy ya✌
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
weihhh... akhirnya dirimu aktif kembali setelah sekian purnama menyembunyikan diri. selamat atas rilis karya baru nya. semoga sukses💪💪💪
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: sama2. 💪💪💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!