NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Ciuman dan Luka Hujan

Kelas 11 IPA 1 jam kosong.

Aqqela bersama tiga sahabatnya sedang berdiri di pinggiran besi pembatas yang ada di lantai dua-menonton murid 11 IPS 1 yang lagi ter-jadwal olahraga pagi ini.

Terlihat, Fattah dan teman-temannya sedang bermain voli.

"Gue baru tau kalau mereka ahli voli juga. Kirain basket doang," komentar Catu.

"JEF, CETAK POIN DONG, SAYANG! AKU PADAMU," teriak Aya, membuat Jefan menoleh.

"Najis lo!" umpat Aqqela sambil mengusap telinganya yang sakit.

"Sayang!" sapa Mattew melambai riang pada Catu di koridor lantai dua.

Catu menatapnya sambil menjulurkan lidah, membuat Mattew terkekeh dan lanjut bermain.

"Woi-woi, Fattah mau servis, njir." Vania mencolek lengan Aqqela.

Gadis cantik bermata bulat itu langsung memperhatikan Fattah yang mundur beberapa langkah keluar garis batas, melemparkan bola ke atas, kemudian memukulkannya ke area pertahanan lawan yang berhasil di kembalikan cepat oleh Noel-lawannya.

"LOSSSSS!" teriak Fattah sambil melompat tinggi, melakukan smash keras hingga bola menukik tajam dan tak berhasil di kembalikan oleh lawan.

Dugh!

Bola mendarat sempurna ke garis lapangan lawan dan skor di anggap sah oleh pak Sofyan-guru olahraga yang jadi wasit pagi itu.

"Yes!" sorak Fattah ber-tos ria bersama teman-temannya.

"WOOOOO!!" Catu, Aya dan Vania kompak bersorak heboh, sementara Aqqela bertepuk tangan.

PRITTTTTT!!!

Peluit di bunyikan, pertanda selesai permainan.

Alis Aqqela terangkat melihat sosok gadis cantik berambut coklat, tampak berlarian ke lapangan menghampiri Fattah sambil tersenyum manis.

"Nih, buat lo."

Gadis itu memberikan air minum dan handuk, membuat Fattah berhenti melangkah.

"Itu Vanilla. Temen sekelasnya Fattah. Salah satu member dari geng medusa-nya sekolah," kata Catu berbisik heboh.

Aqqela menoleh, "Oh...gitu." Dia mengangguk.

"Geng-nya Vanilla sama geng Fattah dulu sering banget nongkrong dan ke club bareng gitu. Tapi sejak Mattew sama Jefan punya pacar, mereka udah lebih kalem, jarang kelihatan bareng," kata Vania.

Aya menoleh, "Noel itu pacaran sama Amanda-temennya Vanilla. Walaupun hubungan mereka toxic banget dan sering putus nyambung, tapi itu juga faktor yang bikin dua geng itu akur."

Aqqela mengangguk-angguk dengan pandangan tak lepas dari Fattah yang meneguk air minum dari Vanilla.

"Terus ya Qell, rumornya Vanilla sama Fattah sempat deket juga. Entah cuma Vanilla yang naksir atau Fattah emang sempat kasih harapan juga. Hubungan mereka aneh."

Aqqela menoleh dan merapatkan bibir kini, "Oh..."

Dia kembali melihat ke arah Fattah yang malah meraih bola basket dan men-dribble-nya dengan wajah dingin, masih dengan Vanilla di sebelahnya.

"Fattah, ke kantin, yuk! Gue lapar banget," keluh Vanilla memegangi perutnya sambil manyun.

Fattah melempar keras bola ke ring, lalu berlari mengambilnya.

"Fattah, ih!" seru Vanilla.

Fattah yang memainkan bola basket jadi menoleh, "Ck, sama Jefan sana! Jangan gangguin gue!"

"Uhhh, calon suami aku lagi badmood, ya? Wow-wow," kata Vanilla mencolek dagu Fattah yang di tepis cepat.

Fattah mendengus tak peduli dan kembali melakukan lay up, dengan sengaja membuat bola membentur ring basket dengan keras-hingga tiang agak bergetar.

Jefan kini mendekat, "Udah Nil, sana ke kantin sama Achala atau Amanda! Lo mau mati emangnya? Nggak lihat kalau Fattah lagi pengen ngamuk?"

Vanilla mencuatkan bibir, "Ya kan gue pengennya bareng dia," katanya membela diri.

"Lagian kenapa lagi sih, Fat? Berantem mulu lo. Katanya udah mau sabar ngadepin dia," kata Mattew mengajaknya duel basket.

Fattah hanya meliriknya tenang.

"Lo kalau war mulu sama Aqqela, mending pilih arena sana," kata Jefan.

Fattah menghembuskan napas kasar dan duduk di lantai lapangan, merasa kelelahan sambil menekuk lututnya.

Noel yang menerima minum dari Amanda tanpa sengaja melihat ke koridor lantai 2.

"Fat, Fattah!"

Fattah menoleh.

"Tuh!" Noel menunjuk dengan dagunya ke lantai 2, membuat Fattah menoleh.

Melihat Aqqela yang tertawa ceria menanggapi ocehan tidak penting Aya, Fafa dan Vania.

Fattah tertegun begitu saja, melihat mata bulatnya menyipit dengan pipi chubby yang menggemaskan.

Namun Fattah langsung mengalihkan wajah, tepat saat Aqqela menoleh ke arahnya, masih dengan sisa tawanya.

"Fattah!" Vanilla mendekat lagi dan berjongkok di depannya.

"Apa?"

"Keringetan banget. Gue bantu lap-in, ya!" Dia menyodorkan handuk ke Fattah, membuat cowok itu melirik ke Aqqela tanpa sadar.

Gadis itu tidak bereaksi apapun, membuat Fattah mendesah berat.

"Hm, tolong!" pintanya serak, membuat Vanilla tersenyum lebar dan dengan cekatan mengelap keringat Fattah.

Di sisi lain, Aqqela menghela napas panjang dan menoleh ke teman-temannya, "Ke kantin, yuk!" ajaknya.

"Kuy!" Aya langsung memeluk lengannya dan berlalu pergi.

Fattah melirik kepergian gadis itu, sampai benar-benar menghilang di belokan koridor.

***

Aqqela duduk di bangku kantin, menikmati bakso telur di depannya sambil mengobrol bersama Aya, Vania dan Catu.

"Eh-eh tau nggak, masa Valuenz bentar lagi mau konser di sini dong," rengek Catu.

"Iya anjir. Gue lihat beritanya di portal K-pop.

Wajib nonton sih."

"Wajib banget, please!" kata Aya lebay, "Gue pengen tampil cantik buat ketemu Sagara Oppa."

"Sama njir, itu bias gue. Qell, bulan depan ikut nonton, ya! Nanti gue bantu war-in tiketnya," kata Vania ceria.

Aqqela mengangguk, "Boleh, deh."

"YES!" sorak Aya, "Akhirnya setelah sekian purnama, gue bisa datang lagi ke konser Valuenz. Masih sedih banget huhuhu, waktu Lee Do Hwa meninggal," katanya tersedu-sedu tanpa air mata, menyebut satu anggota Valuenz yang meninggal.

"Sama anj-eh, Mattew, sini-sini!" Catu mengangkat tangannya, membuat Aqqela dan lainnya menoleh ke pintu kantin.

Tepatnya pada empat cowok ganteng yang baru memasuki kantin, setelah selesai jam olahraga.

"Waduh, asik nih pada kumpul-kumpul," kata Mattew.

Noel merekah senang, "Bos, gabung sama mer-"

"Ke sana aja!" kata Fattah menarik paksa kerah Noel yang baru ingin duduk di sebelah Aqqela, membuat Noel merengek tak terima.

Mattew sendiri memanyunkan bibir dan menurut mengekorinya bersama Jefan juga, menuju ke bangku pojok dan Noel langsung memesankan mereka makan.

"Fattah kenapa, dah? Tumben nggak mau gabung? Biasanya juga sering bareng, kan?" tanya Aya kepo.

"Mukanya dari tadi pagi emang udah bete gitu nggak, sih?" timpal Vania.

Aqqela diam-diam menurunkan bahunya, melirik Fattah yang sepertinya benar-benar sangat marah untuk saat ini.

Berkali-kali dia melirik ke arah Fattah sambil memakan baksonya, tapi cowok itu malah merunduk ke ponselnya dengan wajah serius.

***

Fattah duduk di atas motor hitamnya sambil meneguk Cola di tangan, dengan tatapan mengedar ke tempatnya berada sekarang.

Arena balapan.

Tempat dimana segelintir remaja sepertinya, memacu kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata, demi menaikkan popularitas semata.

"Lagian elo kenapa sih Fat, bocah alay kayak Lucanne lo urusin?" omel Jefan bersama Aya di sebelahnya.

"Gampang banget lo kehasut omongan orang?" timpal Aya.

Fattah melirik sesaat, "Gue bukan kehasut dia. Tapi gue nggak suka kalau Aqqela narik gue keluar lapangan, biar gue nggak malu," balasnya sambil menatap Cola yang dia pegang.

"Emang lo yakin kalau Aqqela mau pilih Oliver bukan elo?" sahut Catu.

"Itu udah jelas. Yang dia suka Oliver bukan gue," balas Fattah tenang.

"Kalau bener kayak gitu, kenapa lo harus marah?" tanya Mattew.

"Ya gue bisa ke-singgung kali Matt," balasnya kesal.

"Fat, hubungan Oliver sama Aqqela itu lama. Emang lo mau Aqqela se-cepat itu suka sama lo buat pelampiasan?"

Fattah langsung terdiam.

"Seenggaknya kasih dia waktu. Smooth Fat, pelan-pelan." Aya ikut mengomelinya, "Gue denger kalian tinggal bareng juga, kan? Itu peluang bagus, loh. Elo bisa masuk ke hatinya, tapi jangan buru-buru. Let it flow!"

"Let it flow ndasmu?" Catu menabok Aya kesal, "Jangan lama-lama, entar malah nge-gantung kayak Jefan sama elo dulu. Harus di gas bener-bener."

Aya reflek mengumpat.

"Tapi dia kalau udah nge-gas banget, nakutin anjir," balas Aya tak terima.

"Bentar!" tahan Jefan, menoleh sepenuhnya ke Fattah, "Yang jadi pertanyaan gue, elo sayang banget nggak sama Aqqela?"

Fattah mendecak dan meneguk Cola-nya, "Menurut lo?"

"Udah jelas-jelas dia suka beneran. Goblok banget gitu doang masih di tanyain," omel Mattew.

"Fattah, elo udah di tungguin yang lain di garis start!" seru Noel yang mendekat sambil merangkul Amanda-kekasihnya.

"Oke." Fattah mengenakan helm fullface-nya dan melajukan motornya menuju ke garis start.

Diam-diam, dia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 11 malam.

"Good luck, bro! Hati-hati aja, licin nih habis hujan," pesan Mattew.

"Lawannya enteng Fat, aman." Jefan menepuk bahunya.

"Oke, semuanya sudah ready?" Seorang gadis cantik berpakaian seksi sudah berdiri di tengah-tengah para pembalap.

Suara deru mesin motor terdengar menderu-deru.

Mattew, Noel dan lainnya menonton dari pinggir jalan.

"OKE, GO!"

Bendera hitam putih di lepaskan, bersamaan dengan Fattah langsung menarik gas motornya kencang, meninggalkan garis start.

"WOOOOO!!!" sorak Noel semangat.

"Fattah emang king racing ya," kata Catu berdecak kagum.

Amanda sendiri berdiri di sebelah Noel, bertepuk tangan bersama Vanilla-temannya yang malam ini sengaja datang untuk Fattah.

Sementara itu, motor Fattah masih meliuk-liuk cepat di jalan raya dan berbelok licin di tikungan tajam dengan kecepatan tinggi.

CITTTTTTTTTTT!!!

Motor Fattah berhenti di garis finish lebih dulu, di ikuti pembalap yang lain, dan di sambut sorakan heboh orang-orang.

"Fattah, good job, man!" Noel menepuk bahunya riang.

Fattah melepaskan helm-nya, lalu ber-tos ria dengan Noel dan lainnya sambil menyeringai puas.

"Hadiah lo bisa langsung di ambil entar sama si Jason," kata Mattew.

"Oke."

"Fattah, congrats, ya! Lo keren banget pokoknya." Vanilla tersenyum lebar dan memeluk leher Fattah membuat cowok itu tersentak.

"Apaan sih lo?" Dia menepis tangan Vanilla risih.

Vanilla mencuatkan bibir, sudah biasa, "Habis ini anterin gue pulang ke kos, ya!"

Fattah menatapnya aneh, "Kenapa jadi gue?"

"Ih, kan Amanda sama Noel. Masa gue naik taxi malam-malam?" keluh Vanilla manyun.

"Nih cewek lenjeh banget kenapa, sih?" dumel Catu sinis.

"Diem deh lo!" kata Amanda membela.

"Heh otak udang, temen lo emang gatel sat," kata Aya mengumpat.

"Lah, gatel ke cowok jomblo, wajar dong?"

"HA HA, sayangnya Fattah udah naksir cewek lain," balas Aya.

Vanilla ternganga dan menoleh kesal, "Siapa? Aqqela anak 11 IPA 1? Halah, paling mainan barunya Fattah doang. Habis itu juga di buang kalau Fattah udah bosen."

"Sok tau lo," sungut Mattew.

Fattah melirik tidak peduli dan merunduk meraih HP-nya. Barangkali ada chat masuk dari Aqqela.

Tapi nihil.

Cewek itu bahkan tidak bertanya dirinya ada dimana sekarang.

"Fattah!" rengek Vanilla memeluk lengannya, "Ke club yuk, malam ini! Udah lama lo nggak mau join bareng gue, Amanda dan anak-anak. Lo kalau mabok pasti bareng Mattew, Noel sama Jefan doang."

"Mager," balasnya tak peduli, masih merunduk ke HP, scrool Instagram Aqqela, melihat foto-foto cewek itu.

"Fattah, gue kangen." Vanilla meraih kedua pipi Fattah-mencoba untuk mengambil alih perhatian cowok itu, "Elo tuh kenapa, sih? Nggak asik lah kalau lo nggak mau main bareng lagi."

Fattah menepisnya kasar, mencoba menahan emosi, "Sana-sana, sama Noel aja sana!

Jangan ganggu gue!" usirnya malas.

"Elo mau ikutan sama Mattew dan Jefan yang mau tobat ke club bareng gue dan anak-anak karena udah ada pacar? Cih, sok suci."

Aya langsung melotot, "Heh, elo sekolah yang bener sat. Teler mulu anjir. Neraka jahanam tempat lo."

Vanilla dan Amanda melotot tak terima.

Vanilla mencuatkan bibir dan menoleh ke Fattah lagi, "Tapi anterin gue pulang ya malam ini!"

"Nggak."

"Kenapa? Dulu lo mau kalau anterin gue pulang."

"Sekarang ada hati yang harus di jaga," kata Noel cepat, sementara Fattah masih fokus ke HP-nya.

"Halah, sok setia." Vanilla mencibir kesal, "Udah di kasih apa aja sih lo sama Aqqela?

Selangkangan? Cih, dah gue duga tuh cewek sok polos-"

BRUK!

"MULUT LO DI JAGA ANJING!" bentak Fattah mendorong kasar bahu Vanilla membuatnya terlonjak.

Orang-orang dia arena balapan sampai menoleh kaget padanya.

"Kan, dah gue tebak." Mattew memijit pelipisnya stres sendiri, "Lo ngapain ngajak temen lo sih, El?"

Noel ternganga, "Dia yang ngotot pengen ikut sat," balasnya sebal.

"Fat, udah!" panik Jefan dan Aya menahan lengannya.

Fattah menepisnya kasar dan mencengkram rahang Vanilla kasar sampai cewek itu kesakitan.

"Lo pikir Aqqela itu elo?" tanyanya dingin, membuat Vanilla menciut ketakutan.

"Gue-uhuk-uhuk!"

Fattah menatapnya tajam, "Sekali lagi gue denger lo ngomong yang enggak-enggak soal cewek gue, gue habisin lo."

Fattah melepaskan cengkraman-nya kasar dan segera menaiki motor.

"Gue cabut duluan!"

Teman-temannya mengangguk, membuat Amanda segera membantu Vanilla, sementara Aya dan Catu menyoraki cewek itu.

"Makan, tuh!" umpat Catu.

***

Fattah melangkah keluar dari lift menuju ke unit apartemennya dan menekan tombol password.

Raut wajah pemuda itu terlihat datar tanpa ekspresi. Namun saat hendak masuk ke kamarnya, dia berhenti. Menoleh sepenuhnya pada Aqqela yang sedang tertidur nyenyak dengan kepalanya di meja, sementara banyak buku pelajaran bertebaran di sana.

Dia sepertinya habis belajar dan ketiduran.

Fattah awalnya enggan peduli dan ingin masuk kamar. Tapi kembali melirik Aqqela.

Fattah mendecak dan memutuskan untuk mendekat.

"Lo kenapa ngerepotin banget, sih? Kalau ngantuk ya tidur di kamar," decaknya sebal, meraih tubuh Aqqela-kemudian menggendongnya masuk ke dalam kamar.

Aqqela masih meringkuk nyenyak di gendongan Fattah, dengan pemuda itu kini hati-hati meletakkannya ke kasur dan menarik selimut ke atas, menutupi tubuhnya yang hanya di balut kaos crop dan hotpants.

Fattah diam sebentar, sebelum akhirnya berjongkok di sebelah ranjang dan mengusap kepala gadis itu lembut.

"Lo tuh sebenarnya siapa, sih? Kenapa gue selalu kesulitan buat ngehancurin lo?" Gumam Fattah pelan.

"Eunghhhh..." Aqqela bergumam pelan, merasa tidurnya terusik dan mengubah posisi tidurnya jadi ke samping-tepat ke arah Fattah.

Pemuda itu tertegun samar melihat wajah Aqqela dari jarak dekat.

Jari-jemarinya bergerak menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya. Apalagi ketika sinar rembulan menerobos masuk lewat kaca yang tirainya terbuka, menyorot wajah Aqqela yang lagi terlelap.

Fattah terpaku begitu saja.

Demi langit dan bumi, gadis ini sangat cantik.

Fattah berdehem pelan, mengalihkan wajah dan bergegas keluar dari dalam kamar Aqqela menuju ke dapur ingin minum.

Namun alisnya terangkat melihat sticky note pink tertempel di kulkas, membuat dia meraihnya.

Kalau lo lapar, gue udah masak. Ada di meja makan tinggal di panasin. Gue tulis ini takutnya udah tidur.

Makan, ya! Marah-marah terus juga butuh tenaga juga ७०'?.

#Aza

Fattah merapatkan bibir, membaca sticky notes itu. Menoleh ke meja makan dan membuka tudung saji.

Melihat capcay, ayam goreng mentega, tumis sosis dan udang crispy, lengkap dengan nasi putih.

Fattah menatap makanan-makanan itu tertegun dengan bahunya menurun tanpa sadar.

"Gue jahat banget, ya?" gumamnya pada diri sendiri.

***

Lucanne membawa setumpuk buku di tangannya-menuruni tangga dan berbelok di sana.

Brak!

Namun kesialan justru menimpanya saat dirinya di tubruk seseorang.

"Shit!" umpatnya kesal, "Punya mata nggak-"

"Eh, sorry-sorry, kak! Nggak sengaja," panik Aqqela berjongkok memunguti buku-buku itu.

Lucanne tersentak diam melihat Aqqela lah orang yang menabrak dirinya barusan.

"Oh iya, nggak papa." Dia mengangguk pelan.

Lucanne kemudian berjongkok di depan Aqqela-memunguti bukunya yang berserakan di lantai.

"Sorry banget!" kata Aqqela.

"Elo yang waktu itu di panti, kan?" tanya Lucanne membuka topik.

Aqqela mendongak dan mengangguk begitu saja, "Iya."

"Gue Lucanne."

Aqqela tersenyum tipis, "Aqqela, kak. Sekali lagi maaf, ya! Tadi buru-buru mau masuk kelas soalnya. Pelajarannya pak Bondan nih, serem."

"Santai aja! Gue-"

"Aqqela!" Sosok Fattah mendekat dan langsung menarik tangan Aqqela agar berdiri.

"Eh?" Aqqela menoleh kaget.

Fattah menatap Lucanne dengan tajam, "Gue udah bilang kan, lo nggak usah rese!" desisnya serius.

Lucanne mengangkat alis.

Aqqela mengerjap, "Fat, tadi gue habis jatuhin buku dia-"

"Gue nggak peduli," balasnya judes, lalu menarik tangannya pergi, "Ayo!"

Lucanne hanya diam, melihat Aqqela yang kini terseok-seok mengikuti langkah lebar Fattah.

"Fattah, apaan, sih?" Aqqela merintih kecil karena pergelangan tangannya di cengkram kuat oleh Fattah.

Cowok itu berhenti dan menoleh ke arahnya, "Jangan berurusan sama dia lagi!"

"Kenapa?"

"Kalau gue udah bilang jangan ya jangan. Nggak usah banyak tanya!" kata Fattah tegas.

"Aneh lo!" katanya membuat Fattah tersentak.

"Za, gue nggak main-main, ya! Jangan bergaul sama dia!" geram Fattah.

Aqqela mendesah, "Iya-iya."

Wajah Fattah masih tetap dingin seperti biasanya, "Sana masuk kelas!"

Aqqela mendongak melihatnya, "Elo masih marah?"

"Apa peduli lo emang?" tanya Fattah dan melangkah pergi.

"Fattah! Udah, dong! Sampai kapan mau marah terus?" kata Aqqela sambil mengekorinya.

"Ck, masuk kelas sana!" ketus Fattah.

"Ya elo diemin gue gini, gimana gue bisa fokus pelajaran?"

"Dih, biasa aja kok."

Aqqela mendelik kecil, "Biasa aja apa? Elo sinis banget ke gue sejak kemarin. Terus Vanilla itu, dia cewek lo, ya?"

Fattah menghentikan langkah begitu saja, "Tau dari mana lo soal Vanilla?" tanyanya datar.

Aqqela merapatkan bibir, "Kemarin. Waktu lo olahraga," balasnya tenang.

Alis Fattah terangkat, "Oh."

Aqqela berdecih, "Elo suruh gue jauh-jauh dari Oliver, tapi elo sendiri suka nempel sana-sini.

Waras lo?"

Fattah mendelik kecil, "Emang kenapa?"

"Ya nggak boleh."

Fattah tersentak, tertegun begitu saja. Dia berdehem, mencoba tenang.

"Lo sendiri masih sama Oliver. Kenapa gue nggak boleh?"

Aqqela mengeryit, "Siapa yang masih sama Oliver? Kan udah putus."

Fattah berdecih sinis, "Buktinya masih peluk-pelukan."

"Apaan, sih?" kata Aqqela ternganga, "Gue lagi bahas Vanilla, kenapa jadi Oliver?"

"Vanilla gebetan gue. Lo mau apa?" balas Fattah menantang.

Garis wajah Aqqela langsung mengendor, "Jadi lo beneran suka dia ternyata?"

"Kenapa?"

"Gue suruh lo jawab, malah tanya kenapa."

"Kalau gue suka Vanilla, apa efeknya buat lo?"

Aqqela tersentak seakan di tembak tepat. Tiba-tiba jadi terdiam ketika mata coklat Fattah menatapnya tepat, membuat lidahnya kelu.

Dia mengerjap pelan, "Oh. Ya nggak papa, seenggaknya gue nggak dosa sendirian kalau gue masih deket sama Oliver. Bye maksimal!" katanya cuek, lalu berbalik badan dan pergi dari sana, membuat Fattah hampir mengumpat.

"Jangan berani-berani ya lo!" Kesal Fattah sudah tidak bisa di bendung lagi, tapi Aqqela malah memeletkan lidah ke arahnya tanpa takut.

Ting!

Ponsel di sakunya ber-denting, membuat Aqqela merogoh sakunya mencari HP.

Oliver: Nanti bisa ketemu? Aku mau tanya hal penting.

Aqqela: Dimana?

Oliver: Nanti aku jemput ke sekolah.

Aqqela: Boleh. Gue juga mau ngomong hal penting sama lo.

Oliver: Oke. Nanti kalau aku belum sampai, tunggu, ya!

Aqqela: Iya

***

Sore itu, Jakarta hujan deras.

Gadis cantik bermata bulat berlarian kecil,

menyebrang jalan dari gerbang sekolah menuju ke ruko kosong di depan sekolahnya ingin berteduh.

Dia duduk di lantai sambil memeluk lutut dan

bersandar ke tembok, menatap hujan di depannya.

Aqqela menghela napas.

"Oliver jadi nggak, sih? Udah jam 4 belum datang juga," keluhnya sambil melirik jam tangannya.

Sudah 1 jam dirinya menunggu, tapi Oliver belum kelihatan batang hidungnya.

"Kayaknya nggak jadi, deh."

Tapi Aqqela tersentak, saat melihat ninja hitam berhenti di depannya, dengan si pengendara membuka helm dan berlarian kecil mendekat-karena kehujanan.

"Ngapain lo?" tanya Aqqela bingung.

"Hujan. Buta mata lo?" ketus Fattah sambil duduk di sebelahnya.

"Habis darimana? Kirain langsung pulang pas habis bel," balas Aqqela.

Fattah melirik dengan garis wajah angkuh tak bersahabat, "Kencan lah, ke kos-nya Vanilla.

Kenapa?" tanyanya dengan sengaja menantang.

Raut wajah Aqqela langsung berubah, "Kos-nya dekat sini?"

"Iya."

"Oh."

Fattah mendecak, merasa kesal dengan jawaban singkat itu.

"Khem, lo sendiri, kenapa masih di sini?"

Aqqela menoleh. Sedikit mengangkat dagunya supaya terlihat sombong.

"Nungguin Oliver, dong. Why tanya-tanya?"

Fattah tersentak. Rahangnya jadi mengeras, menatap Aqqela tajam.

"Ngapain?" tanyanya tak suka.

"Nge-datelah, di restoran mahal pastinya. Emangnya kayak lo, nggak modal? Ngapel di kos doang cih. Itu pacaran atau kumpul kebo?"

balasnya membuat Fattah ternganga.

Padahal tadi dia habis dari warung kopi belakang sekolah sama anak LEVIAN, bukan Vanilla.

Sengaja memancing Aqqela, kali aja cemburu.

Tapi ekspetasinya di kembalikan ke realita menyakitkan. Bukannya cemburu, Aqqela malah mau kencan sama Oliver.

"Lo bener-bener, ya! Makin hari makin berani sama suami lo," omel Fattah tak suka.

"Terus gue diem aja pas di tindas gitu? Elo aja sama Vanilla mulu, kenapa gue nggak boleh?"

Fattah mengalihkan wajah. Benar-benar kesal sekarang.

"Terserah," katanya malas membuat Aqqela mencibir.

Hening.

Keduanya sama-sama diam sambil duduk bersebelahan.

Fattah meruntuk kecil, entah kenapa sebagian hatinya mengganjal, takut Aqqela berpikir kalau dirinya dan Vanilla ada apa-apa.

"Aza!" panggilnya tak tahan.

Aqqela menoleh, membuat pandangan keduanya beradu tepat, "Kenapa?"

"Gue sama Vanilla nggak ada apa-apa."

Aqqela mengangkat alis, "Kenapa lo jelasin? Gue nggak nanya," cibirnya sok sinis.

"Biasa aja kali, nggak usah sinis gitu. Cemburu banget?" tanya Fattah tak mau kalah.

"Dih, siapa yang cem-

CTARRRRR!!!

"Allahuakbar!" Aqqela reflek memekik kaget.

Fattah terkekeh pelan dan menoleh, "Lo lebay banget kalau lihat petir."

Aqqela mendongak kesal, bersamaan dengan Fattah yang merunduk membalas tatapannya.

Keduanya sama-sama tersentak dan tertegun begitu saja saat menyadari wajah keduanya teramat dekat.

Sejenak, Aqqela di buat terpaku saat mata coklat itu berhasil mengunci matanya. Dia sendiri merasakan dirinya kehilangan satu tarikan napasnya sekarang.

Mata Fattah tanpa sadar melebar, menikmati iris mata coklat milik gadis itu. Jantungnya berdebar cepat, entah kenapa jadi gemas begitu saja.

Fattah menelan ludah, menggigit bibir melirik bibir pink yang di poles lip gloss itu. Entah kenapa, dia merasa tertantang untuk merasakannya.

Sampai Aqqela tersentak saat kedua pipinya di raih lembut oleh Fattah dan di tarik mendekat.

"Gue cium lo, boleh nggak?" tanya Fattah serak, meminta izin.

Mata Aqqela melebar sepenuhnya dan bengong begitu saja.

Fattah mendecak kecil, kemudian langsung menarik kedua pipi Aqqela mendekat dan menempelkan bibirnya tepat di atas bibir ranum gadis itu.

Aqqela kaget bukan main, dengan lehernya sontak agak terangkat, saat Fattah mencium bibirnya, membuat dada Aqqela nyaris meledak.

Awalnya hanya menempel, sebelum Fattah menarik wajahnya sesaat, mengambil napas dan kembali memiringkan wajahnya untuk mencium bibir Aqqela lagi-melumatnya pelan dan hati-hati.

Kali ini, Fattah menggigit-gigit kecil permukaan bibir Aqqela, meminta gadis itu membuka mulut.

Aqqela yang masih membeku syok, entah kenapa secara naluri membuka mulutnya perlahan, sehingga Fattah dengan mudah memainkan lidahnya di dalam rongga mulut gadis itu.

Dada Aqqela berdebaran, dengan tangannya meremas pelan seragam Fattah di bagian dada-merasa gugup bukan main.

He's great kisser.

Fattah tidak agresif, justru ciumannya lembut menuntun Aqqela dengan perlahan.

Fattah melanjutkan lumatan dan hisapannya seakan tak mau berhenti. Hidungnya terus menekan wajah Aqqela, sementara bibirnya tak berhenti menghisap bibir yang pernah dia kecup saat di kantin.

Cukup lama ciuman itu terjadi, sampai Fattah melepaskan ciuman dengan pelan, membuat kelopak mata Aqqela terbuka begitu saja dan keduanya berpandangan.

"Manis," ucap Fattah sambil mengusap bibir Aqqela yang basah dan memutus benang saliva dari bibir keduanya.

Aqqela menggigit bibir. Entah kenapa jadi kikuk dan grogi bukan main sekarang setelah ciuman itu.

Fattah menelan ludah, menatap bibir basah gadis itu penuh minat. Meruntukki diri sendiri yang malah kecanduan dengan bibir manisnya.

Fattah kembali memiringkan wajah, bersiap mencium lagi.

Namun entah kenapa, mata Fattah bergerak ke arah sesuatu dan tersentak, membuat Aqqela ikutan menoleh.

Mata Aqqela membulat sepenuhnya melihat seseorang berdiri di pinggir jalan, dengan tubuhnya basah kuyup karena hujan menatap keduanya tajam sekarang dengan tangan mengepal.

"Ol-Oliver?"

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!