Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mochie Cokelat
Suara tangga berdecit. Stella membeku mendengar suara itu, lalu cepat menoleh ke belakang. Area di bawah tangga masih gelap. Tidak ada tanda-tanda Kayson.
Bagus.
Stella tak ingin Kayson memergokinya sedang mengobrak-abrik kulkasnya. Tapi ya, seorang perempuan harus melakukan apa yang harus dia lakukan.
Stella sudah mencoba tidur. Namun ia hanya berguling-guling dan menatap langit-langit. Lalu ia sadar belum makan sejak siang. Rasa lapar membuatnya tetap terjaga. Begitu juga rasa takut. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak terhadap rasa takut itu, setidaknya untuk saat ini. Sementara lapar adalah masalah yang bisa ia atasi.
Saat mencapai lantai bawah, Stella menoleh ke kiri lalu ke kanan. Ia membuka pintu di sebelah kanan.
Sebuah lampu dibiarkan menyala di dalam ruangan itu, menerangi rak buku besar. Meja kerja. Kursi kulit.
Ruang kerja Kayson.
Tangan Stella mencengkeram gagang pintu. Ia bisa melihat beberapa bingkai foto di atas meja. Seluruh ruangan tampak begitu normal.
Itu bola sepak di atas kursinya?
Stella melangkah mendekat, menyipitkan mata agar bisa melihat lebih jelas. Oh, benar.
“Apa yang lo lakuin?”
Stella tersentak dan berputar, pinggulnya membentur sisi meja. Benturan itu membuat salah satu bingkai foto tergelincir dari tepi meja dan jatuh ke lantai dengan bunyi keras.
“Bumble Bee, nyalakan lampu ruang kerja!” kata Kayson, dan lampu langit-langit langsung menyala.
Seketika ruangan yang tadinya hanya diterangi lampu kecil berubah terang benderang.
Stella berkedip cepat saat matanya menyesuaikan diri dengan cahaya.
“Stella?” Kayson menyilangkan tangan di dada dan menyandarkan bahunya yang lebar pada kusen pintu. “Lo lagi ngapain?”
Stella meraih bingkai yang jatuh. “Cari sesuatu buat dimakan.”
Kayson mengernyit. “Ini bukan dapur.”
“Iya, ya .…” Stella berdeham. “Gue belum di ajak keliling sama tuan rumah, jadi gue lagi nyari—”
Suaranya terhenti. Ia baru saja melihat foto di dalam bingkai itu. Foto dirinya. Ia tersenyum lebar melihat foto dirinya sedang menggandeng bahu Riggs.
“Kenapa lo punya foto gue?” tanya Stella dengan mata membelalak.
Kayson menghela napas. Tangannya turun, lalu ia berjalan pelan dan nyaris tanpa suara mendekatinya. “Itu foto lo sama adik gue.”
Kayson mengulurkan tangan mengambil bingkai itu. Jari-jarinya menyentuh jari Stella.
Kayson benar-benar membuatnya bingung. Terakhir kali mereka bertemu, beberapa minggu lalu saat Natal, pria itu hampir tidak bicara dengan Stella ketika datang ke pesta bersama Riggs.
Tentu saja, model cantik yang sedang naik daun saat itu berdiri di sampin Kayson. Dia biasanya selalu ditemani seseorang.
“Kenapa gue harus ada di bingkai foto rumah lo?” Sekarang Stella tampak benar-benar bingung.
Stella melepaskan bingkai foto itu. “Gue kan bukan keluarga lo.”
Mata Kayson tetap tertuju padanya. “Iya. Lo memang bukan keluarga.”
Kayson mengembalikan bingkai itu ke meja. Lalu tatapannya menyusuri dirinya. “Lo … kelihatan … hmm .…”
“Oh ... jubah ini tadi ada di kamar mandi. Mungkin mantan pacar lo ninggalin itu di sana?” Stella merasa takut untuk memakai pakaian orang lain. “Gue boleh pinjam yang lain gak? Kayak kaus lama atau apa gitu?”
Padahal jubah itu berbahan sutra biru muda, panjangnya sampai pertengahan paha. Terlihat seksi. Menggoda. Dan itu jelas bukan dirinya.
Kayson menelan ludah. Matanya kembali bertemu dengannya. “Iya. Gue punya.” Lalu ia mulai membuka kancing kemeja putih yang dikenakannya.
Kayson masuk ke ruangannya dengan jeans longgar dan kemeja putih berkancing. Manset lengannya terbuka di pergelangan.
Stella ragu kalau Kayson sudah sempat tidur. Dan sekarang, tampaknya, dia sedang membuka pakaian di depannya.
“Lo enggak perlu .…” Stella berhenti.
Kayson sudah membuka setengah kancing, memperlihatkan bagian atas dadanya. Saat Stella menatap, kemeja itu terbuka lebih lebar, menampakkan perutnya yang luar biasa.
Otot-otot yang tegas dan indah.
Dia membuka kancing terakhir dan melepaskan kemeja dari bahunya. Stella masih menatap dadanya.
Perut six-pack itu.
Atau twelve-pack?
“Seberapa sering sih lo nge-gym?”
Astaga.
Pertanyaan itu pun terucap keras. Ia memang punya kebiasaan mengatakan hal yang salah di depan Kayson.
Kayson memberinya senyum pelan. Pelan dan menggoda. Ia juga menyodorkan kemejanya. “Giliran lo.”
“Hah?”
“Lo enggak suka jubahnya, kan?” Kayson mengangkat bahu. “Ganti aja. Nih, pakai kemeja gue!”
Stella merebut kemeja itu. “Gue enggak bakal ganti di depan lo.”
“Sayang banget.” Ia mengangkat bahu. “Mau gue balik badan? Maksud gue, gue bisa membelakangi lo dan lo bisa ganti baju. Beres.”
“Lo tahu siapa yang ninggalin jubah itu?”
Kayson mengangkat satu alis. Stella langsung paham artinya.
“Udah balik badan sana!"
Kayson berbalik, Stella memperhatikan punggung lebar dan bahu berotot itu. Bahu itu … dulu dia pemain bola yang hebat.
Stella menjatuhkan jubahnya. Kain sutranya jatuh ke lantai dengan desis lembut. Ia masih mengenakan celana dalam dan bra katun putih sederhana, lalu cepat-cepat memasukkan lengannya ke dalam kemeja Kayson.
Tentu saja ukurannya kebesaran dan membawa aroma segar khas Kayson. Jarinya sedikit kikuk saat ia buru-buru mengancingkannya. Kemeja itu menutupi jauh lebih banyak tubuhnya dibandingkan jubah tadi, jadi itu sudah cukup.
“Oke, udah.”
Kayson berbalik perlahan menghadapnya. Tatapannya mulai dari kepalanya, lalu turun perlahan menyusuri tubuhnya.
“Ini sih jauh lebih dari sekadar oke.”
Stella sedang menggulung salah satu lengan kemeja itu. Mendengar ucapannya, matanya menyipit penuh curiga.
Kayson berdeham. “Kalau tujuan lo biar kelihatan enggak seksi, lo gagal total. Maaf.”
“Bukan itu tujuannya!”
Kini kedua alisnya terangkat. “Jadi lo mau kelihatan lebih seksi? Misi berhasil!”
Pipi Stella memanas. “Gue cuma mau sesuatu yang enggak terasa kayak barang buangan.”
Semua gurauan lenyap dari wajah Kayson. “Oke. Enggak bakal kejadian lagi. Maaf.” Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. “Gue tunjukin dapur. Lo bisa makan apa pun yang lo mau.”
Hanya itu?
Stella melangkah maju dan melirik jubah di lantai. “Itu .…”
“Udah, tinggalin aja. Lo lapar. Kita urusin perut Lo dulu. Jubahnya nanti gue beresin.”
Stella bergegas mengejarnya, menyamakan langkah karena pria itu berjalan cepat. Mereka berbelok beberapa kali, lalu .…
“Bumble Bee, nyalakan lampu dapur,” ucap Kayson.
Lampu-lampu menyala, memperlihatkan dapur yang sangat besar.
Meja marmer granit putih mengilap. Empat wastafel. Dua oven. Dua kulkas.
Untuk apa pula satu orang butuh sebanyak ini?
“Bumble Bee itu sistem keamanan gue.”
Ya, Stella sudah menyadarinya.
“Mau apa lo, Stella?”
Tatapannya beralih padanya. “Gue cuma … nyari camilan.”
Ia menyelipkan rambut ke belakang telinga dan menarik pelan daun telinganya.
Bibir Kayson menegang. “Gue punya yang pas.” ia membuka kulkas, lalu berpindah ke freezer dan mengeluarkan satu galon es krim. “Lo masih suka Mochie cokelat?”
Tentu saja.
Stella langsung mengambilnya.
Kayson tertawa kecil. “Duduk di kursi bar. Gue ambil sendok.”
Stella naik ke bangku tinggi di depan meja, kemeja Kayson sedikit tersingkap di pahanya.
Kayson membuka laci, mengacak-acak isinya, lalu kembali dengan dua sendok.
“Lo mau berbagi?”
Sebenarnya tidak.
“Sejak kapan lo suka rasa selain cokelat?”
Kayson mengangkat bahu. “Cowok harus terbuka sama rasa baru.”
Rumahnya, es krimnya, jadi Stella memang harus berbagi?
Kayson duduk di bangku sebelahnya, meletakkan es krim di antara mereka, lalu menyodorkan satu sendok. Tiba-tiba Stella merasa gugup dan ragu mengambilnya.
“Gue enggak bakal gigit, Stella.”
Tentu saja tidak.
Ia meraih sendok itu.
“Kecuali lo mau digigit.”
Tatapannya langsung terkunci pada mata Kayson. Tidak ada keraguan tentang hasrat yang terlihat di sana.
Panas.
Geli.
Dan sulit disembunyikan.