Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Axlyn tersentak kecil. “Tidak, Tuan. Saya baik-baik saja.”
Ia menurunkan tangannya cepat-cepat. Di balik kain setelan itu, dua kehidupan kecil tumbuh perlahan. Setiap malam ia berbicara pelan pada perutnya, berjanji akan kuat. Anak kembar dari pria yang kini menatapnya seperti orang asing. Pria yang tidak mengingat dirinya baik disaat lima tahun yang lalu di Kota Xennor maupun dua bulan yang lalu di Praha.
Kay tidak tahu kenapa, tapi melihat gerakan kecil tadi membuat dadanya menghangat sekaligus nyeri. Rasanya sangat aneh, perasaan yang sebelumnya tidak pernah Kay rasakan belakangan ini karena efek kehamilan simpatik yang ia alami.
Dan baru kali ini, perasaannya jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Bahkan sejak menginjakkan kaki di Mansion ini Kay belum mengalami mual ataupun pusing yang selama ini menjadi rutinitas barunya. Seolah Kay baru saja menemukan obat mujarab.
“Papah mungkin telalu dekat cama Kak Alyn, makanya Kak Alyn jadi ndak nyaman,” ujar Hezlyn memberikan alasan yang paling masuk akal.
“Kalau begitu maafkan atas sikapku barusan,” ucap Kay meminta maaf langsung pada Axlyn.
“Tidak apa, Tuan!” balas Axlyn. “Sayang, maafkan mamah yang tidak bisa memberitahu Papah kalian bahwa kalian ada di sini. Maaf, karena membuat kalian berdua juga menjadi sosok yang terlupakan oleh Papah kalian sendiri. Mamah melakukan ini karena tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Papah kalian saat ini.”
Kay mencoba mengalihkan perhatian pada Hezlyn yang sedang bercerita, tapi gagal. Matanya selalu kembali pada Axlyn yang berdiri di depannya. Pada cara wanita itu berdiri sedikit lebih kaku ketika ia terlalu dekat. Pada caranya menghindari kontak mata lebih dari dua detik. Seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan. Seolah jika mata mereka bertemu terlalu lama, rahasia besar akan runtuh.
“Aneh, kenapa aku terus merasa tidak asing dengannya? Aku bahkan tidak bisa mengalihkan perhatianku padanya,” Kay bertanya-tanya dalam hatinya sendiri.
“Kamu yakin kita tidak pernah bertemu sebelumnya?” Kay bertanya lagi, lebih pelan.
Ruangan mendadak terasa sunyi. Axlyn mengangkat wajahnya hingga mata mereka kembali bertemu. Ada ribuan kenangan yang hampir tumpah dari tatapannya. Terutama cara Kay dulu melindunginya, bahkan hingga mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Namun Axlyn sudah bertekad untuk tetap menyembunyikan yang sebenarnya sampai Kay sendiri yang mengingat tentang dirinya. “Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Saya hanya menjalankan tugas menjaga Nona kecil di sini, Tuan.”
Jawaban itu seperti dinding. Rapi, tegas dan seolah tak bisa ditembus oleh apapun untuk menemukan kebenarannya. Alhasil, Kay hanya mampu menghela napas meski ada banyak pertanyaan yang kini menganggu pikirannya.
“Kenapa hatiku seolah tidak percaya? Kenapa rasa kehilangan yang tak bisa aku jelaskan selalu muncul setiap kali dia berpaling?”
“Aku tanya sekali lagi. Apa kamu yakin… kita tidak pernah bertemu sebelumnya?” Nada suaranya kali ini bukan lagi sekadar penasaran. Ada dorongan dan keyakinan samar yang membuatnya hampir frustrasi.
Axlyn menahan napas. Jarak mereka hanya sejengkal. Ia bisa menghitung hela napas Kay. Bisa merasakan hangat tubuh pria itu yang dua bulan lalu pernah ia rasakan. Namun, fakta bahwa Kay masih tetap tidak mengingatnya membuat perasaan kecewa itu kembali meliputi hatinya. Apalagi sekarang, ia hanyalah pengawal dari gadis kecil yang mungkin saja anak kandung Kay dengan wanita lain.
“Saya yakin, Tuan,” jawabnya tenang. Padahal jantungnya berdegup liar, seolah ingin membongkar semua kebohongan yang ia paksa bangun.
Kay menggeleng pelan. “Tidak. Setiap kali aku melihatmu, rasanya seperti ada sesuatu yang hilang… dan aku yakin kau pasti tahu jawabannya, bukan?”
Kalimat itu membuat Axlyn hampir goyah. Lagi-lagi tangannya refleks menyentuh perutnya, gerakan kecil yang segera ia hentikan ketika menyadari tatapan Kay turun mengikuti pergerakannya. Entah mengapa melihat Axlyn yang terus mengelus perutnya sendiri membuat Kay semakin merasa curiga bahwa Axlyn tengah berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.
“Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Kay, suaranya merendah.
“Kay, kau di sini rupanya.”
Belum sempat Axlyn menjawab, suara lain memotong. Suara itu berasal dari Noah yang kini berjalan menghampirinya dengan ekspresi tengilnya. Di belakangnya, tak lama kemudian Spencer menyusul, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Mereka berhenti ketika melihat jarak Kay dengan Axlyn yang terlalu dekat.
“Ada apa ini?” tanya Noah ringan, tapi sorot matanya tajam.
Kay tidak mundur. “Noah… bukankah kau kenal dia. Katakan padaku dengan jujur… apakah aku benar-benar tidak punya hubungan apa pun dengannya? Karena entah mengapa aku merasa sangat tidak asing dengannya.”
Ruangan terasa membeku. Axlyn menunduk, menyembunyikan getar di matanya. Noah dan Spencer saling berpandangan singkat seolah ada percakapan tanpa suara. Lalu, hampir bersamaan, keduanya menjawab.
“Itu mungkin hanya perasaanmu saja.” Kata Spencer dan Noah serentak. Nada mereka berbeda, tapi kalimatnya sama persis.
“Axlyn adalah teman lamaku, kami juga sudah lama tidak bertemu. Aku bahkan tidak tahu bahwa dia kini bekerja sebagai pengawal Hezlyn,” ujar Noah memberikan alasan lain.
Kay mengerutkan dahi. “Hanya perasaanku?”
“Atau jangan-jangan kau merasa dia adalah wanita yang kau tiduri saat di Praha?” celetuk Spencer yang ingin melihat reaksi Axlyn untuk memastikan dugaannya.
Degh, …
Dan benar saja, tubuh Axlyn seolah seketika mematung saat mendengar kalimat yang Spencer lontarkan. Bahkan tanpa sadar, tangannya kembali menyentuh perutnya seakan berusaha menyembunyikan sesuatu yang ada di dalamnya.
Kay kembali menangkap pergerakan itu, dimana Axlyn selalu mengelus bagian perutnya. Namun, kali ini bukan hanya Kay yang memperhatikannya. Akan tetapi, Spencer juga turut memperhatikan termasuk raut wajah yang Axlyn perlihatkan ketika dirinya membahas tentang wanita yang bersama Kay saat di Praha.
“Apa mungkin Axlyn adalah wanita yang sedang Kay cari. Jika itu benar … maka kemungkinan besar saat ini Axlyn sedang mengandung anak dari Kay. Namun, kenapa Axlyn tidak mengatakan apapun dan masih bersikap seolah kita semua tidak saling mengenal?” Spencer kembali menebak-nebak apa yang terjadi.
Noah akhirnya melangkah maju. “Apa maksud ucapanmu barusan?”
Kay pun langsung memastikan, “Benarkah itu kau?”
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌