NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan
Popularitas:182.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Malam di Surabaya terasa lebih lembap setelah hujan turun sepanjang sore. Titik-titik air masih menggantung di daun kamboja yang tumbuh di halaman belakang rumah Adytama. Lampu-lampu taman memantulkan bayangan yang bergerak lembut, menyisakan kesan sepi yang aneh—sepi yang tidak kosong, tapi penuh hal yang tidak diucapkan.

Kirana membuka jendela kamarnya perlahan. Udara dingin menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Ruangan sederhana itu terasa lebih luas saat angin malam masuk. Tirai putih tipis berkibar pelan, menyentuh lengan Kirana.

Ia memejamkan mata sesaat. Setelah makan malam yang penuh ketegangan tadi, ketenangan seperti ini adalah hal paling mewah yang bisa ia miliki.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Kirana membuka mata, meraih ponsel di meja nakas. Nama yang muncul di layar membuatnya langsung duduk tegak.

Kirana menggeser tombol jawab. “Halo, Rika?”

Suara perempuan muda terdengar cemas namun profesional. “Maaf mengganggu malam-malam, Mbak Kirana. Tapi besok sore ada meeting mendadak dengan investor Jepang. Mereka ingin mempresentasikan proposal kolaborasi baru.” Suara asisten pribadinya dari KiraPharma.

Kirana mengangguk, meski tahu Rika tidak bisa melihat. “Jam berapa?”

“Pukul empat sore. Dan besok pagi Mbak Kirana ada jadwal rutin kunjungan ke laboratorium pusat. Dokter Rivan juga ingin melaporkan hasil uji terakhir project Stellaris.”

Project Stellaris adalah penelitian paling besar yang sedang KiraPharma kembangkan—obat yang ditargetkan bisa membantu pasien autoimun langka. Sesuatu yang Kirana perjuangkan selama bertahun-tahun.

“Baik, Rika. Aku catat semuanya. Kalau ada update, kabari aku langsung.”

“Siap, Mbak.”

Telepon berakhir.

Suasana kamar kembali sunyi, tapi tidak sama seperti sebelumnya. Kirana merasakan gelisah yang sulit dijelaskan. Ada terlalu banyak hal yang harus ia pikirkan… terlalu banyak rahasia yang harus ia jaga dari keluarga yang bahkan tidak peduli apa yang sebenarnya ia lakukan dalam hidup.

**

Lampu sorot taman menyinari jalur batu menuju halaman belakang. Kirana melepas sandal rumahnya, berjalan dengan langkah pelan. Udara malam membelai wajahnya, membawa sedikit rasa damai.

Tapi di tengah keheningan itu, telinganya menangkap alunan lembut sebuah gitar. Petikan yang jernih, pelan, dan terasa… hangat. Nada-nada itu memecah kesunyian tanpa merusak ketenangan.

Kirana mengenali suara itu, ia melangkah lebih dekat. Di bawah pohon besar tempat ayunan gantung dipasang, ada seseorang yang duduk sambil menunduk sedikit, fokus pada gitar akustik di pangkuannya.

Rio. Supir keluarga yang terlihat seperti laki-laki biasa—kaos hitam gelap, celana kargo, rambut sedikit acak, wajahnya diterangi lampu taman. Tapi Kirana tahu, ada sesuatu yang berbeda dari laki-laki ini. Cara ia duduk, cara ia memainkan gitar, cara ia diam… semua terasa tidak seperti supir lain yang pernah bekerja di rumah ini.

“Mas Rio,” panggil Kirana pelan.

Suara itu langsung membuat Rio berhenti memetik gitar. Seolah refleks, ia berdiri dari ayunan, tegap, namun tidak kaku. Ada sesuatu dalam gerakannya yang selalu terlihat… elegan. Seperti seseorang yang terbiasa mengambil keputusan penting, bukan hanya mengemudi.

“Oh—Mbak Kirana. Maaf… saya nggak tahu kalau suaranya mengganggu.” Rio menunduk sedikit. Suaranya rendah, tenang, namun terdengar sungguh-sungguh.

Kirana tersenyum kecil. “Nggak. Sama sekali nggak mengganggu. Permainan musik Mas Rio bagus. Menenangkan.”

Mata Rio sedikit melebar, seolah tidak menyangka mendapat pujian. Wajahnya yang biasanya datar terlihat menegang sejenak, seperti ia tak terbiasa dipuji dengan tulus.

“Terima kasih, Mbak.”

Kirana mendekat. Cahaya lampu taman membuat sorotan matanya menajam.

“Mas Rio lagi santai?”

“Cuma… menghabiskan waktu sebelum tidur.” Rio mengalihkan pandangannya ke gitar, lalu kembali ke Kirana. Ada jeda kecil, seolah ia ingin bertanya sesuatu tapi menahannya.

“Ada perlu, Mbak?”

Kirana menarik napas. “Mas Rio… besok pagi kan nganter Bianca ke kampus, ya?”

Rio mengangguk. “Iya, Mbak.”

“Setelah itu, aku mau minta tolong Mas Rio nganter aku ke suatu tempat.”

Rio langsung menegakkan tubuh. “Tentu. Mbak Kirana mau diantar ke mana pun, saya siap.”

Kirana menyodorkan ponselnya. “Tolong scan barcode ini. Biar besok kita lebih gampang koordinasi.”

Ada sedikit jeda saat Rio menatap layar ponselnya—seolah ia sedang memeriksa sesuatu secara lebih teliti dari yang seharusnya. Lalu ia mengeluarkan ponselnya sendiri, mengarahkan kamera, dan memindai barcode kontak Kirana.

Beep.

Kontak tersimpan.

Mereka berdiri dekat, hanya terpisah beberapa langkah. Dan anehnya, suasana itu terasa… canggung. Canggung yang bukan menjauh, tapi justru mendekatkan. Seperti magnet yang belum berani menyatu.

“Nomor saya sudah masuk, Mbak,” kata Rio sambil menunjukkan layar ponselnya. “Kalau Mbak butuh apa-apa, tinggal hubungi saya.”

Kirana mengangguk, terkesan dengan ketepatan, ketenangan, dan cara Rio memperlakukannya seperti seseorang yang lebih penting daripada sekadar majikan supir.

“Aku bakal kirim lokasi besok pagi,” ucap Kirana.

“Baik.” Rio menunduk sopan.

Kirana sempat menatap gitar di pangkuan Rio. “Mas Rio… kenapa milih main gitar di sini?”

Rio sedikit terdiam. “Tempat ini… tenang.”

“Tenang,” ulang Kirana. “Aku juga sering cari ketenangan di sini.”

Ada sesuatu yang lewat di mata Rio. Bukan sekadar rasa hormat, tapi empati. Seolah ia mengerti kalau rumah sebesar ini tidak selalu terasa seperti rumah bagi seseorang.

“Mbak Kirana capek, ya?” tanya Rio, pelan, hati-hati.

Pertanyaan itu membuat Kirana menoleh. Ia tidak menyangka seorang supir bisa membaca ekspresinya seakurat itu.

“Aku baik-baik saja,” jawab Kirana, meski suaranya terdengar lelah.

Rio tidak membalas, tapi tatapannya… tajam, penuh analisa. Seperti seseorang yang terbiasa membaca manusia, bukan hanya mengamati.

Kirana buru-buru mengalihkan pandangan. “Aku masuk dulu, Mas.”

“Selamat malam, Mbak Kirana.”

Kirana melangkah pergi, namun sebelum masuk ke dalam rumah, ia menoleh sekilas.

Rio masih berdiri di bawah pohon, memegang gitar dengan satu tangan. Tapi matanya… mengikuti kepergian Kirana. Ada rasa penasaran yang dalam. Rasa ingin tahu yang tidak terucapkan. Dan sesuatu lagi—sesuatu yang bahkan Rio sendiri tidak mengerti.

Setelah memastikan Kirana menghilang di balik pintu kaca, Rio menunduk, menarik napas panjang, dan kembali duduk di ayunan. Lampu taman memantulkan wajahnya yang biasanya tegas, kini mengendur sedikit. Keningnya berkerut.

“Sampai kapan aku bisa jaga penyamaran ini…” gumamnya lirih.

Ia memasukkan ponselnya ke saku. Kontak “Kirana” baru saja tersimpan. Hatinya berdetak tidak wajar.

Rio, alias Raditya Mahardika, pewaris tunggal Mahardika Group—laki-laki yang selalu menjadi pusat perhatian, kini duduk sebagai seorang supir bernama Rio di halaman rumah keluarga Adytama. Tanpa ada seorang pun yang tahu.

Kecuali dirinya sendiri. Dan Kirana… perempuan yang membuat hatinya terasa aneh akhir-akhir ini… sama sekali tidak menyadari siapa laki-laki di depannya atau mungkin itu yang membuatnya tertarik.

Kirana memperlakukannya sebagai manusia, bukan pewaris mahakaya yang biasa dilayani semua orang. Di depan Kirana… ia merasa menjadi dirinya sendiri.

Rio menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Kirana, lalu tersenyum kecil. Senyum yang jarang muncul di wajahnya yang dingin.

“Besok,” gumamnya. “Besok aku bakal tau lebih banyak tentangmu, Kirana.”

***

1
Lucy
Reva ttp aja iri dgn status JD istri Haris ttp mau menguasai seluruh hartanya,mmg gila harta
GK sabar nunggu Sabtu undangan mkn di kluarga mahardika😄😄😄
Reni Anjarwani
makin seru thor doubel up thor
stela aza
udh mau 100 bab tapi belum menikah ,, kelamaan trs kasus keluarga Kirana ngusut nya juga lama kenapa g langsung j s ,,, terlalu panjang membosankan 👶
Mundri Astuti
kirain DDI gedung thor acara pertunangannya, kan jadi tau tuh org bnyk
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Lucy
lanjut Thor double up👍👍👍seru nih papi Rivaldo setuju dgn ide Raditya dlm pesta pertunangan itu buat kejutan biar Reva dan Bianca kejut batin🤣🤣
Desi Santiani
ya ampun thor, kaget siang2 dh dpt up yg manis2 dr mereka, semangat trus thor dtunggu selalu update kisah merekaa 😍😍😍
Mundri Astuti
tetep stay nih thor ❤️
dapurAFIK
ga sabar nunggu moment Ituuuuu
semaput ga tuh mama Reva & Bianca 😆😆
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Mundri Astuti
ngga sabar momen itu tiba, semua kebusukkan Reva dan ayahnya Kirana kebongkar, dan mereka tahu siapa Kirana sebenarnya
Ma Em
Kirana cepat bongkar semua kebusukan mama Reva dan identitas Kirana yg seorang CEO kirafarma segera diketahui oleh pak Haris , agar pak Haris dan mama Reva tau siapa Kirana Adytama yg sebenarnya .
Lucy
seru seru cepatlah kebongkar kejahatan reva🤣
Arix Zhufa
spill wajah Radtya saat menjadi Rio
kok orang tidak bs mengenali
Lucy
lanjut Thor double up
Reni Anggraeni
up lg torr
Desi Santiani
anggap saja takjil untuk buka puasa 😄
Ma Em
Pak Haris kalau tau bahwa Kirana seorang CEO ternama pasti akan sock karena tdk disangka Putri yg selalu dia abaikan adalah orang yg sdh sukses jadi pengusaha , begitu juga dgn mama Reva juga Bianca mungkin akan kena serangan jantung karena orang yg selalu dia rendahkan adalah seorang pengusaha kirafarma .
Mundri Astuti
itu belum seberapa ayah Haris, putri yg kamu abaikan ini ....beuh jauh diatas kamu kemampuan memimpinnya
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!