Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya karena takut tidak diterima atau di anggap tidak serius dalam akademik.
Karena, sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter di masa depan dan mengambilan pelajaran tentang kedokteran.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memperdalam bakatnya dalam bidang seni...?
••《 Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!》••
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author tidak sesuai dengan sejarah..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Hasna Gilang jadian
Sedangkan Inara juga sudah sampai bersama Kenzo, saat sampai di gerbang rumahnya Kenzo membantu Inara mengangkat tasnya.
"Apa isi tasmu mengapa berat sekali." Ucap Kenzo saat mengangkat tas inara.
"Buku pelajaran dari guru-guru untuk belajar dirumah dan juga lembaran soal-soal yang perlu aku kerjakan." Ucap Inara kelelahan.
"Mengapa tidak bilang pada ku, kalau tidak tadi bisa di taruh di depan." Ucap Kenzo sambil mengambil tas Inara.
"Mulai sekarang saat pulang sekolah aku yang membawa tasmu, ayo masuk!." Ucap Kenzo lalu ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Inara.
"Ia menganggap rumahku seperti rumahnya sendiri." Gumam Inara lalu ia mengikuti Kenzo Kedalam rumah.
Di rumah sudah ada bunda Dewi dan Varel yang juga sudah pulang sekolah.
"Uni...! Kamu manja sekali tas sekolah pun bang Kenzo yang membawakan." Ucap Varel saat melihat Inara tidak membawa tas, justru Kenzo yang membawanya.
"Tidak apa-apa, tas inara sangat berat dia tidak sanggup membawanya." Ucap Kenzo lalu masuk kedalam rumah menaruh semua buku-buku Inara diatas meja.
"Nara, untuk apa kamu bawa buku sebanyak ini, bukankah kamu sudah mencatat daftar pelajaranmu." Ucap Bunda Dewi cemas jika inara membawa buku sebanyak itu kesekolah setiap hari, mungkin tubuh inara hanya tinggal tulang pikir Bunda Dewi.
"Ini buku untuk belajar kelompok bersama teman-temanku bunda?." Ucap Inara sambil menjelaskan kepada Bunda Dewi.
"Nanti malam teman-temanku datang belajar kelompok kesini, dan beberapa hari ini teman-temanku mungkin sering datang untuk belajar kerumah! Apakah tidak apa-apa Bunda?." Ucap Inara minta izin kepada bundanya terlebih dahulu apakah boleh teman-temannya sering-sering kerumah.
"Tidak apa-apa justru bunda senang, kalian berinisiatif untuk belajar bersama-sama seperti itu." Ucap Bunda Dewi lagi.
"Oh ya Nak Kenzo terimakasih ya, nanti juga datanglah kesini untuk mengajari Inara, mungkin aja ada materi yang tidak paham olehnya, Nak Kenzo bisa mengajarinya." Ucap Bunda Inara kepada Kenzo.
"Tenang aja bunda akan memasak makanan kesukaanmu." Ucap Bunda Dewi lagi sambil tersenyum.
"Tidak usah repot-repot bunda jangan terlalu lelah, aku memang berniat membantu belajar Inara, bunda tenang aja aku mengajarinya sampai ia paham." Ucap Kenzo pelan kepada Bunda Dewi.
"Tidak apa-apa bunda tidak repot sudah biasa." Ucap Bunda Dewi lagi.
"Kalau begitu aku pamit dulu bunda, assalamualaikum." Ucap Kenzo lalu Kenzo keluar dari rumah Inara dengan senyuman dibibirnya.
"Bunda aku mengantar bang Kenzo dulu." Ucap Inara ia mengejar Kenzo, lalu bertanya?
"Apa yang bunda bicarakan denganmu,bang?." Tanya Inara kepada Kenzo saat mereka sudah jauh dari bunda Dewi.
"Tidak ada hanya memintaku sering-sering main kerumah." Ucap Kenzo asal lalu ia menyalain mesin motornya.
"Aku pulang dulu, istirahatlah nanti malam otakmu akan terkuras." Ucap Kenzo sambil tersenyum kepada Inara.
"Terimakasih bang, kamu baik sekali padaku." Ucap Inara lagi, kenzo hanya tersenyum lalu ia melajukan motor kerumah seberang.
Tidak terasa malam pun tiba, teman-teman inara sudah ada yang datang, kecuali Hasna dan Gilang, mereka belum datang.
"Aku yakin, antara mereka berdua pasti ada sesuatu." Ucap Aira kepada Inara dengan jiwa penasarannya.
"Nanti kita tanyakan saja dan mereka untuk mengaku." Ucap Naura dengan tegas sambil mengepalkan tangannya.
"Aku keatas dulu mengambil buku pelajaran, kita belajar didibawah aja, lebih luas tempatnya." Ucap inara kepada temannya.
"Aku bantu." Ucap Kenzo lalu ia berdiri sambil mengikuti Inara dari belakang.
"Tidak usah bang, kamu tunggu aja disini, semua bukunya ada dikamarku." Ucap Inara sedikit malu, bila Kenzo masuk kedalam kamarnya.
"Emangnya kenapa kalau di kamarmu, aku sudah sering masuk ke kamarmu." Ucap Kenzo santai, inara cepat-cepat menutup mulut Kenzo.
"Bang, kalau ngomong itu lihat tempat, mereka ada disini jangan asal ngomong." Ucap Inara pelan ditelinga kenzo, pipinya sudah memerah karena malu, ia menutup mulut kenzo supaya tidak asal bicara lagi.
"Ya sudah lah, aku ikut." Ucap Inara pasrah membiarkan Kenzo ikut ke kamarnya. Dari pada Kenzo berbicara sembarangan lagi.
Kenzo hanya menahan senyumannya karena ia sangat gemas melihat pipi inara memerah ingin rasanya ia gigit saat itu juga.
Mereka sampai di kamar Inara ia langsung mengambil buku pelajarannya karena ia tidak ingin lama-lama di kamar bersama Kenzo tidak tahan dengan jantungnya yang berdetak kuat.
Berbeda dengan Kenzo ia justru memperhatikan seluruh dekor kamar Inara, barang dan boneka pemberian darinya masih Inara pajang tempat masing-masing, dan juga ada boneka beruang teman tidur inara juga pemberian dari nya.
Ia menahan senyuman di bibirnya ternyata inara masih memajang pemberian darinya, tidak ia buang sama sekali.
" bang Ken ayo keluar dan bantu aku membawa ini." Ucap Inara karena ia hanya melihat Kenzo berdiri saja.
"Oh sudah selesainya." Ucap Kenzo cepat lalu membawa seluruh buku pelajaran Inara kebawah.
"Hey, sisakan sedikit untuk aku bawa." Panggil Inara ia mengejar Kenzo turun. "Tidak usah biar aku aja." Balas Kenzo lalu ia melanjutkan turun.
Saat sampai di bawah Hasna dan Gilang juga sudah sampai, Inara meletakkan buku pelajaran diatas meja.
"Kalian sudah datang, sejak kapan." Ucap Inara kepada mereka berdua.
"Saat kamu keatas kamu datang." Ucap Hasna kepada Inara, Inara hanya mengangguk ia mengambil makanan kedapur untuk ngemil sambil belajar.
"Makan dan minumlah terlebih dahulu sebelum kita belajar belum tentu dapat makan, karena guru pengawasnya sangatlah ketat." Ucap Inara sambil melihat Kenzo.
"Aku tidak sekejam itu juga kali, Nara!"ucap Kenzo sambil menyentil kening Inara.
"Ih suka bangat menjitak jidatku, ini rasakan bagaimana rasanya!, sakitkan?." Ucap Inara sambil membalas Ia juga menjentikkan jarinya dikepala Kenzo.
Lalu mereka makan bersama sebelum belajar, saat asyik makan sambil mengobrol, tiba-tiba saja Inara langsung bertanya kepokok inti pembahasan.
"Kalian kapan Jadian?." Ucapnya kepada Gilang dan Hasna, mereka yang sedang asyik makan, membuat Hasna terbatuk.
Huk..!! Huk..!! Gilang menepuk-nepuk punggung Hasna sambil memberikan minuman kepada nya.
"Kenapa apakah pertanyaanku salah membuat kalian kaget seperti itu." Ucap Inara santai, sambil melihat semua teman-temannya.
Sedangkan Kenzo hanya tersenyum sambil mengelus kepala Inara, " tidak ada yang salah, kamu bebas bertanya apa saja." Ucap Kenzo.
Lalu Kenzo melihat mereka berdua yang sudah berhenti batuk, Gilang terpaksa menjawab karena sudah menjawab persetujuan dari Hasna.
"Iya, kami sudah official sudah satu minggu." Ucap Gilang dengan santai, sedangkan Hasna hanya menundukkan kepala.
Suasana menjadi hening, seketika Hasna merasa cemas melihat keterdiam sahabat nya.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?