Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Hujan Darah di Lembah Sayatan Angin
Ledakan Qi murni dari Dantian Lin Xuan menyapu celah tebing seperti badai topan.
Kabut ilusi yang diciptakan oleh para pembunuh Gigi Hitam terkoyak paksa, terhempas oleh gelombang tekanan spiritual yang memekakkan telinga. Sembilan pilar hitam yang selama ini disembunyikan Lin Xuan kini beresonansi, memancarkan aura Foundation Establishment tahap puncak yang begitu pekat hingga membuat udara di sekitarnya terdistorsi.
Senyum bengis di wajah Han Sen membeku seketika. Matanya terbelalak lebar, menatap pemuda bertopi caping di depannya dengan ketidakpercayaan yang absolut.
"Puncak... Puncak Foundation Establishment?!" Han Sen berteriak, suaranya melengking panik. Kakinya tanpa sadar mundur selangkah. "Mustahil! Tetua Feng sendiri yang memeriksa meridianmu! Kau hanyalah sampah cacat!"
Zhao Yun yang berdiri di belakang Lin Xuan bahkan lebih terkejut. Mulutnya terbuka, pedang di tangannya bergetar. Pemuda yang ia lindungi mati-matian, yang selalu ia anggap butuh bantuannya, ternyata memancarkan kekuatan yang setara dengan para Tetua tingkat menengah!
"Tetua Feng hanya melihat apa yang ingin ia lihat," suara Lin Xuan terdengar sedingin es abadi. Tangannya yang dikabarkan hancur itu kini menggenggam gagang pedang dengan sangat kokoh.
"J-Jangan takut!" Liu Kai, anggota regu yang memegang kapak perang, mencoba membangkitkan nyalinya sendiri. "Dia hanya menggertak dengan teknik ilusi! Hancurkan dia!"
Liu Kai menerjang maju, mengayunkan kapaknya yang dialiri Qi elemen Tanah. Kapak itu membesar di udara, membawa tekanan seberat bukit kecil yang mengarah lurus ke ubun-ubun Lin Xuan.
Lin Xuan tidak repot-repot mencabut pedangnya.
Ia melepaskan gagang pedangnya, memutar bahu kanannya sedikit, dan menyalurkan kekuatan murni dari Tulang Besi Hitam nya yang kini telah disempurnakan oleh Kolam Sumsum Darah.
Seni Jari Pemutus Kehidupan!
Jari telunjuk Lin Xuan melesat ke atas, menyambut bilah kapak raksasa itu.
TRAAAANG!
Suara logam pecah bergema memekakkan telinga. Bukan jari Lin Xuan yang hancur. Kapak perang tingkat menengah milik Liu Kai retak dari ujung bilah, lalu meledak menjadi puluhan serpihan besi.
Jari Lin Xuan tidak berhenti. Ia menembus serpihan besi itu, meluncur mulus dan menancap tepat di tengah dahi Liu Kai.
CTIK.
Qi pembunuh yang dikompresi meledak di dalam tengkorak Liu Kai. Tanpa setetes darah pun yang tumpah ke luar, otak dan lautan kesadaran Liu Kai hancur menjadi bubur. Tubuh besarnya ambruk ke tanah berbatu, mati seketika dengan mata masih melotot marah.
Kematian Liu Kai dalam satu serangan menghentikan napas keempat pembunuh Gigi Hitam.
"Formasi Pembantai Empat Sudut! Segera!" teriak pemimpin pembunuh itu.
Keempat pembunuh bayaran itu bereaksi cepat. Mereka menyebar ke empat arah mata angin, melemparkan rantai berduri yang memancarkan Qi beracun berwarna hijau. Rantai-rantai itu saling terkait di udara, membentuk jaring kematian yang menyusut cepat untuk mengiris tubuh Lin Xuan dan Zhao Yun.
"Saudara Mu, awas racunnya!" teriak Zhao Yun, mencoba memanggil Qi elemen anginnya untuk meniup rantai tersebut.
Namun, Lin Xuan lebih cepat.
"Terlalu lambat," bisik Lin Xuan.
Langkah Hantu Tanpa Jejak.
Sosok Lin Xuan memudar dari pandangan Zhao Yun, meninggalkan bayangan sisa (afterimage) tepat saat jaring beracun itu menutup.
Diaken Gigi Hitam di sudut utara tiba-tiba merasakan hawa dingin di belakang lehernya. Sebelum ia sempat memutar kepalanya, sebuah tangan pucat telah mencengkeram tengkuknya.
KRAK!
Leher pembunuh itu patah seketika. Lin Xuan menggunakan mayat pembunuh itu sebagai pijakan, melompat ke udara dengan kecepatan kilat menuju pembunuh kedua di sudut timur.
Tangan kanan Lin Xuan akhirnya mencabut pedang besinya.
Seni Pedang Kilat Hantu: Tebasan Pemutus Senja!
SRING!
Sebuah kilatan perak melengkung di udara celah lembah itu. Karena fisiknya telah diperkuat secara ekstrem, Lin Xuan tidak lagi menderita luka parah saat menggunakan teknik ini.
Kepala pembunuh kedua dan ketiga terlepas dari bahu mereka nyaris bersamaan, diiringi pancuran darah segar yang melukis tebing batu kelabu menjadi merah.
Pembunuh keempat, sang pemimpin kelompok, kehilangan akal sehatnya melihat pembantaian sepihak itu. Ia melepaskan rantainya dan berbalik untuk melarikan diri menggunakan Jimat Pindah Tempat (Teleportation Talisman).
"Kau tidak akan ke mana-mana," suara Gu Tianxie mendengus di dalam kepala Lin Xuan.
Lin Xuan melemparkan pedangnya seperti anak panah. Pedang besi biasa itu, dilapisi Qi Foundation Establishment tahap puncak, melesat menembus udara dan memaku punggung pembunuh keempat tepat di jantungnya, menembusnya hingga pedang itu menancap dalam di dinding tebing.
Dalam kurang dari sepuluh tarikan napas, empat pembunuh elit dan satu pengkhianat sekte telah menjadi mayat.
Cincin Samsara Darah di jari Lin Xuan berdenyut pelan, diam-diam menyerap esensi Qi dan jiwa dari darah segar yang tumpah di tanah, mengalirkannya ke dalam sembilan pilar hitam di Dantian Lin Xuan. Garis-garis retakan di dasar pilarnya kembali menyerap energi itu dengan rakus, sebuah bom waktu yang terus berdetak tanpa disadari sang inang.
Hening.
Di tengah lembah yang kini berbau amis darah, hanya tersisa Han Sen.
Pemimpin Regu itu jatuh terduduk, kakinya tidak lagi mampu menopang tubuhnya. Jarum beracunnya terlepas dari tangannya yang gemetar hebat. Ia menatap Lin Xuan, yang perlahan berjalan mendekatinya sambil mencabut pedang dari dinding tebing, seolah sedang melihat Dewa Kematian itu sendiri.
"M-Mu Chen... T-Tunggu!" Han Sen tergagap, air mata ketakutan mengalir di wajahnya. "Aku hanya mengikuti perintah! Wang Long... Tetua Wang yang memaksaku! Jika aku tidak melakukannya, mereka akan membunuh keluargaku di dunia fana! Kumohon, ampuni aku!"
Lin Xuan berhenti tepat di depan Han Sen. Pedangnya yang berlumuran darah diarahkan ke leher pria itu. Wajah Lin Xuan di balik bayangan topinya tidak menunjukkan setitik pun belas kasihan.
"Keluargamu bukan urusanku," kata Lin Xuan datar. "Kau memilih berdiri di sisi yang ingin membunuhku. Di Jalan Dao, itu berarti nyawamu adalah bayarannya."
"TIDAK! KUMOHON—"
CRAAASH.
Lin Xuan mengayunkan pedangnya dengan gerakan santai, menebas leher Han Sen tanpa keraguan sedikit pun. Kepala pria itu menggelinding di bebatuan, mengakhiri hidup pengkhianat itu untuk selamanya.
Lin Xuan menjentikkan pedangnya untuk membersihkan darah, lalu memasukkannya kembali ke dalam sarungnya dengan bunyi klik yang dingin.
Ia berbalik, menatap Zhao Yun yang masih berdiri mematung di tempatnya semula.
Wajah Zhao Yun pucat pasi. Ia telah melihat kematian di arena, namun ini berbeda. Ini adalah pembantaian murni. Eksekusi tanpa emosi. Tatapan mata Lin Xuan saat membunuh mereka sama tenangnya dengan seseorang yang sedang memotong rumput liar.
"Saudara... Mu..." Zhao Yun menelan ludah, suaranya bergetar. "K-Kau... menyembunyikan semua ini sejak awal?"
Lin Xuan berjalan mendekati Zhao Yun, menatap mata pemuda elemen angin yang dipenuhi kebingungan dan sedikit ketakutan itu.
"Sekte ini dipenuhi oleh serigala yang menyamar sebagai domba, Zhao Yun," kata Lin Xuan pelan. "Jika aku memamerkan taringku terlalu awal, aku sudah mati diracun oleh orang-orang seperti Tetua Wang sejak hari pertama."
Zhao Yun menurunkan pedangnya perlahan. Ia melihat tumpukan mayat di sekitarnya. Realitas dunia kultivasi yang brutal baru saja menampar wajah naifnya dengan sangat keras.
"Wang Long sengaja mengirim kita ke sini untuk mati," gumam Zhao Yun, mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Jika kau tidak menyembunyikan kekuatanmu... aku pasti sudah menjadi mayat sekarang."
Zhao Yun mendongak, menatap Lin Xuan dengan tekad baru yang menyala menembus rasa takutnya. "Kau menyelamatkanku lagi, Mu Chen. Apapun rahasiamu, kau tetaplah saudaraku. Aku tidak akan pernah mengatakan apa pun tentang kultivasimu kepada siapa pun di sekte."
Lin Xuan menatapnya diam sejenak. Kesetiaan yang bodoh, namun sangat berguna.
"Bagus," jawab Lin Xuan singkat.
Ia berjalan ke arah mayat-mayat tersebut, berjongkok, dan mulai mengambil kantung penyimpanan (Spatial Pouch) milik Han Sen, Liu Kai, dan para pembunuh. Menjarah musuh yang sudah mati adalah aturan mutlak bagi kultivator tanpa latar belakang klan besar.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Zhao Yun, mendekat dengan hati-hati. "Jika kita kembali ke sekte dan melapor, Tetua Wang pasti akan membantah dan menyalahkan kita atas kematian Han Sen."
Lin Xuan berdiri, mengikat kantung-kantung jarahan itu di balik jubahnya.
"Kita tidak akan kembali sekarang," kata Lin Xuan, menatap jauh ke dalam kabut Pegunungan Seribu Pedang. "Misi ini baru saja dimulai. Jika kita pulang dengan tangan kosong, itu hanya akan memberi mereka alasan lain untuk menghukum kita. Kita selesaikan misi ini, dan biarkan mayat-mayat ini menjadi misteri bagi mereka yang menunggu kematian kita."
Di dalam kepalanya, Gu Tianxie tertawa licik. "Benar. Selain itu, aku merasakan fluktuasi Qi elemen Logam yang sangat murni dari arah puncak gunung itu. Mungkin ada Binatang Roh tingkat tinggi atau bijih langka yang bisa memadatkan Tulang Tembaga Darah mu lebih cepat."
Lin Xuan membenarkan topi capingnya. "Ayo jalan, Zhao Yun. Tetap di belakangku."