Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fragmen Hukum Kehampaan
"Hadiah itu hanya sampah," jawab Luo Yan datar. "Aku ingin bekerja sama."
Dua kata itu menggema dalam kesadaran Ye Chenxu. Di Dunia Bawah, kerja sama adalah kata ganti dari pengkhianatan yang tertunda.
Namun, di hadapan tekanan Jaring Jiwa yang semakin menyempit, tawaran ini adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa diabaikan.
"Baiklah. Aku setuju." ujar Ye Chenxu menyetujui usulan tersebut.
Mereka bertemu kembali di dalam Reruntuhan Domain Roh Terbelah. Tempat itu adalah neraka spasial, tanahnya retak, langitnya terbelah menjadi fragmen-fragmen dimensi yang tajam.
Pertempuran besar pecah seketika saat pintu masuk domain terbuka. Puluhan kultivator Pembentuk Inti dan Pengumpul Qi bertarung membabi buta memperebutkan Inti domain yang retak.
Darah dan energi elemen meledak, menciptakan badai yang tak terkendali.
Dalam kekacauan itu, Ye Chenxu bergerak seperti hantu yang melintasi dimensi. Langkah Sunyi Tanpa Jejak mencapai batas baru di tempat di mana ruang itu sendiri tidak stabil.
Dia memanen nyawa para pengejarnya tanpa suara.
Namun, ancaman sebenarnya bangkit dari reruntuhan, sebuah Siluman Domain setengah bangkit yang merupakan manifestasi dari sisa-sisa energi sang Penguasa Domain.
Aura makhluk itu berada di tahap Transformasi Roh. Sekali ia mengaum, tekanan auranya membuat kultivator lemah langsung meledak menjadi kabut darah.
Ye Chenxu terpaksa bertarung terbuka saat siluman itu mengincarnya. Pisau hitamnya beradu dengan cakar energi yang mampu membelah ruang. Darah mengalir dari luka-luka baru di tubuhnya.
Tepat saat cakar siluman itu akan merobek jantungnya, sebuah pedang cahaya dingin menembus kepala makhluk itu dari atas. Dalam satu tebasan yang bersih dan mematikan, siluman itu hancur menjadi partikel cahaya.
Luo Yan mendarat dengan anggun di sampingnya, pedangnya masih bersinar keperakan.
"Sekarang kau tahu kenapa aku mencarimu. Kekuatanmu unik, tapi kau butuh dukungan untuk benar-benar bangkit."
Di tengah tumpukan mayat dan kabut yang memudar, Luo Yan mengulurkan tangannya. Di telapak tangannya terdapat sebuah pecahan kristal hitam yang berdenyut dengan energi yang sangat dikenal oleh Ye Chenxu.
Fragmen Hukum Kehampaan.
"Ini milikmu," ucap Luo Yan. "Anggap saja ini sebagai tanda niat baik dari Paviliun Senyap."
"Kau benar-benar memberikan ini untukku?" tanyanya sedikit terkejut.
"Tentu saja. Aku tidak bercanda."
"Terimakasih." jawab Ye Chenxu dengan mata berbinar.
Malam itu, di dalam sebuah gua yang terlindungi oleh formasi rahasia Luo Yan, Ye Chenxu memulai proses penyatuan. Fragmen Hukum Kehampaan perlahan menyatu dengan inti spiritualnya.
Rasanya seperti memasukkan api neraka ke dalam pembuluh darah. Tubuh Ye Chenxu gemetar hebat, meridiannya bergetar di ambang kehancuran.
Kesadarannya ditarik masuk ke dalam jurang sunyi tanpa dasar—sebuah visualisasi dari kehampaan yang sejati.
Namun, ia terus bertahan dan berusaha mengingat wajah ibunya, mengingat pengkhianatan yang dialami, dan rasa sakit yang telah menempanya.
Sutra Kehampaan Awal di dalam otaknya bertransformasi, menyusun baris-baris mantra baru yang bercahaya keemasan gelap.
Saat fajar kelam menyingsing, aura yang terpancar dari tubuh Ye Chenxu berubah total. Tidak lagi terasa seperti badai yang bergejolak, tapi kini terasa seperti lubang hitam yang tenang namun tak terduga.
Pemuda itu membuka mata perlahan. Dunia di matanya kini tampak berbeda.
Ye Chenxu bisa melihat aliran energi di udara, merasakan niat membunuh dalam jarak jauh, dan menyadari bahwa setiap atom di sekitarnya bisa dimanipulasi.
Ia mengepalkan tangan, dan udara di sekitarnya bergetar hebat tanpa perlu mengeluarkan Qi sedikit pun.
Kekuatannya tidak melonjak drastis secara kuantitas, namun secara kualitas, ia kini setara dengan monster. Fondasi Pembentuk Intinya kini padat, stabil, dan mustahil untuk digoyahkan oleh serangan fisik biasa.
Di luar gua, Luo Yan berdiri menunggunya dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Apa kau siap memulai perang bayangan yang sesungguhnya?"
Ye Chenxu menatap langit Dunia Bawah yang kini tampak lebih kecil di matanya. "Aku tidak ingin perang," ucapnya dengan nada yang sangat tenang, namun mematikan. "Aku ingin mengakhiri permainan mereka semua."
Luo Yan tersenyum samar, pedangnya berdenting di dalam sarungnya.
"Kalau begitu, selamat datang di panggung yang sebenarnya, Bayangan Kehampaan."
Kabut Dunia Bawah bergerak lambat, merayap di antara celah-celah batu seperti hantu yang kehilangan arah. Udara di sana selalu terasa dingin dan lembap, membawa bau tanah dan sisa-sisa energi yang tak terpakai.
Namun, bagi mereka yang telah menghabiskan seluruh hidupnya di dalam kegelapan ini, ketenangan tersebut hanyalah ilusi—sebuah selimut tipis yang menutupi predator yang sedang bersiap menerkam.
Di kedalaman lorong batu yang tersembunyi, di dalam markas rahasia Paviliun Senyap yang terlindungi oleh ribuan lapis formasi penghalang, Luo Yan berdiri mematung.
Cahaya obor yang remang-remang menerangi wajahnya yang tenang namun waspada.
Di hadapannya, terbentang sebuah peta besar yang terbuat dari kulit siluman purba. Garis-garis cahaya kelabu bergerak dinamis di atas permukaan kulit itu, memetakan denyut kekuatan dan pergerakan faksi-faksi besar di Dunia Bawah.
Ye Chenxu berdiri di sampingnya. Jubah hitamnya yang baru tampak sedikit kebesaran dan menyembunyikan tubuhnya yang kini lebih padat dan berisi berkat evolusi Tubuh Setengah Kehampaan.
Ia menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Luo Yan dengan konsentrasi yang bisa membelah batu.
“Paviliun Darah memiliki tujuh cabang utama yang tersebar di wilayah utara dan selatan,” ujar Luo Yan pelan, jemarinya yang lentik menelusuri garis-garis energi di peta.
"Namun, jangan tertipu. Fondasi kekuatan mereka yang sebenarnya bukan di cabang-cabang itu. Jika ingin mematikan sebuah pohon, kau tidak boleh memotong rantingnya. Tapi kau menghancurkan akarnya.”
Luo Yan menghentikan jarinya pada satu titik kecil yang nyaris tak terlihat di pusat peta. Sebuah lokasi yang tidak memiliki nama resmi, hanya ditandai dengan simbol kunci merah.
“Gudang Jiwa,” bisiknya. “Ini adalah jantung logistik mereka. Tempat penyimpanan artefak inti, jimat pengendali formasi yang mengunci wilayah, dan penjara bagi tahanan yang dianggap memiliki nilai tinggi sebagai alat tawar atau eksperimen."
Jari-jari Ye Chenxu tiba-tiba menegang. Sendi-sendinya memutih. "Tahanan?"
Luo Yan menatap Ye Chenxu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara simpati dan peringatan profesional.
“Intelijen kami mengonfirmasi pergerakan rahasia. Wanita yang kau cari selama ini berada di sana. Namun, dia tidak akan lama berada di Gudang Jiwa.”
“Apa maksudmu?”
“Tiga hari lagi,” jawab Luo Yan sambil menatap lurus ke dalam mata hitam Ye Chenxu yang kini seakan menyimpan badai. “Konvoi pemindahan besar-besaran akan bergerak dari Gudang Jiwa menuju Benteng Jiwa Darah—benteng pertahanan terkuat Paviliun Darah. Jika dia sampai masuk ke dalam benteng itu, peluangmu untuk menyelamatkannya akan menjadi nol.”
Keheningan yang berat menyelimuti ruangan itu. Ye Chenxu memejamkan mata sejenak.
Di balik kelopak matanya, ia melihat bayangan seorang wanita yang tangannya pecah-pecah karena kedinginan, wanita yang tersungkur di halaman klan Ye namun tetap tersenyum padanya.
Ketika membuka matanya kembali, hawa dingin yang terpancar dari pupilnya jauh lebih pekat daripada kabut di luar sana.
“Kapan?” tanya Ye Chenxu, suaranya kini datar namun penuh dengan niat membunuh yang terkendali.
“Tiga hari lagi, saat fajar kelam menyentuh puncak tebing,” jawab Luo Yan. “Konvoi itu akan melewati Jalur Lembah Kabut. Di sepanjang jalur sempit itulah, kita akan memicu neraka yang tidak akan pernah mereka lupakan.”
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya