Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Suasana di kantor pusat Wijaya Group biasanya terasa tegang setiap Senin pagi.
Para staf berlarian membawa dokumen, para manajer divisi sibuk merapikan dasi sambil menghafal materi presentasi, dan aura dingin biasanya terpancar dari ruangan paling ujung di lantai teratas—ruangan sang CEO, Permadi Wijaya. Namun, pagi ini ada yang berbeda dimana
Permadi melangkah keluar dari lift dengan langkah ringan, hampir seperti melayang.
Senyum tipis yang tak kunjung hilang menghiasi bibirnya sejak ia meninggalkan lobi rumah sakit.
"Pagi, Pak Permadi," sapa seorang staf administrasi dengan ragu-ragu.
"Pagi! Dasimu bagus, serasi dengan kemejamu," sahut Permadi ramah sambil terus berlalu.
Staf itu mematung. Selama dua tahun bekerja di sana, ini pertama kalinya ia mendengar sang CEO memuji warna dasi bawahannya.
Biasanya, yang keluar dari mulut Permadi adalah, "Revisi laporan ini dalam dua jam, atau kamu saya pindahkan ke divisi gudang."
Langkah Permadi terhenti di depan meja sekretaris pribadinya, Sarah.
Sarah, yang sudah hafal betul tabiat bosnya yang perfeksionis dan kaku, segera berdiri dengan sikap siaga.
"Selamat pagi, Pak. Jadwal rapat hari ini dimulai pukul sembilan dengan tim ekspansi, dilanjutkan makan siang bersama investor dari Singapura, dan—"
Sarah menghentikan kalimatnya. Ia menatap Permadi dengan dahi berkerut.
Matanya terpaku pada bercak samar berwarna merah muda di ujung kerah kemeja putih sang CEO.
"Pak, maaf.Ada noda di kemeja Bapak. Sepertinya noda lipstik?"
Sarah menunjuk kerahnya sendiri sebagai isyarat.
Permadi terdiam sejenak, lalu teringat kejadian di kamar mandi tadi pagi, saat Rengganis mendorongnya dengan wajah merah padam setelah ciuman singkat itu.
Senyumnya justru semakin melebar, bukan malah panik.
"Oh, ini? Ini bukan noda, Sarah. Ini 'tanda tangan' dari seseorang yang sangat penting."
Sarah hampir menjatuhkan tabletnya. "Tanda tangan?" batinnya heran. Sejak kapan stempel bibir dianggap sebagai dokumen legal?
"Sarah, tolong batalkan makan siang dengan investor Singapura. Geser ke jam minum teh pukul empat sore," perintah Permadi tiba-tiba.
"Tapi Pak, mereka sudah terbang jauh-jauh dari—"
"Bilang saja saya ada urusan medis yang mendesak," potong Permadi sambil masuk ke ruangannya.
"Urusan medis yang melibatkan seorang dokter spesialis yang sangat galak."
Di dalam ruangan kerjanya yang luas, Permadi duduk di kursi kebesarannya.
Ia membuka galeri foto di ponselnya sambil
menatap foto Rengganis yang sedang tidur mangap di lantai semalam.
Entah kenapa, baginya itu adalah pemandangan paling estetik di dunia.
Ia bisa melihat sisi manusiawi dari wanita yang selalu memegang pisau bedah dengan tangan dingin itu.
"Tante, Tante," gumam Permadi sambil mengusap layar ponselnya.
"Kenapa jantungku yang biasanya cuma berdetak buat urusan saham, sekarang malah berisik begini?"
Kemudian ia membuka aplikasi pesan singkat dan mulai mengetik.
[Bagaimana operasinya, Sayang? Ingat, jangan terlalu tegang. Nanti kalau Tante stres, kualitas sel telurnya turun lho. Aku sudah pesan katering sehat untuk makan siangmu, akan sampai jam 12 tepat. Harus dihabiskan kalau nggak mau aku jemput pakai pengeras suara lagi.]
Permadi menekan tombol send dan meletakkan ponselnya dengan perasaan puas.
Ia membayangkan wajah Rengganis yang pasti sedang mengumpat di ruang operasi saat membaca pesan itu.
Sementara itu, di sebuah sudut rumah sakit, Rengganis baru saja keluar dari ruang operasi pertama.
Keringat membasahi dahi di balik maskernya. Ia baru saja melakukan prosedur yang cukup rumit, dan ia butuh asupan kafein.
Ia membuka lokernya dan mengambil ponsel. Begitu layar menyala, pesan dari Permadi muncul di baris teratas.
Rengganis membaca pesan itu dengan mata menyipit.
"Sel telur? Katering? Pengeras suara?!"
"Dokter Ganis? Kenapa wajahnya ditekuk begitu? Pasien tadi baik-baik saja kan?" tanya Dokter Shinta yang baru saja masuk.
"Pasiennya sehat, Shinta," sahut Rengganis sambil melempar ponselnya ke dalam tas dengan kasar.
"Yang sakit itu suami saya. Dia sepertinya butuh dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa secepatnya."
Shinta tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari sahabatnya.
"Ah, masa? Bukannya suami brondong biasanya bikin awet muda? Kamu lihat saja, pipimu merah terus dari pagi. Itu pengaruh cinta atau pengaruh hormon berontak?"
"Pengaruh emosi!" tegas Rengganis.
Tiba-tiba seorang kurir datang membawa tas pendingin besar ke meja resepsionis poli kandungan.
Di dalamnya terdapat salmon panggang, salad quinoa, dan jus delima segar dengan kartu ucapan kecil bertuliskan,
"Makan yang banyak, Dokter Istriku. Perjalanan menuju 'Garis Dua' butuh stamina ekstra. Love, Suami Tampanmu."
Dokter Shinta, dan perawat lainnya yang melihat kartu itu langsung bersorak serempak, sementara Rengganis hanya bisa menutupi wajahnya dengan map status pasien, berharap bumi mendadak terbelah dan menelannya bulat-bulat.
Ia masih berdiri mematung di koridor depan ruang praktiknya.
Di tangan kanannya, ia menenteng tas bekal berisi salmon panggang yang baru saja diantarkan kurir sepuluh menit lalu.
Ia baru saja berniat menghabiskannya di dalam ruangan dengan tenang, tanpa gangguan, tanpa godaan, dan terutama, tanpa harus memikirkan suaminya yang ajaib itu. Namun, dunia seolah tidak membiarkan Rengganis bernapas lega.
"Ayo, Sayang, kita makan siang!" ucap Permadi dengan suara bariton yang jernih dan penuh percaya diri itu memecah kebisingan rumah sakit.
Rengganis langsung terkejut ketika mendengar suara suaminya dan ia menoleh dengan gerakan patah-patah ke arah sumber suara.
Di ujung koridor, Permadi berdiri dengan gaya yang sangat tidak santai untuk ukuran rumah sakit.
Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi, dua kancing teratas kemejanya terbuka, memberikan kesan maskulin yang berantakan namun terencana.
Di tangan kirinya, ia membawa buket besar bunga mawar putih dan lili yang aromanya langsung menyerbu indra penciuman siapa pun yang lewat.
Cahaya lampu neon koridor memantul di wajahnya yang tegas, hidung mancungnya yang khas, dan rahang yang kokoh.
"Ya ampun,.itu suaminya Dokter Ganis?" bisik Dina pelan, matanya hampir tidak berkedip.
"Ganteng banget, kayak aktor Turki yang sering di TV."
"Bukan cuma ganteng, Din. Aura 'uang'-nya kental banget," sahut perawat lain di sebelahnya yang juga ikut terpesona.
Rengganis merasakan wajahnya memanas bukan karena jatuh cinta, melainkan karena malu yang luar biasa.
"Permadi? Kenapa kamu di sini? Aku sudah bilang aku punya makanan!" Rengganis mengangkat tas kateringnya tinggi-tinggi sebagai bukti.
Permadi melangkah mendekat, mengabaikan tatapan memuja dari para perawat di sepanjang jalan.
Ia berhenti tepat di depan Rengganis, memberikan senyum miring yang sanggup membuat lutut wanita langsung lemas, kecuali Rengganis, yang saat ini justru merasa ingin menyuntikkan obat penenang ke leher suaminya itu.
"Makanan itu buat camilan saja. Aku ingin makan siang yang sesungguhnya dengan istriku," ucap Permadi santai.
Kemudian ia menoleh ke arah Dina dan gerombolan perawat yang masih menonton dengan mulut sedikit terbuka.
Dengan sopan namun penuh otoritas, Permadi menganggukkan kepala.
"Permisi, suster-suster sekalian. Saya pinjam Dokter Rengganis-nya sebentar, ya? Ada urusan rumah tangga yang harus diselesaikan segera," ucap Permadi dengan nada yang sangat manis.
"Oh, silakan, Pak! Bawa saja, Dokternya juga sudah selesai praktik kok!" sahut Dina dengan semangat berlebihan, bahkan hampir mendorong Rengganis ke arah Permadi.
Tanpa menunggu persetujuan Rengganis, Permadi mengambil alih tas katering di tangan istrinya, lalu dengan tangan satunya ia merangkul pinggang Rengganis dengan protektif.
Ia menggiring istrinya masuk ke dalam ruang kerja dokter yang berpapan nama dr. Rengganis L., Sp.OG.
Ceklek!
Begitu pintu tertutup, Rengganis langsung berbalik dan melepaskan diri dari rangkulan Permadi.
Ia meletakkan buket bunga itu secara asal di atas meja kerjanya yang penuh dengan berkas medis.
"Permadi, kamu gila ya? Ini rumah sakit! Semua orang melihat! Kamu tahu apa yang akan mereka bicarakan di kantin nanti?"
Permadi tidak menjawab dan nustru meletakkan tas katering di atas meja, lalu perlahan mendekati Rengganis yang sedang meradang.
Ia memojokkan istrinya ke arah meja kerja, mengurung tubuh Rengganis dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pinggiran meja.
"Biarkan saja mereka bicara," bisik Permadi, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari Rengganis.
"Lagipula, aku ke sini cuma mau memastikan satu hal."
"Apa?" tanya Rengganis dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mempertahankan wibawanya.
Permadi menarik napas dalam, seolah sedang menikmati aroma tubuh Rengganis yang tercampur bau antiseptik khas rumah sakit.
"Aku mau memastikan kalau Tante nggak lupa,. kalau malam ini kita punya janji untuk poin kontrak nomor lima."
Rengganis mengerutkan dahi, mencoba mengingat-ingat.
"Poin nomor lima? Lingerie seksi itu? Nggak akan pernah, Permadi!"
Permadi terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat seksi di ruangan yang sunyi itu.
"Bukan yang itu. Poin nomor lima yang baru aku tambahkan di perjalanan tadi di mana Istri wajib menatap mata suami selama sepuluh detik setiap kali suami datang menjemput, agar suami tahu kalau istrinya sedang tidak merindukan pria lain."
"Kamu, benar-benar kekanak-kanakan," desis Rengganis, namun ia tidak bisa memalingkan wajahnya saat mata tajam Permadi mengunci tatapannya.
Satu... dua... tiga...
Rengganis merasakan jantungnya berdegup dengan irama yang salah.
Di usianya yang sudah empat puluh tahun, ia pikir ia sudah kebal terhadap rayuan pria. Namun, menatap mata "berondong" yang terlihat sangat tulus sekaligus licik ini ternyata jauh lebih berat daripada ujian kompetensi kedokteran.
"Sepuluh," bisik Permadi tepat di detik terakhir, lalu tanpa peringatan, ia mengecup kening Rengganis dengan lembut.
"Ayo makan. Aku sudah bawakan sushi favoritmu di mobil, tapi kita makan di sini saja supaya Tante nggak perlu malu dilihat orang luar." ucap Permadi.