"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Tamu dari Masa Lalu dan Meja yang Bergetar
Restoran bergaya Prancis itu memiliki pencahayaan yang temaram dan sangat elegan. Nirbi duduk dengan gelisah, berkali-kali merapikan dress selututnya yang terasa terlalu sopan untuk seleranya. Di sampingnya, Varro duduk dengan senyum penuh kemenangan.
"Bang, beneran temen Abang sukses banget? Kok kita makannya di tempat yang air putihnya aja harganya bisa buat beli bensin seminggu?" bisik Nirbi.
"Sst! Diem, Bi. Namanya Dewa. Dulu dia cupu, tapi sekarang dia pengusaha tambang di Kalimantan. Orangnya bersih, rapi, dan yang terpenting... dia nggak punya semprotan disinfektan di kantongnya," jawab Varro sambil melirik pintu masuk.
Tak lama kemudian, seorang pria dengan rahang tegas, kulit sawo matang yang sehat, dan setelan jas cokelat susu melangkah mendekat. Senyumnya sangat menawan, tipe pria yang disukai ibu-ibu untuk dijadikan menantu.
"Navarro! Apa kabar, Bro?" sapa pria itu, Dewa, sambil menjabat tangan Varro dengan akrab.
"Baik, Wa! Kenalin, ini adik kesayangan gue yang sering gue ceritain. Nirbita," ujar Varro bangga.
Dewa menatap Nirbi, matanya berbinar tulus. Ia meraih jemari Nirbi dan mengecup punggung tangannya dengan sopan. "Halo, Nirbita. Ternyata aslinya jauh lebih cantik daripada di foto. Panggil saja Mas Dewa."
Si Pengintai di Meja Seberang
Tiga meja dari posisi mereka, di balik sebuah tanaman hias besar dan menu yang menutupi wajahnya, Calvin duduk dengan rahang yang mengeras. Ia memakai topi baseball dan kacamata hitam—penyamaran yang sangat tidak Calvin sebenarnya, tapi ia tidak punya pilihan.
Di tangannya, ia memegang botol hand sanitizer yang sudah ia remas hingga botolnya berbunyi kretek-kretek.
"Berani sekali dia mencium tangannya. Itu tangan asisten saya! Berapa banyak bakteri yang berpindah dalam satu ciuman murahan itu?!" desis Calvin dengan suara rendah yang penuh dendam.
Ia melihat Dewa tertawa lebar mendengar celotehan Nirbi. Calvin bahkan bisa melihat Dewa sedikit condong ke depan, mencoba menghapus noda saus kecil di ujung bibir Nirbi dengan tisu.
Brak!
Calvin tanpa sadar menggebrak meja kecilnya sendiri. Pelayan restoran menghampirinya dengan cemas. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Meja ini tidak rata. Bergetar satu milimeter," jawab Calvin asal dengan suara ketus, matanya tetap tertuju pada Dewa yang kini sedang memegang tangan Nirbi untuk menunjukkan jam tangan mahalnya.
Ledakan Sang CEO
Kesabaran Calvin habis saat ia melihat Dewa memberikan sebuah kotak kecil berisi kalung mutiara kepada Nirbi.
"Ini kenang-kenangan dari saya, Nirbi. Saya harap kamu mau memakainya nanti saat kita makan malam berdua, tanpa Abang kamu," ujar Dewa dengan nada merayu.
Varro tertawa puas. "Wuih, mutiara asli nih, Bi! Terima aja!"
Nirbi baru saja mau menyentuh kotak itu saat sebuah tangan yang terbungkus sapu tangan putih bersih menyambar kotak tersebut dan menggesernya menjauh.
"Mutiara yang berasal dari kerang liar mengandung risiko kontaminasi mikroplastik dan logam berat yang tinggi. Tidak aman untuk kulit sensitif," suara dingin Calvin menggema, memecah suasana romantis di meja itu.
Nirbi, Varro, dan Dewa tersentak. Nirbi membelalakkan matanya. "Kak Calvin?!"
Calvin melepaskan topinya, berdiri tegak dengan aura yang mampu membekukan satu restoran. Ia menatap Dewa dengan tatapan seolah Dewa adalah tumpukan sampah medis.
"Siapa Anda?" tanya Dewa, bingung sekaligus tersinggung.
"Saya adalah orang yang membayar biaya kuliahnya, orang yang menyediakan tempat tinggal paling steril untuknya, dan orang yang memiliki kontrak eksklusif atas setiap detik waktunya," sahut Calvin telak. Ia menatap Varro dengan tajam. "Navarro, saya pikir kamu sedang ada urusan bisnis, ternyata kamu sedang menjadi agen biro jodoh amatir?"
"Lho, Vin! Gue cuma ngenalin temen lama!" seru Varro, berusaha menahan tawa melihat Calvin yang sudah "meledak".
Calvin tidak memedulikan Varro. Ia menarik kursi di sebelah Nirbi, memaksa masuk di antara Nirbi dan Dewa. Ia mengeluarkan semprotan alkoholnya dan menyemprot area meja di depan Dewa dengan brutal.
"Maaf, udara di sini mendadak terasa... tidak higienis," ujar Calvin tenang. Ia kemudian meraih tangan kiri Nirbi, mengangkatnya tinggi-tinggi hingga cincin berlian pemberiannya berkilau di bawah lampu kristal. "Tuan Dewa, perhatikan baik-baik. Berlian di jari ini memiliki nilai yang lebih tinggi daripada seluruh tambang yang Anda kelola. Jadi, simpan mutiara kecilmu itu."
Nirbi hanya bisa menutup wajahnya dengan tangan kiri. "Aduh... mau ditaruh di mana mukaku..."
Dewa merasa terhina. "Nirbita, siapa pria sombong ini?"
"Dia... dia bosku, Mas. Tapi dia juga... emm... pemilik protokol keamananku," jawab Nirbi polos.
Calvin berdiri, menarik lengan Nirbi untuk ikut berdiri. "Rapat darurat, Nirbita. Sekarang. Ada masalah besar di kantor yang hanya bisa diselesaikan jika kamu berada dalam jarak satu meter dari saya."
"Tapi makanannya belum habis, Kak!" protes Nirbi.
Calvin mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dalam jumlah banyak dan meletakkannya di meja Dewa. "Ini untuk membayar gangguan waktu saya. Navarro, pulang dengan taksi. Nirbita ikut saya."
Calvin menyeret Nirbi keluar restoran dengan langkah cepat. Varro yang ditinggalkan sendirian bersama Dewa hanya bisa mengangkat bahu.
"Wa, mending lo cari target lain deh. Musuh gue yang satu itu kalau soal adek gue, gila-nya nggak ada obat," ujar Varro sambil kembali menyantap steak milik Nirbi yang ditinggalkan.
Di parkiran, Calvin menyudutkan Nirbi di pintu mobil. "Jangan pernah... berani-berani... menerima pemberian dari pria yang namanya terdengar seperti sabun cuci itu lagi!"
"Sabun cuci? Itu kan Dewa, Kak! Bukan Daia!" balas Nirbi sambil tertawa.
"SAMA SAJA! Keduanya bikin saya pusing!" bentak Calvin, lalu ia membungkam tawa Nirbi dengan ciuman posesif yang sangat lama, memastikan aroma "Dewa" hilang sepenuhnya dari ingatan Nirbi.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka