Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana sejenak
Setelah makan, dia pergi ke pabrik tuan Sun, bertemu dengan kakak seniornya dan bekerja seperti biasa. Pada sore harinya dia meminta izin libur beberapa hari lalu pulang dan melihat ibunya sedang mengemaskan barang-barang. Dia ikut membantunya dan kembali tidur di rumah Yun Xiao.
Pada malam harinya dia duduk di kursi panjangnya, membuka matanya dan melihat langit malam. Ibunya dan ibu Yun Xiao sudah tidur. Hanya dia dan Yun Xiao yang masih terjaga. Gadis itu sedang duduk di depan rumah sembari memegang buku dan pena. Dia memikirkan tentang puisi bunga pinus ungu yang selalu menarik perhatiannya ketika berjualan. Sebenarnya, dia sudah membuat beberapa puisi tentangnya tapi kali ini ingin membuatnya lagi.
Salah satu bukunya terjual tadi siang dan dia sangat gembira bisa menjual kumpulan puisinya dan itupun harganya lumayan. Yun Xiao merasa bahagia jika tulisannya akhirnya bisa menghasilkan uang, dia berharap tulisan selanjutnya bisa seperti itu.
Mereka berdua menikmati malam masing-masing. Chen Li memikirkan tentang keselamatan ibunya dan berpikir harus pergi sejauh mungkin, sementara Yun Xiao memikirkan tentang puisi dan uangnya.
Malam menjadi tenang dan setelah tiga Jam, Yun Xiao menguap dan merentangkan kedua tangannya. Dia mengantuk lalu berdiri, melihat Chen Li dan berkata, “Aku akan tidur lebih dulu.”
Tanpa menunggu jawabannya ia segera masuk dan tidur.
Chen Li malam itu tidur di luar tanpa takut kedinginan.
Pada keesokan harinya, dia mulai membeli bahan-bahan dan memperbaikinya dan beruntung lukisannya walaupun sedikit hancur masih terlihat indah.
Hari-harinya dalam lima hari ke depan memperbaiki rumahnya dan dia juga memperkejakan tukang yang handal.
Pada saat menyelesaikannya, dia pergi ke akademi desa untuk melihat Chi Yan, namun dia tidak menemukannya dan berpikir gadis itu pasti sedang sakit. Dia lalu pulang dan bersantai di rumahnya yang barus di bangun. Tapi terpikir olehnya seseorang yang menyerangnya waktu itu. Dia beranjak dan masuk ke dalam. Mengambil pedang di bawah kasurnya dan memeriksanya.
Segera dia keluar mengambil pengasahan dan mulai mengasahnya dengan cepat dan tajam.
Ketika Chen Li melakukannya, kerata kuda mewah yang di tarik dua kuda putih muncul dan berhenti di gang depan rumahnya. Chen Li tidak tertarik dan terus mengasah pedangnya dan sesekali memeriksa ketajamannya.
Dari belakang kerata kuda itu, tuan kusir keluar dan membungkuk pada seorang gadis cantik memakainya Han Fu putih. Tatapanya lembut, mengangguk pada tuan kusir lalu menatap Chen Li yang sedang mengasah pedangnya.
Dia berjalan mendekat dan tenang.
Lalu kira-kira jaraknya hingga lima meter dari Chen Li, mengulurkan tangannya, meyatukannya lalu sedikit membungkuk. Dia terlihat menawan dan lebih cantik ketika melakukannya, apalagi ketika dia sedikit mendongak. Dahinya seperti memancarkan kesan hangat yang membuat orang-orang ingin melihatnya.
Namun wajah Chen Li tidak memperlihatkan ketertarikan apa pun dan terus mengasah..
Ibunya sedang tidak ada di rumah, jika ada dia pasti segera menyambutnya dengan sopan.
Gadis itu berkata, “Tuan, aku secara pribadi menyampaikan rasa terima kasihku.”
Chen Li baru berhenti dan memandangnya. “Nona Qin, aku hanya melakukan tugasku.”
“Saya juga seperti itu.”
Menarik sesuatu dan muncul seikat kantong merah yang dipenuhi emas. “Saya juga datang memberikan ini.”
Chen Li mengulurkan tangannya dan segera gadis itu melemparkannya. Memeriksanya sebentar lalu menaruhnya. Dia melanjutkan mengasah pedangnya.
Nona Qin diam beberapa saat di sana, lalu akhirnya kembali ke kereta kuda dan pergi.
Chen Li mengasahnya beberapa saat lagi, kemudian masuk dan tertidur.
Dia bekerja keesokan harinya dan ketika libur guru besar San mengatakan Chi Yan sudah pergi ke ibukota. Chen Li merasa kehilangan gadis yang di sukainya. Dia lalu pulang dan berterima kasih. Guru San ingin berbicara banyak hal dengannya tapi pemuda itu tidak mempedulikannya.
*****
Madam Xu sedang minum teh. Hari-harinya selalu tenang. Dia akan memulai hari dengan minum teh kemudian pergi ke pabrik tenun keluarga. Dan pada malam harinya dia akan membaca di perpustakaan, sesekali berbicara dengan anak-anaknya, bahkan dengan Yun Taoshi. Lingkungan keluarga terasa damai dan berangsur-angsur pulih setelah insiden kematian kepala keluarga. Namun semua orang tahu, jika keluarga Yun ingin terus berkembang harus ada pengganti lain sebagai kepala keluarga.
Sementara di sebuah rumah sederhana, tiga orang sedang duduk bersama. Seorang pelayan menghidangkan teh untuk masing-masing orang. Mereka adalah tiga orang badan intelijen, hanya diam dan menikmati tehnya masing-masing.
Pelayan yang menghidangkan teh membungkuk, menutup pintu lalu akhirnya pergi.
“Apa kita akan melanjutkanya?”
Salah seorang pria berjubah hitam memulai pembicara pertama lalu meminum tehnya.