NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: PERTUMPAHAN DARAH PERTAMA

#

Lantai ketiga lebih dingin. Lebih sunyi. Suara tangisan anak-anak dari lantai atas tidak terdengar lagi di sini, digantikan oleh kesunyian yang menusuk telinga. Lorong panjang dengan pintu-pintu besi di kanan kiri, masing-masing punya jendela kecil berkisi.

Bagas berhenti di setiap pintu, mengintip lewat jendela. Wajahnya semakin tegang di setiap pintu yang ia lewati. Arjuna bisa lihat tangannya yang pegang pistol mulai gemetar.

"Bagas," bisik Pixel. "Waktu kita tinggal sepuluh menit. Kalau tidak ketemu sekarang, kita harus pergi."

"Dia di sini," desis Bagas. "Aku tahu dia di sini."

Pintu berikutnya. Bagas mengintip. Lalu tubuhnya membeku total.

"Maya," bisiknya, suaranya pecah. "Maya..."

Ia langsung ke panel pintu, coba buka tapi terkunci. Kode digital. Pixel cepat mendekat, colokkan kabel dari laptopnya ke panel.

"Beri aku tiga puluh detik."

Tapi Bagas tidak punya tiga puluh detik. Ia mundur beberapa langkah, lalu tendang pintu dengan sekuat tenaga. Sekali. Dua kali. Pintunya tidak bergerak.

"Bagas, tunggu! Aku hampir..."

BRAK!

Bagas menembak engsel pintu. Suara tembakan keras meski pakai peredam. Engsel atas hancur. Ia tendang lagi, engsel bawah patah, pintu roboh ke dalam.

"MAYA!"

Bagas masuk. Arjuna ikuti di belakangnya, lalu berhenti, napasnya tersangkut di tenggorokan.

Di dalam ruangan kecil itu, ada seorang gadis remaja terikat di kursi. Rambutnya panjang acak-acakan, bajunya robek di beberapa bagian, wajahnya penuh lebam. Tapi yang paling mengerikan adalah matanya. Matanya kosong. Kosong total. Seperti tidak ada yang hidup di sana lagi.

"Maya, Maya, sayang, ini kakak. Ini aku, Bagas." Bagas berlutut di depan adiknya, tangannya gemetar melepas ikatan. "Kakak di sini. Kakak datang jemput kamu. Kamu aman sekarang. Kamu aman..."

Tapi Maya tidak bereaksi. Tidak menangis, tidak tersenyum, tidak apapun. Cuma menatap kosong ke depan.

"Mereka... mereka ngapain ke dia?" bisik Sari, suaranya bergetar. "Kenapa dia seperti itu?"

"Obat," jawab Pixel, matanya menatap jarum suntik kosong di meja samping. "Mereka suntik dia dengan sesuatu. Mungkin untuk bikin dia diam. Atau mungkin..."

Ia tidak lanjutkan. Tidak perlu. Mereka semua tahu. The Black Serpent terkenal dengan perdagangan narkoba. Mereka pasti suntik Maya dengan sesuatu untuk bikin dia tidak bisa melawan.

Bagas mengangkat adiknya, tubuh gadis itu lemas seperti boneka. "Kita pergi. Sekarang."

Mereka keluar dari ruangan. Tapi baru beberapa langkah, alarm berbunyi.

WIIING WIIING WIIING

Suara keras yang menggema di seluruh gedung, lampu berubah merah, berkedip-kedip.

"SIAL!" Pixel menutup laptopnya cepat. "Mereka tahu! Mereka tahu kita di sini!"

"LARI!" Bagas sudah berlari, Maya di gendongannya, pistol di tangan satunya. Arjuna, Sari, dan Pixel ikuti di belakang.

Mereka berlari ke tangga, tapi dari atas terdengar suara langkah kaki keras. Banyak. Puluhan orang.

"Tangga tidak bisa!" Bagas belok ke lorong lain. "Ada tangga darurat di ujung sana! CEPAT!"

Mereka lari dengan napas tersengal. Di belakang mereka, pintu-pintu terbuka, orang-orang berjas hitam keluar dengan senjata.

"BERHENTI! ATAU KAMI TEMBAK!"

Tidak ada yang berhenti. Mereka terus lari.

DOOOOR! DOOOOR!

Peluru bersautan. Mengenai dinding di samping mereka, pecahan beton beterbangan. Sari berteriak, Arjuna menarik tangannya, paksa dia tetap lari.

Mereka sampai di tangga darurat. Bagas buka pintunya dengan tendangan, mereka turun dengan cepat, tiga anak tangga sekali pijak. Pixel nyaris jatuh tapi Arjuna tangkap.

Lantai dua. Tangga masih panjang. Di belakang mereka, suara langkah kaki semakin dekat.

DOOR! DOOR!

Peluru mengenai pagar besi tangga, tepat di samping kepala Arjuna. Ia rasakan panas dari peluru yang lewat begitu dekat.

"Hampir sampai! Terus lari!" Bagas berteriak.

Lantai satu. Mereka sampai di lantai paling bawah, keluar lewat pintu samping yang langsung ke luar gedung.

Udara malam menerpa wajah mereka. Dingin. Segar. Tapi tidak ada waktu untuk bernapas lega.

Karena di luar ada lebih banyak orang. Sedikitnya lima orang dengan senjata, sudah mengepung pintu keluar.

"Turunkan senjata! Turunkan atau kami tembak gadis itu!"

Salah satu dari mereka menodongkan pistol ke arah Maya yang lemas di gendongan Bagas.

Bagas berhenti. Napasnya berat. Matanya menatap orang-orang itu dengan tatapan penuh kebencian. Tapi ia turunkan pistolnya pelan.

"Jangan sakiti dia," katanya. "Tolong. Dia sudah cukup menderita."

"Harusnya kau pikir itu sebelum datang ke sini, pengkhianat."

Orang yang bicara melangkah maju. Pria tinggi dengan bekas luka bakar di setengah wajahnya. Matanya dingin, kejam.

"Naga Hitam," bisik Bagas. "Pemimpin The Black Serpent."

"Tepat sekali." Naga Hitam tersenyum, tapi senyum itu tidak ada kehangatan. "Dan kau, Bagas, sudah membuat kesalahan besar. Kau pikir kau bisa mengkhianati Adrian Mahendra dan tetap hidup? Kau pikir kau bisa mencuri dari kami?"

"Dia bukan barang! Dia adikku!"

"Dia jaminan supaya kau tetap setia. Dan sekarang kau sudah buktikan kalau kau tidak bisa dipercaya." Naga Hitam menatap Arjuna dan yang lain. "Dan kalian. Kalian anak-anak yang membuat kehebohan di kota. Yang mencuri data Adrian. Bos ku sangat ingin bertemu kalian."

"Kami tidak akan kemana-mana denganmu," kata Sari, suaranya gemetar tapi tetap tegas.

"Oh, kau akan. Percaya padaku." Naga Hitam angkat tangannya, beri sinyal pada anak buahnya. "Tangkap mereka. Hidup-hidup kalau bisa. Tapi kalau melawan, tembak saja."

Orang-orang itu maju. Arjuna mundur, tangannya mencari-cari sesuatu, apapun, untuk dijadikan senjata. Ia tidak mau mati di sini. Tidak mau tertangkap. Tidak mau...

DOOOOR!

Tembakan dari arah lain. Salah satu anak buah Naga Hitam jatuh, dadanya berlubang, darah muncrat.

Semua orang tersentak, bingung. Siapa yang menembak?

Dari balik kontainer di sebelah kiri, muncul bayangan. Seseorang dengan hoodie hitam, wajah tertutup masker, di tangannya ada senapan.

"LARI! SEKARANG!" suara itu berteriak. Suara perempuan.

Bagas tidak butuh diingatkan dua kali. Ia langsung lari ke arah berlawanan, Maya masih di gendongannya. Arjuna menarik Sari dan Pixel, mereka ikuti Bagas.

Di belakang mereka, terjadi baku tembak. Suara tembakan bertubi-tubi, teriakan, jeritan. Tapi mereka tidak menoleh. Cuma lari.

Mereka belok ke gang sempit di antara gudang-gudang. Bagas berhenti sebentar, turunkan Maya dengan hati-hati di sudut yang aman. "Kalian tunggu di sini. Jangan keluar. Aku akan pastikan jalur aman."

"Tidak! Kita harus tetap bersama!" Sari menggeleng cepat.

"Kalau kita semua jalan bareng, kita target lebih gampang. Aku akan aman. Percaya padaku." Bagas sudah pergi sebelum mereka sempat protes.

Arjuna, Sari, dan Pixel duduk di samping Maya yang masih tidak sadar apa yang terjadi. Mereka menunggu dengan napas tertahan, mendengar suara tembakan yang perlahan menjauh.

Lima menit. Sepuluh menit.

"Kenapa dia lama sekali?" bisik Pixel. "Harusnya dia sudah balik."

Lalu mereka dengar suara. Suara langkah kaki berat. Seseorang terseret.

Bagas muncul dari ujung gang. Tapi ia tidak jalan normal. Ia limbung, tangannya memegang dinding untuk support. Dan di perutnya... di perutnya ada darah. Banyak sekali darah.

"BAGAS!" Arjuna berlari, tangkap pria besar itu sebelum jatuh. "Kau ditembak! Ya Tuhan, kau ditembak!"

"Aku... aku tahu," Bagas tersenyum pahit, darah mengalir dari sudut bibirnya. "Aku... aku rasakan pelurinya masuk..."

Sari cepat buka tas, keluarkan kaus yang bersih, tekan ke luka Bagas untuk hentikan pendarahan. Tapi darahnya terlalu banyak, terlalu cepat, kausnya langsung basah merah.

"Kita harus bawa dia ke rumah sakit!" Sari menatap Arjuna panik. "Sekarang! Atau dia akan mati!"

"Tidak ada... waktu," Bagas menggenggam tangan Sari, kuat meski tangannya gemetar. "Kalian... kalian harus pergi. Bawa Maya. Selamatkan dia. Itu... itu yang penting."

"Kami tidak akan tinggalkan kau!" Arjuna berteriak, matanya sudah basah. "Kau belum boleh mati! Kau harus bantu kami! Kau janji!"

"Maafkan aku..." Bagas batuk, darah keluar lebih banyak. "Aku... aku tidak bisa tepati janji. Tapi kalian... kalian harus lanjutkan. Harus... harus jatuhkan Adrian. Untuk Maya. Untuk semua anak di sana. Untuk..."

Ia batuk lagi, tubuhnya kejang.

"Bagas! Bagas, tahan!" Sari menangis sekarang, tangannya gemetar menekan luka yang tidak berhenti berdarah. "Kumohon, tahan!"

"Ada... ada yang harus kalian tahu," Bagas menarik napas susah payah, setiap napas terdengar basah, bergelembung. "Ada... ada pengkhianat. Di antara kalian. Seseorang... seseorang kasih tahu mereka... kalian datang. Mereka... mereka tahu sejak awal."

"Apa?" Pixel mundur. "Pengkhianat? Siapa? Kami cuma bertiga!"

"Aku... tidak tahu. Tapi hati-hati. Jangan... jangan percaya... siapapun..." Mata Bagas mulai tidak fokus, menatap ke langit yang gelap. "Maya... adikku... jaga dia... kumohon... jaga..."

"Kami janji! Kami akan jaga dia!" Arjuna menggenggam tangan Bagas yang mulai dingin. "Kami janji, Bagas!"

Bagas tersenyum. Senyum terakhir yang damai. Lalu matanya perlahan menutup. Napasnya berhenti. Tangannya yang menggenggam Arjuna melemas, jatuh ke tanah.

"Tidak... tidak tidak tidak..." Arjuna menggeleng, tangannya mengguncang tubuh Bagas. "Bangun. Bagas, bangun. Kau belum boleh mati. Kau... kau harus lihat adikmu sembuh. Kau harus... kau harus..."

Tapi Bagas tidak bangun. Tidak akan pernah bangun lagi.

Sari menutup mulutnya, menangis tanpa suara. Pixel berpaling, tangannya menutupi matanya, bahunya bergetar.

Arjuna menatap wajah Bagas yang sudah damai. Pria yang baru ia kenal beberapa hari. Pria yang rela mati untuk selamatkan adiknya. Pria yang harusnya punya masa depan, harusnya bisa hidup bahagia bersama Maya setelah semua ini selesai.

Tapi sekarang ia mati. Mati di gang kotor, dikelilingi darahnya sendiri, jauh dari rumah.

"Maafkan kami," bisik Arjuna, tangannya menutup mata Bagas yang masih terbuka. "Maafkan kami tidak bisa selamatkan kau."

Suara langkah kaki terdengar lagi. Banyak. Mereka datang.

"Kita harus pergi," kata Pixel, suaranya serak. "Sekarang. Atau kematian Bagas sia-sia."

Arjuna berdiri, angkat Maya yang masih lemas. Gadis itu sangat ringan, terlalu ringan untuk umurnya. Sari bantu support Maya dari samping.

Mereka lari lagi. Meninggalkan tubuh Bagas di gang itu. Meninggalkan orang baik lainnya yang jadi korban kejahatan Adrian.

Arjuna tidak tahu kemana mereka lari. Cuma lari. Lari sampai kaki tidak kuat lagi. Sampai mereka sampai di dermaga yang gelap, sembunyi di bawah jembatan kayu, napas tersengal, tubuh gemetar.

Maya akhirnya sadar. Matanya terbuka pelan, menatap Arjuna dengan bingung.

"Kakak..." bisiknya. "Dimana kakak?"

Arjuna tidak bisa jawab. Tenggorokannya tersumbat. Bagaimana ia bisa bilang pada gadis ini kalau kakaknya, satu-satunya keluarga yang ia punya, sudah mati menyelamatkannya?

Sari yang jawab. Dengan suara lembut, dengan air mata di pipi, ia peluk Maya erat.

"Kakakmu... kakakmu sudah pergi ke tempat yang lebih baik," bisiknya. "Tapi dia titip kamu ke kami. Dia bilang... dia bilang kami harus jaga kamu. Dan kami akan. Kami janji."

Maya menatap Sari. Lalu ia menangis. Menangis keras, raung yang keluar dari dalam dada, raung orang yang kehilangan segalanya.

Sari memeluknya lebih erat, ikut menangis. Arjuna dan Pixel juga menangis. Mereka semua menangis di bawah jembatan itu, dikelilingi kegelapan, dikelilingi bahaya yang masih mengintai.

Tapi untuk beberapa menit itu, mereka cuma membiarkan diri mereka menangis.

Karena kadang, menangis adalah satu-satunya yang bisa dilakukan saat dunia terlalu kejam untuk ditanggung.

***

Di gedung pencakar langit di pusat Kota Kelam, Adrian Mahendra duduk di kursi kulit mewahnya, membaca laporan di tabletnya.

"Bagas Pradipta. Meninggal. Adiknya diambil oleh target." Ia tersenyum tipis. "Menarik. Mereka lebih tangguh dari yang aku kira."

Ia menatap ke layar besar di dindingnya yang menampilkan foto-foto Arjuna, Sari, Pixel, dan sekarang Maya.

"Tapi mereka membuat kesalahan," gumamnya. "Mereka pikir ada pengkhianat di antara mereka. Mereka akan mulai tidak percaya satu sama lain. Dan saat kepercayaan hilang..."

Ia berdiri, jalan ke jendela besar, menatap kota yang berkilauan di bawahnya.

"Saat kepercayaan hilang, mereka akan hancur dengan sendirinya. Dan aku... aku cuma perlu duduk dan menonton."

Ia tertawa pelan. Tertawa yang dingin.

Tertawa monster yang tahu ia sudah menang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!