"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema dari Dasar Danau
Pagi di Jenewa menyapa dengan kabut tebal yang menyelimuti permukaan danau, seolah alam pun berusaha menyembunyikan rahasia yang terkubur di sana. Arkan dan Alana berdiri di depan pintu baja raksasa Banque de Private Genève, sebuah institusi yang lebih mirip benteng daripada bank. Di sini, kerahasiaan adalah segalanya. Uang bukan sekadar angka, melainkan sejarah yang dibekukan.
Arkan mengenakan setelan jas hitam yang sangat formal, namun matanya yang merah menunjukkan bahwa ia tidak tidur semenit pun. Di sampingnya, Alana tampak anggun dalam balutan mantel wol berwarna krem, tangannya menggenggam kotak musik kayu itu seolah benda itu adalah jantungnya sendiri.
"Siap?" tanya Arkan pendek.
Alana mengangguk. "Siap, Tuan."
Mereka masuk melewati pemeriksaan keamanan yang sangat ketat—pemindaian retina, sidik jari, dan verifikasi paspor diplomatik. Setelah melewati tiga lapis gerbang baja, mereka diantar oleh seorang pria tua berseragam rapi menuju ruang brankas bawah tanah yang sangat sunyi.
"Brankas nomor 0716, Tuan Arkananta," ujar pria tua itu dengan aksen Prancis yang kental. Ia mundur beberapa langkah, memberikan privasi penuh.
Arkan mengeluarkan kunci perak kecil yang tersembunyi di balik mekanisme rahasia kotak musik kayu milik Adrian. Ia memasukkannya ke lubang kunci, sementara Alana membantu menekan kode angka yang sebelumnya telah ia dekripsi dari partitur lagu Swan Lake yang ada di dalam kotak musik tersebut.
Klik.
Pintu brankas kecil itu terbuka dengan desis udara yang tertahan. Di dalamnya tidak ada tumpukan emas atau berlian. Hanya ada sebuah amplop cokelat besar, sebuah alat perekam suara digital model lama, dan sebuah jam tangan perak yang kacanya sudah pecah.
Tangan Arkan gemetar saat mengambil jam tangan itu. "Ini milik Adrian. Jam ini berhenti tepat di jam 02:14 pagi... saat dia terjatuh ke air."
Suara dari Masa Lalu
Arkan meletakkan alat perekam itu di atas meja marmer di tengah ruangan. Ia menekan tombol play dengan ragu. Awalnya hanya terdengar suara statis, deru angin, dan deburan ombak yang menghantam lambung kapal pesiar.
Lalu, sebuah suara muncul. Suara yang sangat mirip dengan suara Arkan, namun sedikit lebih lembut dan penuh getaran emosi.
"Arkan... jika kau mendengarkan ini, berarti aku sudah tidak ada. Dan aku harap kau yang menemukannya, bukan Kakek."
Alana menahan napas. Suara Adrian terdengar begitu nyata, seolah pria itu berdiri di antara mereka.
"Malam ini aku akan menghadapi Kakek. Aku tahu dia sudah tahu tentang rencanaku membawa Elena pergi dari sini. Dia pikir aku ingin menghancurkan Arkananta Group, padahal aku hanya ingin bebas. Arkan, jangan percaya pada dokumen merger yang ditandatangani Kakek tahun lalu. Dia melakukan pencucian uang melalui yayasan panti asuhan kita. Dia menumbalkan namamu jika sewaktu-waktu otoritas Swiss menciumnya."
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbanting di rekaman itu. Suara berat Sang Kakek terdengar menggelegar.
"Kau pikir kau bisa lari, Adrian? Arkananta tidak melahirkan pengkhianat!"
"Aku bukan pengkhianat, Kek! Aku hanya manusia yang punya hati!" balas Adrian dalam rekaman itu.
Selanjutnya adalah suara perkelahian, benturan fisik, dan teriakan Elena yang histeris. Lalu, momen yang paling mengerikan:
"Lepaskan dia, Kek! Dia akan jatuh!" teriak suara Arkan muda di rekaman itu.
"Biarkan saja," suara Kakek terdengar dingin, tanpa emosi sedikit pun. "Satu matahari sudah cukup. Arkan, ingat ini: kekuatan dibangun di atas pengorbanan yang paling pahit. Hari ini, kau belajar bagaimana menjadi seorang Arkananta yang sesungguhnya."
Byur!
Suara air yang pecah mengakhiri rekaman itu, diikuti oleh kesunyian yang panjang dan mematikan.
Kehancuran Mental Arkan
Arkan jatuh terduduk di kursi kayu di ruang brankas itu. Wajahnya pucat pasi. Selama sepuluh tahun, ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak cukup cepat menggapai tangan saudaranya. Namun, rekaman itu membuktikan bahwa Kakek sengaja membiarkan—bahkan mendorong—kematian itu terjadi demi "pelajaran" kepemimpinan.
"Dia membunuhnya..." bisik Arkan, suaranya pecah. "Dia membunuh saudaranya sendiri demi sepotong kekuasaan."
Alana mendekat, air mata mengalir di pipinya. Ia memeluk kepala Arkan, membiarkan pria perkasa itu bersandar pada perutnya. "Ini bukan salah Anda, Tuan. Anda juga korban di sini."
Arkan mencengkeram jas Alana dengan kuat. "Sepuluh tahun aku mengabdi padanya. Aku membangun kerajaan ini dengan keringat dan darah, hanya untuk menyadari bahwa aku bekerja untuk seorang pembunuh."
Alana membuka amplop cokelat itu. Di dalamnya terdapat dokumen asli mengenai dana abadi yang disebutkan sebelumnya. Adrian ternyata telah mengalihkan sebagian besar saham pribadinya ke sebuah akun atas nama "Anak dari Elena". Adrian sudah tahu Elena hamil sebelum ia meninggal.
"Tuan," Alana menarik perhatian Arkan. "Lihat ini. Bayi yang baru lahir itu... secara hukum dia adalah pemilik sah dari 15% saham Arkananta Group melalui wasiat ini. Jika kita mempublikasikan rekaman ini dan dokumen ini, Kakek tidak hanya akan masuk penjara, tapi dia akan kehilangan kendali atas perusahaan selamanya."
Mata Arkan yang tadinya redup mulai berkilat dengan kemarahan yang tenang namun mematikan. "Dia ingin satu matahari? Maka aku akan memastikan matahari itu membakar seluruh dunianya."
Pengkhianatan di Jakarta
Namun, saat mereka bersiap meninggalkan bank, ponsel Alana bergetar. Sebuah pesan video masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Alana membukanya, dan jantungnya seolah berhenti.
Video itu memperlihatkan paviliun rahasia di Jakarta yang sudah luluh lantak. Elena tidak ada di sana. Dan inkubator tempat bayi itu dirawat tampak kosong. Kamera kemudian beralih ke wajah Kevin yang sedang tersenyum lebar, memegang sebuah botol susu di depan sebuah ruangan gelap.
"Halo, Alana. Atau haruskah aku memanggilmu Nyonya CEO?" suara Kevin terdengar sangat licik. "Kalian pergi terlalu jauh ke Swiss untuk mencari masa lalu, sampai lupa menjaga masa depan. Bayi kecil ini sangat haus. Dan Elena... yah, dia butuh udara segar. Jika kau tidak ingin bayi ini menjadi 'puing' berikutnya di danau, kembalilah dalam 24 jam. Tanpa polisi. Tanpa pengawal. Bawa kotak itu padaku."
Video berakhir. Alana gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan ponselnya.
"Tuan... bayi itu. Kevin mengambil bayi itu," isak Alana.
Arkan merebut ponsel itu dan menonton videonya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat lehernya menonjol. "Dia sudah melewati batas. Dia menggunakan nyawa seorang bayi untuk bermain catur denganku."
"Kita harus kembali, Tuan! Kita harus menyelamatkan mereka!"
"Kita akan kembali," kata Arkan dengan suara yang sangat rendah namun penuh otoritas. "Tapi kita tidak akan kembali sebagai mangsa. Kita akan kembali sebagai algojo."
Rencana Balas Dendam
Arkan segera menghubungi kontak rahasianya di Jakarta. Ia bukan lagi sekadar CEO yang defensif; "Monster Es" itu telah benar-benar bangun.
"Kosongkan jadwal besok," perintah Arkan pada teleponnya. "Hubungi dewan komisaris. Katakan ada rapat darurat yang akan mengubah wajah Arkananta selamanya. Dan siapkan tim penjemputan rahasia. Kita akan mendarat di pangkalan militer, bukan bandara umum."
Ia menoleh pada Alana. "Alana, ini akan menjadi babak paling berbahaya. Kevin tidak bekerja sendiri. Kakek pasti memberikan izin padanya untuk melakukan ini sebagai ujian terakhir bagiku. Mereka ingin melihat apakah aku akan memilih rahasia atau memilih keluarga."
Alana menghapus air matanya. Keberanian baru muncul dari rasa cintanya pada bayi mungil itu. "Saya tidak akan membiarkan mereka menyentuh bayi itu, Tuan. Walaupun saya harus mempertaruhkan nyawa saya."
"Kau tidak akan mati, Alana," Arkan memegang kedua bahu Alana. "Karena mulai detik ini, kontrak kita berakhir. Kau bukan lagi sekretaris pengganti. Kau adalah pasanganku dalam perang ini. Kita akan merebut kembali apa yang menjadi hak Adrian, dan kita akan menghancurkan siapa pun yang berdiri di jalan kita."
Malam itu, mereka terbang kembali ke Jakarta di tengah badai petir. Di dalam jet pribadi, Alana menatap dokumen dan alat perekam di atas meja. Ia tahu, setelah malam ini, tidak akan ada lagi jalan pulang ke kehidupan lamanya yang sederhana. Ia telah menjadi bagian dari sejarah gelap Arkananta, dan ia akan memastikan sejarah itu berakhir dengan keadilan.
Di Jakarta, Kevin sedang duduk di ruang bawah tanah sebuah gudang tua, menatap bayi yang sedang menangis di dalam inkubator portabel. Di sampingnya, Elena terikat di kursi, mulutnya tersumpal, matanya membelalak penuh ketakutan.
"Jangan khawatir, Elena," bisik Kevin sambil mengelus pipi Elena dengan pisau lipatnya. "Kakakmu yang palsu itu akan segera datang. Dan saat dia tiba, aku akan menunjukkan padanya bagaimana cara Arkananta menyelesaikan sebuah kesepakatan."
Pertempuran terakhir untuk masa depan Arkananta Group baru saja dimulai di titik nadir yang paling gelap.