Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBERSIHAN ULAR DAN TAKHTA YANG KOSONG
Pelabuhan Tanjung Priok malam itu baunya seperti perpaduan antara kaleng karat, oli tumpah. Hujan turun rintik rintik, cukup untuk membuat aspal terlihat seperti cermin hitam yang memantulkan lampu lampu kontainer yang redup.
Di dalam sebuah gudang raksasa bernomor 09, sisa sisa faksi Cobra sedang berkumpul. Mereka tidak lagi terlihat seperti penguasa pasar gelap; mereka terlihat seperti sekumpulan tikus yang terpojok di pojok selokan.
Viktor, sang pemimpin yang dulu sombong, kini hanya bisa duduk di kursi roda elektroniknya. Lengan mekanisnya yang hancur karena "dikunyah" oleh Kenzo beberapa waktu lalu mengeluarkan suara ngik ngik yang menyedihkan setiap kali dia bergerak.
Di depannya, seorang pria Jepang dari klan The Black Sun berdiri dengan wajah masam.
"Sato dan seluruh timnya hilang. Kami tidak bisa menghubungi mereka sejak dua jam lalu," suara pria Jepang itu dingin, seolah nyawa anak buahnya hanyalah angka di atas kertas. "Kalau kau tidak bisa memberikan lokasi Hunter Bayangan itu, Viktor, kepalamu akan kami jadikan hiasan di kapal kargo kami."
Viktor gemetar, keringat dingin membasahi lehernya yang berlemak. "Gue udah bilang! Dia itu bukan manusia! Dia hantu yang bisa nilep Mana! Jangan tanya gue, tanya neraka tempat dia berasal."
Tiba tiba, lampu gudang mati total. Bukan karena korsleting, tapi seolah-olah cahaya itu "disedot" habis oleh kegelapan yang lebih pekat.
“Rekan, detak jantung tikus tikus di bawah sana sangat berirama. Mau aku iringi dengan musik kematian atau kau ingin langsung memotong lidah mereka?” suara sistem bergema di kepala Kenzo, terdengar sangat haus darah.
“Diem lo. Gue mau nikmatin ekspresi ketakutan mereka dulu,” batin Kenzo.
Kenzo berdiri di atas tumpukan kontainer tertinggi, jubah Sovereign’s Mantle yang baru ia dapatkan berkibar pelan, memancarkan aura emas redup yang terasa menekan udara.
Di sampingnya, Valeria sudah memegang belati dengan jemari yang gatal, sementara Freya berdiri tegak, memeluk tombak Gungnir nya seperti seorang dewi perang yang sedang bosan.
"Viktor... lo nggak kangen sama gue apa?" suara Kenzo menggema, rendah dan penuh ancaman.
BZZZZZZZT!
Tanpa menunggu balasan, Kenzo melepaskan Static Domain. Arus listrik ungu tua merambat di lantai besi gudang, memaksa syaraf puluhan anak buah Cobra konslet seketika. Mereka berjatuhan, mulut mereka berbusa, tubuh mereka kejang kejang seperti ikan yang dilempar ke atas aspal panas.
"Sekarang, Valeria. Kasih mereka salam pembuka," perintah Kenzo.
Valeria melesat. Dia bukan lagi Hunter yang ragu ragu dia adalah mesin pemotong daging. Belatinya tidak hanya menyayat, tapi benar-benar merobek tenggorokan musuh hingga darah menyemprot ke dinding kontainer, menciptakan lukisan abstrak berwarna merah pekat.
“Bangkit, Sato! Tunjukkan pada mantan sekutumu ini bagaimana rasanya menjadi abadi,” perintah Kenzo dalam hati.
Dari bayangan kaki Kenzo, asap hitam pekat meledak. Sato muncul dalam wujud bayangan ksatria. Tanpa suara, dia melesat ke arah pria Jepang yang tadi sombong. Katana bayangannya membelah zirah pelindung pria itu seolah olah itu hanya terbuat dari kertas basah. Suara teriakan pecah di tengah gudang, nyampur sama suara hujan yang mulai deras menimpa atap seng.
Kenzo turun dari kontainer dengan langkah santai, mendekati Viktor yang sekarang sudah kencing di celana. Bau pesing menyengat, bikin Kenzo mengerutkan dahi di balik topengnya.
"Kenzo... ampun... gue punya info... gue punya akses ke gudang senjata rahasia Naga Perak!" rintih Viktor, air mata dan ingusnya campur aduk.
Kenzo nunduk, ngeraih kerah baju Viktor dan narik muka pria itu sampe hidung mereka hampir nempel. "Lo tau apa yang paling gue benci dari ular, Viktor? Mereka selalu janjiin hal yang sebenernya bukan milik mereka."
Kenzo meletakkan tangannya di atas kepala Viktor. "Extraction."
“TARGET TERIDENTIFIKASI... PROSES GAGAL! REKAN, MENTAL PRIA INI TERLALU TEMPE. DIA BAHKAN TIDAK PANTAS JADI PRAJURIT BAYANGAN LEVEL RENDAH. MAU AKU BUANG KE TEMPAT SAMPAH?”
"Buang aja," gumam Kenzo.
KRAK.
Dengan satu putaran tangan, leher Viktor patah sepenuhnya. Tubuhnya yang tak bernyawa jatuh lunglai dari kursi roda, berakhir menjadi tumpukan daging tak berguna di lantai gudang.
Setelah pembantaian selesai, suasana gudang berubah sunyi. Hanya suara desisan hampa dari pasukan bayangan yang sekarang berdiri berbaris rapi di tengah genangan darah. Kenzo melepas Mask of The Nameless nya, memperlihatkan wajahnya yang tampan namun memiliki tatapan yang bisa membekukan air terjun.
Dia berjalan ke arah Freya yang sejak tadi cuma menonton dengan tatapan kosong. Kenzo berhenti tepat di depan Freya, mengamati garis parut bedah di dada cewek Jerman itu yang masih berpendar ungu.
"Lo oke, Pirang?" tanya Kenzo. Suaranya berubah, dari dingin menjadi sesuatu yang lebih... berbahaya bagi jantung wanita.
Freya menatap Kenzo, sedikit gemetar. "Gue... gue cuma nggak nyangka lo sebrutal ini."
Kenzo mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Freya dan mengangkatnya agar mata mereka bertemu. Jari Kenzo merayap turun ke leher Freya, tepat di atas bekas luka operasinya.
"Di dunia gue, cuma ada dua pilihan jadi pemangsa atau jadi makanan. Lo udah milih jadi bagian dari gue, kan?" ucap Kenzo.
Kenzo menarik pinggang Freya hingga tubuh mereka menempel erat. Dia bisa merasakan detak jantung Freya yang kencang di balik jaket kulitnya. Kenzo mencondongkan wajahnya, membisikkan sesuatu tepat di telinga Freya, nafasnya yang hangat bikin bulu kuduk cewek itu berdiri.
"Lo punya aroma yang enak banget buat cewek yang baru aja liat pembantaian. Bau Mana monster dan... rasa takut yang manis," bisik Kenzo sambil sedikit menjilat daun telinga Freya. "Gue jadi pengen tau, apa bagian lain dari tubuh lo juga berpendar ungu pas lo ngerasa... 'senang'?"
Wajah Freya langsung merah padam. Dia mencoba mendorong dada Kenzo, tapi tenaganya seolah hilang ditelan dominasi pria di depannya. "Lo... lo bener-bener bajingan mesum, Ken."
"Tapi lo butuh bajingan ini buat tetep hidup, kan?" Kenzo nyeringai nakal, lalu mengecup leher Freya dengan lembut namun menuntut sebelum melepaskannya.
Valeria yang berdiri nggak jauh dari sana cuma mendengus sambil ngelap darah di belatinya. "Woi, Bos! Jangan mulai deh. Fokus dulu ke harta karun di bawah ini. Gue nggak mau jaga pintu sementara lo asik bikin bayi di sini."
Kenzo ketawa pendek. Dia menghantamkan pedangnya ke lantai beton, menghancurkan segel sihir rahasia yang menyembunyikan tangga menuju lantai bawah tanah.
Di bawah sana, mereka menemukan "surga" bagi para Hunter. Ribuan Inti Mana Rank A tersusun rapi, dan di tengah ruangan, sebuah peti besar yang disegel sihir kuno berdiri megah. Saat Kenzo membukanya, cahaya emas murni memenuhi ruangan, mengungkap sebuah jubah hitam legam dengan sulaman emas yang bergerak-gerak seperti makhluk hidup.
Sovereign’s Mantle.
Kenzo memakainya. Seketika, aura kepemimpinannya meledak. Dia merasa seolah-olah bisa mengendalikan seribu bayangan sekaligus tanpa merasa pusing.
“REKAN, KAU TERLIHAT SANGAT TAMPAN DENGAN JUBAH ITU. JAUH LEBIH BAIK DARIPADA SAAT KAU TELANJANG DI DEPAN ELARA TADI PAGI. LEVELMU MENINGKAT: LV.52!”
"Diem lo, Sistem bangsat," umpat Kenzo, meski dia merasa sangat kuat.
Dia mengaktifkan comms-nya. "Elara, lo denger gue?"
"Denger, Mesum. Gue udah liat data yang lo ambil dari otak si Jepang itu. Situasinya gawat. Asosiasi Hunter Internasional lagi bikin rapat darurat di Singapura. Nama lo ada di urutan teratas daftar buruan mereka. Lo dianggap 'Anomali' yang harus dimusnahin," suara Elara kedengeran cemas.
Kenzo menatap bayangan Sato dan para Soldier barunya yang berdiri di kegelapan. "Bagus. Biar mereka dateng. Gue bosen main sama ular lokal. Gue mau tau gimana rasanya ekstraksi Mana dari Hunter luar negeri."
Kenzo menoleh ke arah Valeria dan Freya. "Besok, kita pindah dari toko loak itu. Kita ambil alih gedung pusat Naga Perak. Itu bakal jadi istana kita. Jakarta udah punya penguasa baru, dan mereka harus belajar buat sujud."
Sebelum keluar dari ruang bawah tanah, Kenzo narik Valeria yang lagi sibuk ngitung Inti Mana. Dia meluk Valeria dari belakang, tangannya melingkar di perut cewek itu dan sedikit meraba ke atas.
"Val... makasih ya udah jadi anjing penjaga yang galak malam ini," bisik Kenzo di leher Valeria.
Valeria mematung, mukanya memerah tapi dia nggak nolak. "Lepasin, Ken... ada Freya..."
"Dia nggak bakal keberatan liat gue 'ngasih imbalan' ke kapten gue sendiri," sahut Kenzo sambil menggigit kecil bahu Valeria. "Malam ini di gedung Naga Perak yang baru... gue mau kalian berdua di kamar gue. Gue butuh 'ritual' buat ngerayain kemenangan ini."
"Bajingan..." gumam Valeria, tapi dia malah nyenderin kepalanya ke bahu Kenzo.
Kenzo tertawa, suara tawanya bergema di ruang bawah tanah yang penuh darah dan harta itu. Dia adalah Shadow Sovereign. Dia memiliki kekuatan kematian di tangannya, dan wanita wanita paling mematikan di sisinya. Dunia mungkin membencinya, tapi Kenzo tidak peduli. Dia akan menelan seluruh dunia ini ke dalam bayangannya, satu per satu.
"Ayo balik," ajak Kenzo sambil melangkah gagah keluar, jubah emas-hitamnya berkibar menyapu lantai yang penuh darah.