NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mr Kennedy

Pagi di Jarvis Collegiate Institute dimulai dengan rutinitas yang tampak normal. Sinar matahari pagi yang cerah menerpa gedung tua yang megah itu, sementara ratusan murid dengan seragam rapi memenuhi koridor, saling menyapa dan tertawa. Namun, di balik keriuhan itu, ada desas-desus halus yang menjalar seperti api di antara kerumunan. Beberapa murid terlihat berbisik-bisik sambil menatap layar ponsel mereka dengan ekspresi ngeri sekaligus penasaran.

​TENG... TENG... TENG...

​Bel sekolah berbunyi nyaring, memaksa semua orang untuk segera masuk ke ruang kelas masing-masing.

​Di lapangan olahraga, Luca baru saja menyelesaikan hukuman larinya karena terlambat. Napasnya tersengal, keringat membasahi dahi dan seragamnya.Dengan terburu-buru, ia menyambar tasnya dan berlari menuju kelas Sastra Inggris.

​Saat ia membuka pintu kelas, Ms. Jasmine sudah berdiri di depan meja sambil memegang buku puisi karya Sylvia Plath. Seluruh mata tertuju pada Luca. Ms. Jasmine hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kapten basket andalan sekolah itu masuk dalam keadaan berantakan.

​"Lagi-lagi telat, Mr. Luca? Silakan duduk sebelum saya berubah pikiran dan mengirimmu kembali ke lapangan," ucap Ms. Jasmine dengan nada tegas namun tenang.

​"Maaf, Ms," jawab Luca singkat sambil mengatur napas.

​Ia berjalan menuju sudut belakang kelas, tempat favoritnya. Namun, langkahnya melambat saat ia mendekati meja di sampingnya. Kursi itu kosong. Tidak ada tas, tidak ada buku catatan rapi, dan tidak ada sosok gadis pendiam yang biasanya sudah duduk manis menyalin materi.

Selama pelajaran berlangsung, Luca sama sekali tidak bisa fokus pada analisis puisi Ms. Jasmine. Matanya terus melirik ke arah jam G-Shock di pergelangan tangannya. Jarum jam terasa bergerak sangat lambat. Setiap kali pintu kelas terbuka sedikit, ia berharap itu adalah Greta yang datang terlambat sambil membungkuk minta maaf, namun sosok itu tetap tidak muncul.

​Begitu bel istirahat berdentang, Luca seolah terpegas dari kursinya. Ia mengabaikan panggilan teman-teman tim basketnya dan langsung menghampiri meja Clara di barisan depan.

​"Clara! Greta tidak masuk?" tanya Luca tanpa basa-basi, suaranya terdengar cemas.

​Clara mendongak, wajahnya terlihat sedikit bingung sekaligus khawatir. "Aku tidak tahu, Luca. jawab Clara sambil menggelengkan kepalanya pelan.

​"Luca..."

​Sebuah suara lembut yang dibuat-buat terdengar dari samping. Norah sudah berdiri di sana, tampil sempurna tanpa celah sedikit pun. "Bagaimana perkembangan latihan sekolah kita untuk pertandingan besok?" tanyanya dengan senyuman manis khasnya, seolah-olah tidak terjadi apa pun semalam.

​"Baik-baik saja, Norah. Semoga kita menang besok," jawab Luca singkat, berusaha sopan namun pikirannya masih tertuju pada Greta. Ia segera memalingkan pandangannya kembali ke arah Clara.

​Namun, Norah tidak menyerah. Ia melangkah lebih dekat dan memegang tangan Luca dengan manja. "Aku tahu kamu pasti bisa membawa sekolah kita menjadi juara lagi. Kamu selalu bisa diandalkan, Kapten," ucap Norah dengan tatapan yang seakan mengunci Luca.

​Luca merasa risih. Ia merasakan aura yang tidak menyenangkan dari keramahan Norah yang berlebihan ini. Dengan perlahan namun pasti, ia menarik tangannya dari genggaman Norah.

​"Terima kasih, Norah," balas Luca dengan senyuman tidak nyaman.

Luca dan Clara bergegas menuruni tangga, langkah mereka bergema di lorong yang luas. Harapan mereka satu: menemukan Greta sedang berdiri di tengah lapangan, menjalani hukuman lari atau berdiri di bawah terik matahari. Namun, lapangan itu kosong melompong.

​Pandangan mereka teralih ke arah koridor utama dekat aula, di mana sebuah kerumunan besar murid-murid mulai menyemut. Suara riuh rendah, bisik-bisik yang tidak enak didengar, dan tawa mengejek memenuhi udara.

​"Ada apa itu?" ujar Clara dengan nada cemas yang semakin memuncak.

​Luca tidak menjawab. Wajahnya mengeras. Ia menggunakan tubuh tegapnya untuk membelah kerumunan. "Minggir! Beri jalan!" ucapnya tegas. Dengan satu tangan, ia melindungi Clara, membawanya masuk menembus barisan murid-murid yang sibuk memegang ponsel.

​Begitu mereka sampai di barisan paling depan, waktu seolah berhenti bagi Luca.

​"Astaga!... Greta?!!" teriak Clara histeris, kedua tangannya menutup mulut karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

​Luca terpaku, tubuhnya kaku seperti batu. Matanya menatap tajam ke arah Mading (majalah dinding) sekolah yang biasanya berisi pengumuman prestasi. Kini, mading itu telah berubah menjadi pemandangan yang mengerikan. Di sana, tertancap belasan foto format polaroid yang menampilkan kejadian traumatis.

​Foto rambut panjangnya yang terpotong compang-camping dan basah kuyup.

​"Siapa... siapa yang melakukan ini?!" geram Luca, suaranya rendah namun penuh amarah yang meledak-ledak.

​Tanpa membuang waktu, Luca merangsek maju dan merenggut foto-foto itu dengan kasar dari mading. Clara membantunya dengan tangan gemetar, air mata mulai mengalir di pipinya.

​"Wooooooo!!"

"Yahhh, kok dicabut?!"

"Jangan ganggu dong, Kapten! Kita kan mau lihat 'tikus got' beraksi!"

​Sorakan kecewa dan ejekan pecah dari para murid di sana. Mereka merasa tontonan seru mereka terganggu. Luca berbalik dengan mata merah padam, menatap tajam ke arah kerumunan yang bersorak. Aura kepemimpinannya yang biasanya hangat kini berubah menjadi sangat gelap dan mengancam, membuat murid-murid yang tadinya berteriak perlahan terdiam ketakutan.

Clara tidak bisa lagi membendung amarahnya. Melihat sahabatnya dihina secara keji lewat foto-foto itu membuatnya kehilangan kendali. Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga menaiki tangga menuju lantai dua.

​"Clara! Mau ke mana?!" teriak Luca sambil menggenggam tumpukan foto polaroid yang baru saja ia cabut.

​"Ke ruang Kepala Sekolah!" jawab Clara tanpa menoleh sedikit pun, suaranya bergetar karena emosi yang meluap.

​Luca tidak punya pilihan lain. Ia segera mengejar langkah Clara, melewati kerumunan murid yang masih saling berbisik. Mereka berlari menyusuri lorong panjang yang berlantai kayu jati, menuju sebuah pintu ganda besar dengan papan nama bertuliskan Mr. Kennedy - Principal.

​BRAKK!

​Pintu itu terbuka dengan suara yang cukup keras saat Clara mendorongnya. Namun, langkah mereka seketika terhenti. Luca dan Clara mematung di ambang pintu, seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu baru saja dihisap keluar.

​Di balik meja jati besarnya, Mr. Kennedy sedang duduk dengan raut wajah yang sangat serius. Ia memegang gagang telepon telepon kantornya dengan erat. Suasana di dalam ruangan itu begitu dingin dan sunyi, hanya terdengar suara samar dari seberang telepon yang terdengar sangat mendesak.

​Mr. Kennedy melirik tajam ke arah dua muridnya yang masuk tanpa izin itu melalui kacamata kecilnya. Ia mengangkat satu jari ke udara, memberi isyarat agar mereka diam, sementara telinganya tetap menempel pada telepon.

​"Ya, saya mengerti... " ucapnya lalu menutup telepon.

Clara tidak memedulikan isyarat diam dari Mr. Kennedy. Ia melangkah maju dengan napas memburu, meletakkan tumpukan foto polaroid yang sudah agak lecek itu ke atas meja kerja sang Kepala Sekolah.

​"Maaf, Pak, mengganggu waktunya, tapi... ini kami temukan di mading," ucap Clara dengan suara bergetar.

​Mr. Kennedy terdiam sejenak. Ia mengambil salah satu foto tersebut, memperhatikannya di bawah lampu meja. Kerutan di dahinya mendalam, dan sekilas muncul raut prihatin yang sangat tipis di wajahnya yang kaku.

​"Dia Greta, Pak. Siswi baru di kelas saya," lanjut Clara mendesak, berharap ada tindakan tegas.

​Namun, yang terjadi selanjutnya di luar ekspektasi mereka. Mr. Kennedy meletakkan kembali foto itu ke arah Clara seolah benda itu adalah sampah yang tidak ingin ia sentuh lebih lama lagi.

​"Lalu? Apa hubungannya dengan saya saat ini?" jawab Mr. Kennedy datar.

​Clara mematung. Luca yang berdiri di belakangnya mengepalkan tinju hingga buku jarinya memutih. "Foto ini disebarkan di mading sekolah, Pak! Pelakunya mungkin orang di sini... orang-orang yang merasa punya kuasa di Jarvis!" seru Clara, suaranya naik satu oktav.

​Mr. Kennedy menyandarkan punggungnya di kursi kulit, menatap mereka dengan tatapan dingin dan skeptis. "Apakah kalian punya bukti? Ada saksi mata yang melihat murid sekolah ini melakukannya? Ini kejadian di luar lingkungan sekolah. Bisa saja ini perlakuan orang luar atau konflik di lingkungan tempat tinggalnya yang... ya, kalian tahu sendiri bagaimana daerah Parkdale."

​"Tapi Pak.."

​"Sudah, sudah," potong Mr. Kennedy sambil meraih ponselnya, mengabaikan protes Clara. "Tolong keluar. Ada urusan jauh lebih penting yang harus saya kerjakan. Jangan membuat kegaduhan tanpa bukti yang konkret."

​Clara dan Luca hanya bisa terdiam membeku. Mereka sadar bahwa masalah ini jauh lebih rumit dari yang mereka kira.

Clara menyambar sisa foto yang ada di tangan Luca dengan gerakan kasar, matanya sembap namun memancarkan kemarahan yang membara. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan pergi meninggalkan lorong kantor Kepala Sekolah, langkah kakinya menghentak keras di atas lantai marmer seolah sedang mengutuk ketidakadilan yang baru saja mereka terima.

​Luca tetap berdiri di sana untuk beberapa saat. Ia tidak bergerak, hanya menatap pintu kayu ruang Mr. Kennedy dengan tatapan yang begitu tajam dan dingin, seolah ingin menembus dinding itu dengan amarahnya. Ia menyadari satu hal: di sekolah ini, kebenaran tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang dan nama baik.

​Jam pelajaran berikutnya adalah kelas musik, namun bagi Luca, ruangan itu terasa seperti penjara. Di saat murid-murid lain sibuk menyetem alat musik mereka dengan ceria, Luca duduk lesu di sebuah kursi kayu di sudut ruangan yang remang-remang.

Pikirannya melayang kembali ke foto-foto di mading tadi. Bayangan Greta yang basah kuyup, dengan rambut yang dipotong paksa dan dagu berdarah, terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Setiap kali ia memejamkan mata, ia teringat senyum kecil Greta kemarin saat berkata, "Kamu bisa mengantarku besok."

Hingga jam pun berakhir, Luca keluar dengan muka tertekuk. "Clara! Tunggu!" teriak Luca, suaranya menggema di lorong sekolah yang mulai sepi.

​Clara berhenti mendadak, napasnya sedikit terengah-engah."Apakah kamu menemukan sesuatu?"

​Clara mengangguk cepat. "Tadi sebelum masuk kelas, aku memberanikan diri meminta bantuan Ms. Alice di, dia memberiku alamat apartemen Greta di Parkdale."

​"Kenapa tidak mengabariku dari tadi?!" seru Luca sambil berjalan cepat menuju gerbang sekolah, langkahnya sangat lebar sehingga Clara harus setengah berlari untuk mengejarnya.

​"Maaf! Aku pikir kamu akan latihan basket karena pelatih bilang ini latihan penting untuk pertandingan besok..." jawab Clara membela diri.

​"Persetan dengan latihan!".

Mereka tiba di parkiran motor. Luca segera menyambar helmnya dan memberikan satu helm cadangan kepada Clara. "Naik. Kita akan sampai di sana dalam sepuluh menit."

Setibanya di depan gedung apartemen tua yang tampak kusam di wilayah Parkdale, Luca langsung mematikan mesin motornya. Suasana di sana terasa mencekam dan sepi, kontras dengan kemegahan Jarvis.

​"Gedung 4B... itu dia!" teriak Clara menunjuk ke arah tangga samping yang catnya sudah mengelupas.

​Luca tidak menunggu lagi. Ia berlari menaiki tangga beton yang sudah retak-retak, jantungnya berdegup kencang setiap kali ia melewati lorong yang remang-remang dan berbau lembap. Setibanya di depan pintu unit Greta, ia melihat pintu itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang gelap.

​"Greta?!" Luca berteriak sambil mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.

Greta terbaring meringkuk di atas tikar tipisnya. Tubuhnya tampak begitu kecil dan rapuh. daster yang masih basah tampak kotor dan koyak di beberapa bagian. Namun, yang membuat jantung Luca seakan berhenti adalah noda merah gelap yang sudah mengering di dagu dan leher Greta, serta rambutnya yang kini tak beraturan compang-camping menyerupai luka yang menganga.

​"GRETA..!" teriak Clara histeris. Ia langsung lari mendobrak masuk, menjatuhkan dirinya di samping tubuh Greta yang tak bergerak.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!