NovelToon NovelToon
Dari Ribut Jadi Jodoh

Dari Ribut Jadi Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Kisah cinta masa kecil / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***

"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."

Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.

***

"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abidzar yang Posesif

Ruang pribadi Kyai Abdul Hamid dipenuhi keheningan yang menekan.

Lima orang berada di dalamnya—namun tak satu pun berani membuka suara lebih dulu.

Tatapan Gus Aufar dan Abidzar masih saling beradu.

Tidak ada teriakan, tapi ketegangan di antara mereka cukup untuk membuat udara terasa berat.

Wajah Kyai Abdul Hamid tampak muram.

Begitu pula Gus Alif dan Hafiza yang duduk dengan gelisah.

“Aufar…”

Suara Kyai Abdul Hamid akhirnya memecah keheningan. “Maafkan Kakek. Bukan berarti Kakek melupakan perasaanmu, tapi keadaan waktu itu sangat darurat.”

Ia menghela napas berat. “Baba dan Umimu pun menyampaikan bahwa kamu sudah dijodohkan dengan Ning Farida. Dalam kondisi seperti itu, Kakek tidak bisa berbuat banyak.”

Aufar mengeratkan rahangnya. “Tapi Kakek tau… Saya yang lebih dulu menaruh perasaan pada Azzura. Saya bahkan sudah menyampaikannya langsung kepada Ustadz Athar.”

Gus Alif menimpali dengan suara tenang, berusaha menurunkan tensi. “Tapi Ustadz Athar belum pernah memberikan jawaban iya atau tidak, Far.”

Aufar tersenyum pahit. “Karena kalian semua keluarga jadi membela Abidzar. Dia anak kalian. Padahal jelas, Azzura pernah mengagumi saya.”

“Itu dulu.” Suara Abidzar terdengar tegas, nyaris dingin. “Dan hanya sekadar kagum.”

Aufar menoleh tajam.

“Sudahlah, Gus,” lanjut Abidzar. “Relakan saja Azzura untuk saya. Kamu sendiri sudah dijodohkan dengan Ning Farida. Umimu pun tidak pernah menyetujui perasaanmu pada Azzura.”

“Abid—” Hafiza hendak menegur.

“Maaf, Umi,” potong Abidzar, suaranya tertahan.

Memang benar.

Ning Fara sejak awal menolak, bukan karena Azzura melainkan karna masa lalu. Ia tak ingin anaknya mengulang kisah lama yang berakhir pahit—kisah yang bahkan ia sendiri enggan mengingatnya.

Karena itulah Aufar memilih mundur, meski hatinya belum sepenuhnya rela.

“Tapi bagaimana dengan perasaan saya?” tanya Aufar lirih.

“Ya… lupakan saja,” jawab Abidzar singkat.

“Tidak bisa secepat itu.”

“Harus,” suara Abidzar meninggi.

“Azzura sudah menjadi istri saya.”

“Abid.” Gus Alif memperingatkan. “Jaga adabmu. Aufar lebih tua darimu.”

“Sudah cukup,” Kyai Abdul Hamid mengangkat tangan.

“Alif, Hafiza, Abidzar… keluar dulu.”

Tiga orang itu pun meninggalkan ruangan.

Tersisalah Kyai Abdul Hamid dan Aufar.

Kyai Abdul Hamid menatap Aufar lama, penuh kebijaksanaan dan kelelahan.

“Kamu tahu, Far… Abidzar lebih dulu menaruh perasaan pada Azzura.”

Aufar terhenyak.

“Dia memendamnya.”

“Orang-orang melihat mereka ribut, tapi itulah caranya menjaga perasaan. Kakek melihat sendiri, Abidzar menjaga pandangan, menjaga adab. Meski mencintai Azzura, ia tidak pernah melanggar batas.”

Kyai Abdul Hamid melanjutkan dengan suara rendah namun mantap. “Arsyila, umminya Azzura, lebih merestui Abidzar. Meski ia tau kamu sempat menyampaikan niat melalui Ustadz Athar.”

Aufar menunduk.

“Abidzar bekerja keras,” lanjut Kyai Abdul Hamid. “Dia mengumpulkan uang demi merasa layak untuk Azzura.”

“Dia tau Azzura putri dari Ustadz Athar—dia ingin menjadi layak. Kita semua tau siapa Ustadz Athar itu. Abidzar, di usianya yang baru dua puluh tahun, dia sudah menyiapkan masa depan.”

“Resepsi, kuliah Azzura, kehidupan rumah tangga mereka. Abidzar menanggung semua tanggung jawab itu tanpa meminta bantuan kepada kami sepeserpun."

Kyai Abdul Hamid menghela napas. “Bukan karena pilih kasih, Far. Tapi karena ini memang jalannya.”

Aufar terdiam lama.

Dadanya terasa sesak, namun matanya mulai jernih.

“Baik, Kek.”

Ia mengangguk pelan. “Aufar akan berusaha melupakan perasaan itu.”

Ia tersenyum tipis, getir. “Sepertinya… memang Abidzar jauh lebih mencintai Azzura.”

“Dan saya mengaku kalah.”

Kyai Abdul Hamid menepuk pundaknya lembut. “Kalah dalam cinta bukan berarti kalah dalam hidup.”

***

Azzura tau ada sesuatu yang janggal sejak ia mengamati interaksi Abidzar dan Aufar.

Ketidaksukaan itu terlalu nyata untuk disebut perasaan biasa. Tatapan Abidzar selalu berubah dingin setiap kali Aufar ada di sekitar. Rahangnya mengeras, bahunya menegang—seolah kehadiran sepupunya itu adalah ancaman yang harus dijaga jaraknya.

Azzura sudah beberapa kali mencoba menanyakan hal itu. Namun Abidzar selalu memilih diam, atau mengalihkan pembicaraan. Sampai akhirnya, laki-laki itu meminta satu hal yang menurut Azzura terlalu berlebihan.

Ia diminta berjanji untuk tidak berinteraksi dengan Aufar sama sekali.

Bahkan sekadar menyapa pun tidak.

Tentu saja Azzura tidak bisa menyetujuinya.

Ia bukan tipe perempuan yang bisa menarik diri begitu saja dari lingkungan sosialnya. Sejak kecil, ia hidup di pesantren, terbiasa bercengkrama, berbincang, tertawa bersama banyak orang. Selama tinggal di ndalem pun, Azzura sudah sangat akrab dengan para ustadzah dan santriwati. Mereka menerimanya dengan hangat, tanpa sekat.

Sering kali obrolan mereka berakhir pada Jakarta—kehidupan kota besar yang terasa asing bagi sebagian santri.

“Jakarta tuh gimana sih, Ning?”

“Seru… capek… tapi penuh cerita,” jawab Azzura sambil tersenyum.

Beberapa santriwati terkikik kecil, lalu topik pun beralih. “Terus kembarannya Ning Azzura itu gimana orangnya?”

“Azzam?” Azzura terkekeh. “Yaaa… Azzam sama Abidzar itu sebelas dua belas. Sama-sama dingin, irit bicara, kadang galak juga.”

“Berarti Ning Azzura enak dong,” celetuk salah satu santri. “Punya Abi ganteng, abang ganteng, sekarang suaminya juga ganteng.”

“Jadi menurut kalian, Gus kalian itu ganteng?” tanya Azzura setengah menggoda.

“Iya lah, Ning!”

“Kalau gak ganteng, mana mungkin Ning Azzura mau nikah sama Gus Abidzar.”

Azzura hanya meringis.

Mereka tidak tau apa alasan sebenarnya di balik pernikahan itu.

Tidak tau betapa mendadaknya semua terjadi, betapa banyak perasaan yang belum sempat ia pahami sendiri.

Tiba-tiba, sebuah suara menyela.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam, Gus.”

Gus Aufar berdiri di hadapan mereka dengan senyum tipis. Wibawanya terasa tenang, dewasa—berbeda dengan Abidzar yang cenderung dingin dan tegas.

“Ngobrolin apa nih? Kelihatannya seru sekali.”

“Ngobrolin Ning Azzura, Gus,” jawab salah satu santri polos. “Kehidupan Ning Azzura itu enak.”

Gus Aufar tersenyum, lalu berkata dengan nada lembut namun penuh makna,

“Memangnya kalian benar-benar tau kehidupan seseorang seperti apa?”

Semua langsung terdiam. “Kalian hanya melihat apa yang tampak di luar,” lanjutnya. “Padahal bisa jadi di balik senyum itu ada lelah, ada luka, ada proses panjang yang tidak ditampakkan. Hidup seseorang tidak pernah sesederhana yang terlihat.”

Beberapa santri menunduk.

Azzura pun terdiam.

Entah kenapa, kalimat itu terasa menohok tepat di dadanya.

Gus Aufar tidak terdengar menggurui. Ia bicara seperti seseorang yang benar-benar memahami rasa jatuh, sakit, dan bangkit. Azzura mendengarkan dengan sungguh-sungguh—untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa ada yang mengerti tanpa perlu ia jelaskan.

Namun di tengah konsentrasinya, Azzura menangkap sesuatu dari sudut matanya.

Abidzar.

Laki-laki itu baru saja selesai mengajar. Langkahnya melewati tempat mereka berkumpul.

Tidak berhenti.

Tidak menyapa.

Tidak memanggilnya pulang.

Namun tatapannya…

Tajam.

Dalam.

Dan penuh makna.

Tatapan itu bukan marah, bukan juga cemburu semata.

Lebih seperti peringatan yang ditahan.

Azzura menelan ludah.

"Tumben," batinnya.

Biasanya Abidzar akan langsung menariknya pergi tanpa banyak bicara.

Kali ini, Abidzar hanya berjalan menjauh.

Meninggalkan Azzura dengan perasaan yang semakin tidak menentu.

Dan entah kenapa, Azzura merasa bahwa masa lalu yang belum selesai sedang berdiri terlalu dekat dengan kehidupan barunya.

***

Setelah selesai berbincang dengan para santri dan Gus Aufar, Azzura memilih masuk ke ndalem.

Begitu pintu kamar dibuka—“Astaghfirullah, Abid!”

Azzura hampir terhuyung ke belakang. Di balik pintu, Abidzar berdiri tepat di hadapannya, seolah sudah tahu kapan ia akan masuk dan sengaja menunggu.

“Kamu ngapain berdiri di situ, sih?!” Azzura mengelus dadanya. “Ngagetin tahu nggak. Sengaja bikin aku jantungan, ya?”

“Kamu dari mana?” tanya Abidzar datar, tatapannya tajam.

“Dari depan. Ngobrol,” jawab Azzura santai.

“Ngobrol sama siapa?”

“Ya sama santri-santri. Sama Gus Aufar juga.”

Alis Abidzar menegang. “Bukannya aku sudah bilang, jangan berinteraksi dengan Aufar? Mana pake senyum-senyum segala.

“Loh, aku ngobrol biasa,” Azzura mengernyit. “Emangnya aku harus ngobrol sambil marah-marah?”

“Kamu kalau ngobrol sama aku sering marah-marah.”

“Itu karena kamu menyebalkan.”

“Berarti menurut kamu Aufar tidak menyebalkan?”

“Ya… enggak.”

“Azzura.”

“Abidz—”

Belum sempat Azzura melanjutkan, Abidzar maju selangkah dan mencubit pipinya.

“Aw! Sakit, Abid! Lepasin!”

Melihat ekspresi Azzura yang benar-benar kesakitan, Abidzar akhirnya melepas cubitannya. Tangannya refleks mengelus pipi Azzura, tapi Azzura langsung menepis.

“Abid,” suara Azzura mulai serius, “kalau kamu punya masalah sama sepupu kamu, jangan bawa-bawa aku. Aku gak tau apa-apa. Aku cuma mau berteman sama semua orang di sini.”

Abidzar menatapnya lama. “Masalahnya,” katanya pelan tapi menekan, “dia tidak cuma ingin berteman sama kamu.”

Azzura terdiam sejenak. “Maksud kamu apa?”

“Sudahlah,” Abidzar menghela napas. “Pokoknya aku gak mau kamu dekat-dekat dia lagi.”

“Gak janji.”

“Zuyaaa…”

***

Di seberang meja makan, Aufar duduk sambil sesekali mencuri pandang ke arah Abidzar—yang sejak tadi fokusnya hanya tertuju pada Azzura.

Aufar mengamati gadis itu dengan saksama.

Azzura memang cantik. Bahkan tanpa riasan, wajahnya tetap bersih dan cerah. Perpaduan garis wajah khas Ustadz Athar dan kelembutan Arsyila membuat Azzura terlihat alami—cantik tanpa usaha.

Tapi bukan hanya itu.

Ia ceria. Apa adanya. Tidak dibuat-buat.

Namun sifatnya yang ceplas-ceplos, terlalu jujur, dulu sempat membuat Aufar ragu untuk memperjuangkan perasaannya.

Aufar tau satu hal dengan pasti, Abidzar bukan tipe laki-laki yang jatuh cinta hanya karena paras.

Lalu… apa?

Dari lamunannya, deham kecil Abidzar menyadarkannya. Tatapan sepupunya itu begitu dingin, seolah memberi peringatan tanpa kata.

Aufar pun mengalihkan pandangannya ke piring.

Setelah makan malam selesai, Azzura langsung masuk ke kamar.

Aufar memilih duduk di teras. Tak lama, Abidzar menghampirinya.

“Aku harap kamu tidak mengulang apa yang kamu lakukan tadi di meja makan.”

Aufar mengangkat alis. “Maksud kamu?”

“Kamu terang-terangan menatap istriku.”

Aufar menghela napas. “Iya. Aku salah. Aku minta maaf. Aku cuma… penasaran.”

“Penasaran apa?”

“Apa yang membuat kamu mencintai Azzura.”

Abidzar menoleh tajam. “Kamu juga pernah punya perasaan yang sama. Sekarang aku tanya balik. Apa alasanmu?”

Aufar tersenyum tipis. “Dia cantik. Ceria. Dan—”

“Cinta tidak membutuhkan alasan, Gus,” potong Abidzar cepat.

Aufar tertawa sinis. “Mustahil.”

“Memang begitu.”

“Pasti ada alasannya.”

“Kalaupun ada,” suara Abidzar rendah namun tegas, “aku tidak akan mengatakannya padamu.”

“Kenapa?”

Karena aku tidak akan mengatakan sesuatu yang bisa membuat kamu jatuh cinta lagi pada istriku.

“Dasar posesif,” gumam Aufar.

“Iya,” Abidzar menyeringai tipis. “Aku posesif.”

Ia menatap Aufar tanpa ragu. “Apalagi soal Zura. Dia istriku. Milikku.”

Dan untuk pertama kalinya, Aufar benar-benar paham—bukan sekadar cinta yang membuat Abidzar bertahan, melainkan tekad untuk tidak kehilangan.

“Dan satu hal lagi,” suara Abidzar rendah tapi tegas. “Aku tidak suka cara kamu menatapnya tadi, Gus. Jangan beri perhatian berlebih pada istriku.”

Aufar menghela napas pelan, menahan senyum tipis yang nyaris pahit. “Aku mau tanya satu hal,” katanya akhirnya. “Boleh?”

Abidzar mengangguk singkat. “Tanya saja.”

Aufar menatapnya lurus. “Apa Azzura mencintaimu?”

Pertanyaan itu jatuh begitu saja—tanpa hiasan, tanpa basa-basi.

Abidzar menipiskan bibir. Diam.

Aufar tersenyum kecil. Bukan senyum puas, tapi senyum orang yang merasa dugaannya benar.

“Diam kamu sudah menjawab. Jadi cinta bertepuk sebelah tangan, ya? Dia tidak membalas perasaanmu.”

“Bukan tidak,” potong Abidzar, suaranya tetap tenang, “tapi belum.”

Aufar mengangkat alis. “Dan kalau sampai akhir dia tetap tidak mencintaimu? Kamu hanya akan membuatnya terjebak dalam pernikahan tanpa rasa.”

Abidzar terkekeh pelan, meremehkan. "Kamu salah, Gus. Dia memang belum mencintai saya, tapi Zura sendiri sudah berjanji akan berkomitmen dengan pernikahan kami. Itu sudah lebih dari cukup. Aku lebih suka itu. Cinta saja tidak cukup membuat orang setia tapi komitmen bisa. Dan Azzura menawarkan hal itu, bagaimana bisa aku menolaknya? Itu adalah sesuatu yang aku harapkan lebih dari pernyataan cintanya kepada aku."

Aufar terdiam. Tatapannya berubah. Ada kagum yang tak bisa ia sembunyikan.

“Kalau begitu,” katanya lirih, “aku memang tidak salah dulu menaruh perasaan pada Azzura. Dia perempuan dengan prinsip. Nilai hidupnya kuat. Itu… mengagumkan.”

“Jangan terlalu memuji istriku, Gus,” potong Abidzar cepat.

Aufar mendesah, jelas jengah.

“Kalau kamu lupa, Bid—dia pernah mengagumi aku.”

“Hanya kagum,” balas Abidzar dingin. “Dan itu pun saat dia masih remaja. Labil. Lagi pula, kamu tidak pantas menjadi pendampingnya.”

Kalimat itu membuat alis Aufar berkerut. “Berdasarkan apa kamu bilang begitu?”

“Karena aku tau,” jawab Abidzar mantap, “Azzura pantas mendapatkan seseorang yang rela memperbaiki dirinya demi dia.”

Ia menatap Aufar tanpa ragu.

“Dan aku tidak bisa melihatnya bersama siapa pun selain aku. Jadi aku memilih berubah jadi lebih baik—agar pantas berdiri di sisinya.”

Aufar terdiam cukup lama.

Untuk pertama kalinya, ia mengakui sesuatu dalam hati.

Perasaannya… kalah jauh.

“Dasar,” gumam Aufar sambil tersenyum miring. “Kamu tau tidak? Kamu jelas dibutakan oleh cinta.”

Abidzar tersenyum tipis.

“Aku tidak merasa berlebihan. Cintaku cukup. Cukup untuk aku beri, dan cukup untuk dia terima.”

Ia menatap Aufar tajam.

“Kalau menurut Gus ini berlebihan, berarti dugaanku benar. Kamu memang tidak punya perasaan sebesar itu untuk Azzura.”

Aufar menghela napas panjang. Ia terpojok—dan ia tau itu.

“Kapan kamu balik ke Ar-Rahman?” tanya Abidzar santai, seolah topik sebelumnya tak pernah ada.

Aufar mendengus. “Kenapa? Mau ngusir aku?”

Abidzar tertawa kecil. “Alhamdulillah kalau kamu peka.”

“Wallahi, anak ini,” gumam Aufar, setengah kesal, setengah pasrah.

Ia memang belum ingin pulang. Uminya terlalu sering mendesak soal perjodohannya dengan Ning Farida.

“Makanya,” lanjut Abidzar ringan tapi menusuk, “jangan menatap istri orang.”

“Iya,” jawab Aufar akhirnya. “Tidak akan lagi.”

“Awas kalau bohong, Gus.”

“Astaghfirullah,” Aufar mengangkat tangan menyerah. “Iya, iya.”

Dan di balik semua candaan itu, Aufar akhirnya menerima satu hal pahit: Azzura memang bukan takdirnya.

Setelah berbicara empat mata dengan sepupunya itu, Abidzar kembali ke kamar.

Ia menutup pintu pelan, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dengan helaan napas panjang—lelah, bukan fisik semata, tapi pikiran.

Belum sempat memejamkan mata, Abidzar merasakan sesuatu.

Tatapan.

Ia membuka mata dan mendapati Azzura sedang duduk bersandar di kepala ranjang, menatapnya dengan mata menyipit tajam.

“…Kenapa?” tanya Abidzar curiga.

Azzura mendengus kecil.

“Abid.”

“Iya?”

“Aku mau coklat.”

Abidzar langsung bangkit setengah badan. “Ya ampun, ini udah malam, Zuyaaa.”

“Ya emang kenapa?” Azzura menyilangkan tangan di dada. “Kamu udah janji, loh. Ini juga baru jam setengah sembilan.”

“Setengah sembilan itu udah malam.”

“Menurut siapa?”

“Menurut aku,” jawab Abidzar cepat.

Azzura memiringkan kepala, senyum jahil terbit di bibirnya.

“Terus janji kamu?”

Abidzar mengusap wajahnya frustasi. “Yaudah, ambil aja di bawah.”

Azzura menyipitkan mata makin sempit. “Yakin kamu?”

“Yakin.”

“Beneran?”

“Kenapa sih kamu nanyanya gitu?”

Azzura terkekeh kecil. “Di bawah kan ada Gus Aufar.”

Abidzar terdiam satu detik. “…Aku aja yang ambil.”

“Hahaha,” Azzura tertawa puas. “Gitu dong.”

Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur, menepuk-nepuk bantal dengan senang.

“Kan tadi aku nungguin kamu, eh kamu malah lama dan lupa. Dasar pikun.”

Abidzar menoleh. “Iya, maaf.”

Azzura berhenti tertawa. Ia menatap Abidzar heran. “Kok kamu gak ngatain aku balik?”

Abidzar menghela napas, tubuhnya kembali rebah.

“Capek.”

“Capek fisik?”

“Capek hati,” jawab Abidzar jujur tanpa menoleh.

Azzura terdiam.

Ia menatap sisi wajah suaminya—rahang tegang, mata yang tidak sepenuhnya lelah tapi penuh pikiran. “Biasanya kamu juga capek tapi tetep ribut,” gumam Azzura pelan.

“Kali ini nggak ada tenaga buat ribut,” jawab Abidzar lirih.

Hening sebentar.

Azzura perlahan menggeser tubuhnya mendekat, duduk di samping Abidzar.

Nada suaranya melunak. “Yaudah… nanti aja coklatnya. Aku cuma bercanda.”

Abidzar membuka mata, menoleh menatapnya. “Kamu yakin?”

“Iya,” Azzura mengangguk. “Lagipula… kamu kelihatan butuh istirahat.”

Abidzar tersenyum tipis—senyum kecil yang jarang Azzura lihat. “Kalau gitu makasih.”

Azzura mendengus. “Jangan GR dulu. Besok tetap harus ditepati.”

“Siap, Nyonya.”

Azzura memutar mata, tapi ujung bibirnya terangkat.

Dan malam itu, tanpa coklat, tanpa ribut, kamar mereka terasa jauh lebih hangat dari biasanya.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
dasar abid dimarahin tambah seneng merasa diperhatikan sama zuya
cutegirl
abidz emg paling bisa ya🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
abid kalo sakit pengen dimanja
Nifatul Masruro Hikari Masaru
pawang yang galak dan cerewet
syora
sama sama menikmati nikmat Allah zuya abidz,kpn lg kalian sm" luruhkan ego demi kharmonisan pasangan🤭
Alana kalista
azzura galak nya 😌
Fegajon: galak demi kebaikan 🤭
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang nurut bidz. pawangnya galak
Siti Java
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Anak manis
azzura di lawan 🤣
anakkeren
cepet sembuh abid😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
nah gitu dong baikan
syora
lah ank umma mau kamu ajak debat abidz
ckckck mau cari gr"🤭
Alana kalista
lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
makanya bid pamit kalo pulang telat
Siti Java
up ge dong kk... gw seru ni🥰🥰
syora
wahhh ujian ya abidz,,,,kdng org tipe ceria klau dah marah DIEM itu yg bth ksbran nghadapinya
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh yang mulai cemburu
darsih
adyh bikin azura salah paham abidzar
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh pasangan ini bikin iri aja
Anak manis
cie cie😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!