NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 13

Bel pulang sekolah berbunyi, memicu sorak-sorai tertahan dari para murid yang sudah jenuh dengan materi pelajaran.

Sasha segera menyambar tasnya, berniat untuk langsung melesat keluar. Namun, sebelum.

ia sempat beranjak dari kursinya, sebuah bayangan menghalangi jalannya. Aria berdiri di sana, menyodorkan beberapa lembar kertas yang dijepit rapi.

Sasha menatap kertas-kertas itu dengan pandangan jijik. "Apa lagi ini? Surat tagihan hutang?"

"Ini soal latihan untuk di rumah," jawab Aria tenang, suaranya tetap stabil meski kelas mulai gaduh. "Cukup tiga lembar per hari. Aku sudah menyesuaikan tingkat kesulitannya agar otakmu tidak meledak."

Sasha mendengus keras, menatap Aria seolah gadis itu baru saja menumbuhkan kepala kedua. "Jangan bercanda. Kau pikir aku punya waktu dan kemauan untuk menyentuh kertas-kertas ini di rumah? Simpan saja untuk dirimu sendiri, Tuan Putri."

"Terserah," sahut Aria pendek, meletakkan kertas-kertas itu dengan paksa di atas meja Sasha. "Mau dikerjakan atau tidak, itu urusan integritasmu. Tapi jangan salahkan aku kalau besok kau tidak mengerti materi baru."

Sasha mendengus, namun tetap memasukkan lembaran itu ke dalam tasnya dengan kasar.

Tepat saat itu, Indah muncul di ambang pintu kelas 3-1 dengan wajah ceria. Ia melambai ke arah Sasha dan Aria, lalu melangkah mendekat.

"Kak Sasha! Kak Aria!" sapa Indah dengan semangat. "Kalian tahu tidak? Ada *arcade game* baru yang buka di pusat kota, namanya **Starzone Arcade**. Katanya mesin-mesinnya paling canggih dan ada diskon pembukaan hari ini!"

Mata Sasha langsung berbinar. Ketertarikannya pada permainan ketangkasan jauh lebih besar daripada pada aljabar. "Serius? *Starzone*? Itu tempat yang kucari-cari! Ayo pergi sekarang!"

Indah mengangguk antusias. "Bagaimana kalau kita pergi bersama-sama? Maksudku, Kak Sasha, aku, dan juga Kak Aria?"

Aria yang sudah menyampirkan tasnya di bahu menggeleng pelan. "Maaf, kalian pergi saja. Aku masih ada urusan OSIS yang harus diselesaikan di ruang rapat. Banyak laporan yang belum ditandatangani."

Aria mencoba melangkah pergi, namun sebuah tangan yang kuat mencengkeram pergelangan tangannya.

Sasha menahannya dengan seringai nakal di wajahnya. "Mau ke mana kau, Robot Sekolah?"

"Lepaskan, Sasha. Aku serius, ini urusan penting," ucap Aria, mencoba melepaskan diri.

"Persetan dengan urusan OSIS itu!" seru Sasha sambil menarik Aria dengan paksa menuju pintu keluar. "Apa gunanya kau punya belasan anggota dan wakil kalau semuanya harus kau kerjakan sendiri? Biarkan mereka bekerja sesekali. Kau butuh udara segar agar wajahmu tidak keriput karena stres."

Aria terkejut, tubuhnya yang lebih kecil tidak mampu melawan tarikan Sasha yang bertenaga. "Sasha! Ini melanggar tanggung jawabku!"

"Hari ini libur jadi orang suci, Aria!" Sasha terus menariknya tanpa peduli pada tatapan murid-murid lain di koridor. "Kita pergi ke *arcade*, dan itu perintah dari orang yang baru saja kau paksa belajar matematika!"

Indah hanya bisa tertawa kecil melihat pemandangan langka itu—sang Ketua OSIS yang biasanya memerintah, kini justru diseret secara paksa oleh si berandalan sekolah untuk bersenang-senang.

Dengan langkah ceria, Indah mengikuti mereka berdua dari belakang, menuju sebuah sore yang penuh dengan drama dan keseruan di luar dinding sekolah.

---

Lampu neon warna-warni dan dentuman musik *synthesizer* menyambut mereka saat memasuki **Starzone Arcade**.

Suasana sangat ramai, penuh dengan remaja yang berteriak kegirangan.

Sasha, yang biasanya terlihat sangar di sekolah, mendadak berubah menjadi bocah yang matanya berbinar-binar.

"Lihat itu! Mesin capit hadiah terbatas!" seru Sasha sambil menarik Indah menuju deretan mesin yang berisi boneka beruang raksasa berpita emas.

Sasha memasukkan koin dengan gaya penuh percaya diri. "Perhatikan, Indah. Ini butuh insting pemangsa."

Namun, saat capit besi itu turun, ia hanya menyenggol ujung telinga boneka itu dan kembali ke atas dengan tangan kosong. Sasha mencoba lagi, dan gagal lagi.

Indah pun mencoba, namun capitnya malah lemas dan tidak mengangkat apa pun.

"Sialan! Mesin ini pasti sudah dimanipulasi!" geram Sasha, wajahnya memerah.

Ia mengepalkan tinju besarnya, siap menghantam kaca mesin itu hingga hancur.

"Berhenti, Sasha! Kau mau masuk penjara hanya karena boneka?" Aria dengan sigap menangkap kepalan tangan Sasha dan menariknya menjauh sebelum satpam menoleh. "Ayo, cari permainan yang lebih masuk akal."

Mereka beralih ke mesin simulator balap mobil. Karena ada tiga kursi, mereka balapan bersama. Sasha melaju seperti orang gila, menabrak semua pembatas jalan tapi tetap menjadi yang tercepat.

Indah berada di posisi kedua, sementara Aria... dia terlihat sangat menderita. Mobil Aria hanya berputar-putar di tempat karena dia terlalu hati-hati menginjak pedal, seolah-olah sedang ujian SIM sungguhan.

"Aria! Itu pedal gas, bukan rem darurat! Cepat injak!" teriak Sasha sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah serius Aria yang pucat pasi di depan layar.

Setelah itu, mereka menuju mesin *Dance Dance Revolution*. Sasha dan Indah melompat-lompat mengikuti irama lagu K-Pop yang cepat. Gerakan Sasha sangat bertenaga meski agak berantakan, sementara Indah bergerak sangat lincah.

Aria, yang terpaksa ikut, bergerak kaku seperti robot yang kekurangan oli. Setiap kali panah muncul di layar, Aria malah melangkah ke arah yang salah, membuat skor mereka terus merosot ke zona merah.

"Kaki kanan, Aria! Bukan kaki kiri!" teriak Indah sambil tertawa.

Setelah lelah menari, Sasha yang masih merasa penasaran kembali lagi ke mesin capit tadi. Ia merasa punya hutang harga diri pada boneka beruang itu.

Ia memasukkan koin terakhirnya, mengarahkan capit dengan presisi milimeter, dan... *ZUP!* Capit itu meleset lagi tepat saat sudah menyentuh bulu boneka tersebut.

Kesabaran Sasha meledak. "DASAR MESIN SAMPAH! KELUARKAN BONEKANYA SEKARANG!" teriaknya sambil mulai mengguncang-guncang mesin itu dengan tenaga monster dan bersiap melayangkan bogem mentah ke kaca tebalnya.

"Sasha, hentikan! Kau memalukan kami!" seru Aria sambil memeluk pinggang Sasha dari belakang untuk menahannya. Indah ikut memegangi lengan kiri Sasha yang terus memberontak.

"Lepaskan! Aku akan menghancurkan kotak ini dan mengambil semua isinya!" teriak Sasha sambil meronta-ronta, menarik Aria dan Indah yang bergelantungan di tubuhnya seperti tas ransel.

Tiba-tiba, seorang karyawan bertubuh kekar dengan walkie-talkie mendekat dengan wajah garang. "Hei! Apa yang kalian lakukan pada mesin itu?!"

Sasha, Aria, dan Indah membeku seketika. Mereka bertiga saling lirik selama satu detik.

"LARI!!!" teriak Sasha.

Tanpa pikir panjang, Sasha balik menarik tangan Aria dan Indah, menyeret mereka menembus kerumunan orang, melewati pintu keluar, dan terus berlari di trotoar jalan raya.

Mereka berlari sambil tertawa terbahak-bahak—bahkan Aria yang biasanya kaku pun ikut tertawa karena situasi konyol ini.

Mereka kabur meninggalkan *arcade* itu dengan napas tersengal-sengal, meninggalkan kenangan hari Minggu yang paling berisik dan penuh drama dalam hidup mereka.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!