NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kriminal
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11 - Adelia Christy

Tidak ada sirene pagi itu.

Tidak ada telepon berdering dengan nada darurat. Tidak ada langkah tergesa di lorong kantor. Tidak ada wajah pucat yang membawa kabar buruk. Pagi datang seperti pagi pada umumnya—terlalu normal untuk seseorang yang sudah terbiasa hidup di antara tragedi.

Karina menyadari satu hal begitu ia duduk di kursinya:

sunyi bisa terasa lebih bising daripada kekacauan.

Ia menatap layar komputernya tanpa benar-benar membaca apa pun. Email masuk, laporan lama, jadwal rapat—semuanya ada, semuanya berjalan. Dunia tidak berhenti hanya karena tidak ada korban baru. Justru di situlah letak keganjilannya. Seolah ada jeda yang diberikan terlalu murah. Seolah seseorang, entah siapa, sedang menarik napas panjang sebelum melakukan sesuatu yang lebih besar.

Karina menegakkan punggungnya. Gerakan refleks seorang polisi. Tapi tidak ada yang perlu ditegakkan hari itu. Tidak ada peran yang harus dimainkan.

Beberapa pasang mata melirik ke arahnya. Bukan tatapan curiga, bukan juga kagum—lebih seperti kebiasaan. Sejak namanya terlalu sering disebut, keberadaannya selalu terasa disadari. Karina tidak lagi yakin apakah ia benar-benar terlihat… atau hanya bayangannya saja yang terus dibicarakan.

Ia menghela napas perlahan.

Antono belum memanggilnya.

Belum bertanya.

Belum memberi arahan.

Itu seharusnya kabar baik. Tapi justru itulah yang membuat dadanya terasa sesak. Antono kini lebih sering diam, berdiri di kejauhan, mengamati tanpa ikut campur. Karina tahu—atau setidaknya merasa tahu—bahwa itu bukan bentuk ketidakpedulian. Tapi diam Antono terasa seperti ujian yang tidak diberi kisi-kisi.

Arga sempat menyapanya singkat. Senyum tipis, pertanyaan ringan. Ia menjawab seperlunya. Arga adalah kehadiran yang menenangkan, tapi Karina tidak ingin menyeret siapa pun ke dalam kepalanya yang penuh.

Untuk pertama kalinya sejak lama, Karina tidak ingin menjadi apa pun.

Bukan penyelidik.

Bukan simbol.

Bukan orang yang selalu tahu harus melangkah ke mana.

Ia hanya ingin… berhenti sejenak.

Tangannya bergerak otomatis membuka ponsel. Jarinya berhenti di daftar kontak, menelusuri nama-nama yang jarang disentuh. Sampai akhirnya ia menemukan satu nama yang terasa seperti rumah lama.

Adelia Christy.

Karina terdiam.

Nama itu membawa ingatan yang tidak berisik, tapi hangat. Tawa di bangku sekolah. Malam-malam belajar bersama. Hari-hari awal di akademi kepolisian saat dunia masih terasa hitam-putih. Saat menjadi polisi berarti melindungi, bukan menimbang, bukan memilih, bukan menutup mata.

Ia menyadari sesuatu yang membuat tenggorokannya mengencang:

Adelia selalu menjadi tempatnya kembali ketika segalanya hampir runtuh.

Dan Karina sudah terlalu lama tidak kembali.

Ia mengetik pesan singkat. Tidak bertele-tele. Tidak dramatis.

Del, kamu sibuk malam ini?

Pesan terkirim. Karina menatap layar seolah menunggu penghakiman. Detik berlalu. Ia hampir menyesal mengirimkannya.

Balasan masuk.

Lagi longgar. Kenapa?

Karina tersenyum kecil. Senyum yang bahkan tidak ia sadari sudah lama tidak muncul.

Butuh teman. Bisa ketemu?

Jawaban datang cepat.

Bisa. Seperti biasa?

Seperti biasa. Dua kata yang terasa menenangkan sekaligus menyakitkan. Karina mengangguk pelan, meski Adelia tidak bisa melihatnya.

Iya. Malam ini.

Ponsel ia letakkan perlahan di meja. Ada sesuatu di dadanya yang sedikit mengendur. Bukan karena masalahnya selesai—tapi karena ia akhirnya mengizinkan dirinya untuk tidak kuat sebentar.

Hari berjalan tanpa kejutan. Terlalu tenang. Karina menyelesaikan pekerjaannya dengan rapi, hampir mekanis. Saat matahari mulai turun, langit berubah warna menjadi jingga pucat. Malam datang seperti tamu yang sopan—tanpa memaksa.

Ia mengambil tasnya, melangkah keluar kantor. Udara malam menyentuh kulitnya, dingin tapi jujur. Karina berhenti sejenak di samping mobil, menatap langit yang perlahan menggelap.

Ia tidak tahu—belum tahu—bahwa malam ini akan menjadi garis tipis antara sebelum dan sesudah.

Ia hanya tahu satu hal:

malam ini, ia tidak datang sebagai Karina Intan yang dikenal semua orang.

Ia datang sebagai Karina—seorang perempuan yang ingin didengar.

Dan di kejauhan, tanpa suara, sesuatu mulai bergerak.

...----------------...

Mereka bertemu di tempat yang tidak pernah benar-benar berubah.

Lampu kuning redup, meja kayu yang sama, aroma kopi yang terlalu pahit untuk disebut ramah. Tempat itu tidak mencoba menjadi apa pun—dan justru karena itu Karina selalu merasa bisa bernapas di sana.

Adelia sudah duduk lebih dulu. Rambutnya diikat seadanya, seragam polisi ditutup jaket tipis. Begitu melihat Karina, ia tersenyum lebar, tanpa ragu, tanpa jarak.

“Kurang tidur lagi,” kata Adelia, setengah menuduh, setengah mengkhawatirkan.

Karina tertawa kecil. “Kamu juga.”

Mereka berpelukan singkat. Tidak lama, tidak dramatis. Tapi cukup untuk mengingatkan Karina bahwa ada sentuhan yang tidak meminta apa pun darinya.

Mereka duduk berhadapan. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Hanya suara sendok beradu dengan cangkir, dan musik pelan yang bahkan tidak cukup keras untuk dikenali.

“Aneh ya,” ujar Adelia akhirnya. “Kita terakhir ketemu rasanya baru kemarin. Tapi juga kayak… sudah lama banget.”

Karina mengangguk. “Karena kita selalu sibuk jadi orang dewasa.”

Adelia menyeringai. “Aku kangen versi kita yang dulu.”

Kalimat itu membuka pintu yang tidak pernah benar-benar tertutup.

...****************...

Waktu itu mereka masih SMA.

Bangku kayu di pojok lapangan, catnya mengelupas, matahari sore terlalu terang. Karina duduk bersila, buku catatan di pangkuan, sementara Adelia berbaring telentang menatap langit.

“Kamu nanti mau jadi apa, Kar?” tanya Adelia, nada suaranya santai, seolah masa depan bukan sesuatu yang menakutkan.

Karina berpikir lama. Terlalu lama untuk anak seusia itu.

“Aku mau jadi orang yang didengar,” jawabnya akhirnya. “Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling terkenal. Tapi… yang kalau bicara, orang berhenti sebentar.”

Adelia tertawa kecil. “Berat amat cita-citanya.”

“Kamu?”

“Aku?” Adelia mengangkat bahu. “Aku mau jadi polisi. Tapi yang beneran nolong orang. Yang pulang kerja masih bisa tidur nyenyak.”

Karina menoleh. “Kamu serius?”

“Iya. Dan aku mau kamu tetap ada di hidupku pas itu kejadian.”

Karina tersenyum. “Deal.”

...****************...

“Lucu ya,” kata Adelia di masa kini, mengaduk kopinya. “Kita dulu ngomongin masa depan kayak lagi ngerencanain liburan.”

Karina ikut tersenyum. “Dan sekarang masa depan itu… kejadian semua.”

“Sebagian,” koreksi Adelia pelan.

...****************...

Flashback itu tidak berhenti di SMA.

Akademi kepolisian datang seperti badai.

Hari-hari yang dipenuhi teriakan instruktur, sepatu lari yang tidak pernah benar-benar kering, dan malam-malam saat mereka duduk di lantai asrama, punggung bersandar ke dinding, menertawakan betapa bodohnya mereka masih bertahan.

“Aku mau nyerah,” kata Karina suatu malam, napasnya tersengal, seragamnya basah oleh keringat.

Adelia menyodorkan botol air. “Jangan.”

“Capek, Del.”

“Aku tahu. Tapi kamu selalu bilang mau jadi orang yang didengar, kan? Orang kayak gitu nggak boleh berhenti di sini.”

Karina memejamkan mata. “Kamu kenapa selalu percaya aku lebih dari aku percaya diriku sendiri?”

Adelia tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum.

“Karena aku lihat kamu waktu kamu nggak lagi berusaha jadi apa-apa.”

...----------------...

Hari kelulusan datang tanpa ampun.

Nama Karina dipanggil sebagai peraih prestasi tertinggi. Tepuk tangan memenuhi ruangan. Wajah-wajah bangga, kamera, ucapan selamat.

Di tengah keramaian itu, Adelia berdiri agak jauh. Tapi matanya tidak pernah lepas dari Karina.

Saat mereka akhirnya bertemu, Adelia memeluknya erat.

“Selamat,” katanya, suaranya bergetar tipis. “Aku tahu kamu bakal sampai sini.”

Karina tertawa kecil, hampir menangis. “Kamu juga hebat.”

Adelia melepaskan pelukan, menatap Karina serius—terlalu serius untuk momen bahagia.

“Jangan pernah lupain aku ya, Kar,” katanya. “Apa pun yang terjadi nanti. Kamu naik setinggi apa pun.”

Karina menahan napas. “Kita sahabat, Del.”

Adelia tersenyum lega. “Sahabat sampai selamanya.”

...****************...

Masa kini kembali menyusup tanpa aba-aba.

Mereka tertawa mengingat hal-hal kecil: rambut Karina yang pernah dipotong terlalu pendek, Adelia yang hampir dikeluarkan karena berkelahi membela junior, surat cinta anonim yang ternyata salah alamat.

Waktu bergerak tanpa izin.

Jam di dinding menunjukkan lewat tengah malam sebelum Karina menyadarinya.

Tawa mereka pelan-pelan mereda. Ada jeda yang tidak canggung, tapi berat.

Karina menatap cangkirnya. Cairan di dalamnya sudah dingin.

“Del…” suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Aku capek.”

Adelia tidak langsung menyahut.

“Bukan capek kerja,” lanjut Karina. “Capek jadi aku.”

Ia akhirnya mengangkat wajah. “Semua orang punya versi tentang aku sekarang. Media. Rekan kerja. Bahkan orang yang nggak kenal aku. Kadang aku sendiri nggak tahu versi mana yang bener.”

Adelia menyimak tanpa memotong. Seperti dulu. Seperti selalu.

“Aku ngerasa…” Karina menelan ludah. “Aku mulai jauh dari alasan kenapa aku mulai semua ini.”

Adelia meraih tangan Karina di atas meja. Genggamannya hangat, pasti.

“Kamu bukan simbol, Kar,” katanya pelan. “Kamu manusia.”

“Kalau aku jatuh?”

“Maka aku di sini,” jawab Adelia tanpa ragu. “Dari dulu sampai sekarang.”

Karina menatapnya lama. Terlalu lama.

“Janji?” tanya Karina, hampir seperti anak SMA lagi.

Adelia tersenyum lembut. “Sampai kapan pun.”

Di luar, malam semakin sunyi.

Dan di sela keheningan itu, tanpa mereka sadari, waktu terus berjalan menuju sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

1
Amelia
Bab ini sangat menegangkan 😢
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y
Amelia
😱😱😱😱😱
Amelia
😱😱😱
Amelia
Udah terjawab. Jangan tamat dl dong
Amelia
Dari awal emang udah curiga sama orang ini. Semangat thor
Amelia
Antono😱
Amelia
Semangat ya author 👍
Amelia
Semangat up thor👍
Emily
Alur ceritanya seru. Penulisan juga udah rapi, kata2nya hampir nggak ada yg typo. Semangat ya
Delyana.P
Terjawab sudah. ternyata tebakan ku benar siapa yg jahat thor 😂 Karina ibumu dalam bahaya, buruan selamatkan 🤔
Dinda Wei
Next
Dinda Wei
Aduhh masih juga mikir Agra pelakunya. keburu kamu yang di gorok Antono 😂 aku ngarah ya sipelaku ya Antono 🤔
Dinda Wei
Polisinya persis di Konoha, mudah terkecoh wkwk
Dinda Wei
Kayaknya sengaja bikin agra di tahan trus pelaku bebas ngancem karin. artinya yg di buru pelaku itu ya karin, korban2 itu hanya pengalihan
Amiera Syaqilla
semangat author
Amelia
Agra harus bebas, takut banget Karina di habisin psikopat gila
Dinda Wei: yup 👍
total 1 replies
Amelia
Agra harus di lepas. Bisa jd skenario pelaku buat ngabisin karina. Jd nggak ada yg bantu karin. Waspada lah karinaa
Amelia
Kok aku curiga sama atasan karina ya. Mencurigakan 🤔
Dinda Wei: sepemikiran. Antono mencurigakan
total 1 replies
Amelia
Hati2 Karina, pembunuh sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Kamu pasti masuk targetnya juga
Dinda Wei: iya takut banget, pelakunya nyasar ke kariin😡
total 1 replies
Amelia
Next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!