Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Jebakan di Hutan Guyun
Di dunia kultivasi, setiap langkah maju selalu diikuti harga yang harus dibayar, terkadang harga itu adalah darah, terkadang adalah bagian dari jiwa itu sendiri. Kebijaksanaan ini terasa sangat nyata saat Ji Zhen berdiri di depan meja distribusi tugas Sekte Qingyun. Di tangannya, selembar gulungan tugas resmi memerintahkannya untuk mengumpulkan Bunga Kabut Merah di Hutan Guyun.
Hutan itu merupakan wilayah perbatasan yang liar, sarang bagi makhluk-makhluk berbahaya. Biasanya, tugas seberat ini dibebankan pada tim yang berisi minimal tiga murid senior. Namun, nama Ji Zhen tertulis tunggal di sana.
“Ini jelas jebakan. Mereka ingin kau mati di sana dan terlihat seperti sebuah kecelakaan,” Zulong memperingatkan melalui resonansi pikiran yang dingin.
Ji Zhen tidak menjawab secara lisan. Ia mengemas perbekalan minimal ke dalam tas kainnya: beberapa botol air, sisa pil pemulihan dari Lian Shu, dan pisau baja standar sekte.
“Aku tahu,” jawab Ji Zhen di dalam hatinya. Ia melangkah keluar dari gerbang sekte tanpa menoleh lagi.
“Lalu kenapa kau tetap pergi?” tanya Zulong lagi, suaranya mengandung rasa tidak puas.
Ji Zhen menarik napas, merasakan udara pagi yang segar sebelum masuk ke wilayah yang lebih gelap. Sebuah senyuman muncul di wajahnya. “Karena jika aku menolak, itu sama saja mengakui jika aku takut. Dan aku tidak akan memberi mereka kepuasan itu. Lagipula, tempat berbahaya selalu menyimpan peluang yang tidak ada di aula latihan. Sama seperti saat aku menemukanmu.”
Ji Zhen memasuki Hutan Guyun dengan tingkat kewaspadaan maksimal. Pepohonan di sini tumbuh begitu rapat sehingga cahaya matahari sulit menyentuh tanah. Kabut abu-abu merayap di antara akar-akar raksasa, mengacaukan arah mata angin. Setiap kali telapak kakinya menginjak ranting kering, ia berhenti sejenak, menganalisis suara di sekitarnya.
Dalam dua jam pertama, ia sudah mendeteksi keberadaan Anjing Liar Bayangan. Monster ini memiliki kecepatan tinggi dan kemampuan untuk menyatu dengan lingkungan yang gelap. Ji Zhen berhasil melewati dua kelompok dengan merapatkan tubuhnya pada pohon besar dan menahan aliran qi agar tidak terdeteksi.
Namun, keberuntungan tidak bertahan selamanya. Kelompok ketiga muncul dari arah berlawanan. Empat ekor anjing liar dengan mata kuning berkilat menatapnya dengan rasa lapar yang nyata.
Pertarungan terjadi tanpa basa-basi. Anjing pertama melompat dengan mulut yang dihiasi taring tajam nan berliur. Ji Zhen menggunakan Dao Es untuk menciptakan lapisan licin di bawah kaki anjing liar tersebut, membuatnya kehilangan keseimbangan. Lalu ia memanfaatkan detik itu untuk menghantamkan tinjunya yang dilapisi energi es ke arah rusuk binatang itu.
Serigala itu pun terlempar, namun tiga kawannya menyerang secara bersamaan. Ji Zhen bergerak cepat, meski serangan dari berbagai sudut membuatnya kewalahan. Satu cakar tajam berhasil menembus pertahanannya.
“ARGH!”
Rasa panas menyengat punggungnya. Darah segar langsung membasahi jubahnya, menciptakan bau anyir yang mengundang nafsu bunuh diri para anjing-anjing itu. Ji Zhen tahu ia tidak bisa berlama-lama. Ia memaksakan qi di pusat energinya untuk mengalir ke telapak tangan, sebuah proses yang menyakitkan karena ia belum sepenuhnya menguasai teknik ini.
Paku Es Menusuk!
Proyektil es yang tajam dan padat melesat dari tangannya. Serangan ini menguras energi dengan sangat cepat. Dua paku pertama melesat melewati kepala lawan, menghantam batang pohon hingga hancur. Namun, paku ketiga menghantam telak leher anjing pemimpin yang bersiap menerjang. Binatang itu tewas seketika.
Melihat pemimpin mereka jatuh dengan luka beku yang mengerikan, sisa anjing liar memilih mundur ke dalam kegelapan hutan. Sementara Ji Zhen jatuh terduduk, tangannya bertumpu pada lutut. Nafasnya ngos-ngosan.
“Meridianmu robek sedikit di bagian kiri,” Zulong berbicara dengan serius. “Jika kau terus memaksakan teknik itu tanpa fondasi yang stabil, kau bisa cacat permanen.”
“Aku tahu,” jawab Ji Zhen sambil menggigit potongan kain untuk menahan suara saat ia menuangkan sedikit air ke luka di punggungnya. Rasa perihnya membuat pandangannya kabur sejenak, namun ia menolak untuk menyerah pada rasa sakit.
Setelah mengobati luka seadanya, Ji Zhen melanjutkan perjalanan ke area yang lebih dalam. Ia berhasil menemukan Bunga Kabut Merah yang tumbuh di bawah naungan semak berduri. Namun, saat hendak memetiknya, telinganya menangkap suara pertarungan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya.
Ia bergerak mendekat, menyembunyikan kehadirannya di balik belukar tebal. Di sebuah tanah lapang, seorang gadis dengan pakaian yang sudah sobek bertarung mati-matian melawan Harimau Inti Besi. Monster itu adalah salah satu penguasa area ini, makhluk dengan tingkat Penghimpunan Qi Lapis Lima yang memiliki kulit sekeras logam.
Gadis itu bergerak dengan lincah, pedangnya memancarkan cahaya yang menandakan ia berada di Penghimpunan Qi Lapis Empat. Namun, luka-luka di tubuhnya menunjukkan bahwa ia sudah mencapai batas kemampuannya. Harimau itu mengaum, cakarnya yang besar menghantam tanah hingga berlubang, bersiap untuk serangan mematikan terakhir.
Zulong berbisik tajam di dalam kepala Ji Zhen. “Jangan ikut campur! Di situasi seperti ini, kau bahkan tidak bisa mengalahkan monster itu dengan seluruh kekuatanmu. Kau akan mati sia-sia!”
Logika Ji Zhen setuju dengan Zulong. Namun, matanya tertuju pada tas kulit besar yang tergeletak tidak jauh dari gadis itu. Tas itu memancarkan aroma obat-obatan yang sangat kuat. Pikiran praktis Ji Zhen bekerja cepat: jika ia menyelamatkan gadis ini, ia bisa menuntut imbalan besar, atau jika gadis itu tewas setelah ia mencoba membantu, harta itu menjadi miliknya.
Ji Zhen melangkah maju. Ia tidak memiliki kekuatan untuk membunuh harimau itu, maka ia menggunakan cara lain. Ia mengerahkan sisa qi-nya untuk menciptakan Kabut Embun Beku yang sangat tebal di antara gadis itu dan sang monster.
“LARI SEKARANG!” teriak Ji Zhen dengan suara yang menggelegar.
Gadis itu terkejut melihat sosok asing muncul, namun ia tidak bodoh. Ia memanfaatkan kabut yang menghalangi pandangan harimau untuk melesat pergi ke arah berlawanan. Harimau Inti Besi yang kehilangan mangsanya mengalihkan pandangan penuh amarah ke arah Ji Zhen.
“Sialan,” umpat Ji Zhen.
Ia tidak menunggu harimau itu menyerang. Ia berbalik dan lari sekuat tenaga. Ia masuk ke celah-celah pohon yang sempit, menggunakan medan hutan yang rumit untuk menghambat pengejaran monster besar tersebut. Ia bisa mendengar raungan harimau yang membuat jantungnya berdegup kencang. Berkali-kali ia hampir terjatuh karena kakinya yang mulai mati rasa akibat kehabisan energi.
Setelah berlari tanpa arah selama hampir sepuluh menit, suara raungan harimau itu perlahan menghilang di kejauhan. Ji Zhen jatuh tersungkur di atas tumpukan daun busuk. Tubuhnya gemetar hebat, sisa-sisa energi di dalam meridiannya terasa seperti api dingin yang membakar.
Ia menoleh ke sekeliling. Kabut di sini jauh lebih tebal, menelan jarak pandang hingga hanya tersisa dua meter. Ia menyadari satu hal yang fatal: ia telah kehilangan arah sepenuhnya. Tersesat di bagian Hutan Guyun yang paling berbahaya, sementara kegelapan malam mulai turun menyelimuti langit.
“Kau benar-benar bodoh,” suara Zulong terdengar frustasi. “Sekarang apa rencanamu? Kau hampir mati, qi-mu kosong, dan kau tidak tahu di mana dirimu berada.”
Ji Zhen terbatuk, darah merah segar menetes dari bibirnya ke atas tanah. Ia memaksakan sebuah senyum lemah di tengah wajahnya yang pucat. “Rencanaku adalah untuk bertahan hidup. Seperti biasa.”
Kegelapan malam benar-benar datang, membawa suara-suara predator lain yang mulai terbangun. Ji Zhen mencoba bangkit, namun tubuhnya menolak untuk bergerak lebih jauh, hingga akhirnya tertidur.