NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat

Suasana di markas besar mereka sebuah penthouse mewah dengan pemandangan pegunungan yang tertutup salju terasa begitu pekat dengan aroma alkohol dan asap rokok.

James duduk bersandar di sofa kulit, menyeka keringat di lehernya dengan ekspresi penuh kemenangan seolah-olah baru saja menaklukkan puncak tertinggi di New Zealand.

"Gila, kali ini benar-benar gila," James tertawa sombong, membuka botol wiski mahal milik Kenneth tanpa izin. "Gadis biola itu benar-benar mengemis. Rasanya luar biasa, apalagi dilakukan di ruang musik sekolah. Adrenalinnya benar-benar terasa."

Marius dan Aiden hanya tertawa kecil sambil mengocok kartu remi, sementara Zacky, yang sejak tadi hanya memperhatikan James, menyesap minumannya dengan tatapan penuh nafsu yang sulit disembunyikan.

"Kau gila, James. Kau sudah memuaskan hampir seluruh siswi di Queenstown dengan jari dan junior-mu itu," celetuk Zacky sambil mencondongkan tubuh ke depan.

"Tapi jujur saja, sampai kapan kau mau bermain sandiwara dengan Hazel? Dia itu terlalu cantik untuk hanya dipandangi."

James mendengus pelan, "Kubilang kan, dia untuk masa depanku. Dia cadangan yang harus tetap bersih."

Zacky terkekeh, suara tawanya terdengar kotor. "Kalau kau memang tidak mau menyentuhnya, lebih baik kau berikan saja padaku. Atau setidaknya, tiduri saja wanita sucimu itu sekarang. Kulihat dia sangat enak. Lekuk tubuhnya di balik seragam itu... ah, aku berani bertaruh dia akan memberikan sensasi yang jauh lebih hebat dari gadis-gadis binalmu."

Seketika, suhu di ruangan itu seolah merosot tajam hingga di bawah nol derajat.

Kenneth Karl Graciano, yang sejak tadi hanya diam di sudut ruangan dengan senyum tipis yang penuh teka-teki, perlahan mengangkat wajahnya.

Senyum itu tidak berubah, tetap tenang, namun matanya yang sehitam jelaga menatap tajam tepat ke arah leher Zacky, seolah ia sedang membayangkan cara paling efisien untuk mematahkan kerongkongan pria itu.

"Hati-hati dengan ucapanmu, Zacky," suara Kenneth rendah, lembut, namun memiliki daya hancur yang nyata. "Ada beberapa hal di dunia ini yang tidak boleh kau sentuh, bahkan dengan imajinasimu sekalipun."

Zacky seketika terdiam, rasa dingin menjalar di punggungnya. Ia tahu benar bahwa kemarahan Kenneth bukan sesuatu yang bisa diajak bercanda.

Namun, di tengah ketegangan para pria itu, mereka tidak menyadari satu hal yang fatal.

Di balik pintu markas yang sedikit terbuka, Hazel berdiri mematung. Ia datang ke sana karena James tertinggal ponselnya di mobil Kenneth tadi.

Tangannya yang memegang ponsel itu gemetar hebat. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat mendengar kata-kata James tentang gadis biola, tentang junior-nya, dan bagaimana ia hanya dianggap sebagai cadangan yang suci.

kebohongan itu tidak hanya retak. Di bawah langit malam New Zealand yang dingin, ilusi Hazel tentang cinta suci James hancur berkeping-keping menjadi debu.

Langkah Hazel yang hendak berbalik lari seketika terhenti. Tubuhnya kaku, jemarinya mencengkeram ponsel James hingga buku-buku jarinya memutih.

Di dalam sana, tawa meremehkan Aiden memecah keheningan yang sempat diciptakan oleh ancaman Kenneth.

"Lagipula, James," Aiden menyela sambil melemparkan kartu reminya ke meja, matanya melirik Kenneth dengan nada provokatif yang berani. "Kenapa kau begitu protektif pada Hazel di depan kami? Padahal kau sendiri yang mengotorinya dengan kebohongan setiap hari. Bukankah seorang perawan yang benar-benar murni seperti Hazel itu lebih cocok dengan Kenneth?"

Aiden terkekeh, tidak menyadari bahwa ia sedang bermain dengan api. "Pikirkan saja. Kenneth kita ini murni, tidak pernah terlihat menyentuh wanita mana pun di sekolah ini, selalu dingin dan tak tersentuh. Bayangkan jika si Ice King ini bersanding dengan Pure Queen milikmu. Mereka akan menjadi pasangan yang sangat murni... sebelum akhirnya Ken menghancurkannya dengan kekuasaan yang ia punya."

Mendengar itu, James hanya tertawa keras, tawa yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Hazel. "Kenneth? Dengan Hazel? Silakan saja kalau dia mau sisa-sisaku nanti. Tapi sekarang, dia masih milikku untuk dimainkan."

Di balik pintu, air mata Hazel jatuh tanpa suara. Dadanya sesak, bukan hanya karena pengkhianatan James, tapi karena ia menyadari bahwa di mata pria-pria ini, ia hanyalah sebuah objek, sebuah piala, atau sekadar lelucon untuk diperdebatkan.

Kenneth, yang menjadi subjek pembicaraan, tetap tidak bergeming. Ia menyesap minumannya dengan tenang, namun tatapannya kini beralih ke celah pintu yang sedikit terbuka. Ia tahu. Ia tahu Hazel ada di sana, mendengar setiap kata-kata kotor yang keluar dari mulut sahabatnya sendiri.

Kenneth tidak membela Hazel. Ia justru sengaja membiarkan percakapan itu mengalir, membiarkan luka di hati Hazel semakin dalam agar tidak ada lagi jalan kembali bagi gadis itu untuk mencintai James.

"Murni?" Kenneth akhirnya bersuara, mengulang kata-kata Aiden dengan nada yang sangat gelap. "Kalian salah menilai. Aku tidak murni. Aku hanya... pemilih."

Tepat saat itu, ponsel di tangan Hazel bergetar karena sebuah notifikasi masuk, menimbulkan suara halus yang membuat James menoleh ke arah pintu.

"Siapa di sana?" teriak James dengan nada waspada.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰😍🥰

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!