NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERANGAN MENDADAK

Kamis pagi, Rajendra datang ke kantor jam delapan dengan perasaan lebih ringan dari kemarin.

Sidang berjalan baik. Tim lawyer yakin mereka punya peluang menang. Tinggal tunggu dua minggu untuk putusan.

Di kantor, Arief sudah duduk di depan komputer, Rian di sampingnya, Dina sedang telepon seseorang dengan nada ceria.

"Pagi, guys," sapa Rajendra sambil meletakkan tas.

"Pagi, bos," jawab mereka kompak.

Dina menutup teleponnya, berjalan mendekat dengan senyum lebar.

"Gue baru selesai telepon sama journalist dari Jakarta Biz. Mereka mau feature LokalMart minggu depan. Interview sama lu, foto produk, sama profile seller. Ini exposure gratis yang bagus banget."

"Bagus. Kapan interview-nya?"

"Senin depan, jam dua siang. Di kantor ini. Mereka akan bawa fotografer juga."

"Oke. Gue siap."

Rajendra membuka laptop, mengecek dashboard analytics.

Order kemarin lima belas, hari ini sudah masuk tujuh order sejak pagi. Traffic naik dua kali lipat dari hari pertama.

"Konversi rate naik," komentar Arief sambil melihat dari belakang. "Tiga koma lima persen sekarang. Bagus."

"Dari mana traffic-nya?" tanya Rajendra.

Dina membuka laptopnya.

"Mayoritas dari Facebook ads yang gue jalanin. Budget lima ratus ribu kemarin, dapat sekitar dua ribu klik. Cost per click dua ratus lima puluh rupiah. Murah."

"ROI-nya gimana?"

"Positif. Lima ratus ribu spend, dapat tujuh order kemarin dengan average order value empat ratus ribu. Total GMV dua koma delapan juta. Margin kita sepuluh persen, jadi revenue dua ratus delapan puluh ribu. Belum balik modal dari ads, tapi ini baru hari kedua. Repeat order akan datang bulan depan."

Rajendra mengangguk, puas dengan progress.

Mereka kerja seperti biasa sampai jam sebelas, lalu Rajendra dapat telepon dari nomor tidak dikenal.

Dia ragu sebentar, tapi akhirnya angkat.

"Halo?"

Suara pria di seberang, formal tapi tegas.

"Selamat siang. Saya Inspektur Wibowo dari Polda Metro Jaya. Apakah ini Rajendra Baskara?"

Rajendra menegang.

Polisi? Kenapa polisi telepon dia?

"Iya, ini saya. Ada apa?"

"Pak Rajendra, kami terima laporan dugaan penggelapan dana investor terkait perusahaan Anda, LokalMart. Kami butuh Anda datang ke kantor polisi untuk klarifikasi. Bisa hari ini?"

Rajendra terdiam, pikiran berputar cepat.

Penggelapan dana investor?

Ini tidak masuk akal. Dia belum pakai dana investor sama sekali. Uang bahkan belum masuk ke rekening perusahaan.

"Maaf, Pak. Saya tidak paham. Laporan dari siapa?"

"Dari pihak investor, Richard Tanuwijaya. Beliau melaporkan bahwa ada transaksi mencurigakan dari rekening pribadi Anda yang diduga menggunakan dana yang seharusnya untuk operasional perusahaan."

Rajendra merasakan sesuatu dingin menjalar di seluruh tubuhnya.

Richard? Richard laporkan dia?

Tidak mungkin. Richard baru saja invest minggu lalu. Uang belum masuk. Kenapa dia tiba-tiba lapor polisi?

"Pak Inspektur, ini pasti salah paham. Saya belum menerima dana dari investor. Dana baru akan masuk pertengahan Agustus. Bagaimana saya bisa pakai uang yang belum masuk?"

"Itu yang perlu kami klarifikasi, Pak. Makanya kami minta Anda datang ke kantor polisi. Bawa semua dokumen terkait funding dan transaksi rekening pribadi Anda."

Rajendra menarik napas dalam, mencoba tetap tenang.

"Oke. Saya bisa datang sore ini. Jam berapa?"

"Jam tiga. Polda Metro Jaya, lantai tiga, unit Cyber Crime."

"Baik. Saya akan datang."

Sambungan terputus.

Rajendra menaruh ponselnya di meja, wajahnya pucat.

Arief yang duduk di seberang melihat ekspresi Rajendra.

"Bos, lu oke? Ada masalah?"

Rajendra tidak langsung jawab. Pikirannya masih berusaha memproses apa yang baru terjadi.

Dina berjalan mendekat.

"Bos, siapa yang telepon?"

Rajendra menatap mereka berdua.

"Polisi. Ada laporan penggelapan dana investor. Mereka minta gue datang sore ini."

Hening sebentar.

Dina menatap Rajendra dengan mata melebar.

"Apa? Penggelapan dana? Tapi uang dari Richard belum masuk kan?"

"Belum. Gue juga gak ngerti. Tapi polisi bilang Richard yang lapor."

Arief berdiri.

"Ini gak masuk akal. Richard baru invest minggu lalu. Kenapa dia tiba-tiba lapor polisi?"

Rajendra diam, lalu tiba-tiba sesuatu klik di kepalanya.

Dera.

Dia ingat tatapan Dera kemarin di pengadilan. Tatapan dingin, kalkulatif.

Ini dia. Ini serangan yang dia rasakan akan datang.

Dera fabricate bukti palsu, bikin seolah-olah Rajendra pakai uang investor untuk hal pribadi, lalu somehow convince Richard untuk lapor polisi.

Atau mungkin Richard tidak tahu apa-apa. Mungkin Dera yang lapor pakai nama Richard.

"Ini setup," kata Rajendra pelan tapi yakin. "Keluarga gue yang atur ini. Mereka bikin jebakan."

Dina menatapnya.

"Lu yakin?"

"Seratus persen. Timing-nya terlalu pas. Kemarin sidang berjalan baik, kami punya bukti kuat. Mereka tahu mereka bakal kalah. Jadi mereka cari cara lain untuk jatuhkan gue."

Rian yang dari tadi diam, akhirnya bicara.

"Kalau ini setup, berarti mereka punya bukti palsu. Lu harus siap defend dengan bukti real."

Rajendra mengangguk.

"Gue harus kumpulin semua dokumen. Statement rekening bank, term sheet dari Richard, bukti transfer, semua."

Dina sudah buka laptopnya.

"Gue bantuin compile. Lu punya akses online banking?"

"Ada."

"Login sekarang. Kita print semua statement dari tiga bulan terakhir. Kita buktiin gak ada transaksi mencurigakan."

Mereka bekerja cepat. Rajendra login internet banking, print statement rekening pribadi dan rekening perusahaan. Dina compile semua dokumen terkait funding dari Richard: term sheet, email komunikasi, timeline transfer yang belum terjadi.

Arief bantuin print dan organize dokumen jadi folder rapi.

Jam dua belas, semua dokumen sudah siap.

Rajendra memasukkan semuanya ke dalam tas.

"Gue berangkat sekarang. Jam tiga harus sampai Polda."

Dina berdiri.

"Gue ikut."

"Lu gak perlu. Gue bisa handle sendiri."

"Gue ikut. Lu butuh witness. Kalau mereka coba manipulasi keterangan lu, gue bisa jadi saksi."

Rajendra menatapnya, lalu mengangguk.

"Oke. Thanks."

Mereka berdua naik taksi menuju Polda Metro Jaya di Semanggi.

Di dalam taksi, Rajendra menelepon Hartono.

Nada sambung berbunyi tiga kali, Hartono angkat.

"Rajendra, ada apa?"

"Pak Hartono, saya dapat masalah baru. Ada laporan polisi tentang penggelapan dana investor. Gue harus ke Polda sore ini."

Hartono terdiam sebentar.

"Penggelapan dana? Dari mana laporannya?"

"Kata polisi dari Richard Tanuwijaya. Tapi saya yakin ini setup. Keluarga saya yang atur."

Hartono menghela napas.

"Ini taktik kotor yang saya khawatirkan. Mereka tahu sidang kemarin tidak berjalan baik untuk mereka, jadi mereka coba cara lain. Dengar, Rajendra. Jangan bicara banyak di polisi. Jawab pertanyaan dengan fakta, tunjukkan bukti, tapi jangan spekulasi. Jangan bilang ini setup dari keluarga tanpa bukti solid."

"Tapi ini jelas setup, Pak."

"Saya tahu. Tapi kamu harus prove itu dengan bukti, bukan dengan tuduhan. Kalau kamu tuduh balik tanpa bukti, kamu bisa kena UU ITE atau pencemaran nama baik. Jadi hati-hati."

Rajendra mengangguk meski Hartono tidak bisa lihat.

"Saya paham."

"Setelah dari polisi, telepon saya lagi. Kita harus strategize next step."

"Baik, Pak."

Sambungan terputus.

Rajendra menatap keluar jendela taksi, melihat Jakarta yang ramai seperti biasa.

Dina duduk di sampingnya, tidak bicara, hanya menatap ke depan dengan ekspresi serius.

Sampai di Polda Metro Jaya jam dua setengah, mereka masuk lobby, tanya resepsionis dimana unit Cyber Crime.

"Lantai tiga, sebelah kanan setelah keluar lift."

Mereka naik lift, sampai lantai tiga, berjalan ke unit Cyber Crime.

Ruangan kecil dengan beberapa meja kerja, dua orang polisi sedang kerja di komputer.

Seorang pria berseragam lengkap berdiri begitu melihat Rajendra masuk.

"Rajendra Baskara?"

"Iya, Pak."

"Inspektur Wibowo. Silakan duduk."

Mereka duduk di kursi di depan meja Inspektur Wibowo. Dina duduk di samping Rajendra.

Inspektur Wibowo membuka folder di mejanya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

"Jadi begini, Pak Rajendra. Kami terima laporan dari Bapak Richard Tanuwijaya bahwa ada transaksi mencurigakan dari rekening pribadi Anda."

Dia menunjukkan print out yang terlihat seperti statement bank.

"Ini transaksi tanggal 20 Juli 2010. Transfer dari rekening pribadi Anda sebesar seratus lima puluh juta ke rekening atas nama CV Mitra Teknologi. Kemudian tanggal 22 Juli, transfer lagi lima puluh juta ke rekening pribadi atas nama Jessica Agustina."

Rajendra menatap dokumen itu, wajahnya pucat.

Ini tidak mungkin. Dia tidak pernah transfer uang sebesar itu ke siapa pun.

"Pak Inspektur, ini bukan transaksi saya. Saya tidak pernah transfer uang ini. Ini dokumen palsu."

Inspektur Wibowo menatapnya dengan tatapan skeptis.

"Dokumen ini kami dapat dari pihak bank. Ini bukan dokumen palsu."

"Kalau memang dari bank, bank mana? Saya bisa cek langsung ke bank saya."

"Bank Mandiri, cabang Tebet."

Rajendra mengeluarkan print out statement rekening Bank Mandiri-nya dari tas, memberikannya ke Inspektur.

"Ini statement rekening saya dari Bank Mandiri periode Juni sampai Juli 2010. Anda bisa lihat sendiri, tidak ada transaksi seperti yang Bapak sebutkan."

Inspektur Wibowo menerima dokumen itu, membaca dengan teliti.

Dia membandingkan dengan dokumen yang ada di tangannya.

Wajahnya berubah bingung.

"Ini... nomor rekening yang sama. Tapi transaksi berbeda."

Dina bicara.

"Pak Inspektur, jelas ini ada yang manipulasi dokumen. Dokumen yang Bapak terima itu palsu. Statement asli dari Pak Rajendra menunjukkan tidak ada transaksi mencurigakan."

Inspektur Wibowo menatap kedua dokumen bergantian.

"Tapi yang saya terima ini juga ada stempel bank dan tanda tangan pejabat bank."

"Stempel dan tanda tangan bisa dipalsukan," kata Rajendra. "Saya bisa buktikan ini palsu. Saya bisa ajak Bapak langsung ke Bank Mandiri sekarang, minta mereka print statement resmi, dan bandingkan."

Inspektur Wibowo berpikir sebentar.

"Oke. Kita akan lakukan itu. Tapi sebelumnya, saya perlu konfirmasi dulu dengan pelapor, Bapak Richard Tanuwijaya. Saya telepon beliau sekarang."

Dia meraih telepon meja, menelepon nomor yang tercatat di berkas.

Nada sambung berbunyi beberapa kali, lalu terdengar suara Richard di speaker phone.

"Halo?"

"Pak Richard, ini Inspektur Wibowo dari Polda Metro. Saya sedang dengan Pak Rajendra sekarang untuk klarifikasi laporan Bapak."

Hening sebentar di seberang.

Lalu Richard bicara dengan nada bingung.

"Laporan? Laporan apa? Saya tidak pernah buat laporan polisi."

Inspektur Wibowo terdiam.

"Bapak tidak lapor tentang dugaan penggelapan dana investor oleh Rajendra Baskara?"

"Tidak. Sama sekali tidak. Saya bahkan tidak tahu ada masalah dengan Rajendra. Kenapa tiba-tiba ada laporan atas nama saya?"

Inspektur Wibowo menatap Rajendra, lalu menatap dokumen di tangannya.

Wajahnya berubah serius.

"Pak Richard, terima kasih atas konfirmasinya. Saya akan investigasi lebih lanjut."

"Tolong kasih tahu saya kalau ada perkembangan. Ini menyangkut reputasi saya juga."

"Baik, Pak."

Sambungan terputup.

Inspektur Wibowo menatap Rajendra dengan tatapan berbeda sekarang.

"Pak Rajendra, sepertinya ini memang ada pihak yang coba frame Anda. Pelapor palsu, dokumen palsu. Ini kasus serius."

Rajendra mengangguk.

"Saya sudah bilang dari awal, Pak. Ini setup. Ada orang yang mau jatuhkan saya."

"Anda punya dugaan siapa?"

Rajendra diam sebentar, ingat peringatan Hartono.

"Saya punya dugaan, tapi saya butuh bukti dulu sebelum menuduh."

Inspektur Wibowo mengangguk.

"Bijak. Baik, saya akan tutup laporan ini karena pelapor sendiri tidak mengakui. Tapi saya akan investigasi siapa yang submit laporan palsu ini. Itu tindak pidana."

"Terima kasih, Pak."

"Sama-sama. Hati-hati, Pak Rajendra. Orang yang bisa bikin dokumen palsu secanggih ini bukan orang sembarangan."

Rajendra dan Dina keluar dari kantor polisi jam empat sore.

Di luar gedung, Rajendra berhenti sebentar, menarik napas panjang.

Dina menatapnya.

"Lu oke?"

"Oke. Tapi ini baru permulaan. Mereka akan coba lagi dengan cara lain."

"Lu yakin ini keluarga lu?"

"Seratus persen. Cuma mereka yang punya motif dan resource untuk lakuin ini."

Ponselnya berdering, panggilan dari Hartono.

Rajendra angkat.

"Pak Hartono."

"Gimana? Sudah selesai dari polisi?"

"Sudah. Ternyata Richard tidak pernah lapor. Ini laporan palsu dengan dokumen palsu. Polisi sudah tutup kasus, tapi mereka akan investigasi siapa yang submit laporan palsu."

Hartono menghela napas lega.

"Syukurlah. Tapi ini membuktikan keluarga Anda sudah desperate. Mereka akan coba apa saja. Anda harus ekstra hati-hati dari sekarang."

"Saya tahu, Pak."

"Jaga semua dokumen Anda. Jaga rekening bank Anda. Jangan kasih celah untuk mereka manipulasi lagi."

"Siap."

Sambungan terputus.

Rajendra menatap langit Jakarta yang mulai gelap.

Hari yang panjang. Hari yang melelahkan.

Tapi setidaknya dia survive satu serangan lagi.

Pertanyaannya, berapa lama lagi dia harus bertahan sebelum semua ini selesai?

[ END OF BAB 24 ]

1
mini
aduh akubkurang srek thor gda chemistry sama dina😁✌️
aidios: hahaha iya kak maaf ya, memang jalan ceritanya ini lebih fokus ke balas dendamnya si rajendra 🤣
total 1 replies
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!