NovelToon NovelToon
Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / One Night Stand / Cinta setelah menikah
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.

"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"

Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?

Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMNB 20

Jarum jam dinding di ruang tengah seolah berdentum memukul-mukul kesunyian yang mencekam. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, tetapi pria itu belum pulang.

Arkan bukan pria yang memuja lembur, pria itu pernah mengatakannya sendiri kepada Mutiara. Arkan pasti akan langsung pulang ke rumah kalau tidak ada keperluan yang mendesak.

"Kenapa belum pulang ya? Apa ada keperluan mendesak?"

Mutiara merasa penasaran, karena saat pria itu pagi tadi hendak keluar dari dalam kamar, Arkan berkata akan pulang tepat waktu.

"Telpon aja deh," ujar Mutiara.

​Mutiara mencoba untuk menelpon suaminya, tetapi tidak diangkat sama sekali. Dia mencoba kembali menekan ikon telepon untuk kesepuluh kalinya, tetapi hasilnya nihil.

Nada sambung yang datar itu tiba-tiba berganti menjadi suara operator yang dingin, nomor yang anda tuju tidak aktif'.

"Loh, kok malah gak aktif sih? Ini mencurigakan," ujar Mutiara.

Mutiara mencoba kembali untuk menelpon suaminya, lagi-lagi suara operator yang menjawabnya. Mutiara yang tak sabar akhirnya segera memakai jaket, lalu dia pergi keluar dari rumah itu dan menghampiri sopir yang memang bekerja di sana.

​"Pak Danu, siapkan mobil. Sekarang!" perintah Mutiara, suaranya terdengar tegas.

Ada firasat buruk yang merayap ke dalam hatinya, seperti es yang mencair dan membuat tubuhnya dingin.

"Siap, Nyonya. Mau ke mana?"

"Ke kantor tuan saja," jawab Mutiara.

"Oke," jawab Danu.

Pria itu membukakan pintu mobil untuk mutiara mutiara dengan cepat masuk ke dalam mobil dan meminta dan untuk segera pergi menuju kantor suaminya

Saat tiba di sana, gedung kantor sudah lengang, hanya menyisakan lampu lobi yang temaram. Seorang security langsung menghampiri Mutiara dan bertanya dengan sopan.

"Ada apa Nyonya malam-malam datang ke sini?"

"Suami saya belum pulang. Apa dia masih ada pekerjaan?"

"Seingat saya sih, tadi ada klien yang datang saat sore hari, tapi sudah pulang saat jam enam."

"Gitu ya? Tapi kok dia belum pulang ya?"

"Mungkin sedang mengerjakan pekerjaan yang mendesak di atas, Nyonya bisa langsung naik saja ke atas. Biar tahu tuan lagi apa."

"Baiklah, kalau begitu aku akan menemui suamiku terlebih dahulu."

"Apa perlu diantar, Nyonya?" tanya security itu.

"Tidak perlu," jawab Mutiara.

Mutiara melangkah setengah berlari menuju lantai paling atas. Begitu pintu ruangan Arkan terbuka, oksigen di dalam paru-parunya seolah tersedot habis.

​Di atas sofa kulit berwarna hitam itu, pemandangan yang menghancurkan jiwa terpampang nyata. Arkan terbaring lemas, sementara Alice berada di atas tubuhnya.

Kemeja Alice sudah tanggal, menyisakan pemandangan vulgar yang sengaja ia sodorkan tepat di depan wajah Arkan.

Kedua buah melon milik wanita itu menggelantung tepat di wajah Arkan, hampir menempel. Napas Mutiara terasa sesak.

​"Kamu bajiingan, Mas," bisik Mutiara lirih.

Dunianya runtuh seketika.

​Alice menoleh, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kemenangan. Ia tidak beranjak, justru semakin merapatkan tubuhnya pada Arkan.

​"Kau datang terlalu cepat, Mutiara," suara Alice mendayu, penuh racun.

Mutiara menatap keduanya dengan tatapan jijik, sedangkan Alice malah seperti sengaja ingin memancing Mutiara semakin kesal.

"Harusnya kamu mengerti, Arkan butuh yang lebih berani seperti aku. Tidak butuh wanita lemah seperti kamu," ujar Alice sambil menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan erotis.

​Hati Mutiara seperti diremas tangan tak terlihat. Air mata mulai menggenang, sakit sekali melihat suaminya yang baru saja dia terima, tetapi malah menorehkan luka di hatinya.

"Kalian bajiingan!" teriak Mutiara kesal campur sakit hati.

"Tak usah berteriak, kalau sadar diri cepat pergi!" ujar Alice.

Mutiara menolehkan wajahnya ke arah Arkan, pria itu kesulitan untuk melihat Mutiara karena tertimpa buah melon milik Alice.

"Sayang, apakah kamu ingin aku pergi? Jika kamu benar-benar ingin aku pergi, maka aku akan menghilang dari kehidupan kamu."

Mutiara mendengar Arkan bergumam, tetapi tidak jelas. Mutiara menganggap kalau pria itu tidak menginginkan dirinya, Mutiara memilih untuk segera pergi dari sana.

Namun, saat ia hendak berbalik untuk pergi, matanya menangkap sesuatu yang ganjil. ​Mutiara menghentikan langkahnya. Ia menatap Arkan lebih lekat. Suaminya tidak bergerak sama sekali, dia tak membalas sentuhan Alice.

Wajah Arkan merah padam, urat-urat di lehernya menegang, napasnya terdengar berat seperti orang yang sedang berjuang melawan sesak.

​"Mas Arkan?" panggil Mutiara, suaranya beralih dari amarah menjadi kecurigaan.

Dia mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri Arkan setelah semakin mendekat Alice terlihat begitu panik

​"Jangan ganggu kami Mutiara! Kami sudah tidak sabar untuk melakukannya potong Alice cepat, tangannya mulai membelai rahang Arkan dengan agresif.

​Mutiara tidak mundur. Ia justru semakin mendekat, dia mengabaikan pemandangan menjijikkan di depannya.

Ia melihat butiran keringat sebesar biji jagung di dahi Arkan dan mata suaminya yang sayu, kosong, seolah terjebak dalam kabut. Mutiara sadar kalau ini semua salah.

​"Turun dari atas tubuh suamiku, wanita jahanam!" teriak Mutiara dingin.

​"Tidak akan, saat ini dia begitu menginginkanku!" ujarnya tak tahu diri.

​"Dia tidak menginginkan kamu!"

Mutiara lebih mendekat dan menyentak lengan Alice, hingga wanita itu jatuh tersungkur ke atas lantai.

"Dasar jalangg sialan!" umpatnya tak tahu malu.

Mutiara menyentuh pipi Arkan yang terasa panas membara, panas yang tidak wajar. Kini dia paham kalau suaminya itu sedang dalam keadaan tidak sadar, Mutiara menolehkan wajahnya ke arah Alice dengan tatapan penuh kemarahan.

"Dia tidak menginginkanmu. Kau pasti yang memaksanya, kamu menaruh obat di minuman suamiku, kan?"

​Mutiara menatap tajam ke arah gelas kristal yang masih tersisa sedikit cairan di meja kerja. Dia mengambil gelas itu, bau kimia yang samar menusuk penciumannya..

​"Mana ada seperti itu, dia ingin aku." Alice berusaha bangun dan menghampiri Arkan.

Bugh!

Mutiara yang kesal langsung menendang kaki Alice, wanita itu sampai jatuh sambil meringis kesakitan.

Mutiara tidak lagi melihat Alice sebagai wanita yang cantik, melainkan sebagai predator yang sedang memojokkan mangsanya.

Amarah yang tadinya menghancurkan hati, kini berubah menjadi bensin yang membakar keberaniannya.

​"Keluar. Sekarang! Atau aku pastikan kamu keluar dari gedung ini dengan borgol," ujar Mutiara. Suaranya rendah, tapi bergetar karena emosi yang tertahan.

​Alice tertawa sumbang, dia merangkak dan mendekat ke arah Arkan, jemarinya sengaja menelusuri dada Arkan yang naik turun tidak beraturan.

Mutiara yang kesal kembali menendang wanita itu, wanita yang dulunya lemah lembut kini memiliki kekuatan yang besar karena emosi yang memuncak.

Namun, herannya Alice tidak marah sama sekali. Justru dia malah tertawa karena merasa senang dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu.

"Borgol? Jangan konyol. Lihat suamimu, Mutiara. Dia menikmatinya. Dia tidak menolak sedikit pun, kan?"

​Mutiara melangkah maju, tangannya menyambar pergelangan tangan Alice dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.

"Dia tidak menolak karena kau merampas kesadarannya! Kau pikir aku sebodoh itu?"

​PLAK!

​Satu tamparan mendarat telak di pipi Alice, membuat kepala wanita itu menoleh ke samping.

​"Itu untuk harga diriku yang kau injak," ucap Mutiara dingin.

​Belum sempat Alice membalas, Mutiara menyambar botol air mineral yang terbuka di atas meja dan menyiramkan isinya tepat ke wajah Alice.

"Dan itu untuk mendinginkan otak busukmu!"

​Alice menjerit histeris, mencoba menutupi tubuhnya yang basah kuyup.

"Kau gila! Arkan akan membencimu karena mengacaukan malam kami!"

​"Mas Arkan akan membencimu karena kau telah meracuninya!"

Mutiara berteriak, air mata akhirnya jatuh, tapi bukan karena sedih, melainkan karena muak. Ia menarik paksa Alice hingga wanita itu terjatuh dari sofa ke lantai yang dingin.

"Pergi sebelum aku memanggil keamanan dan menunjukkan rekaman CCTV bagaimana kamu menyelinap dan mencampur sesuatu ke minumannya!"

​Alice tampak pucat. Ia tahu Mutiara tidak sedang menggertak. Dengan tangan gemetar, ia menyambar kemejanya yang berceceran di lantai dan lari keluar ruangan dengan sisa-sisa harga diri yang hancur.

​Pintu terbanting. Mutiara segera berlutut di samping Arkan. Pria itu mengerang, matanya terbuka sedikit, menampakkan pupil yang melebar dan sorot mata yang tersiksa.

1
stela aza
itu pas lagi ngmng di rekam g tue ,,, bisa jadi bukti akurat kalau di rekam
isnaini naini
nah kan ...fjr yg mnghrp kmatian arkan...
stela aza
kenapa g ngawasin si anak pungut udh tau curiga aturan harus bisa lebih hati2 lagi sama si pungut itu ,,, gemes bgt deh ,,, gunakan uangmu biar tau pelaku sebenarnya,,, kurang keren si Arkan ,,,, g kaya CEO2 lain yg tokcer ,, ceritanya trus pinter ya g ketulungan
stela aza
bodoh bgt sie Arkan masa g inget abis di kasih makan sama anak pungut langsung begitu keadaannya masa g g curiga sie ,,, bodohnya g ketulungan,,,🤦
stela aza
kayanya anak pungut yg hilang kendali
isnaini naini
siapa dlng nya thor...fajar ta...emang dsr anak pungut tk tau diri
stela aza
emang di rumah s Arkan g ada cctv lama2 s fajar nggilani ,,, aturan mutiara ngmng sama Arkan kalau dia mau di lecehin sama anak pungutnya biar fajar di kasih pelajaran syukuy2 kasih tau kalau dia cuma anak pungut biar stok terapi 🤦
Wiwi Sukaesih
tenang Arkan it bapak mertua kamu 😁
stela aza
akhirnya bentar lagi ketemu keluarganya
stela aza
dasar bodoh
isnaini naini
nah itu tau...baru nyadar pak..yg km pilih batu kali...
isnaini naini
ksihn amat alice..preman aj gak doyan ...
isnaini naini
jngn2 alice main sm porter kereta...krna gk thn...
Anita Rahayu
Buat alice di penjara da di siksa di sel yg penghuninya korban pelakor thor pasti kena mental👍👍👍👍
isnaini naini
telat pak nyeselnya....
evi solina
pernikahan kok di buat mainan dosa loh
evi solina
move on itu harus elegan bikin goyang perusahaan nya, bukan dgn cara mabok
evi solina
mundu mut harga diri injak kok mau aja, laki pengecut begitu
evi solina
laki pecundang jgn di percaya
sakura
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!