Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Televisi di ruang kantor Dev menayangkan siaran berita yang langsung menyita perhatian. Layar menampilkan foto-foto mesra Yunny yang tersebar luas, disusul cuplikan rekaman kasus tabrak lari, serta dokumen bertanda tangan Yunny Fang terkait pengambilalihan Ji Group tanpa sepengetahuan pemilik aslinya, Lolitta Zhang.
Pembawa berita berbicara dengan nada tegas.
“Pemirsa, publik kembali dikejutkan oleh perkembangan besar dalam kasus keluarga Fang dan perusahaan raksasa Ji Group, yang selama ini dikenal sebagai salah satu dari lima perusahaan terbesar di negeri ini.
Dokumen yang baru terungkap menunjukkan adanya tanda tangan Yunny Fang sebagai pemilik Ji Group. Namun berdasarkan data resmi pendirian perusahaan, pemilik sah Ji Group adalah Lolitta Fang, putri tertua Alex Fang."
"Yang menjadi sorotan, pemindahan nama kepemilikan tersebut diduga dilakukan tanpa persetujuan dan sepengetahuan Lolitta Fang, yang pada saat itu sedang menjalani hukuman penjara atas kasus tabrak lari yang menyebabkan korban dalam kondisi koma.
Namun fakta terbaru yang terkuak menyebutkan bahwa pelaku tabrak lari tersebut bukanlah Lolitta Fang, melainkan Yunny Fang. Pihak Lolitta mengungkap bahwa ia dipaksa oleh Alex Fang untuk mengakui perbuatan tersebut demi melindungi Yunny.
Akibatnya, Lolitta harus menjalani hukuman penjara selama satu tahun atas kesalahan yang bukan dilakukannya, dan ia baru saja bebas tidak lama ini."
"Jika tuduhan ini terbukti di pengadilan, maka kasus ini tidak hanya menyangkut pemalsuan dokumen perusahaan, tetapi juga dugaan pemaksaan pengakuan, perintangan keadilan, serta penyalahgunaan kekuasaan dalam lingkup keluarga dan hukum. Hingga saat ini, pihak Alex Fang dan Yunny Fang belum memberikan pernyataan resmi."
"Ternyata semua karena paksaan Alex Fang," ucap Dev.
Pembawa berita melanjutkan laporannya dengan nada semakin serius.
“Ji Group diketahui merupakan peninggalan mendiang Velda Zhao, mantan istri Alex Fang sekaligus ibu kandung Lolitta Fang.
Setelah Velda Zhao meninggal dunia, Lolitta Fang justru diserahkan oleh ayah kandungnya sendiri kepada keluarga angkat di sebuah desa terpencil. Fakta ini memunculkan dugaan bahwa Alex Fang memanfaatkan situasi tersebut untuk menguasai Ji Group selama bertahun-tahun, tanpa memperhatikan kondisi putri kandungnya."
"Selama periode itu, Alex Fang diketahui menjalani kehidupan mewah bersama istri keduanya—yang disebut-sebut telah menjalin hubungan dengannya bahkan sebelum mendiang Velda Zhao meninggal dunia.
Pengungkapan ini memicu reaksi keras dari publik. Banyak pihak menilai kasus ini bukan sekadar konflik keluarga, melainkan dugaan pengabaian hak ahli waris, penyalahgunaan wewenang, serta penguasaan aset perusahaan secara tidak sah.
Perkembangan kasus ini diperkirakan akan berlanjut ke jalur hukum dalam waktu dekat.”
“Keterlaluan sekali… ternyata nona besar keluarga Fang justru diabaikan, dan semua miliknya direbut oleh ayahnya sendiri,” ucap Shane.
“Aku ingin menemui Lolitta,” ucap Dev tegas. “Cari tahu di mana alamatnya sekarang.”
“Baik, Tuan,” jawab Shane sigap, lalu segera bergegas keluar untuk menjalankan perintah itu.
***
Di sisi lain, Lolitta yang berada di apartemennya melakukan push-up berulang kali di lantai ruang tamu. Televisi di hadapannya masih menyiarkan berita yang sama, suara pembaca berita menggema memenuhi ruangan.
Tubuh gadis itu bergerak naik turun dengan ritme stabil. Napasnya teratur, wajahnya tenang, seolah berita yang sedang mengguncang satu negeri itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Keringat mulai membasahi pelipisnya, menetes ke lantai, namun ia tidak berhenti.
Satu.
Dua.
Tiga.
Tatapannya tetap lurus ke depan.
Tidak ada amarah.
Tidak ada air mata.
Hanya keteguhan yang dingin.
Bagi Lolitta, rasa sakit bukan lagi sesuatu yang perlu ditangisi.
Rasa sakit adalah sesuatu yang ditempa… menjadi kekuatan.
Pintu apartemen terbuka pelan. Ken melangkah masuk dengan wajah tegang.
“Nona, saya mendapat kabar. Keluarga Fang sedang berusaha menghapus berita yang tersebar. Mereka juga menemui pengacara dan berniat menuntut Anda atas pemukulan yang kita lakukan pada mereka,” lapor Ken.
Lolitta menghentikan gerakannya. Ia berdiri tegak, meraih handuk kecil di meja, lalu mengusap keringat di wajah dan lehernya. Napasnya masih berat, tapi sorot matanya tetap tenang.
“Semua bukti sudah kita serahkan ke kejaksaan,” ucapnya datar. “Apa lagi yang bisa mereka lakukan?”
Ken terdiam, menunggu perintah.
“Kalau mereka ingin menuntutku, biarkan saja. Temui pengacara itu,” lanjut Lolitta. “Aku tidak peduli cara apa yang kau gunakan. Buat dia mundur dari kasus ini.”
“Saya mengerti, Nona,” jawab Ken patuh, lalu berbalik keluar.
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara televisi yang masih memutar berita berulang-ulang.
Lolitta berdiri mematung beberapa saat, menatap layar tanpa benar-benar melihatnya.
“Alex Fang…” gumamnya lirih."Kau harus merasakan apa yang pernah aku rasakan. Menghancurkanmu membuatku bahagia…"
Tatapannya menggelap.
“Kau memang ayah kandungku. Tapi kau bukan ayah yang baik. Kau menyakiti Mama… dan menghancurkanku.”
Ia mengepalkan tangan.
“Aku pastikan… kalian semua akan tidur di dalam penjara.”
Ponsel Lolitta tiba-tiba berdering. Nomor tak dikenal muncul di layar.
“Hallo!” suaranya terdengar dingin dan singkat.
“Lolitta, aku ingin menemuimu,” ujar Dev dari seberang sana.
“Aku sibuk. Maaf.” Klik. Panggilan langsung diputus tanpa memberi kesempatan bicara.
Lolitta tidak menyadari, tepat di luar gedung apartemennya, Dev berdiri menatap ke arah pintu masuk dengan ponsel masih di tangan.
Ia menghela napas panjang.
“Gadis ini selalu saja dingin padaku. Kenapa dia seperti sangat ingin menjauh dariku… bahkan seolah membenciku?” gumamnya pelan.
Shane yang berdiri di sampingnya menoleh. “Tuan, apakah sebelumnya Anda pernah menyinggungnya? Bukankah Anda dan Nona sudah saling kenal lebih dari sepuluh tahun?”
Dev terdiam sejenak, mencoba mengingat.
“Terakhir kali dia datang ke rumah adalah lima tahun lalu. Seingatku, aku tidak menyinggungnya sama sekali. Aku bahkan tidak tahu kenapa saat bertemu lagi sekarang… dia sudah berubah. Tidak seramah dulu,” ucap Dev pelan.
Tatapannya mengarah ke pintu apartemen.
“Cara dia menatapku juga berbeda… seperti ada dinding besar di antara kita.”
Lolitta yang berada di ruangannya melemparkan ponsel ke atas sofa dengan gerakan malas.
Ia berdiri diam beberapa saat, napasnya masih berat setelah latihan fisik yang dilakukannya tadi. Keringat masih menempel di pelipisnya, tetapi tatapannya jauh lebih panas dari itu.
“Tujuanku hanya balas dendam… bukan mengemis cintamu,” gumamnya pelan, suaranya terdengar getir namun tegas.
“Hanya pertunangan demi kakek. Tidak perlu terlalu dekat…” lanjutnya lirih, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Lolitta Fang, jangan mengulangi kesalahan yang sama, Dev Zhang tidak layak kau cintai," gumam Lolitta.