Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Malam itu, Mansion Pratama sunyi senyap, hanya suara detak jam dinding besar di lorong yang terdengar. Di kamar kecilnya yang pengap, Nadine terbangun. Hatinya merasa rindu yang membuncah pada Sang Pencipta. Bersyukurlah Ia ditempatkan di kamar kecil yang dekat dengan dapur kotor... tidak seperti pelayan lainnya yang berada di paviliun khusus dengan fasilitas yang sangat baik, Nadine ditugaskan untuk menjaga majikannya, siapa tahu majikannya itu membutuhkan bantuannya di saat malam hari.... Nadine mengambil wudhu dengan perlahan, lalu membentangkan sajadah di ruang sempit antara ranjang dan lemari kayu. kebiasaan yang ia lakukan setiap hari.... kecuali dalam keadaan haid.
Setelah menyelesaikan shalat tahajudnya, Nadine duduk bersimpuh. Ia mulai melantunkan hafalan Al-Qur'annya dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan, namun penuh dengan penjiwaan. Suara itu mengalir bening, memecah keheningan malam di area dapur kotor.
"Ar-Rahmaan... Allamal Qur'aan... Khalaqal Insaan... Allamahul Bayaan... ASSyamsu Wal qomaru bihusban.... "
Sementara itu, di lantai atas, Aditya terbangun dengan tenggorokan kering. Ia meraih botol air mineral di nakasnya, namun kosong. Entah mengapa, ia merasa enggan memanggil pelayan lewat interkom. Ia memilih berjalan sendiri menuruni tangga menuju dapur.
Langkah kaki Aditya yang tanpa alas kaki tidak bersuara di atas lantai marmer. Saat ia mendekati area dapur, telinganya menangkap sesuatu. Sebuah melodi... bukan musik, tapi lantunan ayat yang begitu akrab di jiwanya.
Aditya terpaku di depan pintu dapur kotor yang sedikit terbuka. Cahaya lampu kecil dari dalam kamar Nadine membias keluar. Di sana, ia melihat bayangan seorang wanita yang sedang bersujud, lalu duduk kembali sambil terus melantunkan ayat-ayat suci.l Alqur'an.
Aditya menyandarkan tubuhnya di tembok dapur, memegang dadanya yang tiba-tiba berdenyut kencang.... tubuhnya bergetar hebat, namun kepala yang biasanya terasa pening kini menjadi sangat tenang... Suara itu... bukan suara serak Mona yang selama ini ia dengar saat bekerja. Ini adalah suara malaikat yang selama empat tahun ini menghantui setiap mimpinya. Suara yang identik dengan suara yang ia dengar di dalam pikirannya.
"Suara ini..." bisik Aditya lirih. Air mata tanpa sadar mengalir di pipinya. Ia tidak tahu mengapa, tapi setiap nada yang keluar dari mulut wanita di dalam kamar itu seolah-olah sedang menjahit kembali kepingan ingatannya yang hancur.
Nadine terus mengaji, kini ia sampai pada ayat tentang pertemuan. Suaranya sedikit bergetar karena ia juga sedang menahan tangis, merindukan saat-saat ia dan Aditya mengaji bersama setelah shalat tahajjud di ruko dulu.
Aditya perlahan mendekati pintu kamar yang tidak tertutup rapat itu. Tangannya gemetar saat hendak mendorong pintu. Ia ingin melihat siapa sebenarnya Mona ini. Apakah benar dia hanya pelayan kusam, ataukah dia adalah pemilik suara yang jiwanya cari selama ini?
Tiba-tiba, Nadine berhenti mengaji karena mendengar gesekan halus di depan pintunya. Ia menoleh dengan cepat.
"Siapa di sana?" tanya Nadine, suaranya kembali berubah menjadi suara Mona yang rendah.
Aditya membeku. Ia segera menarik tangannya kembali. Ia merasa malu jika tertangkap basah sedang mengintip pelayannya di tengah malam. Ia segera berbalik dan berjalan cepat menuju dispenser air, mencoba bersikap seolah-olah ia baru saja sampai di dapur.
"Ini aku," sahut Aditya dengan suara baritonnya yang berat, mencoba menutupi kegugupannya, Aditya tidak menoleh sedikitpun... ia terus mengisi air dalam gelasnya sampai penuh, dan meminumnya sambil berdiri hingga tandas untuk menghilangkan kegugupannya... kebiasaan Aditya setelah berpisah dengan sang istri, berbeda dulu saat ia masih bersama dengan Nadine... ia belajar adab meminum dan makan sambil duduk.
Nadine tersentak. Ia segera mengenakan kacamatanya dan merapikan mukenanya yang sedikit berantakan. Ia keluar dari kamar dengan kepala menunduk. "Tuan Muda? Maafkan saya, apa saya mengganggu tidur Tuan dengan suara saya?"
Aditya berdiri memegang gelas kosong..., menatap Nadine dengan tatapan yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada kejengkelan, hanya ada rasa penasaran yang mendalam dan kesedihan yang tak terjelaskan.
"Kamu... apa yang kamu baca tadi?" tanya Aditya, suaranya serak.
"Hanya... hafalan lama dari kampung, Tuan,...saya sedang mengaji" jawab Nadine pelan.
Aditya berjalan mendekati Nadine, hingga jarak mereka hanya satu langkah. "Kenapa suaramu saat mengaji sangat berbeda dengan suaramu saat bicara padaku? Dan kenapa... kenapa setiap kali aku mendengarmu, aku merasa seperti sedang pulang ke rumah yang sudah lama hilang?"
Nadine mengepalkan tangannya di balik mukena. "Mungkin Tuan Muda hanya merindukan kedamaian. Al-Qur'an memang obat bagi jiwa yang lelah."
Aditya menatap mata Nadine di balik kacamata tebal itu. Untuk sesaat, ia seolah melihat kilatan air mata di sana. Ia ingin sekali membuka kacamata itu, namun harga dirinya sebagai majikan menahannya.
"Besok malam... mengajilah lagi," perintah Aditya, suaranya kini melembut, hampir memohon. "Suaramu... adalah satu-satunya hal yang membuat kepalaku berhenti sakit."
Aditya berlalu pergi dengan gelas air yang masih penuh, meninggalkan Nadine yang luruh ke lantai dapur, menangis sejadi-jadinya karena tahu bahwa sedikit demi sedikit, dinding amnesia Aditya mulai retak oleh firman Tuhan...
___
Nadine tahu bahwa usahanya tidak boleh hanya berhenti pada masakan dan lantunan ayat suci. Ia harus berikhtiar secara lahiriah. Nadine menghubungi ning Laila untuk meminta bantuan untuk menyembuhkan amnesia suaminya yang sementara.... Nadine tahu kalau ibu Ning Laila sangat ahli dalam pengobatan thibbun nabawi dan herbalisme di pesantren kyai rahman yang berada di Jawa Tengah.
Keesokan harinya, Joy menyelipkan sebuah paket kecil berisi botol kaca gelap dan bungkusan akar-akaran ke dalam kantong belanjaan dapur yang dibawa Nadine. Di dalamnya terselip secarik kertas bertuliskan doa kesembuhan.
___
Tengah malam, saat seluruh penghuni mansion sudah terlelap, Nadine berdiri di dapur kotor. Ia merebus racikan dari Ning Laila, campuran madu yaman murni, serbuk habbatussauda grade A, rempah untuk saraf otak, dan tetesan minyak zaitun yang sudah dibacakan doa-doa Ning Laila.
Aroma herbal yang menenangkan menguar tipis. Nadine mengaduknya dengan penuh cinta, air matanya menetes ke dalam uap ramuan itu.
"Ya Allah, Engkau yang menciptakan setiap sel di otak suamiku. Jika ada saraf yang terputus oleh trauma, sambungkanlah kembali dengan rahmat-Mu. Jadikan ramuan ini perantara hidayah-Mu agar ia ingat siapa dirinya," bisik Nadine lirih...
Setiap satu adukan , maka Nadine akan bersholawat....ia tak putus-putusnya berdoa demi kesembuhan sang suami, bayangan Noah setiap tidur memanggil-manggil ayahnya terngiang-ngiang di pikirannya,dan itu membuatnya sakit...
" sabar ya nak, insyaallah...kita akan segera berkumpul" gumamnya dalam hati.