Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Bertemu Lagi
Matahari sore menyengat pelataran parkir Metropolia International School, sebuah mobil Rolls-Royce Boat Tail edisi terbatas yang terparkir tepat di depan gerbang utama. Mobil itu berkilau, memantulkan cahaya yang menyilaukan mata siapa pun yang lewat. Di sekolah tempat anak-anak konglomerat bernaung ini, mobil mewah adalah pemandangan biasa, namun kendaraan ini berada di level yang berbeda.
Saat bel pulang berdentang, Sierra melangkah keluar gerbang dengan tas yang di bahu. Wajahnya datar, hampir tanpa emosi. Langkahnya terhenti ketika seorang pria berpakaian rapi keluar dari kursi kemudi Rolls-Royce tersebut, sengaja mencegat jalurnya.
Sierra menatap pria asing itu dengan tatapan sedingin es. Ia tidak mengenal pria ini, namun pria di depannya justru menyunggingkan senyum ramah.
"Apa kau Sierra? Aku James," ujar pria itu, suaranya tenang namun berwibawa. "Apa kau ingat kita pernah bicara di telepon sebelumnya?"
Seketika, kepingan memori di Cragstone berputar di kepala Sierra. Sierra menyipitkan mata.
"Apa maumu?" tanya Sierra tanpa basa-basi.
"Adrian ingin bicara denganmu. Masuklah," jawab James sambil membukakan pintu penumpang belakang dengan gerakan hormat.
Tanpa keraguan atau rasa takut sedikit pun, Sierra melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang aromanya sewangi kulit mahal.
Di sudut gerbang, Nora dan gengnya terpaku. Mulut mereka setengah terbuka menyaksikan pemandangan yang mustahil itu.
"Lihat itu... Sierra baru saja kembali ke Metropolia dan dia sudah punya sugar daddy?" bisik salah satu teman Nora dengan nada sinis.
Nora mengepalkan tangan, matanya memicing mencoba melihat sosok pria yang bersama Sierra. Namun, posisi James yang membelakangi mereka membuat mereka tidak bisa melihat jelas wajahnya. Mereka hanya bisa melihat wajah Sierra sebelum pintu mobil tertutup rapat.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Nora tahu Sierra yang memiliki kepribadian yang kaku dan dingin, bukan tipe gadis yang akan merayu pria demi harta. Namun, egonya menolak mentah-mentah kemungkinan jika Sierra ternyata memiliki koneksi dengan pria yang jauh lebih hebat, lebih kaya, dan lebih berkuasa daripada Felix, mantan kekasih Sierra yang selama ini menjadi standarnya.
"Apa mungkin dia benar jual diri sejak tinggal di Cragstone? Kalau tidak mana mungkin kan anak usia 15 tahun bertahan hidup sendiri tanpa uang sepeserpun," gumam Nora tajam, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Di dalam mobil, suasana terasa tenang. Di kursi belakang yang luas, duduklah seorang pria dengan setelan jas hitamnya, Adrian Blackwood. Pria itu memberikan senyum tipis pada Sierra.
James yang sudah duduk di kursi depan kemudian menoleh ke belakang. "Aku belum memperkenalkan diriku secara resmi. Namaku James Harrington, saat ini aku menjadi asisten dan tangan kanan Adrian di Blackwood Group."
"Hm. Aku Sierra Moore," jawabnya singkat. Ia kemudian beralih menatap Adrian, meneliti pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau masih hidup rupanya. Kau pendarahan cukup parah malam itu. Kau benar-benar beruntung"
Adrian membalas tatapannya, ada binar ketertarikan di matanya yang gelap. "Aku memang beruntung bertemu denganmu. Ngomong-ngomong dokter yang memeriksaku berkata kemampuan medismu sangat baik. Apa kau pernah belajar soal itu?"
Sierra mengedikkan bahu ringan. "Hm... Aku belajar lewat praktik langsung bersama berbagai macam dokter, termasuk dokter hewan. Apa kemampuanku sebagus itu? Aku memang sering menerima pujian kalau aku jenius dan cepat dalam mempelajari hal baru."
Adrian terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada menyelidik, "Apa kau juga diajari cara mengeluarkan peluru?"
"Tidak pernah," jawab Sierra jujur. "Sebenarnya aku hanya coba-coba saja. Toh kau sudah pendarahan parah. Kalau didiamkan, kau juga akhirnya bisa mati, jadi tidak ada salahnya dicoba, kan?"
Hening.
Suasana kabin seketika menjadi sangat sunyi. James yang memegang kemudi harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha mati-matian menahan tawa agar tidak meledak di depan Adrian, sahabat sekaligus bosnya yang baru saja disamakan dengan kelinci percobaan.
"Hei. Turunkan aku di sana," Sierra menunjuk sebuah persimpangan. "Aku bisa jalan kaki sendiri ke rumah."
Adrian memberi isyarat pada James, dan mobil pun melambat hingga berhenti di tepi jalan. Sebelum Sierra membuka pintu, suara berat Adrian kembali terdengar.
"Bagaimana cara aku membayarmu? Kau sudah menolongku."
"Tidak perlu," sahut Sierra datar. "Tidak ada yang aku butuhkan sekarang."
Adrian menaikkan satu alisnya. "Kau yakin tidak butuh bantuanku sama sekali? Apa kau tahu siapa aku?"
"Adrian Blackwood, kan?" Sierra menyebut nama itu seolah itu hanyalah nama penjual toko kelontong.
"Apa kau yakin tidak menginginkan apapun dariku?" tanya Adrian sekali lagi, memastikan.
"Tidak."
Tanpa menoleh lagi, Sierra keluar dari mobil dan menutup pintunya. Ia berjalan menjauh dengan langkah santai, meninggalkan Rolls-Royce bernilai jutaan dolar itu di belakangnya.
Tawa James akhirnya pecah begitu Sierra menghilang dari pandangan. "Hahaha! Benar-benar gadis yang unik! Apa karena dia terlalu muda jadi dia sama sekali tidak tertarik padamu? Aku pikir setidaknya dia akan meminta bantuanmu untuk membersihkan rumor buruk tentangnya."
Adrian menyandarkan punggungnya, matanya masih menatap ke arah Sierra pergi. "Menarik," gumamnya pendek.
Tawa James terhenti. Ia menoleh dengan wajah terkejut. "Iya, dia benar-benar gadis yang menarik... Eh? Apa ini sebuah pujian? Aku baru kali ini mendengarmu memuji wanita secara langsung. Yah, aku akui dia memang cantik, tapi bukankah dia terlalu muda untukmu, Bos?"
Adrian tidak langsung menjawab. Ia justru menatap James dengan pandangan yang membuat asistennya itu salah tingkah. "Bagaimana denganmu sendiri?"
"Memangnya aku kenapa?" James mencoba bersikap santai.
"Jangan kau pikir aku buta. Aku bisa melihat kau tertarik pada Anastasia," sindir Adrian telak.
Wajah James seketika berubah merah padam hingga ke telinga. Ia berdeham keras, memalingkan wajah ke depan dan mendadak sibuk dengan kemudi. "Hah? Anastasia? Aku tidak mengerti apa maksudmu, Bos. Sepertinya pendarahan kemarin membuat halusinasi Anda meningkat."
Adrian hanya mendengus pelan, membiarkan asistennya itu bergelut dengan rasa malunya sendiri, sementara pikirannya masih tertuju pada gadis jenius yang baru saja meninggalkannya tanpa menoleh sedikit pun.