NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 KPI

Amplop itu ada di meja makanku Sabtu pagi.

Bukan di meja kerja — di meja makan, di tempat dudukku yang sudah jadi tempat dudukku tanpa ada yang secara resmi menetapkan bahwa itu tempat dudukku, di sebelah cangkir kopi yang masih mengepul yang berarti Revano sudah bangun lebih awal dari biasanya dan menyiapkan ini sebelum pergi.

Amplop putih bersih. Tidak ada nama di luarnya. Hanya amplop.

Aku meletakkan toast-ku, mengambil amplop itu, dan membukanya.

Tiga lembar kertas.

Bukan dokumen hukum — tidak ada kop surat, tidak ada bahasa formal yang biasa ada di surat resmi. Tapi formatnya terstruktur dengan cara yang sangat khas: header di atas, poin-poin bernomor, sub-poin, kolom keterangan di sisi kanan.

Di header tertulis: Evaluasi Bulan Pertama — Ringkasan Operasional.

Aku membacanya.

Lembar pertama: daftar acara publik yang sudah dihadiri selama empat minggu. Gala dinner, makan siang keluarga, satu acara bisnis informal yang tidak terasa besar pada waktunya tapi rupanya dicatat di sini. Di sebelah setiap acara ada kolom: respons publik, konsistensi narasi, catatan.

Di kolom catatan gala dinner: respons positif dari Hartono dan tim, percakapan organik yang melampaui ekspektasi, satu momen hampir jatuh — tertangani.

Di kolom catatan makan siang keluarga: insiden informasi retreat — perlu perbaikan koordinasi internal. Respons situasi memuaskan.

Aku membaca kalimat terakhir itu dua kali. Respons situasi memuaskan. Tentang momen Ibu Helena menanyakan retreat yang tidak aku ketahui — yang seminggu lalu jadi pertengkaran pertama kami yang serius — dinilai sebagai memuaskan.

Lembar kedua: area yang perlu ditingkatkan. Tiga poin. Pertama, koordinasi jadwal — sudah diatasi dengan kalender bersama. Kedua, pengenalan konteks keluarga Aldrich yang lebih mendalam sebelum acara berikutnya. Ketiga — dan ini yang membuatku berhenti:

Pihak Kedua menunjukkan kecenderungan untuk memproses situasi secara mandiri tanpa mengkomunikasikan ke Pihak Pertama. Disarankan peningkatan frekuensi pertukaran informasi harian untuk antisipasi lebih baik.

Aku menatap kalimat itu.

Lembar ketiga: proyeksi bulan kedua. Acara yang sudah terjadwal, konteks yang perlu dipahami, dan di baris paling bawah — angka. Satu angka dengan label: Skor Kepuasan Kolega Kunci: 8.2/10.

Ada yang menilai pernikahan kami. Dengan angka.

Aku meletakkan tiga lembar kertas itu kembali di meja dengan gerakan yang lebih terkontrol dari yang aku rasakan di dalamnya, minum kopi yang sudah mulai dingin, dan menatap toast yang sudah tidak menarik lagi selera makanku.

Revano kembali pukul sepuluh.

Aku masih di ruang makan — bukan karena tidak ada yang bisa dikerjakan, tapi karena kadang menunggu lebih efisien dari mencari orang di tempat yang tidak ada.

Dia masuk dengan kantong dari toko roti di bawah — bukan kebiasaan yang biasa, tapi bukan pertama kalinya juga. Meletakkan kantong di counter dapur. Melihat aku di meja makan dengan tiga lembar kertas di depanku.

Sesuatu di wajahnya bergerak sedikit. Bukan kaget — lebih seperti orang yang sudah memperkirakan reaksi dan sedang mengkalibrasi apakah perkiraannya tepat.

"Sudah baca," katanya. Bukan pertanyaan.

"Sudah." Aku menunjuk kursi di seberangku. "Duduk."

Dia duduk. Mengambil salah satu lembar kertas, melihatnya sebentar — bukan membaca ulang, tapi seperti memverifikasi halaman mana yang sedang jadi konteks.

"Ada yang perlu diklarifikasi?"

"Banyak." Aku menatapnya langsung. "Tapi mulai dari yang paling dasar dulu." Aku mengetuk lembar ketiga dengan satu jari. "Kamu menilai pernikahan kita pakai KPI."

"Kontrak," koreksinya. Otomatis, langsung, seperti kata itu sudah menunggu di ujung lidahnya sebelum kalimatku selesai.

"Apa?"

"Bukan pernikahan. Kontrak." Dikatakan dengan nada yang sama ratanya dengan semua kalimat lain yang pernah keluar darinya — datar, tidak defensif, tidak emosional. Hanya koreksi yang disampaikan sebagai fakta karena baginya memang itu fungsinya. "Kontrak yang perlu dievaluasi untuk memastikan berjalan sesuai tujuan."

Aku menatapnya.

Ada kalimat-kalimat yang, ketika diucapkan, terasa seperti benda fisik yang meninggalkan bekas — bukan karena keras atau kasar, tapi karena tepat sasaran di tempat yang tidak tahu sedang terbuka. Kalimat tadi adalah salah satunya.

Bukan pernikahan. Kontrak.

Aku sudah tahu ini dari awal. Aku yang menandatangani dokumennya. Aku yang membaca empat puluh tujuh halamannya sampai selesai. Aku yang memilih untuk masuk dengan mata terbuka dan ekspektasi yang sudah dikalibrasi untuk tidak mengharapkan lebih dari yang tertulis.

Tapi mendengarnya diucapkan — dengan cara yang tidak meninggalkan ruang untuk interpretasi lain, tepat di Sabtu pagi di meja makan yang sudah mulai terasa seperti meja makan sendiri — terasa berbeda dari membacanya di halaman satu dokumen hukum enam minggu lalu.

"Aku tahu itu kontrak," kataku. Suaraku keluar lebih pelan dari yang kurencanakan. "Aku yang ada di sana waktu ditandatangani."

"Maka evaluasi ini adalah bagian normal dari—"

"Revano." Aku menghentikannya. Bukan dengan keras — tapi dengan cara yang cukup untuk membuat dia berhenti. "Aku tidak mempertanyakan logikanya. Aku paham kenapa kamu melakukan ini. Sistematis, terukur, memastikan semuanya berjalan sesuai tujuan." Aku menatap tiga lembar itu. "Yang aku pertanyakan adalah apakah kamu pernah berhenti sebentar dan menyadari bahwa cara ini — mengevaluasi orang yang tinggal serumah denganmu dengan skor dan kolom catatan — adalah sesuatu yang tidak bisa dirasakan netral oleh pihak yang dievaluasi?"

Hening.

Revano menatap mejanya. Bukan menghindari — lebih seperti memproses dengan cara yang memerlukan beberapa detik lebih dari biasanya.

"Tujuannya bukan untuk—"

"Aku tahu tujuannya." Aku menyandarkan punggung ke kursi. "Tujuannya baik. Kamu mau memastikan semuanya berjalan. Itu tidak salah." Jeda. "Tapi ada perbedaan antara mengelola kontrak dan mengelola orang. Dan kamu tidak bisa memperlakukan keduanya dengan cara yang persis sama tanpa ada yang terasa off."

Revano tidak menjawab langsung.

Di luar jendela, Jakarta Sabtu pagi bergerak dengan ritme yang lebih lambat dari hari kerja — lalu lintas yang tidak terburu-buru, suara yang tidak setajam biasanya. Kontras yang tidak aku minta tapi ada.

"Poin ketiga di lembar kedua," kataku akhirnya — lebih pelan, lebih ke arah mencoba mengerti daripada mempertahankan sesuatu. "Yang tentang aku memproses situasi secara mandiri tanpa mengkomunikasikan ke kamu." Aku menatapnya. "Itu observasi yang akurat. Tapi pernahkah terpikir bahwa aku melakukannya karena tidak yakin apakah kamu ingin tahu?"

Revano mengangkat matanya.

"Kamu tidak pernah bertanya," lanjutku. "Tentang bagaimana hariku, tentang apa yang aku pikirkan, tentang apakah ada yang mengganggu. Informasi yang kamu punya tentang aku hampir semuanya dari observasi atau dari konteks acara yang memang mengharuskan kami berinteraksi." Aku menunjuk poin ketiga itu. "Jadi kalau aku tidak mengkomunikasikan — sebagian karena belum tahu apakah ada pintu yang terbuka untuk itu."

Hening yang lebih panjang dari sebelumnya.

Revano menatapku dengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya — bukan penilaian, bukan kalkulasi, tapi sesuatu yang lebih dekat ke ketidaknyamanan yang genuine. Jenis ketidaknyamanan yang muncul ketika seseorang diberikan cermin dan melihat sesuatu di dalamnya yang tidak sepenuhnya dia antisipasi.

"Aku tidak tahu bahwa pintu itu perlu dibuka secara eksplisit," katanya akhirnya.

"Aku juga tidak tahu bahwa kamu menginginkannya." Aku mengambil lembar pertama, melipatnya kembali. "Itu yang aku maksud dengan perbedaan antara mengelola kontrak dan mengelola orang. Kontrak tidak perlu tahu bahwa pintu harus dibuka. Orang perlu."

Revano diam cukup lama.

Bukan diam yang menolak — diam yang sedang mengerjakan sesuatu di dalamnya, yang dari luar tidak bisa dilihat prosesnya tapi bisa dirasakan sedang berlangsung dari cara bahunya sedikit turun dari ketegangan default-nya.

"Evaluasi ini tidak tepat caranya," katanya akhirnya.

Bukan permintaan maaf. Tapi pengakuan yang disampaikan langsung tanpa pembungkus.

"Tidak," setujuku.

"Aku akan—" dia berhenti sebentar, memilih kata, "—tidak mengulanginya dalam format ini."

"Terima kasih."

Hening lagi. Tapi kali ini berbeda — lebih ringan di tepinya, seperti sesuatu yang tadinya tegang sudah sedikit melepaskan dirinya.

"Poin ketiga di lembar kedua," kata Revano. Aku menatapnya. "Yang tentang komunikasi harian." Dia meraih kantong roti di counter — berdiri, membuka kantongnya, meletakkan dua croissant di piring kecil yang diambil dari laci dengan cara yang hapal otot. Lalu kembali ke meja, meletakkan piring di tengah. "Itu tetap valid. Tidak sebagai evaluasi. Tapi sebagai — sesuatu yang perlu diperbaiki dari kedua pihak."

Aku menatap dua croissant di piring kecil di antara kami.

Lalu menatapnya.

"Kamu beli roti pagi ini," kataku.

"Toko di bawah buka pukul delapan."

"Kamu keluar pukul berapa tadi?"

"Tujuh lima puluh."

Artinya dia menunggu sepuluh menit di depan toko roti yang belum buka demi croissant yang sekarang ada di piring kecil di antara kami di meja yang tadinya jadi tempat percakapan yang tidak nyaman.

Ada cara-cara tertentu seseorang menyampaikan sesuatu yang tidak bisa dikatakan langsung. Dan kadang cara itu berbentuk dua croissant di piring kecil yang diletakkan di meja tanpa penjelasan.

"Revano," kataku pelan.

"Hm."

"Mulai sekarang — kalau kamu ingin tahu sesuatu tentang aku, tanya langsung. Aku akan menjawab kalau bisa menjawab."

Dia menatapku. Sesuatu di matanya bergerak — sangat halus, sangat cepat.

"Dan kalau aku tidak bisa menjawab sekarang," lanjutku, "aku akan bilang belum bisa, bukan diam."

Jeda yang tidak terlalu panjang.

"Baik," katanya. "Hal yang sama berlaku dari pihakku."

Aku mengambil satu croissant.

"Deal," kataku.

Kami makan croissant di meja makan yang sama, di Sabtu pagi yang sama, dengan tiga lembar kertas evaluasi yang sudah dilipat di sudut meja dan tidak ada yang memindahkannya tapi juga tidak ada yang membacanya lagi.

Percakapan yang menyusul tidak panjang — tapi ada. Tentang rencana hari ini, tentang proyek yang sedang aku kerjakan, tentang satu detail retreat keluarga yang masih belum dikonfirmasi.

Hal-hal yang konkret. Yang ada jawabannya.

Tapi di bawah semua yang konkret itu, ada sesuatu yang bergeser — tidak dramatis, tidak bisa ditunjuk ke satu momen yang spesifik, tapi bergeser dengan cara yang membuat posisi setelahnya sedikit berbeda dari sebelumnya.

Seperti dua orang yang baru belajar bahwa berjalan di ruang yang sama tidak harus berarti berjalan di jalur yang tidak pernah bersilangan.

Sebelum aku selesai menghabiskan croissant, Revano berkata — tanpa melihat ke arahku, ke arah jendela — sesuatu yang kecil tapi tidak kecil:

"Pagi ini, sebelum kamu turun sarapan — aku sempat ragu apakah evaluasi itu ide yang baik."

Aku berhenti mengunyah.

"Tapi aku tetap meletakkannya di sana."

"Kenapa?"

Dia akhirnya menatapku. "Karena tidak meletakkannya berarti terus berasumsi bahwa sistemnya berjalan tanpa perlu diperiksa. Dan sistem yang tidak diperiksa biasanya menghasilkan masalah di tempat yang tidak terduga."

Logika yang sangat Revano. Sampai ke ujungnya yang terakhir.

"Dan sekarang?" tanyaku.

"Sekarang aku tahu bahwa sistem yang perlu diperiksa tidak selalu perlu diperiksa dengan cara yang sama dengan sistem lainnya." Satu jeda kecil. "Pelajaran yang terlambat satu Sabtu pagi."

Aku menatapnya — pria yang baru saja, dengan caranya yang tidak menggunakan satu pun kata yang mengandung penyesalan atau kerentanan secara eksplisit, menyampaikan keduanya dengan sangat jelas.

"Tidak terlambat," kataku. "Tepat waktu."

Dan itu — untuk Sabtu pagi di akhir bulan pertama yang tidak berjalan seperti yang aku bayangkan tapi mungkin berjalan seperti yang diperlukan — sudah lebih dari cukup.

— Selesai Bab 20 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!