Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jejak
Permukaan Samudera Hindia menyambut The Seeker dengan deburan ombak yang jauh lebih tenang daripada saat Adam menyelam tadi. Langit ungu neon yang mengerikan itu telah digantikan oleh semburat jingga fajar yang membelah cakrawala. Namun, bagi Adam, keindahan itu terasa semu. Ia tahu bahwa di balik ketenangan ini, sebuah ekosistem kekuasaan sedang berguncang hebat karena perbuatannya.
Adam duduk di kursi kemudi yang basah oleh keringat dan sisa air laut. Di tangannya, ia menggenggam data drive perak yang ia ambil dari jantung The Anchor. Benda kecil itu terasa sangat berat, seolah memikul beban dosa seluruh umat manusia.
"Liora... kau di sana?" Adam mencoba menghidupkan kembali pemancar radio cadangan.
Hanya ada suara statis. Kosong. Keheningan itu mencekik lehernya lebih kuat daripada tekanan air di kedalaman tadi. Ia teringat tatapan terakhir Liora di dermaga. Jika Liora tertangkap, ia kini berada di tangan orang-orang yang tidak lagi mengenal rasa iba—orang-orang yang baru saja kehilangan mainan termahal mereka.
Tiba-tiba, layar monitor The Seeker menangkap sebuah sinyal aneh. Bukan dari daratan, melainkan dari koordinat yang bergerak cepat di atas air. Sebuah kapal induk siluman milik The Hage emon sedang menyisir area tersebut. Mereka tidak akan membiarkan saksi hidup seperti Adam berkeliaran.
"Aku tidak bisa kembali ke Singapura," gumam Adam. "Aku bahkan tidak bisa kembali ke tanah air."
Ia memasukkan data drive itu ke dalam pembaca data darurat di kapal selam. Sebuah peta holografik muncul di udara kabin yang sempit. Peta itu tidak menampilkan benua yang kita kenal. Di sana, di bagian paling bawah bumi, Antartika nampak bukan sebagai hamparan es kosong, melainkan sebuah wilayah yang dipenuhi dengan titik-titik anomali termal.
Salah satu titik itu diberi label: "STATION ZERO: THE SEED OF ORIGIN."
Di bawah label itu, terdapat catatan kaki yang ditulis dalam kode yang hanya bisa dipahami oleh arsitek tingkat tinggi: "Jika Jangkar dilepaskan, Benih harus segera diaktifkan. Lokasi: Di bawah Lapisan Es Ross, koordinat terenkripsi."
"Benih?" Adam mengerutkan kening. "Jadi mereka punya rencana cadangan."
Pikirannya berputar cepat. Jika The Anchor adalah alat untuk mengontrol populasi melalui frekuensi, maka Station Zero di Antartika kemungkinan besar adalah tempat di mana mereka menyimpan "cetak biru" kehidupan yang mereka inginkan. Mereka tidak hanya ingin menguasai kematian; mereka ingin memonopoli penciptaan.
Saat itulah, Adam menyadari bahwa perjalanannya ke Antartika bukan sekadar misi pelarian, melainkan misi sabotase terakhir. Namun, bagaimana caranya seorang buronan internasional bisa mencapai ujung dunia tanpa terdeteksi oleh satelit?
Ia teringat pesan Hendrawan: "Carilah suara yang tak terdengar."
Adam mengarahkan The Seeker menuju sebuah pulau kecil tak berpenghuni di Kepulauan Nik.obar. Di sana, ia tahu ada sebuah pangkalan bawah laut kuno peninggalan era Perang Dingin yang sudah lama ditinggalkan dan tidak terdaftar di sistem Ate gard. Pangkalan itu adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa mengganti "identitas" kapal selamnya.
Selama perjalanan dua jam menuju pulau itu, Adam mulai membuka isi berkas di dalam data drive. Apa yang ia temukan membuatnya mual.
Ada rekaman video berdurasi singkat. Video itu menunjukkan sebuah penggalian di Antartika pada tahun 2024. Di balik dinding es yang transparan, nampak sesuatu yang menyerupai rahim raksasa berbahan logam organik. Di dalamnya, ada ribuan janin manusia yang nampak tidak tumbuh secara alami. Mereka memiliki tanda-tanda modifikasi genetik mata yang lebih besar untuk melihat dalam gelap, dan susunan saraf yang dirancang untuk menerima perintah langsung melalui gelombang elektromagnetik.
"Mereka bukan sedang menyelamatkan manusia," bisik Adam, tangannya gemetar. "Mereka sedang memproduksi 'manusia baru' yang tidak punya kehendak bebas. Budak organik yang sempurna."
Adam menyadari bahwa kiamat yang direncanakan para elit itu bukan tentang kehancuran total, melainkan tentang penggantian. Mereka ingin menghapus manusia lama yang "berisik" dan "sulit diatur" (seperti kata Silas) dan menggantinya dengan ras baru yang hanya bisa patuh.
Dan semua itu dikendalikan dari Antartika.
Tiba-tiba, sebuah dentuman keras menghantam lambung luar kapal selam. The Seeker terguncang hebat.
"Peringatan: Deteksi Torpedo Akustik!" suara sistem otomatis berteriak.
Adam melihat ke layar sonar. Sebuah kapal selam penyerang kelas-kini sedang berada tepat di belakangnya. Mereka sudah menemukannya.
"Silas mungkin sudah mati secara digital, tapi sistemnya masih bekerja secara otomatis," umpat Adam.
Ia mematikan semua mesin, membiarkan kapal selamnya melayang diam di dalam arus laut. Ia menggunakan teknik lama: Silent Running. Ia mematikan oksigen tambahan, membiarkan kabin mendingin hingga titik beku agar tanda panasnya hilang dari sensor musuh.
Di dalam kesunyian yang membekukan itu, Adam duduk dalam kegelapan. Ia bisa mendengar suara baling-baling kapal selam musuh yang melintas tepat di atasnya. Suaranya seperti raksasa yang sedang mendengkur. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha menenangkan pikirannya. Ia mulai berzikir, mencari frekuensi batin yang paling tenang sesuai yang diajarkan ayahnya.
Entah bagaimana, saat pikirannya menjadi tenang, sensor musuh nampak kehilangan jejaknya. Kapal selam itu berputar-putar sejenak lalu menjauh, mengira The Seeker telah tenggelam ke jurang yang lebih dalam.
Adam menarik napas lega saat suara baling-baling itu menghilang. Ia menyalakan mesin kecilnya kembali dan perlahan merayap menuju pulau tujuannya.
Di pulau itu, di dalam pangkalan tua yang berlumut, Adam menemukan sebuah pesawat kargo tua yang sudah dimodifikasi dengan teknologi siluman primitif menggunakan cat penyerap gelombang radar yang tidak bisa dikenali oleh satelit modern. Pesawat itu milik organisasi perlawanan yang selama ini dibantu oleh Hendrawan secara diam-diam.
Di dalam kokpit pesawat itu, Adam menemukan sebuah surat fisik yang diletakkan di atas kursi pilot. Surat itu bertanda tangan: L.
"Adam, jika kau membaca ini, berarti kau berhasil keluar dari laut. Jangan cari aku. Aku sudah masuk ke dalam sistem mereka sebagai 'trojan'. Fokuslah pada Antartika. Mereka akan mengaktifkan 'Benih' dalam 48 jam. Jika kau tidak menghentikannya di sana, perjuangan kita di laut akan sia-sia. Kuncinya bukan pada kode komputer, tapi pada frekuensi kemurnian hati. Jangan biarkan mereka mencuri kemanusiaanmu. - L"
Adam meremas surat itu. Liora sengaja membiarkan dirinya ditangkap agar perhatian The Hage emon teralihkan padanya, memberi Adam waktu untuk mencapai Antartika.
"Terima kasih, Liora," bisik Adam.
Ia menyalakan mesin pesawat tua itu. Suara derunya terdengar kasar, sangat berbeda dengan keheningan teknologi elit. Namun bagi Adam, suara ini adalah suara kebebasan.
Ia memacu pesawat itu di atas landasan pendek yang dikelilingi hutan lebat, lalu terbang rendah di atas permukaan air untuk menghindari radar jarak jauh. Tujuannya adalah titik paling selatan di peta dunia. Tempat di mana rahasia penciptaan sedang disandera oleh mereka yang merasa memiliki bumi.
Di bawahnya, samudera luas nampak tak berujung. Namun di depan sana, badai salju abadi sedang menunggunya. Adam Satria, sang utusan yang kini benar-benar tak terdeteksi, terbang menuju jantung es, membawa satu-satunya harapan bagi manusia yang masih ingin memiliki jiwa.