Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: GERBANG SEKTE
Perjalanan menuju markas Sekte Iblis memakan waktu lima hari.
Mereka melewati hutan lebat, menyeberangi sungai deras, dan mendaki pegunungan yang semakin lama semakin tandus. Semakin dekat dengan tujuan, semakin aneh pemandangan di sekitar. Pepohonan meranggas, tanah berwarna kemerahan seperti terbakar, dan langit selalu tertutup awan kelabu yang tidak pernah pergi.
"Kita sudah memasuki wilayah kekuasaan Sekte Iblis," kata Jang Cheon-soo suatu sore. "Mulai sekarang, hati-hati. Banyak mata-mata di sekitar."
Ha-neul mengamati sekeliling. Ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda—udara terasa berat, seperti ada tekanan tak terlihat. Di dalam cincin, Hyeol-geon juga waspada.
"Aku bisa merasakan energi jahat di sini," bisiknya. "Orang-orang ini sudah terlalu dalam mempraktikkan ilmu terlarang."
Mereka berjalan melewati desa-desa kecil yang penduduknya tampak ketakutan. Ketika melihat rombongan Ha-neul, mereka menunduk dan menjauh. Beberapa anak kecil mengintip dari balik pintu, lalu ditarik masuk oleh orang tua mereka.
"Ini semua desa budak," jelas Jang Cheon-soo. "Penduduknya kerja paksa untuk Sekte. Yang melawan akan dihukum mati."
Ha-neul menggertakkan gigi. Kekejaman Sekte Iblis sudah ia dengar, tapi melihat langsung lebih mengerikan.
---
Hari kelima, mereka tiba di kaki gunung tempat markas Sekte Iblis berdiri.
Gunung itu menjulang tinggi, puncaknya tertutup awan hitam yang bergolak. Di lerengnya, terlihat bangunan-bangunan megah bergaya arsitektur gelap—menara-menara runcing, dinding batu hitam, dan patung-patung naga berkepala tiga. Dari kejauhan, terdengar suara gemuruh seperti air terjun, tapi Ha-neul curiga itu bukan air terjun biasa.
"Gerbang utama ada di atas sana," Jang Cheon-soo menunjuk. "Tapi kita tidak akan masuk lewat sana. Kau harus masuk sebagai peserta turnamen. Aku punya kontak di dalam yang akan mengurus pendaftaranmu."
Mereka beristirahat di sebuah perkemahan bawah tanah yang sudah disiapkan Jang Cheon-soo. Di sana, Ha-neul berganti pakaian—jubah hitam sederhana, tanpa atribut yang mencolok. Wajahnya juga sedikit diubah dengan riasan tipis agar tidak terlalu mirip dengan dirinya yang dulu.
"Namamu selama di dalam adalah Kang Woo." Jang Cheon-soo menyerahkan dokumen palsu. "Asal dari desa terpencil di timur, belajar bela diri secara otodidak. Tidak punya afiliasi dengan klan mana pun."
Ha-neul menerima dokumen itu, membacanya sekilas. "Berapa lama aku harus di dalam?"
"Turnamen berlangsung seminggu. Tergantung sejauh mana kau melaju. Semakin tinggi peringkatmu, semakin banyak akses yang kau dapat. Tapi hati-hati—jangan terlalu menonjol. Cukup menang, tapi jangan sampai menarik perhatian pemimpin sekte."
Ha-neul mengangguk. Ia sudah punya rencana dalam kepalanya.
---
Keesokan paginya, Ha-neul berjalan sendirian menuju gerbang Sekte Iblis.
Jalan menanjak berkelok, diapit tebing-tebing tinggi. Di beberapa titik, ia melewati pos-pos penjagaan dengan prajurit bersenjata lengkap. Setiap kali, ia menunjukkan dokumen pendaftaran turnamen, dan mereka membiarkannya lewat setelah memeriksa dengan teliti.
Semakin tinggi ia mendaki, semakin terasa berat udaranya. Ha-neul bisa merasakan energi aneh merambat di kulitnya—seperti ribuan semut berjalan. Ia tahu itu adalah efek dari teknik terlarang yang dipraktikkan di sekte ini.
Akhirnya, ia tiba di gerbang utama.
Dua patung raksasa berbentuk iblis bersayap menjulang di kiri-kanan pintu gerbang. Pintu besi hitam itu terbuka lebar, menjanjikan sesuatu di dalam. Di depan pintu, puluhan orang mengantre—mereka semua calon peserta turnamen, dengan berbagai latar belakang. Ada yang berpakaian compang-camping seperti petani, ada yang berjubah bagus seperti bangsawan, ada yang membawa senjata aneh, ada yang hanya bertangan kosong.
Ha-neul mengambil tempat di belakang antrean. Ia mengamati orang-orang di sekitarnya—ada yang gugup, ada yang percaya diri, ada yang matanya kosong seperti zombie. Beberapa saling melempar tatapan bermusuhan, sudah mulai menghitung lawan.
Gilirannya tiba. Seorang petugas dengan topeng besi duduk di meja pendaftaran.
"Nama?"
"Kang Woo."
"Asal?"
"Desa Teratai Merah, wilayah timur."
"Pengalaman bertarung?"
Ha-neul berpikir sejenak. "Pernah melawan bandit. Beberapa kali."
Petugas itu mendengus, menulis sesuatu. "Kelas pemula. Kau akan ditempatkan di grup D. Pertarungan pertama besok pagi. Pelajari aturannya." Ia melempar sebuah plakat kayu bernomor 237. "Ini identitasmu. Jangan hilang."
Ha-neul menerima plakat itu, lalu melangkah masuk ke dalam.
---
Di dalam, kompleks Sekte Iblis jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.
Bangunan-bangunan menjulang di segala arah, dihubungkan oleh jalan-jalan batu yang dipenuhi orang. Prajurit berseragam hitam berpatroli, beberapa membawa tahanan dengan rantai. Pedagang-pedagang menjual berbagai macam barang—senjata, ramuan, bahkan budak. Suasana ramai tapi muram, seperti pasar tapi tanpa tawa.
Ha-neul mengikuti kerumunan calon peserta menuju asrama sementara. Di sana, ia mendapat kamar kecil berisi empat dipan. Tiga penghuni lain sudah ada—dua pria paruh baya dan satu pemuda sekitar umurnya.
Pemuda itu menyapanya lebih dulu. "Halo, aku Seo Jun-ho. Dari desa tetangga. Kau?"
"Kang Woo."
"Kamu dapat grup apa?"
"D."
Seo Jun-ho mengangkat alis. "D? Itu grup terlemah. Berarti kamu pemula." Ia tertawa ramah. "Jangan khawatir, aku juga D. Mungkin kita bisa latihan bareng."
Ha-neul tersenyum tipis. "Mungkin."
Dua pria lain tidak menyapa—mereka hanya duduk di dipan masing-masing, mengasah senjata dengan tatapan kosong.
---
Sore harinya, Ha-neul berjalan-jalan untuk mengenal lingkungan.
Ia melewati arena latihan, tempat beberapa peserta sedang beradu. Ada yang serius, ada yang hanya pamer. Ia melewati kantin umum, tempat makanan sederhana disediakan gratis untuk peserta. Ia melewati barak prajurit, tempat suara bentakan dan jeritan terdengar dari dalam.
Saat melewati sebuah bangunan tinggi di pusat kompleks, ia berhenti.
Bangunan itu berbeda—lebih megah, lebih gelap, dengan ukiran-ukiran rumit di setiap sudut. Di depannya, berjaga dua prajurit dengan baju zirah hitam mengilap. Mereka tidak bergerak seperti patung, tapi mata mereka mengawasi setiap orang yang lewat.
"Itu markas pemimpin sekte," bisik Hyeol-geon. "Aku bisa merasakan energinya dari sini. Sangat kuat."
Ha-neul menatap bangunan itu lama. Di suatu tempat di dalam sana, mungkin di lantai paling atas, bersemayam orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Orang yang menjadi musuh utama gurunya.
"Jangan terburu-buru," peringat Hyeol-geon. "Kau belum siap."
"Aku tahu." Ha-neul berbalik, kembali ke asrama.
Tapi di dalam hatinya, api dendam semakin membara.
---
Malam harinya, Seo Jun-ho mengajaknya ngobrol di halaman asrama.
"Kang Woo, kamu kelihatan berbeda dari peserta lain," kata Jun-ho.
"Berbeda bagaimana?"
"Matamu. Peserta lain matanya penuh ambisi atau ketakutan. Tapi matamu... seperti orang yang sudah melihat banyak hal." Ia tersenyum. "Kamu bukan pemula biasa, kan?"
Ha-neul diam sejenak. Lalu ia berkata, "Setiap orang punya rahasia."
Jun-ho tertawa. "Fair enough. Aku juga punya rahasia." Ia menurunkan suara. "Aku tidak ikut turnamen ini untuk menang. Aku mencari seseorang. Kakakku diculik Sekte Iblis setahun lalu. Aku ingin cari tahu apakah dia masih hidup."
Ha-neul menatapnya. Ada rasa sakit di mata pemuda itu.
"Semoga berhasil," katanya.
"Kamu juga."
Malam itu, dua pemuda dengan misi berbeda duduk bersama di bawah langit kelabu Sekte Iblis, menanti pertarungan esok hari.