Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapal Penembus Awan
"Hei, kalian semua!" teriak Zian lantang ke arah para penjaga gerbang ibu kota yang masih gemetar mencium tanah.
Kapten penjaga yang rahangnya bergeser mencoba merangkak mundur, matanya melotot ngeri menatap awan merah di kejauhan. "K-kau... kau mau ke mana, Monster?!"
"Aku mau memancing anjing tua itu jalan-jalan," seringai Zian. "Kalau kalian masih mau hidup besok pagi, evakuasi warga sipil menjauh dari gerbang utara sekarang juga!"
Tanpa menunggu jawaban, Zian menekuk kedua lututnya. Aspal batu tebal di bawah sepatunya hancur berkeping-keping membentuk kawah ledakan.
WUSH!
Zian melesat ke arah utara dengan kecepatan peluru. Tujuannya cuma satu: puncak Gunung Langit. Dia sadar betul, kalau pertarungan tingkat Raja ini terjadi di tengah ibu kota, gelombang kejutnya pasti akan membunuh ribuan orang tak bersalah, dan dampaknya bisa merambat sampai ke Kota Daun. Dia harus menjauhkan bencana ini dari keluarganya.
Di angkasa, awan merah darah itu langsung berbelok tajam, mengikuti jejak lari Zian dengan presisi mutlak.
"Kau tidak akan bisa lari dari kematian, Tikus Cacat!" Suara serak yang sangat buas menggema dari dalam awan merah itu, menyapu hutan dan bukit di bawahnya bagai badai petir.
Zian hanya tertawa mendengarnya. Kecepatan larinya semakin gila, membelah angin hingga menciptakan dentuman sonik berulang-ulang di sepanjang jalan setapak gunung.
Hanya butuh dua puluh menit berlari tanpa henti, Zian tiba di pelataran batu yang sangat luas di puncak Gunung Langit. Napasnya sedikit memburu. Suhu tubuhnya memanas, membuat Tulang Asuranya semakin mendidih siap tempur.
Di depannya, berlabuh sebuah kapal kayu raksasa yang melayang beberapa meter di atas tanah. Layarnya terbuat dari sutra perak yang memancarkan pendaran cahaya magis. Itulah Kapal Penembus Awan, satu-satunya transportasi menuju Benua Tengah.
Namun, pelataran itu tidak kosong. Puluhan pemuda dan pemudi berpakaian sutra mewah berkumpul di sana. Mereka semua memancarkan aura tingkat Perwira puncak hingga Jenderal awal. Ini adalah para jenius pilihan dari berbagai kerajaan di benua kecil ini yang mendapat undangan khusus.
Langkah berat Zian yang menghentak tanah langsung menarik perhatian mereka. Penampilan Zian sangat kontras; bajunya compang-camping, penuh debu aspal, dan bercak darah hitam.
"Bau sampah dari mana ini?" keluh seorang pemuda tampan berjubah merah emas. Dia mengipas hidungnya dengan sapu tangan sutra, wajahnya dipenuhi rasa jijik. "Hei, Pengemis! Siapa yang mengizinkan anjing liar sepertimu naik ke pelataran suci ini?"
Zian terus berjalan maju, matanya tetap mengawasi langit di belakangnya. "Jangan menghalangi jalanku. Aku sedang menunggu orang."
"Kurang ajar!" Pemuda berjubah merah itu melangkah cepat dan merintangi dada Zian. "Kau berani bicara tanpa menunduk di depanku? Kau tidak tahu siapa aku?! Aku Pangeran Feng dari Kerajaan Api Merah! Kulihat kau bahkan tidak punya sepercik pun aura kultivasi di tubuhmu. Kau pasti pelayan angkat kargo kapal ini yang mencoba lari dari tugas!"
Zian menghentikan langkahnya. Dia menatap lurus ke dalam mata Pangeran Feng dengan sorot sedingin dasar lautan.
"Minggir," ucap Zian sangat pelan. "Suasana hatiku sedang sangat bagus untuk membantai orang hari ini."
Puluhan jenius lain di pelataran itu seketika tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Pelayan ini lucu sekali! Dia baru saja mengancam Pangeran Feng?"
"Beri dia sedikit pelajaran berdarah, Pangeran! Mulutnya terlalu kotor untuk didengar telinga bangsawan kita."
"Potong saja lidahnya biar dia tahu tempatnya!"
Pangeran Feng tersenyum sinis. Kesombongannya meroket. Energi api yang sangat panas meledak dari telapak tangannya, perlahan memanjang dan membentuk sebuah cambuk api menyala.
"Berlutut dan bersihkan debu di sepatuku dengan lidahmu, Pengemis!" bentak Pangeran Feng penuh kemenangan. "Kalau kau menolak, cambuk api tingkat Jenderal ini akan merobek kulit dan memanggang tulangmu!"
CTAAK!
Tanpa ampun, Pangeran Feng mengayunkan cambuk apinya dengan kecepatan penuh ke arah wajah Zian.
Tapi, alih-alih menghindar atau memohon ampun, tangan kanan Zian melesat kilat ke depan. Dia menangkap cambuk api itu murni dengan telapak tangan kosong. Api yang mendidih itu membentur kulit Zian, tapi tak ada satu pun luka bakar yang tercipta. Zian hanya memegang cambuk mematikan itu seperti memegang tali jemuran biasa.
"Lemah," bisik Zian.
Zian meremas tangannya dengan kasar.
Prak!
Cambuk api sihir kebanggaan Pangeran Feng itu langsung hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya yang menguap ke udara.
Mata Pangeran Feng melotot mau copot. Rahangnya seakan jatuh ke tanah. "A-apa?! Kau menghancurkan sihir apiku dengan tangan kosong?!"
Zian melangkah maju satu langkah, langsung menabrak dada Pangeran Feng dengan bahunya yang sekeras batu karang. Pangeran itu tersedak. Sebelum dia bisa mundur, tangan kanan Zian bergerak secepat hantu, mencengkeram tiga jari kanan sang pangeran dengan erat.
"Sepatumu kurang bersih untuk dijilat," bisik Zian datar di telinganya.
KRAK!
"AARRRGHHH!" Pangeran Feng menjerit histeris sampai lututnya menghantam tanah. Tiga jarinya patah dan melipat ke belakang dengan sudut yang mengerikan. Wajahnya yang tadi begitu sombong kini pucat pasi, dibanjiri keringat dingin dan air mata kesakitan.
Tawa ejekan dari puluhan jenius di pelataran itu seketika mati. Wajah mereka berubah tegang. Mereka serentak menghunuskan pedang dan tongkat pusaka mereka, memancarkan aura membunuh dari segala arah.
"Dia mematahkan jari Pangeran Feng!"
"Bunuh dia! Dia pasti penyusup yang menggunakan jimat pelindung ilegal!"
"Cincang tubuhnya sekarang juga!"
"Kalian semua mau maju sekalian?" Zian memutar lehernya hingga berbunyi gemeretak nyaring. Dia menatap puluhan kultivator elit itu dengan senyum iblis yang sangat lebar. Otot lengan dan lehernya mulai mengembang padat. "Bagus. Aku kebetulan butuh samsak pemanasan sebelum hidangan utamanya datang."
"Jangan sombong, Sampah!" teriak seorang pemudi berjubah biru sambil merapal sihir pedang es di atas kepalanya.
Tapi, sebelum satupun dari para jenius itu bisa melangkah menyerang Zian, langit di atas puncak Gunung Langit mendadak berubah menjadi neraka.
Bukan mendung hitam, melainkan awan merah darah yang luar biasa pekat menutupi matahari. Suhu udara anjlok drastis, dan bau anyir darah yang sangat menyengat langsung mencekik kerongkongan semua orang di pelataran.
BUM!
Sebuah tekanan gravitasi tingkat Raja Puncak jatuh menghantam seluruh pelataran batu bagai palu raksasa tak kasat mata.
Puluhan jenius sombong yang tadi mengangkat senjata langsung jatuh berlutut secara bersamaan. Lutut mereka menghantam batu hingga berdarah. Beberapa dari mereka memuntahkan cairan merah segar karena organ dalamnya langsung remuk menahan tekanan mematikan tersebut. Pangeran Feng yang jarinya patah langsung pingsan dengan mulut berbusa di dekat kaki Zian.
"T-tekanan gila apa ini?!" jerit pemudi berjubah biru sambil menahan tubuhnya dengan pedang agar tidak rata dengan tanah. Matanya penuh teror. "Ini... ini aura Raja Puncak!"
Dari dalam pusaran awan darah itu, sesosok pria tua berjubah merah tua melayang turun perlahan. Wajahnya penuh dengan bekas luka codet yang mengerikan. Matanya semerah darah segar, memancarkan amarah yang bisa membakar dunia. Dia adalah Tetua Pembantai dari Sekte Bintang Es Pusat di Benua Tengah.
Mata Tetua itu menyapu pelataran yang dipenuhi kultivator elit yang sedang berlutut, dan langsung terkunci pada satu-satunya sosok yang masih berdiri tegak menantang gravitasinya. Zian.
"Jadi kau semut rendahan yang memecahkan giok nyawa Lin Zong?!" suara Tetua Pembantai itu bergema seperti guntur kemarahan dewa, membuat gendang telinga para jenius di bawahnya pecah dan berdarah. "Beraninya kau menghancurkan anjing penjaga dari cabang luar sekteku!"
Zian meludahkan sisa darah kotor dari pertarungan sebelumnya ke tanah. Dia menengadah, menatap pria tua di angkasa itu dengan tatapan yang luar biasa meremehkan.
"Ternyata anjing yang lebih tua bisa terbang cukup cepat juga," ejek Zian lantang, suaranya murni menembus tekanan gravitasi. "Kukira aku harus menunggumu sampai besok pagi."
"Bocah keparat bermulut besar! Akan kucabut jiwamu dari ragamu dan kubakar di dalam tungku neraka sekteku selama seratus tahun!" aum Tetua Pembantai, kehilangan kesabarannya.
Dia menyatukan kedua tangannya di depan dada. Langit merah di belakangnya bergemuruh hebat. Energi darah yang sangat kental berkumpul dengan cepat, memadat, dan membentuk sebuah telapak tangan raksasa berwarna merah darah selebar sepuluh meter. Telapak tangan itu memancarkan hawa kematian mutlak yang bisa melelehkan tulang. Ini adalah sihir penghancur andalan tingkat Raja Puncak.
Para jenius di pelataran menangis histeris dalam keputusasaan total.
"Kita semua akan mati!"
"Ampuni kami, Senior! Kami tidak kenal dengan iblis ini!"
"Dia mau menghancurkan seluruh puncak gunung ini!"
Zian sama sekali tidak mundur selangkah pun. Senyum gilanya justru semakin lebar membelah wajahnya. Tulang Asuranya berderit sangat keras, merespons ancaman maut itu dengan memompa darah mendidih ke seluruh jaringan ototnya. Dia mengerahkan tenaga fisik paling maksimal yang pernah dia kumpulkan seumur hidupnya. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol keluar, berwarna merah menyala menyiratkan kekuatan murni yang buas.
"Coba saja hancurkan aku kalau kau sanggup, Pak Tua!" teriak Zian menantang maut.
Dia menarik tinju kanannya jauh ke belakang pinggang. Udara di sekitar kepalan tangannya mulai terdistorsi hebat, melengkung karena kepadatan tekanan angin dan gaya tarik ototnya yang tak masuk akal.
Tetua Pembantai menurunkan tangannya dengan sangat kasar ke bawah.
Telapak tangan darah raksasa itu meluncur turun layaknya meteor kiamat, siap meremukkan Zian dan seluruh puncak Gunung Langit menjadi abu merah. Tekanan udaranya membuat pelataran batu mulai retak dan hancur berantakan bahkan sebelum sihir itu mendarat.
Tepat saat telapak maut itu berjarak beberapa meter dari dahi Zian, suara terompet raksasa yang sangat dalam dan menggetarkan dada mendadak berbunyi nyaring dari arah belakang pelataran.
TUUUUT!
Pintu utama Kapal Penembus Awan tiba-tiba terbuka lebar dengan sendirinya, memancarkan gelombang cahaya perak yang sangat menyilaukan mata dan menghalau sebagian hawa darah.
Zian tidak peduli dengan pintu yang terbuka. Sambil mengaum buas, dia mengayunkan tinju sonik pemecah langitnya ke atas, menyambut hantaman meteor darah dari Raja Puncak itu tepat di tengah ledakan cahaya perak yang membutakan seluruh pandangan di puncak Gunung Langit.
cuma tinju asal ajaaa