Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah di Balik Kabut
Di sebuah ruangan bawah tanah yang pengap dan hanya diterangi cahaya remang dari perapian, suasana terasa begitu mencekam. Bau alkohol dan cerutu murah memenuhi udara.
BRAKKK!
Meja kayu jati yang kokoh itu bergetar hebat saat sebuah tinju menghantam permukaannya. Pria paruh baya itu—berdiri dengan napas memburu menatap anak buahnya. Matanya yang merah menatap nanar ke arah lima mayat anak buahnya yang baru saja dikirim kembali dalam kantong plastik.
"Dua kali! Dua kali kalian gagal!" Teriaknya, suaranya parah dan menggelegar, membuat anak buahnya yang tersisa menunduk gemetar.
Ruangan itu mendadak senyap, hanya suara gemertak gigi yang terdengar di antara napas ketakutan anak buahnya. Ia melemparkan sebuah tablet ke atas lantai hingga layarnya retak, menampilkan laporan kegagalan yang memalukan.
"Dua kali dalam satu minggu! Kalian ini di bayaran untuk melakukan tugas agar tidak gagal atau jangan-jangan kalian hanya sekedar badut untuk membuat lelucon?!" Raung pria tua itu.
Ia melangkah mendekat, mencengkeram kerah baju salah satu anak buahnya yang menjadi ketua diantaranya. "Pertama, kalian gagal meretas sistem keamanan gudang senjata Michael. Padahal aku sudah membayar peretas terbaik untuk membobol akses chip vendor itu! Tapi apa? Sistemnya berbalik menyerang dan menghapus seluruh data kita dalam hitungan detik! Michael seolah sudah tahu kita akan datang!"
Dia menghempaskan pria itu hingga tersungkur. "Dan yang kedua, ini yang paling tidak masuk akal. Di jalanan sepi menuju kota, sepuluh orang bersenjata lengkap mengepung mobil Michael. Mereka hanya berdua! Tanpa Rans, tanpa pengawal, ataupun tanpa Damian!" Teriaknya kembali.
Dia mengambil beberapa foto dari meja. Foto-foto mayat anak buahnya yang baru saja dievakuasi. Matanya melotot tajam saat melihat detail luka tersebut.
"Lihat ini!" Dia menyodorkan foto itu tepat ke wajah anak buahnya. "Lima orang di sisi kanan. Semuanya mati dengan luka yang identik. Tusukan benda tajam yang sangat halus tepat di nadi leher. Tidak ada suara tembakan, tidak ada perlawanan. Mereka mati seperti domba yang disembelih dalam tidur!"
Dia menggeram, teringat laporan tentang penembak jitu yang ia sewa tempo hari untuk menghabisi Michael di dermaga. "Luka ini... sama persis dengan luka penembak jitu yang kusewa minggu lalu. Satu tusukan presisi di leher. Michael Reins Miguel... sejak kapan pria kaku itu memiliki teknik membunuh sehalus ini?"
Di matanya, Michael bukan lagi sekadar pengusaha sukses, tapi iblis yang menyembunyikan taringnya. Ia tidak pernah terpikir bahwa tangan lembut Shaneen-lah yang melakukan jentikan maut itu.
Dia kembali terduduk, menatap tangannya yang gemetar karena amarah. Pikirannya terseret kembali tentang betapa menderitanya ibunya saat ia masih kecil.
"Keluarga Tizon adalah mawar yang cantik, Nak," suara serak ibunya terngiang kembali. "Tapi durinya hanya diperuntukkan bagi kita. Mereka akan menusukmu jika kau mencoba mendekat."
"Mawar..." Dia berbisik, matanya berkilat penuh dendam. "Jika Alexander menusuk ibuku dengan cinta palsu, maka aku akan menusuk jantung keturunannya dengan kehancuran."
Dia berdiri kembali, suaranya kini tenang namun jauh lebih mengerikan. "Michael mungkin memiliki kemampuan membunuh yang tak terlihat. Dia mungkin melindungi Shaneen dengan jentikan jarinya yang maut. Tapi dia punya kelemahan. Dia mencintai gadis manja itu."
Pria paruh baya itu bernama Don Diredgo, pria dengan penuh kebencian terhadap keluarga Tizon. Dia menatap peta The Golden Coast yang terbentang di meja. "Jika kita tidak bisa menembus benteng Michael, maka kita akan memancing 'Mawar kecil' itu keluar dari sarangnya. Siapkan rencana baru. Jangan gunakan senjata api. Kita akan menggunakan cara yang lebih halus... cara yang akan membuat Michael bertekuk lutut memohon padaku."
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Don tetap pada keyakinannya: Michael adalah predatornya, dan Shaneen hanyalah mangsa yang kebetulan dijaga dengan sangat ketat. Ia tidak tahu, bahwa dengan mengincar Shaneen, ia sedang mengetuk pintu neraka yang paling dalam.
***
Di ruang kerjanya yang tersembunyi, Shaneen menatap sebuah folder tua berwarna cokelat. Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, saat ia masih remaja.
Malam itu, di bawah temaram lampu perpustakaan keluarga Tizon, Nenek Martha duduk dengan tegak, memegang tongkatnya seperti sebuah pedang.
"Dengar, Shaneen," suara Nenek Martha saat itu terdengar seperti parutan es. "Dunia ini penuh dengan orang-orang yang hanya bisa hidup dengan mengisap nyawa orang lain. Kita menyebut mereka 'Benalu'. Mereka tidak punya akar sendiri, mereka hanya menempel pada pohon yang besar, menggerogotinya dari dalam sampai pohon itu tumbang, lalu mereka mengambil alih tempatnya."
Shaneen remaja hanya diam, namun matanya mencerna setiap kata. Sejak saat itu, ia tahu bahwa mension megah ini dikelilingi oleh musuh yang tidak terlihat. Dan puncaknya adalah hari di mana ayahnya, Orlando, dilarikan ke rumah sakit.
Suara derap langkah Shaneen menggema di koridor rumah sakit yang dingin. Ia baru saja tiba, namun yang ia temukan hanyalah tubuh ayahnya yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa dengan satu tembakan peluru tepat di dada kirinya yang langsung menembus jantungnya.
Shaneen sudah menggerakkan seluruh anak buahnya untuk mencari tau kejadian yang terjadi tepat lima tahun lalu, bahkan cctv pun saat itu tidak memihak padanya. Laporan yang ia terima adalah kehampaan.
"Nona, maaf. Seluruh sistem keamanan di lantai ini mati total selama lima belas menit saat kejadian. Rekamannya rusak secara permanen. Tidak ada jejak peretasan yang bisa dilacak."
Di depan ruang kendali CCTV yang hancur, Shaneen remaja mengamuk. Ia menghancurkan monitor dengan tangan kosong hingga jemarinya berdarah.
Hari itu, sisi "manja" Shaneen mati bersama ayahnya. Predator yang seharusnya sedang menikmati masa mudanya, dipaksa bangun secara brutal oleh pengkhianatan yang rapi.
Sejak hari itu, Shaneen bersumpah: Ia akan menyeret siapapun yang telah berani membunuh ayahnya—cinta pertamanya.
Masa Kini: Senyum di Balik Bayang
Shaneen menutup folder itu. Ia mengusap jemarinya yang halus—jemari yang sama yang dulu berdarah di rumah sakit, kini sudah begitu lihai menjentikkan mawar kematian.
"Apakah kau pikir kau sudah menang? Jangan harap!" Bisik Shaneen pada kegelapan.
Ia tahu Don (si pria paruh baya itu) menganggapnya sebagai 'si manja' yang hanya beruntung dilindungi oleh Michael. Don merasa di atas angin, merasa sudah menang karena menganggap Michael-lah satu-satunya lawan.
"Don..." Shaneen tersenyum, senyum yang akan membuat siapa pun merinding. "Kau telah membuat kesalahan besar." Ia membuka laptopnya yang terlindungi enkripsi tingkat tinggi. Layar hitam itu dipenuhi barisan kode berwarna hijau.
"Kau merusak CCTV rumah sakit lima tahun lalu dengan teknik kuno," jari Shaneen menari di atas keyboard. "Kali ini, aku yang akan meretas seluruh hidupmu. Aku akan memastikan kau tidak punya tempat untuk bersembunyi, bahkan di lubang tikus sekalipun."
Shaneen mematikan laptopnya. Ia kembali ke mode "gadis manja", berjalan menuju cermin untuk merapikan tatanan rambutnya. Besok, ia akan menemui Michael, merengek minta dibelikan es krim.
Don tidak tahu, bahwa musuh yang ia cari bukan Michael si Singa Bisnis, tapi Shaneen—predator yang selama ini ia anggap sebagai "titik lemah".
"Ayo bermain, Paman," desis Shaneen. "Kita lihat, siapa yang akan layu lebih dulu saat akarnya aku cabut sampai ke dasar."