NovelToon NovelToon
OWNED BY AZEUS

OWNED BY AZEUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / CEO
Popularitas:603
Nilai: 5
Nama Author: Andara Wulan

"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."

Karya ini berisi Novel dalam Novel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa sesal dibalik mimisan

Aluna memang sudah bukan lagi "Nana" yang dulu hanya diam menunggu di rumah. Di usia 21 tahun ini, ia sudah menjelma menjadi mahasiswi kedokteran semester akhir yang sangat sibuk. Mengingat bantuannya dari Ayah Azeus, ia harus membuktikan bahwa investasinya tidak sia-sia.

Di sebuah sudut perpustakaan kampus yang tenang, Aluna duduk dikelilingi tumpukan buku tebal seperti Anatomi Klinis dan Farmakologi. Ia mengenakan kemeja putih rapi dengan rambut yang dicepol asal namun tetap terlihat cantik. Jari-jarinya lincah menari di atas laptop, menyusun laporan praktikum yang harus dikumpulkan sore ini.

Aluna melirik ponselnya yang tergeletak di samping buku. Layarnya terus menyala, menampilkan rentetan pesan penuh kepanikan dan ancaman posesif dari Azeus.

Ayang ❤️: "Na!! Kamu serius berani ngomong gitu?!"

Aluna hanya tersenyum simpul, bahkan hampir cekikikan kecil di tengah keseriusannya. Tanpa merasa bersalah sedikit pun, ia membiarkan Azeus "tersiksa" dalam kegelisahan di kantor. Ia tahu persis, semakin Azeus gelisah, semakin besar usahanya untuk membuktikan kesetiaan.

"Biar tahu rasa.3 tahun lalu udah bikin aku nangis, sekarang gantian dia yang aku bikin senam jantung," gumam Aluna pelan.

Tiba-tiba, seorang teman mahasiswanya mendekat. "Aluna, bagian sistem saraf ini gimana ya? Kamu paham?"

Aluna mendongak, memberikan senyum ramah yang sangat tulus—senyum yang kalau dilihat Azeus pasti bakal bikin pria itu ngamuk cemburu.

"Oh, bagian ini? Sini aku jelasin..."

Aluna benar-benar menikmati aktivitasnya. Di sela-sela Studi Kedokteran yang berat, ngerjain Azeus adalah hiburan terbaiknya. Ia merasa jauh lebih berdaya sekarang; ia punya pendidikan, punya masa depan, dan punya kendali penuh atas perasaan sang CEO muda yang dulunya sangat ia takuti itu.

Sambil sesekali menyesap kopi susunya, Aluna kembali mengetik pesan singkat yang sangat menyebalkan untuk Azeus.

My Baby Girl❤️: "Maaf Kak, aku lagi sibuk sama 'calon dokter' ganteng di perpus. Nanti aja bahas putusnya ya."

Setelah mengirim itu, Aluna langsung mematikan ponselnya dan kembali fokus pada mikroskop di depannya, membayangkan Azeus yang mungkin sedang membanting pulpen di ruang rapat sana

.

Pesan singkat dari Aluna mendarat tepat saat Azeus sedang mendengarkan presentasi grafik Pertumbuhan Laba tahunan. Di bawah meja rapat yang mewah, Azeus melirik layar ponselnya yang menyala.

My Baby Girl❤️: "Maaf Kak, aku lagi sibuk sama 'calon dokter' ganteng di perpus. Nanti aja bahas putusnya ya."

Seketika, wajah Azeus yang tadinya profesional langsung berubah pucat, lalu sedetik kemudian memerah padam. Kalimat "calon dokter ganteng" dan "bahas putus" seolah menjadi sumbu pendek yang meledakkan bom di kepalanya. Darah Azeus mendidih, api cemburu berkobar hebat membakar sisa-sisa kewarasannya sebagai pimpinan.

Brak!

Azeus menggebrak meja rapat, membuat sepuluh direktur di ruangan itu tersentak kaget sampai ada yang menjatuhkan pulpennya.

"Rapat selesai! Lanjutkan dengan Irwan!" bentak Azeus tanpa penjelasan.

Ia menyambar jas mahalnya yang tersampir di kursi dengan gerakan tergesa-gesa. Dengan langkah lebar dan aura obsesif yang mengintimidasi, ia menerjang keluar dari ruang meeting.

"Pak Azeus! Anda mau ke mana? Investor utama sedang menunggu jawaban Anda!" seru Erena sambil mencoba mengejar langkah lebar Azeus dengan sepatu hak tingginya. Wajah tenangnya mulai retak melihat kelakuan impulsif Azeus.

"Den Zeus! Kembali! Ini tidak profesional!" teriak Irwan dari ambang pintu, suaranya menggelegar namun Azeus sama sekali tidak menoleh.

Azeus terus berlari menuju lift eksekutif. Pikirannya sudah kacau balau membayangkan Aluna duduk berdekatan dengan laki-laki lain di perpustakaan. Sifat posesif-nya mencapai level maksimal. Ia tidak peduli jika saham perusahaannya anjlok hari ini; baginya, mempertahankan "Nana" dari gangguan cowok lain jauh lebih krusial.

"Berani-beraninya dia..." gumam Azeus parau sambil menekan tombol lobi berulang kali dengan emosi.

"Kalau sampai aku liat ada cowok yang nyentuh ujung rambutnya, aku pastiin dia nggak bakal bisa jadi dokter seumur hidup!"

Azeus keluar dari lobi kantor pusat seperti angin puyuh, langsung melompat ke kursi kemudi mobilnya tanpa menunggu supir. Ia memacu mobilnya secepat kilat menuju Fakultas Kedokteran, tempat bidadarinya sedang asyik bermain api dengan kesabarannya.

.

Azeus memacu mobilnya seperti orang kesetanan membelah kemacetan Jakarta. Pikirannya benar-benar kacau, hanya ada bayangan Aluna sedang tersenyum pada cowok lain di Fakultas Kedokteran. Begitu sampai, ia keluar dari mobil dengan bantingan pintu yang keras. Tanpa jas, hanya dengan kemeja putih yang lengannya digulung dan dasi yang sudah dilonggarkan, aura CEO muda yang dominan dan berbahaya terpancar kuat dari langkah lebarnya.

BUGHH

Azeus menabrak seseorang di koridor laboratorium. Itu Gathan. Si "Es Batu" itu baru saja keluar dari ruang anatomi dengan jas putih kebanggaannya. Mereka berdua tersentak.

"Azeus? Ngapain lo di sini? Lo bolos rapat lagi?" tanya Gathan datar, matanya menyipit melihat wajah Azeus yang sudah merah padam karena api cemburu.

Azeus mencengkeram bahu Gathan kuat-kuat. "Nana mana?! Dia sering sama cowok di sini?! Siapa bajingan yang berani deketin dia?!"

Gathan hanya menggelengkan kepala pelan, menatap Azeus dengan pandangan malas.

"Nana di perpus. Dan di sini isinya mahasiswa semua, Ze. Wajar kalau dia sama cowok—"

Belum sempat Gathan menyelesaikan kalimatnya, Azeus sudah menyingkirkan Gathan dengan kasar hingga bahu temannya itu menabrak dinding. Azeus berlari menuju perpustakaan, mengabaikan tatapan heran para mahasiswa medis lainnya.

Begitu pintu perpustakaan yang tenang itu didorong paksa, Azeus langsung menemukan sasarannya. Di pojok ruangan, Aluna sedang duduk berdekatan dengan seorang mahasiswa laki-laki yang sedang menjelaskan sesuatu di buku tebal.

Tanpa peringatan, Azeus melesat dan mendaratkan bogem mentah tepat di rahang cowok itu sampai tersungkur ke lantai.

"KAK !" Aluna berteriak kaget, jantungnya hampir copot. Ia tak menyangka candaannya di chat akan berujung amukan membabi buta seperti ini.

Azeus tidak berhenti. Ia menarik kerah baju cowok yang malang itu, siap melayangkan pukulan kedua. "Berani-beraninya lo sentuh milik gue!" raung Azeus posesif.

"Kak! Berhenti! Dia cuma temen sekelompok aku!" Aluna mencoba melerai, ia menghadang di depan Azeus tepat saat kepalan tangan Azeus meluncur dengan kekuatan penuh.

PLAK! BUGH!

Pukulan keras itu tak sengaja mengenai wajah Aluna. Aluna terjerembap ke belakang, tangannya refleks memegang hidungnya yang terasa panas dan nyeri. Cairan merah kental mulai mengalir deras—hidungnya berdarah.

Cowok teman Aluna yang ketakutan itu langsung memanfaatkan celah untuk berlari keluar ruangan sambil memegangi rahangnya yang biru.

Suasana perpustakaan mendadak hening mencekam. Azeus membeku. Kepalan tangannya perlahan melemas saat melihat Aluna memundurkan langkahnya dengan tatapan syok dan kecewa yang sangat dalam. Aluna menatap telapak tangannya yang penuh darah, lalu menatap Azeus seolah pria itu adalah monster.

"Al... Aluna... aku nggak sengaja..." suara Azeus bergetar, wajah garangnya runtuh seketika digantikan ketakutan yang luar biasa.

Aluna tidak menjawab. Ia hanya terus memundurkan langkah, matanya berkaca-kaca menahan perih di hidung dan luka di hatinya. Ia tak menyangka sifat badboy Azeus yang kasar bisa melukai dirinya yang selama ini selalu ia lindungi.

Azeus mematung, tangannya yang masih mengepal gemetar hebat. Matanya membelalak ngeri melihat darah yang menetes dari sela-sela jari Aluna.

"Al... Aluna, maaf... aku nggak sengaja, Sayang. Sumpah, aku nggak sengaja!" Azeus melangkah maju dengan wajah hancur penuh penyesalan, hendak meraih bahu gadis itu.

Namun, Aluna menyentak mundur. Sorot matanya yang dulu penuh puja kini digantikan oleh ketakutan yang mendalam. Ia berbalik dan berlari kencang keluar dari perpustakaan, mengabaikan teriakan Azeus yang memanggil namanya berulang kali.

"NANA! TUNGGU!" raung Azeus frustrasi.

Di ambang pintu, Aluna yang sedang menangis sesenggukan dan mimisan hebat menabrak dada bidang seseorang. Itu Gathan. Si "Es Batu" itu baru saja menyusul untuk mencegah Azeus bertindak gila, namun pemandangan di depannya jauh lebih buruk dari dugaannya. Gathan menangkap bahu Aluna yang gemetar, menatap noda darah di kemeja putih gadis itu, lalu beralih menatap Azeus dengan kilat kemarahan yang jarang ia tunjukkan.

"Lo apain dia, Ze?!" bentak Gathan, suaranya yang biasanya datar kini meninggi. Gathan langsung berpikir Azeus telah melakukan KDRT atau kekerasan fisik pada Aluna.

"Gue gak sengaja, Than! Tadi dia tiba-tiba ngehadang!" Azeus balas membentak, wajahnya kacau antara marah pada diri sendiri dan panik melihat Aluna yang terus memundurkan langkah di belakang Gathan.

Gathan segera menarik Aluna ke belakang tubuhnya, melindungi gadis itu dari jangkauan Azeus. Ia menatap sahabatnya itu dengan tatapan menghakimi. Akhirnya, si "Es Batu" itu angkat bicara dengan kalimat yang menohok tepat di jantung Azeus.

"Sikap lo yang berlebihan ini cuma bakal bikin Aluna ketakutan, Ze. Lo sadar nggak?" ucap Gathan dingin. "Cinta lo itu sakit. Obsesif yang berlebihan kayak gini cuma bakal bikin dia lari sejauh mungkin dan jaga jarak dari lo. Lo bukan ngelindungin dia, lo lagi nakutin dia!"

Azeus terdiam membeku di tengah lorong fakultas. Kalimat Gathan terasa seperti tamparan yang lebih keras dari bogem mentahnya tadi. Ia melihat Aluna yang menyembunyikan wajahnya di balik punggung Gathan, bahunya naik-turun karena tangis yang pecah. Azeus tersadar, sisi badboy nya yang liar baru saja melukai satu satunya orang yang paling ingin ia bahagiakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!