Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Tatapan yang Membakar hati dan Bayangan yang Mengintai
Langit sore di atas Perguruan Sungai Ular tampak seperti hamparan permadani jingga yang lembut, menyapu puncak-puncak paviliun dengan cahaya keemasan. Wang Long dan Sin Yin baru saja melangkah keluar dari gerbang aula yang sejuk ketika tiba-tiba suara lonceng tamu berbunyi membelah kesunyian.
Danggg... Danggg... Danggg...
Suaranya berat dan bergema panjang, bukan sekadar dentangan lonceng untuk murid biasa atau pengelana kecil. Itu adalah lonceng penyambutan tamu kehormatan.
Sin Yin menghentikan langkahnya, tangannya secara refleks merapikan letak pedang Bulan Senja di punggungnya. Ia melirik sekilas ke arah gerbang utama dengan tatapan menyelidik. "Perguruan ini mendadak ramai sekali hari ini. Sepertinya kabar tentangmu lebih cepat terbang daripada burung walet," ujarnya dengan nada yang sedikit sinis.
Wang Long hanya tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang nyaris tak terlihat namun menunjukkan ketenangan batinnya. Tak lama kemudian, seorang murid muda berlari kecil dengan napas terengah-engah menuju mereka.
"Tuan Wang! Nona Sin!" murid itu membungkuk dalam, keringat membasahi keningnya. "Ada tamu agung dari Sekte Bulan Perak yang memohon untuk bertemu!"
Sin Yin mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Sekte Bulan Perak?" gumamnya. Nama itu cukup menggetarkan dunia persilatan, sebuah sekte yang seluruh anggotanya adalah wanita-wanita berkemampuan tinggi, terkenal akan kecantikannya yang mematikan serta kemahiran mereka dalam seni ilusi dan racun halus.
Wang Long mengangguk ringan, seolah kehadiran sekte besar itu tak lebih dari embusan angin sore. "Mari kita lihat apa tujuan mereka."
Wanita Berbaju Perak
Di halaman depan yang luas, seorang wanita berdiri membelakangi gerbang. Rambutnya panjang hitam legam, tergerai indah hingga menyentuh pinggang, tampak berkilau seperti benang sutra terbaik. Ia mengenakan pakaian sutra putih-perak yang memantulkan cahaya matahari senja, membuatnya tampak seperti dewi yang turun dari rembulan.
Mendengar suara langkah kaki, wanita itu memutar tubuhnya perlahan. Gerakannya sangat anggun, setiap lipatan kain bajunya seolah menari mengikuti irama langkahnya. Saat ia sepenuhnya menghadap mereka, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya—senyum yang penuh rahasia.
"Akhirnya aku bertemu dengan sang Pendekar Naga yang mengguncang Sungai Ular," ucapnya dengan suara lembut, serupa desau angin yang menyentuh daun telinga.
Sin Yin merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Ada rasa panas yang tiba-tiba menjalar, sebuah letupan emosi yang sulit ia definisikan. Tatapan wanita itu tidak seperti tatapan pendekar pada umumnya; ia menatap Wang Long dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan cara yang terlalu berani dan mendalam.
Wanita itu melangkah mendekat tanpa sedikit pun keraguan, berhenti tepat dua langkah di depan Wang Long. Matanya yang jernih seolah ingin menembus dinding ketenangan pemuda itu.
"Kudengar kau menolak gelar dan ketenaran," katanya ringan, suaranya mengandung nada kekaguman yang nyata. "Pendekar yang tidak haus akan nama besar... sungguh langka di jagat persilatan yang penuh ambisi ini."
Wang Long menangkupkan tangan, memberikan salam hormat pendekar yang sopan namun tetap menjaga jarak batin. "Aku bukan siapa-siapa. Hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat."
Wanita itu tertawa kecil, suara tawanya bening seperti denting lonceng perak. "Oh, aku tidak suka pria yang terlalu merendah. Terkadang, kerendahhatian yang berlebihan justru merupakan bentuk kesombongan yang paling tinggi."
Sin Yin yang berdiri di samping Wang Long mulai menyilangkan tangan di dada. Ia merasa tatapan wanita berbaju perak itu terlalu lama menempel di wajah rekannya. "Apa tujuanmu datang jauh-jauh ke sini?" tanya Sin Yin datar, suaranya mendingin beberapa derajat.
Wanita itu akhirnya mengalihkan pandangannya pada Sin Yin. Ia menatap Sin Yin dari atas ke bawah, seolah sedang menilai kualitas sebuah pedang. Senyumnya berubah, sedikit lebih tajam.
"Ah... jadi ini sang Bidadari Maut yang namanya sering kudengar disebut dalam bisik-bisik di kedai teh?" nada suaranya tetap manis, namun ada jarum tersembunyi di baliknya. "Aku hanya ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, pria seperti apa yang sanggup membuat Perguruan Sungai Ular yang keras kepala ini tunduk."
Ia kembali memalingkan wajahnya pada Wang Long, mengabaikan Sin Yin sejenak. "Kudengar kau juga sangat tampan. Ternyata kabar itu tidak bohong. Malah, aslinya jauh lebih menarik."
Sin Yin merasa dadanya semakin panas, seolah ada api kecil yang menyulut jantungnya. Ia melangkah setengah langkah ke depan, menghalangi sedikit pandangan wanita itu. "Kalau hanya ingin melihat, kau sudah melihatnya. Sekarang katakan urusanmu."
Wanita berbaju perak itu terkekeh pelan, seolah menikmati kegelisahan Sin Yin. "Aku belum memperkenalkan diri secara layak." Ia membungkuk sedikit dengan gerakan yang sangat artistik. "Aku Yue Lan, murid inti dari Sekte Bulan Perak."
Wang Long mengangguk tenang. "Salam hormat, Nona Yue Lan."
Yue Lan menatap langsung ke dalam manik mata Wang Long, mencoba mencari sedikit saja riak emosi di sana. "Kau tahu... jarang sekali ada pria yang bisa menatapku dengan ketenangan seperti ini. Biasanya, mereka akan salah tingkah atau membuang muka."
Sin Yin hampir saja menghentakkan kakinya ke tanah pualam. "Dia memang selalu tenang terhadap siapa pun," sahut Sin Yin tajam, nada suaranya penuh dengan penekanan yang tak bisa disembunyikan.
Yue Lan tersenyum samar, seolah menangkap sesuatu yang menarik. "Ketenaran dan ketenangan seperti ini... biasanya menarik banyak wanita untuk datang mendekat, Pendekar Naga."
Wang Long mulai merasakan perubahan atmosfer di sekitarnya. Ia melirik sedikit ke arah Sin Yin melalui sudut matanya. Wajah gadis itu tampak kaku, dan rahangnya yang tegas terlihat menegang, menunjukkan amarah yang berusaha ditekan.
"Tujuanmu?" tanya Wang Long lagi, kali ini dengan nada yang lebih lugas dan tanpa basa-basi.
Yue Lan menghela napas panjang, pura-pura kecewa. "Baiklah. Sekteku menerima kabar bahwa pewaris naga sejati telah muncul kembali. Kami hanya ingin memastikan kebenaran berita itu sebelum mengambil sikap di dunia persilatan." Tatapannya kembali melembut, penuh pesona. "Dan sekarang setelah melihatmu, aku sudah tahu jawabannya."
Yue Lan melangkah satu inci lebih dekat. Ia mengangkat tangannya yang halus, jari-jarinya yang lentik bergerak seolah hendak menyentuh lengan jubah Wang Long—
Sret!
Sin Yin bergerak secepat kilat. Sebelum jari Yue Lan menyentuh kain baju Wang Long, tangan Sin Yin sudah lebih dulu mencegat pergelangan tangan wanita berbaju perak itu. Pegangannya tidak menyakitkan, namun sangat kokoh dan tak tergoyahkan.
"Sekte Bulan Perak terkenal dengan racun halusnya yang bekerja melalui sentuhan kulit," ucap Sin Yin dengan suara yang sedingin es di puncak gunung. "Sebaiknya kau jaga jarak aman demi keselamatan bersama."
Yue Lan menatap tangan Sin Yin yang menahannya, lalu beralih menatap mata sang Bidadari Maut. Sebuah senyum kemenangan muncul di bibirnya. "Cemburu itu tidak baik untuk kesehatan hatimu, Nona Sin. Bisa merusak kecantikanmu yang melegenda itu."
Sin Yin melepaskan pegangannya dengan sentakan kecil. "Aku tidak cemburu. Aku hanya waspada."
"Oh? Benarkah?" Yue Lan kembali menoleh pada Wang Long, memberikan tatapan yang paling menggoda. "Kalau begitu, bolehkah aku berbicara denganmu berdua saja? Ada urusan rahasia sekte yang tak boleh didengar orang lain."
Sin Yin hampir saja tersedak napasnya sendiri karena keberanian wanita itu. Namun sebelum ia sempat meledak, Wang Long berbicara dengan suara yang sangat mantap.
"Kami selalu berbicara bersama. Tidak ada rahasia yang tidak bisa ia dengar," jawab Wang Long.
Jawaban itu membuat Yue Lan terdiam sepersekian detik, senyumnya membeku. Namun ia segera menguasai diri dan kembali tertawa anggun. "Baiklah. Kesetiaanmu sungguh mengagumkan. Kalau begitu, kita akan bertemu lagi di jalan persilatan, Pendekar Naga."
Yue Lan memberikan tatapan terakhir yang panjang dan penuh arti pada Wang Long, seolah sedang menanamkan bayangannya di ingatan pemuda itu. Kemudian, ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah anggun yang disengaja.
Api Kecil di Dalam Dada
Begitu sosok Yue Lan menghilang di balik gerbang besar, Sin Yin langsung berbalik tanpa kata. Ia berjalan sangat cepat menuju halaman samping yang lebih sepi. Wang Long mengikuti di belakangnya dengan langkah yang tenang.
"Kau marah?" tanya Wang Long saat mereka sampai di bawah pohon beringin tua.
"Tidak," sahut Sin Yin singkat, punggungnya masih menghadap Wang Long.
"Kau cemburu lagi?"
Sin Yin berhenti mendadak. Ia berbalik dengan gerakan cepat, matanya menyala. "Kenapa kau terlihat senang sekali menyebut kata itu sejak tadi?!" teriaknya ketus.
Wang Long berkedip pelan, wajahnya tetap polos. "Aku hanya bertanya untuk memastikannya."
"Kau tidak lihat bagaimana dia memandangmu?" Sin Yin mendekat, suaranya naik satu nada. "Tatapannya itu... dia menatapmu seolah-olah kau adalah mangsa yang ingin ditelannya hidup-hidup!"
Wang Long terdiam sesaat, meresapi kemarahan Sin Yin. Lalu, sebuah senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya. "Kau benar-benar marah kali ini."
"Aku tidak marah!" bantah Sin Yin, meskipun napasnya memburu.
"Dadamu memerah, dan napasmu tidak beraturan," ujar Wang Long tenang.
Sin Yin spontan menunduk dan menyadari bahwa dadanya memang terasa panas dan wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus. "Aku hanya... aku hanya tidak suka dia berada terlalu dekat denganmu. Dia berbahaya."
Wang Long melangkah satu langkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. "Kenapa kau begitu peduli jika dia dekat denganku?"
Pertanyaan itu membuat Sin Yin terpaku. Ia menatap dalam ke mata Wang Long, dan untuk beberapa saat, dunianya seolah menciut hanya pada sosok di depannya. "Karena... aku tidak ingin kau terbiasa dengan tatapan seperti itu dari wanita lain," suaranya melunak, hampir berupa bisikan.
Wang Long mengangkat tangannya, menyentuh lembut ujung dagu Sin Yin, mengangkat wajah gadis itu agar mata mereka bertemu secara langsung. "Tatapan seperti itu... sebanyak apa pun, tidak akan pernah berarti apa-apa bagiku," ucap Wang Long dengan suara rendah yang menenangkan. "Yang berarti bagiku adalah siapa yang tetap memilih untuk berdiri di sisiku saat badai datang."
Mata Sin Yin melebar sedikit, rasa panas di dadanya perlahan berganti menjadi getaran hangat yang menyenangkan. "Sejak kapan kau pandai berbicara manis seperti ini?"
"Sejak aku menyadari bahwa rekanku ini sedang menderita cemburu tingkat tinggi," goda Wang Long.
Sin Yin memukul dada Wang Long dengan kepalan tangan ringannya, sebuah pukulan manja yang tidak mengandung tenaga dalam. "Jangan mengejekku terus!" Namun, sebuah senyum manis akhirnya merekah di bibirnya.
Bayangan di Atap
Namun, di tengah momen hangat itu, jauh di atas atap paviliun yang tinggi, seseorang sedang memperhatikan mereka dengan saksama. Sosok itu mengenakan pakaian hitam kelam, menyatu sempurna dengan bayangan bangunan. Ia berdiri tanpa suara, bahkan napasnya pun diatur sedemikian rupa hingga tak terdeteksi oleh indra pendekar paling tajam sekalipun.
Seorang pembunuh bayangan.
Ingatannya kembali pada perintah yang ia terima beberapa hari lalu dari majikannya: "Pewaris naga harus mati sebelum ia tumbuh menjadi badai yang tak terkendali. Habisi dia tanpa jejak."
Matanya sedingin es kutub, menatap lurus ke arah Wang Long. Tangannya perlahan meraba gagang belati tipis yang ujungnya telah diolesi racun mematikan dari pedalaman hutan terlarang.
"Semakin tenang dan kuat seseorang... memang semakin sulit untuk didekati," bisiknya sangat pelan, nyaris hanya gerakan bibir di balik topeng hitamnya. Sebuah senyum kejam muncul. "Tapi tidak ada satu pun makhluk di bawah langit ini yang kebal terhadap serangan dari balik bayangan."
Angin malam yang dingin mulai berembus, membawa aroma maut yang samar. Sementara Sin Yin masih tersenyum di dekat Wang Long, maut telah menarik busurnya. Pertarungan berikutnya bukan lagi tentang perasaan, melainkan tentang bertahan hidup di tengah kepungan bayangan.
Bersambung...