NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 (Lanjutan) – Api yang Tersulut di Balik Prestasi

Pagi di Manhattan terasa berbeda.

Langit cerah, tetapi suasana kampus seperti menyimpan bara api yang siap menyala. Di papan pengumuman utama Fakultas Kedokteran, sebuah surat resmi dari Yayasan Harrison terpampang jelas.

Beasiswa percepatan jalur bedah.

Nama penerima tunggal: Valeria Hernández.

Berita itu menyebar lebih cepat daripada angin musim gugur.

Bisikan-bisikan terdengar di lorong. Tatapan berubah. Ada yang kagum. Ada yang terkejut. Ada yang iri.

Valeria berdiri terpaku di depan papan pengumuman itu, jantungnya berdebar. Ia belum sepenuhnya memproses keputusan yang diambilnya semalam—ia menerima tawaran Eduardo Alejandro Castillo.

Bukan karena kekuasaan.

Bukan karena kedekatan dengan Alexander.

Tetapi karena ini adalah mimpinya sejak kecil—menjadi dokter bedah.

Seorang mahasiswa berambut pirang berbisik pada temannya, “Dia baru tahun pertama.”

“Tidak mungkin,” jawab yang lain. “Itu program untuk mahasiswa tingkat akhir.”

“Katanya rekomendasi langsung dari yayasan.”

Kata-kata itu menusuk.

Valeria merasakan hawa dingin di punggungnya. Ia tahu apa yang akan terjadi.

Dan benar saja.

Langkah kaki berhak tinggi terdengar mendekat.

Camille.

Rambut cokelatnya tertata sempurna, wajahnya tenang… terlalu tenang.

Ia berhenti tepat di samping Valeria.

“Selamat,” ucapnya ringan, tapi nadanya seperti racun yang dibungkus gula.

Valeria menoleh. “Terima kasih.”

Camille tersenyum tipis. “Cepat sekali, ya. Dari mahasiswa biasa jadi kandidat bedah elit.”

“Aku hanya mengikuti prosedur seleksi,” jawab Valeria berusaha tetap tenang.

Camille terkekeh pelan. “Prosedur? Atau koneksi?”

Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan.

Valeria menegang. “Maksudmu apa?”

Camille melipat tangan di dada. “Semua orang tahu kamu dekat dengan Alexander Alejandro Castillo.”

Nama itu seperti bom yang dilempar ke tengah kerumunan.

Bisikan makin keras.

“Dia pacarnya?”

“Makanya dapat jalur cepat?”

Wajah Valeria memucat. “Itu tidak ada hubungannya.”

“Benarkah?” Camille mendekat, berbisik pelan tapi cukup terdengar. “Atau kamu memanfaatkan kecelakaan itu dengan sangat baik?”

Kalimat itu menghantam seperti tamparan.

Valeria menahan napas.

“Aku tidak pernah memanfaatkan siapa pun,” katanya tegas.

Camille tersenyum miring. “Kita lihat saja.”

Beberapa jam kemudian, ruang kuliah berubah menjadi medan perang sunyi.

Profesor memasuki ruangan dengan wajah serius.

“Saya ingin mengucapkan selamat kepada salah satu mahasiswa kita yang lolos program percepatan bedah Yayasan Alejandro Castillo.”

Semua mata mengarah ke Valeria.

Ia berdiri perlahan.

Tepuk tangan terdengar—tidak merata. Ada yang tulus. Ada yang terpaksa.

Profesor melanjutkan, “Ini pencapaian luar biasa. Seleksi dilakukan oleh dewan independen, berdasarkan nilai akademik, ketahanan mental, dan rekomendasi klinis.”

Kalimat itu seperti penegasan tak langsung.

Namun Camille tidak berhenti.

Saat sesi diskusi anatomi dimulai, ia tiba-tiba mengangkat tangan.

“Profesor, boleh saya bertanya?”

“Tentu, Camille.”

“Saya hanya ingin klarifikasi. Jika seleksi benar-benar objektif, apakah mahasiswa lain juga memiliki akses yang sama terhadap dewan yayasan?”

Ruangan sunyi.

Profesor menatapnya tajam. “Apa maksud Anda?”

“Maksud saya,” Camille melanjutkan dengan tenang, “apakah kedekatan personal dengan keluarga yayasan tidak memengaruhi penilaian?”

Beberapa mahasiswa menahan napas.

Valeria merasakan panas menjalar di pipinya.

Profesor meletakkan buku di meja. “Tuduhan seperti itu serius.”

“Saya hanya bertanya,” jawab Camille polos.

Valeria berdiri.

“Jika kamu punya masalah denganku, bicaralah langsung,” katanya, suaranya bergetar tapi tegas. “Jangan menyeret profesionalisme dosen.”

Camille tersenyum. “Aku tidak menyeret siapa pun. Aku hanya ingin keadilan.”

“Keadilan?” Valeria hampir tertawa pahit. “Kamu pikir aku tidak bekerja keras?”

“Bekerja keras saja tidak cukup untuk menembus yayasan Alejandro Castillo dalam satu semester.”

Ruangan memanas.

Profesor akhirnya bersuara, “Cukup. Program ini melalui evaluasi ketat. Saya sendiri yang menandatangani rekomendasi berdasarkan nilai dan performa klinis Valeria. Tidak ada campur tangan eksternal.”

Kata-kata itu menghentikan perdebatan.

Namun bukan menghentikan api.

Siang itu, Valeria berjalan cepat ke taman belakang kampus. Napasnya berat. Dadanya sesak bukan karena tuduhan—tetapi karena rasa lelah.

Kenapa setiap langkah maju selalu disertai tudingan?

Ia duduk di bangku kayu, menatap dedaunan yang gugur.

Air mata akhirnya jatuh.

Bukan karena lemah.

Tapi karena ia manusia.

“Menangis bukan gayamu.”

Suara itu membuatnya tersentak.

Ia menoleh.

Alexander berdiri beberapa meter darinya.

Masih pucat. Masih mengenakan jaket tipis. Bekas luka kecil terlihat di pelipisnya.

“Alexander?” suaranya gemetar. “Kamu seharusnya istirahat!”

“Aku kabur sebentar dari pengawasan dokter,” katanya tersenyum lemah. “Ayahku tidak akan senang tahu ini.”

Valeria berdiri, mendekat. “Kamu belum pulih.”

“Aku dengar tentang pengumuman itu.”

Ia menatapnya dalam. “Kau pantas mendapatkannya.”

Air mata Valeria kembali menggenang. “Mereka bilang aku memanfaatkanmu.”

Alexander mengerutkan kening. “Siapa?”

“Itu tidak penting.”

“Bagiku penting.”

Ia menghela napas. “Orang-orang akan selalu mencari alasan untuk menjatuhkan yang bersinar. Jangan redup hanya karena bayangan mereka.”

Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti pelukan.

Valeria menatapnya. “Kamu tidak marah?”

“Marah?” Ia tersenyum kecil. “Aku bangga.”

Hening sejenak.

Angin musim gugur berhembus pelan.

Namun di kejauhan, Camille berdiri di balkon gedung fakultas, memandangi mereka berdua.

Tatapannya bukan lagi sekadar iri.

Itu ambisi.

Ia mengepalkan tangan.

Jika Valeria pikir program bedah itu adalah kemenangan—

Ia salah.

Camille tidak pernah kalah tanpa perlawanan.

Hari-hari berikutnya menjadi lebih berat.

Isu menyebar. Grup mahasiswa dipenuhi spekulasi. Beberapa mulai menjaga jarak dari Valeria.

Namun ia memilih satu hal—

Diam, dan membuktikan.

Di laboratorium anatomi, ia menjadi yang pertama datang dan terakhir pulang. Di klinik simulasi, ia menunjukkan ketelitian yang bahkan membuat dokter senior terkesan.

Namun setiap keberhasilannya terasa seperti menambah bara dalam diri Camille.

Suatu sore, saat kelas hampir selesai, Camille mendekat.

“Permainan baru saja dimulai, Valeria.”

Valeria menatapnya tenang.

“Aku tidak sedang bermain.”

Camille tersenyum tipis. “Semua ini adalah permainan. Dan aku tidak pernah suka kalah.”

Valeria mengangkat dagu.

“Aku tidak bersaing denganmu.”

“Tapi aku bersaing denganmu.”

Langkah Camille menjauh, meninggalkan udara yang terasa lebih dingin.

Valeria berdiri sendiri di ruang kelas kosong.

Ia tahu ini bukan akhir.

Ini baru awal.

Prestasi telah menjadi api.

Dan konflik telah berubah menjadi perang sunyi.

Namun jauh di dalam hatinya, ada satu hal yang tak tergoyahkan—

Ia tidak akan menyerah.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa takdir memberinya kesempatan.

Dan ia tidak akan membiarkan iri hati orang lain merampas masa depannya.

Tapi ia belum tahu—

Bahwa konflik di kampus hanyalah bayangan kecil dari badai besar yang sedang mendekat.

Dan badai itu… akan segera menyentuh masa lalunya.

1
Forta Wahyuni
jgn jd lelaki murahan ya alex, tegas jgn mudah luluh dan ksh celah. aq jijik klu lelakinya murahan, mau peluk2, cium2 or lbh dr itu n menyesal minta maaf n balikan lg. jgn mau valeria klu si alex model bgitu, hempaskan buang jauh krn lelaki bukan alex doank. kau seorang putri, jenius n mendekati sempurna, lelaki yg lbh dr alex bnyk n klu dia plin plan tinggalkan tdk ada kata beri kesempatan.
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!