Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Topeng yang Mulai Terkikis
Malam merayap perlahan di kawasan Dharmawangsa. Setelah kepulangan Dimas, Paul Danola berdiri di balkon lantai dua, menyesap sisa kopi hitamnya sembari menatap gerbang pagar yang baru saja tertutup. Sebagai CEO yang terbiasa bernegosiasi dengan berbagai macam manusia, insting Paul berteriak bahwa ada yang tidak beres dengan "Dokter Dimas".
"Kos-kosan kecil? Gaji dokter umum yang pas-pasan?" gumam Paul sinis.
Ia teringat cara Dimas berdiri, cara pria itu menatap lawan bicara, dan bagaimana staf rumah sakit tempo hari menunduk begitu dalam saat Dimas lewat. Itu bukan gestur untuk seorang dokter honorer yang sedang terhimpit ekonomi. Itu adalah gestur untuk seorang penguasa.
"Kathryn mungkin bisa dibohongi dengan wajah memelas itu, tapi aku tidak," batin Paul. Ia segera merogoh ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya. "Cari tahu aset atas nama Dimas Alvaro. Jangan hanya cek rekening bank lokal, cek kepemilikan saham di Medika Group. Aku ingin laporannya besok pagi."
Sementara itu, di sisi lain kota yang lebih bising, Reina sedang menyetir mobilnya dengan ugal-ugalan. Wajahnya yang biasanya cantik kini terlihat kuyu karena kurang tidur. Usahanya untuk memulihkan cafe miliknya menemui jalan buntu. Semua investor mendadak menutup pintu, dan bank mulai mengirimkan surat peringatan pertama.
"Semua ini gara-gara Dimas! Dia membawa sial!" geram Reina.
Ia sudah mencari tahu dari salah satu perawat di rumah sakit yang ia suap dengan tas bekas miliknya tentang di mana Dimas tinggal sekarang. Perawat itu memberitahukan sebuah alamat kos-kosan sempit di gang belakang rumah sakit.
"Oh, jadi kamu benar-benar tinggal di lubang tikus itu, Dimas? Bagus. Aku akan ke sana dan memastikan kamu sadar bahwa tanpa aku, kamu hanyalah sampah jalanan," Reina tertawa sinis, memutar kemudinya menuju arah rumah sakit.
Begitu sampai di alamat yang dituju, Reina turun dari mobil mewahnya, kontras sekali dengan lingkungan gang sempit yang becek. Ia berjalan dengan angkuh, menutup hidungnya karena bau sampah yang menyengat.
"Dimas! Keluar kamu, pengecut!" teriak Reina di depan sebuah pintu kayu yang sudah kusam.
Beberapa penghuni kos lain keluar dengan wajah bingung. Tak lama, Dimas keluar dengan hanya mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek penampilan "akting" yang sudah ia siapkan. Ia tampak terkejut melihat istrinya ada di sana.
"Reina? Bagaimana kamu tahu tempat ini?" tanya Dimas, suaranya sengaja dibuat terdengar lemah.
"Tidak sulit mencari tikus di selokannya sendiri," hina Reina sambil melirik kamar kos Dimas yang hanya berisi satu kasur tipis dan lemari plastik. "Lihat dirimu. Menyedihkan. Inilah tempat yang pantas untukmu, Dimas. Kamu pikir kamu bisa hidup tanpaku? Sekarang, sujud di kakiku dan minta maaf, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memberimu tunjangan bulanan agar kamu bisa makan layak."
Dimas menatap Reina dengan tatapan datar. Di dalam hatinya, ia merasa kasihan melihat betapa dangkalnya wanita ini. "Aku tidak butuh uangmu, Reina. Aku sudah tenang di sini."
"Tenang? Kamu makan nasi bungkus setiap hari dan bilang tenang? Jangan melucu!" Reina melemparkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan ke lantai. "Ambil itu untuk beli sabun. Kamu bau kemiskinan."
Setelah puas memaki dan merendahkan Dimas di depan penghuni kos lainnya, Reina melenggang pergi dengan perasaan puas. Ia merasa harga dirinya kembali naik setelah dihancurkan oleh masalah bisnisnya.
Keesokan paginya, Dimas kembali ke perannya yang asli. Ia mengenakan setelan jas terbaiknya di ruang rahasia rumah sakit sebelum turun ke lobi. Namun, saat ia hendak menuju mobil limusin yang sudah menjemputnya di pintu belakang, ia melihat Paul Danola berdiri di sana, bersandar pada pilar beton dengan tangan bersedekap.
"Jadwal praktiknya sangat padat ya, Dokter? Sampai-sampai harus dijemput limusin pribadi pemilik rumah sakit?" sindir Paul dengan senyum miring.
Dimas menghentikan langkahnya. Ia tahu, permainannya dengan Paul sudah berakhir. "Anda sangat cepat dalam mencari informasi, Tuan Paul."
"Aku tidak butuh detektif hebat untuk tahu bahwa nama 'Dimas Alvaro' tertera sebagai pemegang saham tunggal di Medika Group," sahut Paul sambil melangkah mendekat. "Kenapa? Kenapa berpura-pura jatuh miskin di depan adikku? Apa kau sedang bermain-main dengan perasaannya?"
Wajah Dimas berubah serius. "Aku tidak pernah bermain-main dengan Kathryn. Aku hanya ingin tahu, apakah ada seseorang yang mencintaiku saat aku tidak memiliki semua kemewahan ini. Dan adikmu... dia adalah satu-satunya yang memberikan uang tabungannya padaku saat dia mengira aku tidak bisa makan."
Paul terdiam sejenak. Ia teringat betapa tulusnya Kathryn bercerita tentang "perjuangan" Dimas tadi pagi. "Kathryn tidak tahu soal ini. Dan jujur saja, jika dia tahu kau membohonginya, dia akan sangat terluka. Dia benci kebohongan, Dimas."
"Aku akan memberitahunya di waktu yang tepat. Tapi sekarang, aku harus membereskan wanita yang baru saja membuang uang sepuluh ribu ke wajahku semalam," ujar Dimas dengan nada yang mendingin.
Paul menepuk bahu Dimas. "Lakukan apa yang harus kau lakukan pada istrimu. Tapi ingat satu hal, jika kau menyakiti Kathryn dengan status ganda ini lebih lama lagi, aku sendiri yang akan menjauhkan dia darimu, terlepas dari seberapa kaya dirimu."
Dimas mengangguk mengerti. Sementara itu, di rumah Danola, Kathryn sedang asyik membuatkan Sean mainan dari kertas lipat. Ia sama sekali tidak ikut campur dalam ketegangan antara kakaknya dan pria yang ia mulai cintai. Baginya, Dokter Dimas tetaplah pria yang perlu ia dukung, tanpa ia tahu bahwa pria itu sedang bersiap meruntuhkan seluruh dunia Reina dengan satu jentikan jari.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰