Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Satu Jari Penembus Besi
Diaken Penjaga Arena membawa sebuah gulungan kulit binatang berwarna merah gelap Gulungan Kematian.
Di dunia kultivasi, duel biasa bisa dihentikan jika salah satu pihak menyerah. Namun, begitu darah diteteskan di atas Gulungan Kematian, tidak ada Tetua, aturan, atau jeritan ampun yang bisa menghentikan pertarungan. Hanya kematian yang bisa mengakhiri kontrak tersebut.
Chen Fei menggigit ibu jarinya hingga berdarah, lalu menempelkannya di atas gulungan itu dengan seringai buas.
"Kau baru saja membuang nyawamu, Sampah," bisik Chen Fei. "Aku akan memastikan kematianmu cukup lambat agar Tuan Muda Wang bisa menikmatinya."
Lin Xuan melangkah maju. Tanpa ekspresi, ia menggores jarinya pada ujung sarung pedangnya, lalu menempelkan cap darahnya di sebelah nama Chen Fei.
Di bawah panggung, Zhao Yun yang masih memegangi tulang rusuknya yang patah, berteriak parau. "Mu Chen! Jangan gila! Meridian kananmu sudah hancur! Kau tidak bisa menggunakan teknik pedang kilatmu lagi!"
Lin Xuan menoleh sekilas ke arah Zhao Yun. Matanya yang gelap memancarkan ketenangan yang membekukan jiwa.
"Duduk dan perhatikan, Zhao Yun," kata Lin Xuan datar. "Di Jalan Asura, tidak ada senjata yang lebih tajam dari tekad untuk membunuh."
Diaken penjaga arena menggulung kontrak itu, melesat mundur ke udara, dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Duel Hidup dan Mati... Dimulai!"
Begitu tangan Diaken itu turun, Chen Fei langsung meledakkan aura Foundation Establishment Lapis Keduanya. Udara di sekitarnya bergemuruh, menciptakan gelombang kejut yang meniup debu arena ke segala arah.
Sebagai kultivator berelemen Logam, Qi murni milik Chen Fei memancar dengan warna putih keemasan yang menyilaukan.
Seni Zirah Logam Berat!
Permukaan kulit Chen Fei seketika berubah warna menjadi kelabu metalik. Qi logam memadat di sekujur tubuhnya, membentuk lapisan pelindung setebal dua inci yang sekeras baja murni.
"Hahaha! Jangankan tangan kosongmu yang cacat itu, pedang pusaka tingkat menengah sekalipun tidak akan bisa menembus zirah Qi milikku!" Chen Fei tertawa, menepuk dadanya sendiri hingga terdengar bunyi dentingan logam yang keras.
Wang Long yang duduk di kursi penonton tersenyum puas. "Habisi dia. Patahkan dulu kedua kakinya."
Chen Fei menerjang maju. Langkahnya berat, menggetarkan lantai panggung batu. Ia tidak menggunakan senjata apa pun, murni mengandalkan kepalan tangannya yang kini sebesar palu godam akibat penebalan Qi logam.
Ia mengayunkan tinju kanannya langsung ke arah kepala Lin Xuan, berniat menghancurkan tengkorak pemuda bertopi caping itu dalam satu serangan.
Angin tinju yang tajam berhembus menerpa wajah Lin Xuan, membuat ujung jubah hitamnya berkibar keras.
Namun, Lin Xuan tidak menghindar. Ia tidak menggunakan Langkah Hantu Tanpa Jejak. Ia berdiri diam seperti paku yang tertancap di bumi.
Di dalam Dantian nya, sembilan pilar hitam yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat, mulai bergetar pelan. Ia tidak melepaskan semua auranya, melainkan hanya menyedot kekuatan fisik murni dari pilar-pilar itu, memusatkannya ke bahu kanan, lalu mengalirkannya langsung ke ujung jari telunjuk kanannya.
Seni Jari Pemutus Kehidupan.
Urat-urat di lengan kanan Lin Xuan yang oleh semua orang dikira telah hancur tiba-tiba menonjol hitam. Tulang di dalam jari telunjuknya memadat hingga ke batas ekstrem, berubah warna menjadi hitam legam di bawah kulit pucatnya. Seluruh Qi, seluruh berat tubuh Asura nya, dan seluruh Niat Membunuhnya dikompresi menjadi satu titik sekecil ujung jarum.
Saat tinju Chen Fei berjarak kurang dari satu jengkal dari wajahnya, Lin Xuan akhirnya bergerak.
Ia tidak menangkis tinju itu. Sebaliknya, tangan kanannya melesat ke depan bagaikan sambaran ular berbisa, mengabaikan serangan yang datang.
Jari telunjuk kanan Lin Xuan menusuk lurus ke arah dada Chen Fei, tepat di tengah-tengah ulu hatinya.
CTIK.
Suaranya sangat pelan. Bukan suara ledakan dahsyat atau dentuman keras. Hanya sebuah bunyi 'ctik' ringan, seperti suara setetes air yang jatuh ke atas permukaan batu.
Namun, efek dari bunyi pelan itu menghentikan waktu di seluruh arena.
Tinju baja Chen Fei, yang tadinya siap menghancurkan kepala Lin Xuan, tiba-tiba berhenti di udara, hanya berjarak sehelai rambut dari hidung Lin Xuan.
Mata Chen Fei membelalak hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Rahangnya jatuh terbuka, namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya selain bunyi udara yang bocor.
Para penonton menahan napas. Wang Long berdiri dari kursinya, senyum di wajahnya membeku.
Di atas arena, jari telunjuk Lin Xuan telah menembus dada Chen Fei.
Zirah logam tebal yang dibanggakan Chen Fei, pelindung Qi murni tingkat Foundation Establishment, dan tulang rusuknya... semuanya tertembus oleh satu jari itu seolah-olah terbuat dari tahu yang lembek.
Energi kompresi dari Seni Jari Pemutus Kehidupan meledak ke dalam, bukan ke luar.
Di dalam rongga dada Chen Fei, meridian jantungnya hancur lebur menjadi debu dalam seperseribu detik. Esensi kehidupan dan aliran Qi-nya terputus total. Tidak ada darah yang muncrat ke luar, karena seluruh kekuatan ledakan menghancurkan organ vitalnya dari dalam.
"Kau..." Bibir Chen Fei bergetar, memuntahkan kabut darah hitam yang tebal. Matanya memancarkan horor yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia menatap Lin Xuan, pemuda yang sedetik lalu ia anggap sebagai sampah cacat.
"Zirah logammu," bisik Lin Xuan dingin, suaranya hanya bisa didengar oleh Chen Fei. "Terlalu rapuh."
Lin Xuan menarik jarinya dengan santai.
Begitu jari itu tercabut, tubuh besar Chen Fei bergoyang seperti pohon tumbang. Zirah Qi metalik di sekujur tubuhnya memudar dan hancur seketika, kembali menjadi debu energi di udara.
BRUKK!
Tubuh tak bernyawa itu ambruk ke lantai panggung dengan mata yang masih melotot tak percaya. Chen Fei, kultivator Puncak Awan Dalam Lapisan 2 Foundation Establishment, mati terbunuh hanya dengan satu sentuhan jari.
Keheningan yang menyelimuti arena Puncak Awan Dalam terasa sangat mencekam. Ribuan murid dalam yang menonton membisu. Bahkan angin pun seolah berhenti berhembus.
Diaken penjaga arena melayang turun, tangannya gemetar saat ia memeriksa denyut nadi di leher Chen Fei.
"M-Mati..." Diaken itu menelan ludah dengan susah payah, menatap Lin Xuan seperti melihat reinkarnasi monster purba. "Meridian jantungnya hancur total. Pemenang... Mu Chen."
Sorakan tidak terjadi. Hanya ada hela napas ngeri dari kerumunan.
Pemuda bertopi caping itu tidak mencabut pedangnya, tidak memancarkan Qi elemen yang menyilaukan, dan bahu kanannya jelas-jelas dikabarkan cacat oleh Tetua Feng. Namun, satu jarinya barusan melampaui logika dunia kultivasi fana.
"Seni Bela Diri macam apa itu?" seorang murid senior berbisik gemetar. "Dia menghancurkan zirah logam tanpa memicu fluktuasi Qi di udara! Murni kekuatan fisik dan pemadatan titik!"
Di pinggir arena, Wang Long berdiri kaku seperti patung es. Tangannya yang tidak diperban mengepal hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri, meneteskan darah ke tanah.
Ia kehilangan tangan kanannya karena tebasan Lin Xuan di turnamen luar. Kini, anjing peliharaannya yang paling kuat di Puncak Dalam mati hanya dengan satu sentuhan jari pemuda itu. Rasa malu dan kebencian membakar kewarasannya.
"Mu Chen!" raung Wang Long, suaranya pecah karena marah. "Beraninya kau menggunakan teknik sesat di Puncak Dalam! Aku akan melaporkanmu ke Balai Hukuman!"
Lin Xuan yang sedang mengusap setetes darah dari ujung jarinya, memutar tubuhnya perlahan, menatap lurus ke arah Wang Long.
"Gulungan Kematian telah ditandatangani. Aturan Sekte Awan Hijau menyatakan duel ini mutlak. Jika Tuan Muda Wang merasa ada yang salah dengan teknikku..." Lin Xuan menyeringai dingin, mengangkat jari telunjuk kanannya ke arah Wang Long. "...mengapa Tuan Muda tidak naik ke panggung ini dan mengujinya sendiri padaku?"
Tantangan terbuka.
Wajah Wang Long bergantian antara merah padam dan pucat pasi. Ia mengertakkan gigi, namun kakinya tidak berani melangkah satu sentimeter pun mendekati tangga arena. Dengan meridian kanannya yang masih hancur, naik ke panggung itu sama saja dengan mengantarkan nyawanya sendiri.
Melihat Wang Long hanya bisa menggeram tanpa berani maju, Lin Xuan mendengus pelan, penuh penghinaan.
Ia membalikkan badan, berjalan menuruni panggung arena, langsung menuju ke arah Zhao Yun yang masih terkapar di pinggir kerumunan.
Murid-murid dari Fraksi Naga yang tadinya mengepung Zhao Yun secara otomatis mundur teratur, membelah jalan lebar dengan wajah ketakutan saat Lin Xuan mendekat.
Lin Xuan berjongkok di samping Zhao Yun. Ia mengeluarkan sebuah botol giok kecil dari balik jubahnya Pil Penyembuh Tulang tingkat menengah hasil jarahannya sebagai Hantu Malam lalu menuangkan isinya ke mulut Zhao Yun.
Zhao Yun terbatuk pelan, warna wajahnya perlahan kembali seiring efek pil yang merajut tulang rusuknya. Ia menatap Lin Xuan dengan senyum lemah yang dipenuhi rasa kagum tak terbatas.
"Kau berbohong lagi padaku, Saudara Mu," kekeh Zhao Yun, meringis menahan sakit. "Kau bilang tangan kananmu cacat."
Lin Xuan berdiri, menepuk debu dari jubahnya. Wajahnya kembali sedatar permukaan air kolam beku.
"Aku bilang meridianku rusak. Aku tidak pernah bilang tulangku tidak bisa menghancurkan besi," jawab Lin Xuan pelan. Ia menatap Zhao Yun. "Lain kali, jika kau tahu kau tidak bisa menang, larilah. Keadilan tanpa kekuatan hanyalah pidato pemakaman untuk dirimu sendiri."
Tanpa menunggu balasan Zhao Yun, Lin Xuan berbalik dan berjalan menjauh, kembali menuju bayangan tebing utara.
Di punggungnya, ribuan mata menatap dengan perasaan campur aduk. Namun satu hal yang pasti: mulai hari ini, tidak akan ada satu murid pun di Puncak Awan Dalam yang berani menyebut nama Mu Chen bersamaan dengan kata "Sampah".
Bidak catur telah bergerak maju. Dan di kejauhan, badai Kesengsaraan Surgawi yang sebenarnya baru saja mulai mengumpulkan awannya.