Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 MALAM HENING DI KAKI GUNUNG
Malam tidak datang ke kaki gunung sebagai tamu yang sopan, ia datang sebagai penakluk yang membungkam segala warna dan merampas setiap kepastian pandangan. Di ketinggian ini, kegelapan memiliki massa—ia terasa berat, dingin, dan menekan, seolah-olah atmosfer itu sendiri terbuat dari tinta hitam yang pekat. Abimanyu duduk meringkuk di dalam ceruk batu yang ia temukan di langkah ke-seratus satunya. Di hadapannya, sebuah api unggun kecil menari-nari dengan liar, memakan dahan-dahan kering dengan bunyi kretek yang memecah kesunyian, menciptakan panggung cahaya kecil yang gemetar di tengah teater kegelapan semesta yang tak berujung.
Rasa sakit di otot-otot Abimanyu kini telah bertransformasi. Ia bukan lagi teriakan tajam yang menuntut perhatian, melainkan sebuah denyutan tumpul yang berirama—sebuah simfoni keletihan yang merambat dari tumit hingga ke dasar tengkoraknya. Dalam posisi meditasi yang kaku, ia menyadari satu hal yang fundamental: Kesunyian di alam liar bukanlah ketiadaan suara, melainkan kehadiran diri yang tak lagi bisa dihindari.
Abimanyu memejamkan mata, namun ia tidak menemukan kegelapan di dalam batinnya. Alih-alih, ia menemukan puing-puing suara dari peradaban yang ditinggalkannya. Biasanya, di jam-jam seperti ini di Lembah Nama, kepalanya adalah sebuah pasar yang riuh. Ia akan mendengar gema perdebatan kusir di ruang rapat fakultas tentang alokasi dana hibah, suara notifikasi email yang menuntut revisi borang akreditasi, atau deretan angka dari proyeksi labor force yang menari-nari di pelupuk matanya.
Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Gema itu mulai kehilangan frekuensinya. Suara-suara kota yang biasanya bergetar konstan di belakang kepalanya—suara mesin, suara ambisi, suara ketakutan kolektif para "Manusia Kertas"—perlahan-lahan meredup seperti sinyal radio yang menjauh dari menara pemancarnya.
"Mereka sudah tidak memiliki kedaulatan di sini," bisiknya pada api yang menjilat kegelapan.
Ia mencoba memanggil kembali wajah Profesor Danu atau Dr. Hardi, namun wajah-wajah itu tampak semakin buram, seperti foto lama yang terpapar sinar matahari terlalu lama hingga warnanya pudar dan bentuknya menjadi abstrak. Ia menyadari bahwa di Lembah Nama, manusia tidak pernah benar-benar mendengar suara mereka sendiri. Mereka hidup dalam "kebisingan orang lain". Mereka berpikir dengan terminologi yang disetujui konsensus, mereka merasa dengan emosi yang sudah dikurasi oleh pasar, dan mereka bertindak berdasarkan naskah Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang kaku.
Keheningan di gunung ini adalah sebuah prosedur detoksifikasi yang brutal. Tanpa kebisingan luar untuk mengalihkan perhatian, Abimanyu merasa seperti seorang penyelam yang tiba-tiba kehilangan tangki oksigennya, ia harus belajar bernapas dengan paru-parunya sendiri, atau ia akan mati lemas dalam kekosongan maknanya sendiri.
Saat suara kota benar-benar mati, sebuah suara lain mulai bangkit dari dasar jurang batinnya. Itu bukan suara yang lembut dan menenangkan seperti bisikan meditasi di salon-salon spiritualitas kota. Ini adalah raungan—sebuah badai internal yang selama ini ia tekan di bawah tumpukan sertifikat dan piagam penghargaan.
Dalam meditasi pertamanya di alam liar ini, Abimanyu menyadari paradoks terbesar: kesunyian adalah ruang di mana batinmu akhirnya berani berteriak karena tidak ada lagi gangguan yang bisa dijadikan alasan untuk berpaling.
"Tahukah kau, Abimanyu," suara itu bertanya dengan nada sarkasme yang tajam, "betapa lama kau telah menjadi pelawak yang mengenakan jubah intelektual? Kau bicara tentang 'Kehendak untuk Berkuasa', sementara kau sendiri gemetar jika namamu tidak muncul dalam indeks sitasi tahunan?"
Abimanyu tersentak. Dalam tarian cahaya api, ia melihat bayangan-bayangan masa lalunya muncul sebagai hantu-hantu yang mengejek. Ia melihat dirinya sendiri sedang menyusun sistem Outcome-Based Education (OBE) dengan kepatuhan seorang juru tulis yang ketakutan. Ia melihat dirinya bangga ketika dipuji sebagai arsitek pendidikan, padahal ia tahu di dalam hatinya, ia hanya sedang menyusun jeruji besi yang lebih canggih untuk memangkas sayap-sayap orisinalitas para pencari ilmu.
"Aku melakukan itu untuk keteraturan struktur!" ia mencoba membela diri dalam monolog batinnya.
"Tidak!"raung suara batinnya yang jujur. "Kau melakukannya untuk keamanan! Kau melakukannya agar posisimu di puncak piramida kertas itu tetap tak tergoyahkan. Kau telah menjual api kreatifmu demi kenyamanan statistik kependudukan!".
Meditasi ini menjadi sebuah pengadilan militer bagi jiwanya. Tanpa pengacara, tanpa saksi yang bisa disuap, dan tanpa hakim selain kehendaknya sendiri yang mulai mengeras. Di malam yang hening ini, ia dipaksa untuk menatap "Monster Dalam Diri" yang selama ini ia beri makan dengan kesuksesan semu. Segala gelar dan jabatan yang ia banggakan di Lembah Nama tampak begitu konyol, begitu kecil, dan begitu memalukan di bawah tatapan bintang-bintang yang dingin dan abadi.
Abimanyu menatap api unggunnya. Api itu kecil, rapuh, dan bisa padam hanya dengan satu hembusan angin gunung yang sedikit lebih kuat. Ia menyadari bahwa eksistensinya saat ini—seorang manusia yang telah menanggalkan identitas sosialnya—persis seperti api itu. Di Lembah Nama, ia merasa besar karena dikelilingi oleh tembok-tembok beton yang membatasi pandangan. Di sini, di kaki gunung yang masif, ia menyadari betapa tidak berartinya seorang manusia di hadapan alam yang liar.
"Gunung ini tidak peduli jika napas terakhirku keluar malam ini," pikirnya dengan ketenangan yang dingin. "Batu-batu granit ini tidak akan berduka, dan galaksi di atas sana tidak akan berhenti berputar hanya karena seorang profesor telah hilang. Alam tidak membutuhkan RPS, alam tidak membutuhkan akreditasi.".
Kesadaran akan ketidakberartian ini, anehnya, memberinya kekuatan yang meledak-ledak. Jika alam tidak peduli padanya, maka ia benar-benar bebas. Jika semesta tidak memberikan nilai tetap pada keberadaannya, maka ia memiliki otoritas mutlak untuk menciptakan nilainya sendiri dari nol. Inilah awal dari kemerdekaan seorang Anak. Ia tidak lagi berusaha menjadi "penting" menurut standar pasar, ia hanya berusaha menjadi "nyata" menurut standar keberadaannya sendiri.
Ia mengambil sepotong kayu lagi dan melemparkannya ke dalam api. Percikan api terbang ke udara, menari sebentar sebelum menghilang di kegelapan yang tak terbatas.
"Setiap percikan adalah satu dogma yang kubakar," gumamnya. "Biarlah mereka terbang dan mati dalam kebebasan, daripada tetap tinggal dan membeku dalam tumpukan naskah kuno."
Malam semakin larut, dan suhu udara turun drastis, menusuk hingga ke sumsum tulang. Suara batin yang tadinya menderu dengan amarah perlahan mulai mereda, berubah menjadi sebuah keheningan yang lebih dalam—sebuah kejernihan kristal yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh tahun masa pengabdiannya.
Abimanyu menyadari bahwa selama ini ia adalah "Objek" dari sistem. Ia adalah poin dalam data kependudukan, ia adalah angka dalam produktivitas riset nasional, ia adalah pelaksana kurikulum negara. Ia adalah alat bagi tujuan-tujuan yang bukan miliknya.
Sekarang, dalam meditasi yang menggigil di kaki gunung ini, ia sedang bertransformasi menjadi "Subjek". Ia adalah orang yang melihat, orang yang merasakan dingin secara langsung, orang yang memilih langkah berikutnya. Ia bukan lagi variabel dalam tabel distribusi tenaga kerja, ia adalah satu-satunya variabel yang menentukan nasibnya sendiri.
Ia teringat akan konsep Behind the Scene (BTS) yang sering ia gunakan untuk menjelaskan proses kreatif. Malam ini adalah momen behind the scene yang sesungguhnya dari eksistensi manusia. Tidak ada kamera yang merekam keberaniannya, tidak ada penonton yang akan memberikan tepuk tangan, tidak ada editing yang akan memperhalus kerapuhannya. Hanya ada dia, api kecil, dan kegelapan yang jujur. Dan dalam kejujuran yang mentah ini, ia merasa lebih "berisi" daripada saat ia berdiri di atas panggung wisuda yang paling megah sekalipun.
"Aku bukan lagi apa yang tertera di kartu identitasku," bisiknya pada angin malam yang menusuk. "Aku adalah apa yang aku kehendaki malam ini, di sini, di antara batu dan bintang."
Abimanyu merapatkan jaketnya, mencoba menyimpan setiap sisa kehangatan api di dalam rongga dadanya. Ia tahu bahwa esok hari, pendakian akan menjadi berkali-kali lipat lebih sulit. Ia akan bertemu dengan Roh Gravitasi bukan lagi sebagai bisikan batin, melainkan sebagai tantangan fisik dan rintangan alam yang akan menguji apakah mentalitas "Anak" yang ia temukan malam ini cukup kuat untuk bertahan hidup.
Suara batinnya kini tidak lagi menderu dengan amarah, melainkan dengan sebuah ketenangan yang matematis—sebuah keberanian yang dingin. Ia mulai mendengar detak jantungnya sendiri bukan sebagai alarm ketakutan, melainkan sebagai sebuah ritme perkusi yang stabil, sebuah musik internal yang tidak butuh konduktor dari luar.
"Malam ini, aku telah mengubur sisa-sisa terakhir dari Sang Guru yang haus puja," pikirnya sambil menatap bara api yang perlahan memerah. "Besok, aku akan mendaki bukan untuk membuktikan apa pun kepada para bayangan di bawah, tapi untuk merayakan kehendakku yang mulai menajam seperti mata elang."
Ia membaringkan tubuhnya di atas tanah yang keras dan berbatu, beralaskan tas ranselnya yang kini terasa ringan—bukan karena isinya berkurang, tapi karena banyak beban pikiran yang telah ia buang ke dalam api. Di atas sana, galaksi Bima Sakti membentang luas seperti sungai cahaya yang tak bertepi, sebuah peta yang tidak butuh koordinat atau sitasi buatan manusia. Abimanyu memejamkan mata, membiarkan keheningan gunung menyelimutinya seperti jubah yang berat namun penuh kebenaran.
Suara kota telah benar-benar mati. Dan dalam kematian suara dari dunia luar itu, Abimanyu menemukan hidupnya yang baru—sebuah hidup yang hanya terdiri dari satu kata: Mendaki.