Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Untuk beberapa saat Kay hanya terdiam menatap Noah dengan raut wajah yang tak bisa terbaca oleh siapapun. Membuat Noah sedikit menyesali ucapannya barusan. Niat hati ingin menggoda Kay seperti biasanya, kini malah menjadi senjata makan tuan bagi dirinya sendiri.
“Baguslah, kau membahas hal ini sekarang. Karena aku sudah memikirkannya ribuan kali,” ujar Kay, nada bicaranya datar tetapi menyimpan sejuta arti.
“Heheheee… aku hanya bercanda untuk yang tadi,” ucap Noah memilih jalan aman. “Ada urusan penting yang harus aku selesaikan secepatnya.”
Noah berniat kabur dari ruangan itu untuk menyelamatkan diri, tetapi Kay malah menghalanginya. Jika Noah bergerak ke kiri, maka Kay juga akan bergerak ke arah yang sama hingga akhirnya Noah memilih menyerah dan berkata, “Baiklah, katakan saja apa yang ini kau katakan? Lalu apa yang kau pikirkan sampai ribuan kali itu?”
“Aku ingin jawaban yang jujur,” suara Kay rendah, namun tegangnya terasa seperti tali yang ditarik sampai batasnya. “Sejak kapan kau mengenal dia?”
Noah tidak langsung menjawab. “Dia siapa yang kau maksud? Axlyn?”
Nama itu saja sudah cukup membuat sesuatu berdenyut di pelipis Kay. Ya, Axlyn—pengawal pribadi adik kecil Spencer. Perempuan yang selalu berdiri satu langkah di belakang untuk melindunginya. Mata tajam, wajah tanpa ekspresi namun setiap kali jarak mereka terlalu dekat, dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
“Aku tidak bertanya sejak kapan dia bekerja,” potong Kay. “Aku bertanya sejak kapan kau mengenalnya.”
Noah menatapnya lurus. “Sudah cukup lama.”
“Seberapa lama?”
Hening, Noah tidak langsung menjawab seakan ia juga sedang menimbang antara harus jujur atau membiarkan waktu yang tetap menentukan. Kay menggeram pelan, berjalan memutari meja. Sikap diam yang Noah tunjukan membuat kecurigaannya semakin besar.
“Lima tahun lalu aku mengalami kecelakaan. Mobilku terguling di jalan tol, dan aku kehilangan sebagian ingatanku. Itulah yang dokter dan kalian semua katakan, bukan?” Kay menatap Noah tajam. “Kau ada di rumah sakit. Kau yang mengurus semua urusan perusahaan. Kau yang memberitahuku siapa saja yang perlu kuingat. Dan kau yang selalu aku percayai dalam segala hal, Noah.”
Noah tetap diam, tetapi dalam hatinya mulai bertanya-tanya. “Kenapa tiba-tiba Kay bertindak seperti ini? Apakah dugaanku benar? Kay sudah mulai mengingat tentang Axlyn dan kejadian di Kota Xennor?"
“Tapi tidak ada yang pernah menyebut namanya. Satu hal yang masih mengganjal di hatiku selama ini, meski aku memilih diam.” Suara Kay menurun, bukan karena ragu melainkan karena luka. “Sejak kapan aku berteman baik dengan Spencer? Mengapa ingatanku tentangnya juga menghilang?”
Bayangan samar melintas di benaknya tentang memori yang kembali muncul saat pertarungan itu. Dan Kay merasa bahwa ingatan itu berkaitan dengan Spencer ataupun… Axlyn. Karena Noah membahasnya, maka sekarang ia akan memperjelas semuanya.
“Aku mengenalnya, bukan?” lanjut Kay, lebih pelan kini. “Tubuhku mengenalnya. Hatiku—” Ia terdiam, frustrasi. “Hatiku bereaksi seolah dia pernah menjadi seseorang yang berarti untukku.”
“Dia benar-benar mulai mengingatnya?” ucap Noah dalam hatinya.
Noah akhirnya berbicara. “Beberapa hal tidak bisa dipaksakan untuk diingat, Kay.”
“Aku hanya ingin tahu kebenarannya, Noah!”
“Kebenaran,” ulang Noah lirih, “tidak selalu baik untuk diungkapkan, Kay.”
Kay menatapnya tajam. “Jadi memang ada sesuatu.”
Noah tidak lagi menyanggah, sebab ia pikir sudah saatnya apa yang terkubur selama ini mulai ditemukan oleh Kay sendiri. Namun bagi Kay, itu lebih buruk daripada sebuah pengakuan. Noah tidak berniat memberitahu kebenarannya, tetapi ia juga tidak menyanggah dugaan yang Kay layangkan.
“Baiklah, jika memang kau tidak ingin memberitahuku sekarang.” Kay bukan menyerah, tetapi ia juga tidak ingin memaksa Noah. Sebab ia tahu, semua orang mengetahui tentang ini termasuk dirinya sendiri. Hanya saja, ia yang telah melupakannya.
“Lalu, apa dia…?” Kay menelan ludah, kalimat itu terasa berat keluar dari tenggorokannya. “Apa dia pernah menjadi bagian dari hidupku?”
Hening yang panjang kembali terjadi. Seperti sebelumnya Noah tidak segera memberikan jawaban. Sampai akhirnya Noah berkata dengan hati-hati, “Ada alasan mengapa beberapa ingatan menghilang setelah trauma besar.”
“Itu bukan jawaban, Noah!”
“Dan ada alasan mengapa sebagian orang memilih tetap diam… membiarkanmu tidak mengetahui kebenarannya.”
Jantung Kay berdetak lebih keras. Tidak hanya Noah, tetapi seluruh keluarganya memilih diam dan mengubur tentang Axlyn dalam ingatan Kay yang hilang. Apakah alasan itu ada pada Axlyn sendiri? Spencer? Atau bahkan pada dirinya sendiri?
“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mengetahui kebenarannya?” tanya Kay hampir berbisik.
Noah menunduk sedikit. “Karena lebih baik untukmu untuk mengingat semuanya sendiri.”
Kay mencengkeram pelipisnya. “Sial…” napasnya memburu. “Kecelakaan itu… pasti menghapus sesuatu yang penting. Sesuatu yang berhubungan dengannya. Jadi, aku harus cepat mengingatnya.”
Noah spontan menjadi panik. Ia melangkah setengah langkah maju, karena khawatir. “Kay—”
“Aku tidak bisa, Noah. Perasaan ini bukan ilusi.” Mata Kay memerah, bukan karena marah… melainkan karena frustasi. “Setiap kali dia berdiri di dekatku, ada rasa kehilangan yang tak pernah kumiliki sebelumnya. Seolah aku pernah memilikinya… lalu kehilangannya… dua kali.”
Noah terdiam cukup lama hingga hanya suara hujan yang mulai terdengar. Hingga akhirnya ia berkata, suaranya lebih lembut dari biasanya, “Jika aku memberi tahumu sekarang, itu bukanlah ingatan. Itu hanya cerita.”
Kay terdiam, ia bisa menangkap bahwa ada sesuatu yang besar dari ingatannya yang hilang. Ada sesuatu yang kembali sekaligus hilang disaat bersamaan, jika ingatannya kembali pulih. Dan alasan semua orang memilih mengubur ingatannya yang hilang.
“Dan cerita,” lanjut Noah, “tidak akan membuat hatimu benar-benar percaya. Kau harus mengingatnya sendiri, Kay. Meski perlahan. Meski menyakitkan.”
“Bagaimana jika aku tidak pernah mengingatnya?”
Noah menatapnya dalam-dalam. “Kalau begitu… mungkin itu yang terbaik untuk kalian berdua. Dan kau harus ingat, Kay! Saat ini ada wanita yang tengah mengandung anakmu. Wanita yang keberadaannya belum kita temukan sampai detik ini.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Noah jelas sedang mengingatkan kepada Kay agar tidak terlalu bergantung pada masa lalu itu, karena masa depan… lebih tepatnya wanita itu, pasti sedang menunggu untuk ditemukan.
Kay memejamkan mata, dan untuk sesaat ia bisa merasakan kehangatan seseorang yang dulu berdiri begitu dekat. Mungkin cukup dekat untuk mendengar detak jantungnya sendiri. Dan ketika ia membuka mata kembali, di luar hujan badai mulai menggema seolah memperlihatkan badai besar dii hati dan pikiran Kay saat ini.
“Aku akan tetap mencari tahu,” kata Kay pelan namun tegas. “Dengan atau tanpa bantuanmu.”
Bersambung …
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌