"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebut Jangkar jiwamu
"Saat kegelapan mulai menelan raga, hanya darah dan nama yang kau cintai yang mampu menjadi lentera menuju jalan pulang."
......................
Lampu kamar hotel mendadak berkedip hebat sebelum akhirnya padam sepenuhnya. Suasana seketika menjadi gelap gulita, menyisakan keheningan yang mencekik. Laptop di depan Syifa mati total, meninggalkan layar hitam pekat yang kini berfungsi sebagai cermin.
Syifa mematung. Di balik pantulan layar laptop yang gelap, ia melihat sesuatu yang membuatnya hampir kehilangan napas. Di belakang bahunya, samar-samar terlihat bayangan sosok tinggi dengan rambut gimbal menjuntai hingga ke lantai. Sepasang mata merah menyala menatapnya tepat dari balik pantulan itu.
Itu adalah Kambe Kukang.
Suara geraman rendah yang berasal dari bahasa Dayak tadi kini tidak lagi keluar dari speaker, melainkan berbisik langsung di tengkuknya, dingin dan berbau tanah kuburan.
"Aku harus selamat... aku harus selamat..." bisik Syifa dengan suara bergetar.
Dalam kepanikan yang luar biasa, Syifa teringat akan Penyang dan peringatannya tentang keseimbangan alam. Ia sadar, satu-satunya cara menyelamatkan diri saat ini bukan dengan lari, melainkan dengan mengakui keberadaan "pintu" tersebut.
Dengan tangan gemetar, Syifa meraba-raba tasnya, mencari pemantik api atau apa pun yang bisa menghasilkan cahaya. Ia berhasil menemukan korek api kecil. Dengan sekali sentakan, api menyala. Namun, bukannya menerangi kamar, api itu justru meliuk-liuk ke satu arah—seolah-olah tertiup oleh napas sesuatu yang berdiri tepat di depannya.
Syifa memejamkan mata rapat-rapat. Ia tidak lari keluar kamar karena ia tahu, di tempat gelap seperti ini, Kambe adalah penguasa. Ia justru bersimpuh di lantai, menekan rasa takutnya sedalam mungkin, dan berteriak sekuat tenaga:
"Penyang! Tolong aku! Aku mengaku... aku menyerah pada hukum alam! Ambil hartaku, selamatkan nyawaku!"
Seketika, ia menggigit ujung jarinya sendiri hingga berdarah dan mengoleskannya ke dahi, teringat akan ritual perlindungan diri yang pernah ia dengar secara samar. Ia menggambar simbol garis lurus di lantai—simbol keseimbangan yang memisahkan dunia atas dan bawah.
Tepat saat itu, pintu kamar hotelnya digedor dengan keras. Suara berat Penyang terdengar dari balik pintu, membawa wibawa sang penjaga alam. "Jangan buka matamu, Syifa! Jangan lihat dia! Sebut nama siapa saja sebagai jangkar jiwamu!"
Agung. Hanya Agung.
Syifa terus merapalkan nama Agung, menjadikan cinta pria itu sebagai satu-satunya alasan baginya untuk tetap sadar di tengah kepungan hawa mistis yang ingin menyeretnya ke kegelapan abadi.
Penyang mendobrak pintu dengan satu hantaman keras yang berwibawa. Di kepalanya, melilit Lawung Kuning yang berkilau—sebuah simbol sakral bagi sang penerus murni penjaga alam, lambang otoritas tertinggi yang menghubungkan manusia dengan kekuatan atas.
Begitu Penyang melangkah masuk, aura kuning dari Lawung-nya seakan membelah kegelapan. Seketika, lampu kamar hotel menyala kembali dengan suara dentuman listrik yang kuat, memaksa bayangan kukang yang mengerikan itu menciut dan menghilang ke sudut-sudut paling gelap.
Syifa, dengan tubuh yang gemetar hebat dan sisa-sisa air mata di pipinya, tidak lagi ragu. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan botol Kukang—pusaka terkutuk yang menjadi sumber petaka dalam darahnya. Dengan tangan lemas, ia menyerahkan botol itu kepada Penyang, seolah menyerahkan seluruh beban dosanya.
Penyang menerima botol itu dengan raut wajah yang sangat serius, seolah ia sedang menggenggam jantung neraka yang masih berdenyut. Ketegangan di dalam kamar hotel itu memuncak hingga ke titik nadir. Lawung Kuning di kepalanya tampak berkilat, memancarkan wibawa sang penerus murni penjaga alam yang tak tergoyahkan.
Dengan suara berat yang menggetarkan udara, Penyang mulai merapalkan doa pengusiran dan penyegelan dalam bahasa Dayak yang terasa sangat purba dan mengancam bagi entitas jahat di dalamnya:
"Salamat bereng puji, bereng karamat. Kur semangat! Pakat huang talawang, ije liau mambalik petak. Bau kambe, bau hantuen, ampit hila-hila! Sanaman kaning, ranap ikau hantuen, leket ikau kambe! Bara huang darah, bara huang tulang, lunas balian, mampat kutuk! Mundur ikau, buli ikau kan jerat!"
Bersamaan dengan berakhirnya rapalan itu, Penyang mengoleskan cairan kental berwarna merah kehitaman di tutup botol tersebut. Cairan itu mendesis nyaring, mengeluarkan asap tipis berbau kemenyan yang bercampur dengan aroma amis darah yang menusuk hidung.
"Ini hanya segel sementara," desis Penyang. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, menandakan besarnya energi yang terkuras. "Aku hanya mengunci mulut iblis ini agar tidak melahapmu malam ini. Tapi ingat, Syifa... keseimbangan tetap harus ditebus. Segel ini tidak akan bertahan lama jika kau tidak segera menyelesaikan apa yang telah dimulai."
Syifa jatuh terduduk di lantai yang dingin, napasnya tersengal seolah baru saja lolos dari cekikan maut. Ia melihat botol di tangan Penyang kini tidak lagi bergetar sehebat tadi, namun ia bisa merasakan hawa jahat di dalamnya masih mengintai, seperti predator yang sedang bersembunyi di balik semak-semak, menunggu waktu yang tepat untuk menerkam kembali.
Belum cukup sampai di situ, Penyang mengeluarkan seutas tali hitam kusam dari balik pakaiannya. Aura dingin yang menekan seketika memenuhi ruangan. Itu bukan tali biasa; itu adalah pusaka kuno yang dijalin dari akar hutan keramat dan helai rambut leluhur—sebuah pengikat roh yang mampu menjerat entitas dari dunia bawah yang paling liar sekalipun.
Dengan jemari yang lincah dan gerakan yang sangat hati-hati, Penyang melilitkan tali hitam itu berkali-kali pada tubuh botol Kukang tersebut. Setiap kali tali itu melingkar, ia kembali merapalkan mantra pengikat yang membuat tali itu seolah hidup dan mengetat dengan sendirinya, memerangkap hawa panas yang bergejolak di dalam kaca.
"Tali ini akan mengikat roh jahat di dalamnya untuk sementara," ujar Penyang dengan napas yang mulai teratur, meski cahaya Lawung Kuning-nya perlahan meredup. "Jangan pernah sentuh ikatan ini. Jika satu simpul saja terlepas, Kukang itu akan keluar dengan kemarahan yang tidak akan bisa kubendung lagi. Dia akan menagih nyawa siapapun yang paling dekat denganmu."
Syifa menatap Penyang dengan tatapan kosong yang perlahan mulai terisi binar harapan. Pria di hadapannya bukan lagi sekadar orang asing yang menakutkan, melainkan jangkar kewarasannya. Penyang mengulurkan tangannya yang kokoh, menjangkau Syifa yang masih bersimpuh lemas di lantai.
"Kita harus pergi dari sini," ucap Penyang berat namun tenang, membantu Syifa berdiri. "Bukankah kau ingin bercerita? Rahasia ini sudah terlalu lama membusuk di dalam raga."
Syifa menggenggam tangan pria itu dengan sangat erat, seolah-olah tangan itu adalah tangan malaikat yang menariknya paksa keluar dari lubang dosa yang pekat. Dalam keputusasaan, ia berbisik parau, "Apakah kita bisa mulai dari sini saja? Aku... aku tak sanggup lagi melangkah."
Penyang menggeleng pelan, matanya menyapu sudut-sudut kamar yang masih menyimpan sisa-sisa hawa dingin sang Kambe.
"Jangan," tolak Penyang tegas. "Jika aku membiarkanmu bercerita dan membongkar segelnya di sini, hotel ini bisa rusak. Tak sanggup aku menggantinya. Bukan hanya retak dindingnya, tapi hancur lebur pun bisa jika amarah yang kau simpan meledak tak terkendali."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kamus:
"Salamat bereng puji, bereng karamat. Kur semangat! Pakat huang talawang, ije liau mambalik petak. Bau kambe, bau hantuen, ampit hila-hila! Sanaman kaning, ranap ikau hantuen, leket ikau kambe! Bara huang darah, bara huang tulang, lunas balian, mampat kutuk! Mundur ikau, buli ikau kan jerat!"
Artinya :
"Selamatkan raga suci, raga yang berkeramat. Hadirlah semangat! Bersatu dalam tameng, kembalikan roh jahat ke tanah. Bau iblis, bau hantu, terjeratlah di segala sisi! Besi kuning yang keras, hancurlah kau hantu, lengketlah kau iblis! Dari dalam darah, dari dalam tulang, tuntas oleh ritual, tersumbatlah kutukan! Mundur kau, kembalilah kau ke dalam jeratan!"
karena apa coba