DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Bertemu Kamu Lagi
"Ke kantin, yuk!" ajak Vania.
Catu mengangguk, "Kuy! Eh Qell, ikut kita ke kantin, yuk! Habis itu kita-kita bakalan ajak lo keliling sekolah biar nggak nyasar entar."
"Boleh." Aqqela mengangguk sambil berdiri.
Mereka ber-empat mulai melangkah keluar kelas bersama-sama.
"Qell, pokoknya elo harus tau ya, makanan di kantin itu enak-enak banget parah. Apalagi cirengnya pak Mun, beuhhh," kata Aya lebay.
"Sama baksonya kang Ujang juga," timpal Vania cepat.
"Mie ayam ada nggak?" tanya Aqqela.
"Ya ada, dong. Mie ayam di sini favorit gue banget malah," kata Catu ceria.
Ke-empatnya mulai menuruni tangga dan melangkah di koridor lantai satu.
Seperti ada lampu tersorot, para mata memandang dan melebarkan mata. Apalagi ada Aqqela di antara mereka-siswi yang sempat membuat sekolah gempar tadi pagi.
Perlu di catat, bahwa circle itu di isi kumpulan gadis-gadis cantik berparas dewi, sehingga tidak aneh para cowok menatap mereka berbinar.
"Hadeh, emang resiko jadi orang cantik, di lihatin mulu huft," kata Aya sok cantik.
"FATTAH, JONGKOK LAGI! JANGAN BERANI KABUR YA KAMU!" koar pak Bondan sambil meneguk es tehnya.
Aqqela dan teman-temannya menghentikan langkah di pinggir lapangan.
Melihat ke-empat inti LEVIAN di suruh squat jump dengan tangan saling merangkul.
"Noel, squat jump yang bener! Kenapa pakai lirik-lirik saya gitu?" omel pak Bondan.
"Es tehnya bagi-bagi bisa kali pak," sindir Noel kehausan.
"Oh, kamu mau ini?" Pak Bondan malah sengaja meneguk es tehnya sambil memegangi leher bergaya pamer, "Uhhh, segerrrr..."
Fattah hampir mengumpat melihat kelakuan gurunya itu.
Berbeda sama Noel dan Matthew yang menelan ludah berkali-kali.
"Ayo lanjut squat jump-nya! Kenapa malah pada berhenti?"
"Pak, udah, dong! Masa ketauan panjat pagar doang di hukumnya squat jump 50 kali? Ini sungguh terlalu kayak kata bang Rhoma Irama," protes Matthew drama.
"Nggak ada terlalu-terlalu. Cepetan!"
Mereka menurut dan kembali melaksanakan hukuman, walau dengan wajah cemberut.
"Itu mereka kenapa?" tanya Aqqela, sementara Catu yang terkekeh karena ucapan pacarnya.
"Biasa lah Qell, paling bikin onar lagi. Kayak nggak tau mereka aja. Kuy ke kantin! Udah lapar gue," kata Vania menggandeng lengan Aqqela.
***
"Kantinnya ramai banget ya," kata Aqqela mengedarkan pandang ke seluruh penjuru kantin, saat Catu sudah melangkah memesan.
"Iya. Apalagi istirahat pertama gini. Eh, by the way busway, elo beneran ada something sama Fattah, Qell? Elo pacaran sama dia?" seru Aya benar-benar kepo maksimal.
"Gue juga penasaran. Secara bor, doi nggak pernah bonceng cewek ke se-eh, dulu pernah bonceng Nazera sih, adik kelas. Itupun gara-gara Nazera pacar Arsen sepupunya."
"Nggak, elah. Bukan pacarnya." Aqqela menggeleng tenang. Tapi istri jadi-jadiannya.
"Hah, bukan pacarnya? Terus, kenapa bisa berangkat bareng tadi?"
"Cuma temen. Kenapa sih, gitu doang pada heboh banget?" tanya Aqqela bingung.
Vania mendelik, "Lah, emang lo nggak tau dia siapa?"
"Fattah, kan?" balas Aqqela cepat, membuat Vania dan Aya hampir mengumpat.
Sampai mata Aya menoleh ke arah pintu dan berbinar.
"Nah, itu dia!" kata Aya menunjuk ke arah pintu, dengan satu tangannya mengguncang lengan Aqqela.
Aqqela reflek mengangkat wajah. Apalagi keadaan kantin mendadak jadi rusuh dan heboh sekarang.
"Aaaaaa kak Fattah ganteng banget sih, kak?!"
"Kak Noel, makan hiu makan roti, i love you bertubi-tubi!"
"Allahuakbar Matthew, notice gue please! Eh, sama Jefan mau juga!"
"Fattah keren banget macayyy. Nggak, nggak bisa, pokoknya Fattah itu punyaku!"
"Enak aja punya lo. Punya gua!"
Bagaimana tidak heboh?
Dari pintu masuk, cowok tampan itu melangkah tenang memimpin. Aura dingin dengan kesan badboy seakan mendominasi, membuat semua pasang tertuju ke arahnya.
Di susul tiga temannya yang tak kalah tampan, Jefan, Noel dan Matthew, membuat semua cewek meleleh.
Seperti di drama Korea, saat geng cowok ganteng datang, membuat keadaan heboh.
"Itu LEVIAN! Dan mereka adalah ke-empat intinya. Sekumpulan badboy sekolah yang jago bikin kaum hawa meleleh envy. Selain penguasanya sekolah, mereka juga petingginya geng motor di Jakarta Selatan," cerocos Aya menggebu.
"Kalau yang jalan paling depan itu, Fattah Andara Fernandez namanya-ketua Levian. Paling ganteng, paling kaya, paling bandel dan paling bisa bikin rahim seluruh cewek bergetar," cerocos Vania menggebu.
Aqqela menjatuhkan rahang dan ternganga.
Got damn it! Siapa juga yang nggak tau cowok sengak itu?
"Lihat deh Qell, muka gantengnya menggoda banget buat di nikahin. Ya nggak, sih?" rengek Vania memeluki lengan Aqqela lebay.
"Dan di belakangnya itu, my baby Jefan namanya. Ganteng, paling pinter, lumayan kalem, anaknya dokter, dan dia itu wakilnya Levian. Jangan lo sepik! Dia cowok gue," kata Aya mengancam.
Aqqela terkekeh dan mengangguk pelan sambil menopang dagu.
"Nah yang itu tuh, sampingnya Jefan pakai jam tangan coklat, namanya Matthew. Panglima tempurnya Levian. Dan dia pacarnya Catu."
"Oh, yang itu?"
Aqqela manggut-manggut lagi sambil memandang Matthew.
Vania memutar bola matanya saat melihat Noel yang sibuk tebar pesona dan melayangkan ciuman jarak jauh kiri kanan.
"KYAAAAA BUAT AKU, BUAT AKU!" Para cewek asik berebutan ciuman Noel.
"Dan yang itu, Noel Londok namanya.
Mukanya sih cakep dan imut. Tapi tuh cowok kardus abis. Pokoknya, elo jangan berurusan deh Qell sama dia. Dia itu playboy cap bulu babi dengan cewek dimana-mana," kata Vania.
"Gitu-gitu juga mantan gebetan lo anjir," ledek Aya.
"Dih, sejak kapan gue mau sama Noel?
Naksir juga enggak pernah. Ya kali," kata Vania mengibaskan rambutnya sok cantik.
"Nih, pesanan kalian. Serius ya, image cantik gue langsung luntur gara-gara bawa nampan ginian," keluh Catu.
"Cih, lagak lo sok paling yes." Aya memicingkan mata.
"Oh, ya jelas dong!" katanya percaya diri, membuat Aqqela terkekeh, "Eh, gimana-gimana sama anak baru? Beneran pacarnya Fattah, kan?"
Aqqela mendelik kecil, "Temennya doang astaga. Pada kenapa, sih?"
Mata Catu melebar melihat ke arah sesuatu, "Yakin cuma temen doang? Terus itu apa...?"
"Hmm...?"
Ke-tiganya menoleh kompak, termasuk Aqqela memandang ke arah sesuatu.
Mata Aqqela membelalak melihat Fattah melangkah mendekatinya, membuat keadaan kantin tiba-tiba langsung hening.
Termasuk tiga anggota LEVIAN yang mengekor Fattah jadi terkejut melihat Aqqela di sekolah ini.
"El, pindahin makanannya Aqqela! Taruh di meja kita," perintah Fattah menunjuk bangku kosong di ujung kantin, markasnya anak Levian.
Aqqela ternganga bingung, "Maksud lo apa?"
"Nggak ada. Cuma pengen lo satu meja sama gue," jawab Fattah masa bodoh.
Satu kantin reflek membekap mulut mereka tak percaya.
"Lo sinting? Nggak lihat gue udah di sini sama temen-temen gue?" Aqqela menoleh, "Ck, apaan sih? Jangan di ambil!" kata Aqqela naik pitam merebut mie ayam yang baru di angkat Noel, membuat Noel menciut.
"Pindah!" tegas Fattah.
"Nggak mau."
"Udah Fat, nggak usah di gangguin mulu anak orang," tegur Jefan dewasa.
"Tau nih, Fattah woooo!" Matthew menyoraki berlebihan, tapi langsung kicep saat di tatap tajam Fattah.
"Ck, pergi lo! Jangan ganggu gue terus deh!" kata Aqqela galak.
"Kalau nggak mau?" tantang Fattah.
Aqqela reflek mengumpat, "Lo mau gue tabok ini, hah?" ancamnya sambil melepas sepatunya.
"Ehhh Sa, tahan-tahan!" panik Catu.
Noel melengos lelah, lalu berbisik ke telinga Fattah, "Yang smooth lah bos, jangan nge-gas banget! Ah lo tuh nggak pengalaman banget soal cewek," omelnya menggurui.
"Diem lo!" Fattah mendorong sebal muka Noel, lalu menoleh.
"Heh, bilangin sama temen kalian suruh minggat, ya! Gue nggak suka lihat muka dia," kata Aqqela menunjuk Fattah sengit.
Fattah sendiri ternganga, "Lo berani sama gue?"
"Apa?" tantang Aqqela sambil berdiri kesal.
"Lah, elo yang apa?"
"Elo duluan yang mulai."
"Udah-udah santai! Lagi di kantin woi, santai!" kata Jefan menengahi.
Aqqela sibuk memelototi Fattah agar tidak macam-macam. Fattah sendiri mengeraskan rahang menatap Aqqela tajam, yang di balas tatapan tak takut cewek itu.
Keduanya saling bertatapan.
"Aduh, kok mendadak jadi sinetron India begini tatap-tatapan?" celatuk Aya tapi segera mingkem saat di tegur Jefan.
Fattah tanpa sadar menggigit ujung bibirnya samar, mulai menikmati iris mata Aqqela.
"Lo beneran berani nentang gue?" tanya Fattah serak maju selangkah mendekat.
"Apa?"
"Lo lupa omongan gue kemarin?" Alis Fattah terangkat sebelah.
Aqqela mengerutkan kening.
Bibir Fattah berkedut menahan senyum miringnya.
Semua orang mulai takut dan harap-harap cemas di sana.
Fattah menundukkan kepala dan berbisik kecil di telinga Aqqela, "Lo beneran bandel banget hari ini..."
Cup!!
Aqqela membelalak saat bibir Fattah tau-tau menempel di atas bibirnya. Hanya menempel, tapi sudah mampu membuat tubuh Aqqela menegang.
Satu kantin membulatkan mata tak percaya.
Lalu tiba-tiba...
"Aghrrrr anjing!" Fattah menjerit saat tulang keringnya di tendang keras oleh Aqqela.
ya?" Fattah menatap Aqqela kesal, "Elo udah gila,
"Elo atau gue yang gila? Kurang ajar ya lo!"
"ANJ-CAAAA, UDAH-UDAH! BADAN GUE SAKIT SEMUA," teriak Fattah sudah babak belur karena di gebuki oleh Aqqela dan di jambak juga.
Aya dan lainnya tercengang tak percaya melihat keganasan Aqqela.
"Awas lo cium-cium gue lagi, habis lo sama gue!" ancam Aqqela galak, sambil berlalu pergi di susul Vania dan Catu.
"Jef, aku susulin temen aku dulu, ya! Dah, tata titi tutuuu!" kata Aya pada Jefan yang mengangguk.
"Parah lo Fat, anak orang lo bikin ngamuk gitu," kata Noel.
"Dasar kardus!" Matthew mendorong bahu Fattah.
Fattah sendiri meringis kecil memegangi kepalanya.
Walau diam-diam, Fattah malah mengalihkan wajah di susul senyum kecil setelahnya.
Dia tidak pernah sadar, bahwa membuat Aqqela kesal sampai pipinya memerah seperti kepiting rebus, akan jadi perasaan semenyenangkan ini.
***
"WOI, ADA TAWURAN DI DEPAN SEKOLAH, WOI!" teriak Cakra di koridor lantai dua, heboh sendiri.
"ANAK STARLIGHT SAMA TARUNA JAYA TAWURAN LAGI WOI!" koar cowok itu mengumumkan dan berbelok menuju koridor IPA.
Aqqela dan teman-temannya yang lagi ngerumpi di koridor depan kelas menoleh. Kebingungan melihat Cakra yang lari-larian rusuh.
"Aqqela! Catu!" panggil Cakra mendekat sambil ngos-ngosan.
"Heh, kenapa sih lo?" tanya Vania.
"Kenapa?" Aqqela buka suara.
"Pacar kalian..." kata Cakra terputus-putus.
"Hah?"
"Kesurupan di depan gerbang," kata Cakra histeris.
"WHAT?" Aya dan Catu berdiri kaget.
"Tawuran maksudnya?" Vania membelalak
"Iya, di depan sekolah anjir. Ayo, buruan!
Mumpung masih anget," kata Cakra menarik-narik tangan Catu.
"Join nggak nih?" tanya Vania.
"Gue nggak-"
"AYO!" Aya langsung menarik tangan Aqqela, membuat gadis itu tertarik kaget.
Saat keluar lobby, Aqqela melebarkan mata melihat keadaan depan gerbang heboh di isi anak-anak tawuran.
Bahkan satpam sekolah sampai panik penutup gerbang, supaya tawuran tak masuk sampai ke halaman sekolah.
"Minggir-minggir woi, minggir!" Suara cempreng Aya membuat orang-orang menepi.
Karena Aya, mereka dengan mudah berada di posisi paling depan.
"Sumpah anjir, ini lawannya sekolah mana lagi?" tanya Catu sambil melongok-longok di balik gerbang.
"Nggak tau anjir. SMK Bhakti Utama kali, ya? Fattah kan kemusuhan tuh sama Devanka," sahut Vania sambil memegang besi gerbang, menyebut nama bosgeng Bhakti Utama.
"Yahh ayanggg aku!" rengek Aya lebay saat melihat Jefan terkena tonjokan.
"Najis Aya, drama banget sih hidupnya," hardik Aqqela.
Tawuran masih terjadi di depan mereka. Suara pukulan terdengar dimana-mana, sampai Aqqela dan lainnya berteriak kaget ketika siswa terhempas ke gerbang.
BRUGH!!
"Aghrr!" jerit para siswi yang menonton saat seorang siswa di tonjok dengan punggung menempel ke gerbang yang jadi pembatas penoton dan yang berkelahi.
Aqqela sampai mundur kecil karena kaget.
"Dari seragamnya, ini bukan SMK Bhakti Utama deh kayaknya. Tapi sekolah lain," celatuk Aya serius.
"Gue asing banget sama seragamnya. Sekolah Jaksel nggak ada yang gini seragamnya," kata Vania menatap siswa sekolah lain itu.
Aqqela sendiri menatap Fattah yang berkelahi dengan seseorang yang posisinya membelakangi Aqqela.
Pandangan Aqqela berkeliling, melihat satu persatu siswa yang jadi lawan anak Taruna Jaya Prawira hari ini.
Seragamnya...?
Kenapa tidak asing?
"Lawannya anak Taruna hari ini, SMA Starlight Jakarta Pusat guys," cerocos Aya histeris.
"YANG BENER?" kata Catu dan Vania semangat.
Aqqela membelalak lebar.
"Lah, sekolahnya Oliver anjayyy. Gue sering denger namanya. Eh, yang namanya Oliver mana, sih? Katanya dia ganteng banget," kata Catu semangat.
"Bismillah. Gue ngarepnya beneran SMA Starlight yang sekolahnya Oliver," kata Vania mulai kecentilan juga.
BUGH!!!
Aqqela memekik reflek memejamkan mata saat suara pukulan kembali terdengar.
Matanya tanpa sengaja jatuh ke arah seseorang yang di tendang Fattah sampai terpental ke jalan raya.
Cowok itu tak mau kalah dan menghajar Fattah balik.
DEG!!!
Dia, kan?
Tubuh Aqqela membeku dengan mata melebar sepenuhnya.
Karena tidak jauh di depannya, sosok Oliver Glenn Roberts pacarnya, terlihat saling serang dengan Fattah, dengan muka keduanya sama-sama babak belur.
"HEHHH, itu yang namanya Oliver, yang itu!" tunjuk Aya.
"Ganteng banget! Yang lawannya Fattah kan, ya?" kata Catu melihat cowok berkulit putih adu pukul sama Fattah.
"Mana? Mana? Ya ampun, menggoda banget nggak sih buat jadi pacar gue aja? Kyaaaa," kata Vania ambyar sendiri.
Aqqela masih mematung di tempat dengan jantungnya berdebar keras. Dia sampai memundurkan langkah sedikit saking syok-nya melihat Oliver di sini.
Kepala Oliver sendiri tanpa sengaja menoleh ke arah kerumunan para siswa siswi SMA Taruna Jaya Prawira yang menonton dari balik gerbang.
Mata Oliver se-perkian detik langsung membulat lebar dan terpaku begitu saja di tempat, melihat gadis yang dia cintai berdiri tak jauh darinya dengan wajah sama tegangnya.
"Aqqela?" ucap Oliver pelan.
Fattah yang berniat melayangkan pukulan lagi jadi tersentak.
Kepalanya ikut menoleh ke arah yang di lihat Oliver.
Tubuh Fattah tanpa sadar ikut membeku, melihat Aqqela berdiri terpaku menatap ke arahnya dan Oliver bersama penonton lain.
Fattah tidak menyangka, bahwa Aqqela harus ikut menonton tawuran ini yang membuatnya bertemu Oliver secepat ini.
***