Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Balikpapan
Seminggu setelah pertemuan rahasia Wira dan Sasha di Jakarta, giliran Rizky yang terbang ke Balikpapan. Alasannya tugas kantor, tapi hatinya berkata lain. Ia ingin bertemu Ima. Perlu bertemu Ima.
Pesawat mendarat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman saat matahari mulai condong ke barat. Rizky mengambil kopernya, melangkah ke area kedatangan dengan perasaan campur aduk. Di luar, taksi sudah menanti. Ia memberi alamat hotel, bukan alamat rumah Wira.
Sesampainya di hotel, ia mandi, berganti pakaian, lalu duduk di tepi ranjang sambil memandangi ponsel. Jarinya ragu mengetik pesan.
"Ima, aku udah di Balikpapan. Bisa ketemu?"
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
"Rakha baru tidur. Wira lagi dinas ke Samarinda, pulang besok sore. Ima bisa ke hotel sekarang."
Rizky membaca pesan itu berulang kali. Wira sedang dinas. Rumah hanya berdua Ima dan bayinya. Ini kesempatan. Tapi juga jebakan.
"Kamu ninggalin Rakha?"
"Sebentar aja. Ima minta tolong tetangga jagain. Dia baik, nggak curiga."
Rizky menghela napas. Lalu mengetik: "Oke Aku tunggu."
---
Satu jam kemudian, pintu kamar hotel diketuk pelan. Rizky membuka. Ima berdiri di sana, dengan gamis panjang warna hijau army dan hijau senada. Wajahnya sedikit lebih bulat dari sebelumnya, efek setelah melahirkan. Tapi matanya masih sama—sendu, hangat, dan penuh arti.
"Masuk," kata Rizky.
Ima melangkah masuk. Kamar hotel itu cukup besar, dengan jendela menghadap ke laut. Pemandangan senja terlihat indah dari sana.
Mereka duduk di sofa, berhadapan. Canggung. Hening yang lumayan lama.
"Rakha gimana?" tanya Rizky memecah keheningan.
"Sehat. Lucu. Mirip Wira." Ima tersenyum tipis. "Kamu? Sasha gimana?"
"Baik. Sebentar lagi lahiran."
Mereka diam lagi. Seperti yang pertama kali kenal. Ada jarak yang tak terucapkan. Juga ada getar yang tak bisa dipungkiri.
"Ima..." Rizky memulai.
"Rizky..." Ima bersamaan.
Mereka tertawa kecil. Canggung.
"Kamu duluan," kata Ima.
Rizky menghela napas. "Ima, Aku bingung. Sejak kejadian di Surabaya, aku nggak bisa tidur mikirin kamu. Aku tahu ini salah. Aku tahu kita udah punya pasangan masing-masing. Tapi aku nggak bisa berhenti."
Ima menunduk. "Ima juga, Rizky. Setiap hari Ima mikirin kamu. Setiap kali Ima nyusuin Rakha, Ima inget kamu. Setiap kali Wira peluk Ima, Ima tutup mata dan bayangin kamu."
Rizky meraih tangannya. "Ima, ini gila. Kita main api. Kita hampir terbakar di api yang sama."
"Ima tahu. Ima ngerti, faham. Tapi Ima nggak bisa berhenti."
Mereka saling bertatapan. Lama. Dalam. Lalu tanpa kata-kata, mereka berpelukan. Ciuman pertama setelah sekian lama. Hangat, lembut, lalu semakin dalam.
Malam itu, mereka bercinta di hotel itu. Dengan penuh gairah, juga penuh rasa bersalah. Seperti dua insan yang tahu ini salah, tapi tak sanggup melawan hasrat.
"Ahh, Rizky". Bisik ima lembut
"Zky, terus..." tambah Ima.
"Lebih dalam sayang, punya kamu gak berubah, masih nikmat Zky". Lirih Ima
Desahan kenikmatan Ima semakin menjadi dan bergairah.
"Punya kamu juga masih kenceng sayang". Tambah Rizky.
"Nenen kamu masih kenceng Ima, dan tambah gede, aku suka".
"Ahhh, ahhh" desahan Ima semakin menikmati.
"Aku jilatin kon** kamu dulu sayang". Tambah Ima
Mereka berganti gaya, dogy style.
"Ahhh Rizky, aku mau keluar sayang". Bisik Ima
"Kita keluar bareng sayang, aku keluarin di dalem ya". Kata Rizky
"aaahh Ima, ima, ahhh"
Mereka keluar bersama dan klimaks bersama.
---
Selesai bercinta, mereka berbaring di ranjang. Ima meletakkan kepalanya di dada Rizky. Jari Rizky mengusap-usap rambutnya.
"Rizky, Ima takut."
"Takut apa?"
"Takut suatu hari nanti semua ini kebongkar. Takut kehilangan Wira. Takut Rakha tumbuh tanpa ibu."
Rizky diam. Ia juga takut. Tapi lebih dari takut, ia bingung.
"Ima, aku juga takut. Tapi di sisi lain, aku nggak bisa bayangin hidup tanpa kamu"
Ima mengangkat wajahnya, menatap Rizky. "Kamu serius?"
Rizky mengangguk. "Aku serius. Kamu selalu punya tempat spesial di hati aku. Dari dulu, sampai sekarang, mungkin sampai kapan pun."
Ima tersenyum. Tapi senyum itu bercampur air mata.
"Tapi kita nggak bisa terus-terusan kayak gini, Rizky. Suatu saat kita harus mutusin."
"Mutuisin apa?"
"Mau sama siapa."
Rizky diam. Ia tak punya jawaban.
---
Ima pulang larut malam. Sebelum pergi, mereka berciuman panjang di depan pintu.
"Jaga diri," bisik Rizky.
"Kamu juga. Dan tolong... jangan kasih tahu siapa pun."
Rizky mengangguk. Ima pergi, meninggalkan kamar hotel yang masih beraroma tubuhnya.
---
Keesokan harinya, Wira pulang dari Samarinda. Ia kaget melihat Rizky sudah ada di rumahnya, duduk di ruang tamu sambil menggendong Rakha.
"Rizky?! Kapan lo sampe?" Wira kaget campur senang.
"Baru tadi siang. Iseng mampir." Rizky tersenyum, berusaha terlihat biasa. "Gini nih anak lo, Ra? Ganteng banget."
Wira tertawa, duduk di sampingnya. "Iya, itu titipan Yang Di Atas." Ia mengambil bayinya, menciumnya sayang. "Ima mana?"
"Di dapur, katanya mau bikin minum."
Wira mengangguk. Ia memandangi Rizky. Ada sesuatu yang berbeda dari sahabatnya itu. Tapi ia tak bisa menunjuknya.
"Lo kok kurusan?" tanya Wira.
"Sibuk kerja. Lo juga kurus."
"Ya ngurus anak, ngurus istri." Wira tertawa. "Tapi seneng."
Mereka mengobrol seperti biasa. Tentang pekerjaan, tentang anak, tentang kehidupan. Tak ada yang curiga. Tak ada yang tahu.
Ima keluar dari dapur dengan nampan berisi tiga gelas jus. Ia meletakkannya di meja, duduk di samping Wira. Matanya bertemu dengan Rizky sekejap—hanya sekejap—tapi cukup untuk mengirim ribuan pesan.
"Minum, Rizky," kata Ima datar.
"Makasih, Ima."
Mereka bertiga duduk di ruang tamu, mengobrol. Wira tak tahu bahwa di belakang senyum sopan istrinya, ada rahasia besar yang baru saja terjadi semalam. Rizky juga tak tahu bahwa di balik sapaan hangat sahabatnya, ada perasaan lain yang mulai tumbuh untuk Sasha.
---
Malam harinya, Wira dan Ima mengantar Rizky ke bandara. Di depan pintu keberangkatan, mereka berpelukan.
"Jaga diri, Zky," kata Wira.
"Lo juga, Ra. Titip salam buat Sasha," sambung Ima.
Rizky mengangguk. "Iya. Makasih buat semuanya."
Ia masuk ke bandara. Di balik pintu kaca, ia menoleh sekali lagi. Wira dan Ima melambai. Pasangan harmonis. Suami istri yang baru dikaruniai anak.
Rizky tersenyum getir. Lalu berbalik dan pergi.
---
Di pesawat, ia duduk di kursi dekat jendela. Memandangi awan di luar. Pikirannya melayang pada Ima, pada Sasha, pada Wira, pada kekacauan yang ia ciptakan.
Ponselnya bergetar. Dua pesan masuk hampir bersamaan.
Pertama dari Sasha: "Sayang, kangen. Cepet pulang ya. Aku sama dedek nungguin."
Kedua dari Ima: "Makasih buat semalem, Rizky. Ima akan simpan itu di hati sampai kapan pun."
Rizky membaca kedua pesan itu. Lalu mematikan ponsel, memejamkan mata.
Di dalam pesawat yang melaju menembus awan, ia bertanya pada diri sendiri: sampai kapan semua ini bisa bertahan?
---