NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Keheningan di kamar Kaisar yang tadinya setipis benang, mendadak putus dengan suara yang paling tidak diinginkan.

"Hatchi!"

Freya tidak bisa menahannya. Debu dari tirai beludru tua yang jarang digeser itu menggelitik hidungnya tanpa ampun. Ia menutup mulut dengan tangan, tapi terlambat. Gema bersin itu memantul di dinding-dinding kayu jati, merobek martabat ruangan sang calon raja.

Mata Raja Welas menyipit tajam. Tanpa sepatah kata, sang penguasa melangkah lebar ke balik pilar. Dengan satu sentakan tangan yang kuat, tirai itu tersingkap. Di sana, Freya Aurelia berdiri dengan jaket kulitnya yang lusuh, tampak sangat kontras dengan kemewahan di sekelilingnya.

"Kaisar," suara Raja rendah, bergetar karena amarah yang tertahan. "Jelaskan. Sekarang."

Kaisar mematung. Untuk pertama kalinya dalam 24 tahun hidupnya, ia tidak punya jawaban yang logis. "Ayah, ini tidak seperti yang terlihat. Dia hanya—"

"Cukup. Bawa gadis ini ke Aula Agung. Panggil seluruh keluarga inti. Sekarang!"

Aula Agung Istana Welas adalah ruangan yang didesain untuk mengintimidasi siapa pun yang masuk ke dalamnya. Cahaya lampu gantung kristal yang masif menerangi meja panjang berbahan marmer hitam. Di sana, silsilah keluarga Welas duduk dengan formasi yang menekan.

Di ujung meja, duduk Kakek dan Nenek Kaisar yang menatap Freya seolah gadis itu adalah hama yang masuk ke kebun bunga mereka. Di samping mereka, sosok yang paling ditakuti: Buyut Kaisar, seorang wanita sepuh dengan kebaya sutra yang kaku, yang tatapannya lebih tajam dari sembilu.

Putri Sherena, adik Kaisar yang selalu tampil sempurna dengan gaun satinnya, menutup mulut dengan kipas, menatap Freya dengan pandangan jijik sekaligus heran. Sementara itu, Pangeran Ethan, adik lelaki Kaisar yang lebih santai, justru menaikkan sebelah alisnya, tampak terhibur dengan kekacauan ini.

"Jadi," suara Buyut memecah kesunyian, serak namun berwibawa. "Ini adalah 'tamu' yang ditemukan di kamar calon Raja kita? Seorang gadis yang bahkan tidak tahu cara berpakaian dengan pantas?"

"Gue—maksud saya, saya nyasar!" Freya mencoba membela diri. Ia berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh tatapan-tatapan sinis. "Ibu saya katering di sini. Saya cuma mau nganter kunci mobil yang kebawa."

Tiba-tiba, dari pintu samping, seorang wanita paruh baya dengan seragam katering berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Itu adalah Ibu Freya, Bu Larasati.

"Freya!" Bu Larasati hampir pingsan melihat anaknya berdiri di tengah 'sidang' keluarga kerajaan. Ia segera bersimpuh di lantai. "Ampun, Baginda... Ampun. Anak saya memang kurang ajar, dia tidak tahu aturan. Tolong jangan hukum dia!"

"Ibu, bangun! Kita nggak salah apa-apa!" Freya mencoba menarik ibunya berdiri, tapi pengawal segera menahannya.

Di sudut lain, Pangeran Kholid, sepupu Kaisar yang selalu ambisius dan mencari celah untuk menjatuhkan Kaisar, menyeringai tipis. "Kaisar, bukankah kau yang selalu mengajariku tentang adab? Bagaimana bisa ada gadis... rebel seperti ini di kamarmu saat jam istirahat? Apakah ini selera tersembunyimu? Seorang mahasiswi seni yang tidak tahu tata krama?"

Kaisar berdiri, tangannya mengepal di samping tubuh. Ia menatap Kholid dengan kilat kemarahan, lalu beralih pada keluarganya. "Kholid, jaga bicaramu. Gadis ini memang masuk tanpa izin karena ketidaksengajaannya. Saya hanya mencoba menghindari kegaduhan saat Ayah datang."

"Menghindari kegaduhan atau menyembunyikan skandal?" Nenek Kaisar menimpuk meja dengan tongkatnya. "Seorang calon Raja tidak boleh berada di ruang tertutup dengan wanita yang bukan muhrimnya, apalagi wanita yang penampilannya seperti... preman pasar ini."

"Saya bukan preman!" Freya menyambar cepat. "Ini namanya style. Dan kalau kalian punya papan petunjuk yang jelas di rumah segede lapangan bola ini, gue nggak bakal nyasar ke kamar cucu kalian yang kaku ini!"

Seluruh ruangan mendadak senyap. Sherena menjatuhkan kipasnya. Buyut menyipitkan mata hingga hampir menutup. Berani-beraninya seorang rakyat jelata berbicara 'lo-gue' di depan takhta?

"Kaisar," suara Raja terdengar berat dan final. "Adab adalah identitas kita. Kamu telah membiarkan orang luar menginjak-injak harga diri keluarga ini di dalam kamarmu sendiri. Dan Nona Freya... keberanianmu adalah penghinaan bagi kami."

Kaisar menatap Freya yang masih berdiri tegak meski dikelilingi 'serigala' berdarah biru. Ada sesuatu di mata Freya yang membuatnya tidak bisa membiarkan gadis itu dihukum begitu saja. Keberanian Freya yang murni, yang tidak dimiliki oleh siapapun di meja ini.

"Ayah, Ibu, dan Buyut yang saya hormati," Kaisar melangkah maju, memosisikan dirinya sedikit di depan Freya, seolah menjadi perisai. "Jika kehadiran Freya di sini dianggap sebagai noda, maka saya yang bertanggung jawab. Saya yang tidak mengunci pintu. Saya yang membiarkannya tetap di sana karena ingin mendengar penjelasannya."

Pangeran Ethan berbisik pelan, "Wuih, Kak Kaisar jadi pahlawan kesiangan nih."

"Diam, Ethan," desis Sherena.

Buyut Kaisar mengetuk tongkatnya tiga kali ke lantai. "Keluarga Welas tidak mengenal kata 'maaf' tanpa kompensasi. Jika gadis ini adalah anak dari penyedia katering kita, maka mulai hari ini, mereka harus berada di bawah pengawasan istana sampai acara besar besok selesai. Dan Kaisar..."

Buyut menatap cucu kesayangannya itu dengan tatapan penuh arti. "Karena kau yang membelanya, kau yang harus memastikan gadis ini belajar bagaimana cara bersikap di depan raja sebelum dia diizinkan pulang. Jika dia membuat malu lagi, katering ibunya tidak hanya akan dihentikan, tapi daftar hitam akan mengikuti mereka selamanya."

Freya ingin protes, tapi ibunya mencengkeram tangannya, memohon lewat tatapan mata yang basah. Freya mengertakkan gigi. Ia terjebak. Ia, si gadis pemberontak, kini harus 'dijinakkan' oleh pangeran yang paling ia benci.

Kaisar menoleh sedikit ke arah Freya. Wajahnya kembali ke setelan pabrik: dingin dan tanpa ekspresi. Namun, Freya bisa melihat ada sedikit rasa bersalah di kedalaman matanya yang gelap.

"Ikut aku," perintah Kaisar pendek.

"Kemana?" tanya Freya ketus.

"Ke perpustakaan. Kita punya waktu kurang dari 24 jam untuk membuatmu tidak terlihat seperti bencana berjalan di depan keluargaku."

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣🤣🤣MasyaaAllah.. 👍
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!