(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Sang Gerhana
Di dunia nyata, tubuh Han Luo terbungkus dalam kepompong es hitam setebal tiga inci. Darah yang menetes dari hidung dan telinganya telah membeku menjadi kristal merah mengerikan.
Su Qingxue berdiri lima langkah dari kepompong itu, matanya menyipit, tangannya bertumpu pada gagang belati bayangannya. Insting iblisnya menjerit. Hawa dingin yang memancar dari kepompong itu begitu absolut hingga kelembapan di udara jatuh sebagai butiran salju kering ke lantai batu.
Dia sedang ditelan, pikir Su Qingxue. Sisa kehendak Iblis Es sedang merobek jiwanya. Tidak ada seorang pun di Ranah Inti Emas yang bisa menahan kehendak makhluk purba itu sendirian.
Gadis iblis itu menimbang-nimbang untuk melarikan diri sekarang. Tapi rasa penasaran menahannya di tempat.
Sementara itu, di dalam Lautan Kesadaran Han Luo.
Tempat ini bukanlah ruang batu yang dingin. Ini adalah kekosongan mental yang luas, tempat jiwa dan tekad bertarung tanpa batasan fisik.
Saat ini, Lautan Kesadaran Han Luo telah diubah menjadi padang es raksasa yang dilanda badai salju abadi. Di langit, seekor Naga Es Raksasa—wujud kehendak asli dari Mata Iblis Es—melayang menutupi cakrawala. Sisiknya terbuat dari gletser, dan matanya menyala dengan keangkuhan dewa purba.
"Manusia fana yang cacat," suara naga itu mengguncang kekosongan. "Kau berani menjadikan Dantian-mu sebagai kandangku? Tubuhmu hancur. Meridianmu kotor oleh besi. Jiwamu rapuh seperti kaca. Aku akan membekukan kesadaranmu, merebut wadahmu, dan bangkit kembali!"
Naga itu menukik turun, membuka rahangnya yang dipenuhi taring es sebesar gunung.
Di bawah sana, dalam wujud spiritualnya, Han Luo berdiri.
Dia tidak terlihat cacat di alam ini. Wujud jiwanya utuh, mengenakan jubah sarjana yang sederhana. Dia menatap naga yang menukik itu tanpa sedikit pun rasa takut.
"Jiwaku rapuh?" Han Luo tertawa. Tawa yang bergema melampaui suara badai. "Kau meremehkanku karena kau menilaiku dengan hukum dunia ini, Kadal Tua."
Naga itu menghembuskan napas badai es murni langsung ke arah Han Luo.
Bagi penduduk asli dunia ini, serangan mental seperti itu akan menghancurkan fondasi jiwa mereka, mengubah mereka menjadi idiot atau mayat hidup.
Tapi saat badai es itu menghantam Han Luo... badai itu melewatinya. Seolah-olah Han Luo adalah sebuah proyeksi, bukan entitas nyata.
Naga Es itu terbelalak bingung. "Apa?! Kenapa Hukum Es-ku tidak bisa menyentuh jiwamu?!"
Han Luo merentangkan kedua tangannya.
"Karena aku bukan dari sini," suara Han Luo tiba-tiba terdengar di seluruh penjuru langit, mendominasi badai.
"Jiwaku tidak diciptakan oleh Dao Langit semesta ini. Aku tidak terikat oleh hukum karmamu, hukum elemenmu, atau hukum kematianmu!"
Inilah rahasia terdalam Han Luo. Sebagai seorang Transmigrator, cangkang fisiknya tunduk pada dunia ini, tapi intisari jiwanya adalah anomali mutlak. Sesuatu yang "Luar" tidak bisa dengan mudah dihancurkan oleh sistem "Dalam".
Han Luo mengangkat tangannya ke langit.
"Di dunia luar, aku mungkin pria dengan satu tangan rongsokan. Tapi di dalam kepalaku sendiri... Akulah Dewanya."
Sutra Seribu Wajah: Mode Jiwa Tanpa Rupa!
Wujud manusia Han Luo mencair. Jiwanya membesar dengan kecepatan yang melampaui nalar, menyebar menutupi seluruh padang es.
Kekosongan putih itu tiba-tiba ditelan oleh kegelapan pekat.
Di langit mental itu, sebuah Matahari Hitam raksasa muncul—simbol dari Inti Emas Gerhana-nya. Tepi matahari itu dikelilingi oleh cincin cahaya putih yang menyilaukan.
Naga Es itu tiba-tiba merasakan ketakutan purba. Sebuah gravitasi mental yang mengerikan menariknya ke arah Matahari Hitam itu.
"TIDAK! AURA HAMPA INI! KAU BUKAN MANUSIA!" Naga itu meronta, mencoba terbang menjauh.
"Menunduklah, dan jadilah mataku," geram Han Luo dari balik Matahari Hitam itu.
Matahari Hitam itu berputar, menciptakan gaya isap seperti lubang hitam. Badai salju, padang es, dan Naga Es raksasa itu disedot masuk ke dalam kegelapan.
Naga itu menjerit putus asa saat tubuh spiritualnya dihancurkan lapis demi lapis, diringkas, dan dipadatkan menjadi satu titik energi murni.
Semuanya menjadi hening.
Dunia Nyata - Ruang Latihan Bawah Tanah.
KRAK.
Suara retakan yang sangat nyaring memecah keheningan.
Su Qingxue tersentak mundur. Dia melihat celah besar muncul di kepompong es hitam yang membungkus Han Luo. Cahaya biru dan merah bocor dari celah itu secara bersamaan.
PRANG!
Kepompong itu meledak menjadi ribuan keping kristal. Gelombang kejutnya meratakan meja batu dan melemparkan Su Qingxue hingga punggungnya menabrak dinding keras.
"Ugh!" Su Qingxue mengerang, menatap ke tengah kepulan kabut es.
Han Luo masih duduk bersila.
Darah di wajahnya telah mengering. Uap panas mengepul dari bahu kirinya (tempat bilah pedang menancap), sementara kabut dingin menyelimuti sisi kanannya.
Perlahan, Han Luo membuka matanya.
Su Qingxue menahan napas. Rasa dingin merayap di tulang belakangnya saat dia melihat wajah pria itu.
Mata kanan Han Luo tetap normal—cokelat gelap yang memancarkan kecerdasan licik.
Tapi mata kirinya...
Mata kirinya telah berubah total. Tidak ada lagi bagian putih mata atau iris cokelat. Seluruh bola mata kirinya menjadi hitam legam seperti ruang hampa, tanpa dasar. Dan tepat di tengah kegelapan itu, sebuah cincin tipis berwarna biru es menyala terang, berkedip pelan menyerupai fenomena Gerhana Matahari total.
Mata Dewa Gerhana (Tahap Awal). Asimilasi sempurna antara Mata Iblis Es dan Afinitas Hampa.
Han Luo menoleh, menatap Su Qingxue dengan mata barunya.
Seketika itu juga, Su Qingxue merasa telanjang. Bukan telanjang fisik, tapi telanjang spiritual. Semua perisai Qi, semua ilusi bayangan yang melindunginya, seolah tembus pandang di bawah tatapan mata kiri Han Luo.
"Kau..." Su Qingxue menelan ludah. "Kau menelan sisa kehendaknya."
"Rasanya seperti menelan es serut berduri, tapi ya," Han Luo berdiri.
Dia tidak memegang Pedang Teratai Darah. Dia hanya menatap salah satu boneka latihan Besi Karang yang masih tersisa di sudut ruangan.
Han Luo memfokuskan mata kirinya. Cincin biru di mata hitamnya menyala sedikit lebih terang.
Domain Kesunyian Mutlak.
Dalam radius tiga meter di sekitar boneka itu, waktu seolah membeku. Partikel debu di udara berhenti melayang. Boneka besi itu tertutup lapisan bunga es mikroskopis yang secara instan merusak struktur molekulnya ke titik paling rapuh.
Han Luo menjentikkan jarinya dari jarak jauh, menembakkan sebutir kerikil yang dibalut Api Bumi.
TAK.
Kerikil itu mengenai boneka yang telah dibekukan secara konseptual.
PRANG!
Boneka besi karang yang sangat keras itu meledak menjadi debu halus seperti kaca tipis yang dipukul godam. Hancur tak tersisa.
Han Luo menatap telapak tangannya sendiri.
Sempurna, batinnya. Mata ini bisa melihat kelemahan struktur fisik dan spiritual sekecil apapun, dan memproyeksikan Domain Beku jarak jauh. Aku tidak perlu lagi mengayunkan pedang bahuku untuk menyerang dari jarak dekat kecuali musuh berhasil menembus domainku. Titik buta di sisi kananku telah tertutupi oleh penglihatan mutlak ini.
Han Luo menoleh kembali ke Su Qingxue.
"Nona Suci," kata Han Luo, suaranya kini memiliki gema ganda—suara manusianya dan suara rendah yang sangat kuno. "Tutup rahangmu. Kita punya tamu."
Su Qingxue tersadar, segera memperbaiki posturnya. "Tamu?"
Pintu ruang bawah tanah didorong terbuka dengan susah payah.
Long Tian masuk, memapah Baili Xue yang berjalan tertatih-tatih. Guru buta itu tampak jauh lebih baik; wajahnya mulai berwarna dan aura Inti Emas-nya perlahan pulih, meski masih di tahap awal.
"Tuan Mo!" Long Tian tampak lega. "Kami mendengar ledakan. Kau... wajahmu..."
Long Tian berhenti saat melihat mata kiri Han Luo. Insting naga di dalam darah Long Tian merinding melihat jurang hitam dan biru itu.
Baili Xue, yang matanya buta, justru "melihat" lebih jelas menggunakan indra spiritualnya. Dia melepaskan diri dari pegangan Long Tian dan berjalan mendekati Han Luo.
"Aura ini..." Baili Xue mengangkat tangannya yang gemetar, meraba udara di sekitar wajah Han Luo. "Kau menyerapnya. Bukan hanya menjadikannya artefak eksternal... kau meleburkannya dengan jiwamu. Kau benar-benar anak didikku yang paling gila."
"Saya hanya mencoba bertahan hidup, Guru," Han Luo membungkuk sedikit, menghormati wanita tua itu.
"Bertahan hidup? Dengan mata itu, kau tidak hanya akan bertahan hidup. Kau akan mengubah aturan dunia ini," Baili Xue tersenyum bangga. "Tapi ingat, kekuatan yang terlalu besar akan menarik mata para dewa. Semakin terang kau bersinar dalam gelap, semakin banyak monster yang akan memburumu."
"Biarkan mereka datang," Han Luo menyentuh pangkal pedang di bahu kirinya. "Aku punya banyak ruang di kuburanku."
Han Luo menatap ketiga orang di ruangan itu.
Long Tian: Jenderal Perang dengan darah naga dan fisik tak tertandingi. Baili Xue: Guru Formasi dan ahli strategi Inti Emas senior. Su Qingxue: Putri Iblis dengan ambisi setinggi langit dan koneksi ke dunia hitam.
Ditambah dengan Xiao Ling (yang sedang berjaga di atas mengendalikan formasi) dan ribuan pasukan bajak laut yang sedang ditempa.
Ini bukan lagi sekadar kelompok pelarian. Ini adalah faksi elit.
"Semuanya, dengarkan," suara Han Luo mengubah atmosfer ruangan menjadi ruang rapat strategi. "Masa persembunyian kita hampir selesai. Aku telah memantapkan kekuatanku. Guru sedang pulih. Dan yang terpenting... panggung dunia sedang kosong."
"Hancurnya Turnamen Raja Laut dan hilangnya Jenderal Wu di Reruntuhan Keempat telah memicu kekacauan besar di Kekaisaran Pusat. Faksi-faksi di sana sedang sibuk saling sikut untuk merebut kekosongan kekuasaan."
Han Luo menyeringai tipis.
"Sekte Langit Suci pasti akan menarik pasukan mereka untuk mengamankan aset di ibukota. Ini meninggalkan Laut Selatan tanpa penjaga. Dan kita... Aliansi Gerhana... akan mengambil alih."
Mata kirinya berkilat biru.
"Kita tidak akan lagi menjadi faksi bayangan yang bersembunyi. Bersiaplah. Kita akan mulai ekspansi militer besar-besaran minggu depan. Kita akan menelan seluruh faksi yang tersisa di perairan ini sebelum Kekaisaran menyadari bahwa laut ini bukan lagi milik mereka."
tpi gw demen....