NovelToon NovelToon
CINTA DI ANTARA DUA SAF

CINTA DI ANTARA DUA SAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Proyek Pertama Untuk Panti

Bayu duduk bersila di atas dipan kayu yang terasa keras pagi ini. "Cuma modal otot begini, mana mungkin bisa nyelamatin panti?" gumamnya seraya menatap lengannya yang legam.

Dari celah jendela yang sempit, cahaya remang subuh menyelinap masuk. ‘Utang bank itu tidak akan lunas hanya dengan tenaga kasar,’ batinnya sembari menghela napas panjang. Tangannya segera meraih tas punggung yang tergeletak berdebu di sudut ruangan.

"Masih nyala nggak, ya, lo?" bisiknya saat mengeluarkan laptop usang dari sana.

Perlahan, layar perangkat itu menyala dan memantulkan pendar biru pada wajahnya yang kuyu. ‘Rasanya aneh melihat ikon-ikon ini lagi setelah sekian lama gue tinggalin,’ pikir Bayu ragu.

Pada awalnya, jemari Bayu bergerak kaku di atas papan ketik yang terasa asing. "Ayo, inget lagi, Bayu. Jari-jarimu dulu itu mesin uang," bisiknya menyemangati diri sendiri.

Fokusnya mulai terkunci pada berbagai platform lowongan kerja jarak jauh demi mencari peluang. Struktur bangunan, desain teknis, apa saja asal bisa menghasilkan uang cepat.

Tanpa memedulikan gengsi masa lalu, puluhan berkas lamaran ia kirimkan begitu saja ke berbagai portal. "Persetan sama jabatan lama, yang penting panti asuhan bisa makan," gerutunya pelan.

Di luar sana, matahari mulai memanjat naik ke atas ufuk tanpa ia sadari sama sekali. Bayu hanya makan sahur sedikit tadi, alhasil membuatnya sudah lapar padahal jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi.

Keajaiban akhirnya datang setelah tiga jam berselancar saat sebuah balasan masuk dari firma konsultan kecil. "Akhirnya, ada panggilan masuk! Mereka butuh draf teknis darurat," serunya dengan mata berbinar.

Tanpa sedikit pun niat untuk menawar harga, tawaran tersebut langsung Bayu sanggupi. "Siap, Pak. Saya selesaikan drafnya sore ini juga tanpa meleset," tegasnya melalui pesan singkat.

Begitu notifikasi saldo masuk, ia merasa seolah mendapatkan asupan oksigen baru bagi paru-parunya. "Alhamdulillah, akhirnya bisa napas lega dikit," bisiknya dengan suara bergetar.

Uang tersebut segera ia bagi untuk biaya hidup ibunya selama seminggu ke depan. ‘Ibu nggak boleh kekurangan, setidaknya sampai proyek berikutnya datang,’ pikirnya sembari menyelesaikan proses transfer.

Pagi itu, Bayu memutuskan untuk menunda keberangkatannya ke gedung panti asuhan. "Maaf ya, anak-anak, Kak Bayu harus cari modal yang nyata dulu di sini," gumamnya pelan. Seluruh pekerjaan digital harus segera ia rampungkan demi mengamankan masa depan panti.

Fokus, Bayu! Satu garis di layar ini berarti satu piring nasi buat mereka.

Pandangannya terkunci sepenuhnya pada layar monitor sampai punggungnya terasa nyeri luar biasa. "Dikit lagi, garis ini harus presisi kalau nggak mau kena revisi," gumamnya pelan. Ia bekerja dengan kecepatan yang menyerupai orang kesurupan, seolah sedang mengejar waktu yang hilang.

‘Jangan sampai panti asuhan digusur cuma karena gue lambat kerja,’ batinnya penuh tekanan.

Menjelang sore hari, laptop itu akhirnya tertutup diiringi embusan napas lega yang panjang. "Selesai juga, moga draf ini memuaskan klien," bisiknya sambil meregangkan otot leher.

Bayu segera menyambar jaket kusamnya yang tersampir di balik pintu, lalu bergegas melangkah keluar. "Bang, ke pasar desa ya, berapa?" tanyanya saat tiba di pangkalan ojek ujung jalan.

Tukang ojek itu mendongak sambil mematikan rokoknya yang masih setengah. "Sepuluh ribu, Bay. Langsung tancap gas ini mah," sahut si Abang seraya menyodorkan helm pelindung.

Bayu segera naik ke boncengan motor bebek yang suaranya sudah mulai batuk-batuk itu. ‘Kalau punya motor sendiri, mungkin sepuluh menit sudah sampai dari tadi,’ batinnya sembari menatap aspal yang meluncur cepat.

Angin pagi menerpa wajah kuyu Bayu saat motor itu meliuk di antara pepohonan rimbun. "Agak cepet ya, Bang, saya mau keburu stok barangnya habis," pinta Bayu sambil berpegangan pada besi belakang.

Begitu motor bebek itu berhenti di depan gerbang pasar yang ramai, Bayu segera melompat turun. "Bang, jangan narik dulu ya. Tunggu saya di sini," ucapnya sambil menahan jok motor agar si tukang ojek tidak langsung beranjak.

Tukang ojek itu mengernyitkan dahi, tampak ragu melihat kondisi pasar yang sedang padat-padatnya. "Waduh, lama nggak, Bay? Sayang nih jam rame, takut kehilangan tarikan lain gue," sahutnya sambil membetulkan posisi spion.

Bayu merogoh saku celananya, memastikan lembaran uang hasil kerjanya semalam masih aman di sana. "Tenang aja, Bang. Nanti saya kasih lima puluh ribu, sekalian bantu angkut belanjaan sampai panti," tawar Bayu tegas.

Mata si Abang ojek langsung berbinar mendengar angka yang disebutkan, hampir lima kali lipat dari tarif biasa. "Wah, kalau gitu mah siap! Saya tunggu di bawah pohon mangga itu ya. Panggil aja kalau udah beres," jawabnya penuh semangat.

Bayu mengangguk singkat, merasa sedikit lega karena urusan logistiknya sudah terjamin. Ia segera melangkah masuk ke dalam keriuhan pasar.

"Mas, beras yang sepuluh kilo ada tiga karung?" tanyanya saat tiba di kios langganan.

Penjual itu menatapnya heran melihat jumlah belanjaan Bayu yang tidak seperti biasanya. "Tumben banget beli banyak, Bay? Mau ada acara syukuran?" tanya si penjual ramah.

Bayu tersenyum tipis sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya yang dekil. "Bukan syukuran, Mas. Ini buat stok dapur anak-anak panti," jawabnya mantap.

Selain beras, beberapa tray telur ia beli untuk memenuhi kebutuhan protein anak-anak di sana. "Ini telurnya tolong ikat yang kuat ya, Mas. Jangan sampai pecah di jalan," pesannya teliti.

Ada rasa bangga yang terselip saat ia menggantungkan tas belanjaan berat itu pada stang motor. Ternyata uang hasil keringat otak rasanya jauh lebih melegakan, pikirnya sambil menghidupkan mesin.

Setelah semua kebutuhan terbeli, Bayu berjalan tergesa menuju pohon mangga tempat motor bebek itu terparkir. "Ayo, Bang, angkut! Hati-hati, ini telurnya jangan sampai terhimpit beras," seru Bayu sambil menata belanjaan di sela kaki dan jok motor.

Abang ojek itu terbelalak melihat tumpukan karung dan plastik yang dibawa Bayu. "Busyet, Bay! Ini mah bukan belanja, tapi pindahan toko namanya!" selorohnya sambil berusaha menyeimbangkan stang motor yang mulai berat.

Bayu hanya menanggapi dengan senyuman. Di sepanjang jalan menuju panti, Bayu terus memegang erat plastik telur agar tidak pecah terkena guncangan jalan berlubang.

Begitu sampai di gerbang panti, Bayu segera menurunkan satu per satu belanjaannya dengan cekatan. "Ini uangnya, Bang. Pas ya, lima puluh ribu sesuai janji tadi," ucap Bayu sambil menyerahkan selembar uang biru yang masih rapi.

Tukang ojek itu menerimanya dengan senyum lebar, namun langkahnya tertahan saat Bayu menyodorkan satu kantong plastik tambahan. "Eh, ini apa lagi, Bay? Kan tadi bayarnya sudah pas," tanya si Abang bingung melihat isi plastik berisi minyak, gula, dan sedikit beras.

Bayu tersenyum tipis, teringat bagaimana Fahmi selalu menyisihkan sedikit rezeki untuk orang-orang di sekitarnya. "Bawa saja buat orang rumah, Bang. Anggap saja bonus karena sudah mau repot-repot bantu saya angkut barang berat begini," jawab Bayu tulus.

Abang ojek itu terpaku sejenak, menatap plastik di tangannya lalu menatap Bayu dengan tatapan tak percaya. "Ya Allah, makasih banyak ya, Bay. Semoga rezekimu makin lancar dan panti ini makin berkah," ucapnya dengan suara sedikit serak karena haru.

Bayu hanya mengangguk pelan sembari memanggul karung beras menuju dapur panti yang sudah mulai riuh. Ternyata memberi itu rasanya jauh lebih mengenyangkan daripada sekadar makan sendirian, pikirnya sembari melangkah mantap ke dalam.

Langkah kakinya terasa mantap sewaktu memasuki gerbang panti yang mulai diterangi lampu teras. "Assalamualaikum, anak-anak! Kak Bayu dateng bawa makanan," serunya kecil. Namun, langkahnya mendadak terhenti.

Semangat itu seketika surut begitu matanya menangkap sosok motor besar yang terparkir di sana. "Motor siapa nih? Rasanya gue nggak asing sama model sport mahal begini," gumamnya curiga.

Firasat buruk mulai merayapi benak Bayu saat menatap kilau bodi motor yang tampak sangat kontras itu. Jangan bilang orang-orang bank dateng lebih awal dari janji, batinnya mulai waswas.

1
Esti 523
bayu ini knp sih hatiny A batu bgt
Esti 523
alah2 kok bisa ya 🤭
Esti 523
syemangad ka ka,1 vote buat ka2
falea sezi
uda bay g usah urus cinta dlu heeh urus ibumu bahagiakan ibumu pasti jodoh dateng deh nanti
falea sezi
nah itu bahagia kan ibu lo. dulu baru mikir orang lain ini malah mikir bahagia in cwek. lain demi dapet simPATI dihh elo. itu oon bayu
falea sezi
entah benci bgt sifat bayu ini iri dengki yg buat usaha lo. hancur
falea sezi
berbuat baik itu yg iklas bayu ini berbuat baik pengen di puji dihh itu ria bayu
Hary Nengsih
bayu terlalu onsesi seharusnya ibu nya dulu d urusin baru yg lain
falea sezi
harusnya krja keras buat bahagia kan ibu lo bayu astagaa bukan pengen kaya demi cwek hadeh fikiran yg tolol ne si bayu ibu mu lo uda tua waktunya istirahat bukan jd buruh cuci
Velyqor: Bayu udah cukup bikin emosi kak? 😂
total 1 replies
falea sezi
kayak fahmi berbuat baik itu ikhlas hasilnya baik gk kayak lu berbuat baik kok cm. pengen di liat cwek
falea sezi
sombong ngeyel pengen berasa wah g liat kemampuan laki. bloon
falea sezi
pantes bangkrut durhaka sama. ibunya tts sombongnya ampun kapok.
Hary Nengsih
semangat bayu berubah menjadi lebih baik
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..

‎🥰🥰🥰
Hary Nengsih
baru baca kayanya bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!