NovelToon NovelToon
Under The Purple Pine Blossoms

Under The Purple Pine Blossoms

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Budidaya dan Peningkatan / Perperangan / Penyelamat
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tentang orang miskin

Musim semi itu begitu saja, tapi Chen Li selalu mengaguminya. Dia suka melihat para gadis berdiskusi di bawah pohon persik dekat akademi desa.

Gadis-gadis itu mengingatkannya dengan rupa para putri kerajaan yang katanya cantik jelita seperti peri.

Namun ia tidak berani secara terang-terangan menatapnya. Akan sangat merepotkan jika para gadis itu menyadarinya.

Dia sering duduk di bawah pohon setelah seluruh anak muda desa datang untuk memulai pelajaran.

Anak-anak yang datang jelas berasal dari golongan menengah hingga atas. Chen Li bisa melihat yang mana pemuda atau pemudi dari golongan atas hanya sekilas melihat wajahnya.

Biasanya mereka semua tampan dan memiliki kulit yang halus. Wanita-wanita bangsawan memiliki banyak uang untuk merawat tubuh mereka, sehingga itu terlihat bersinar dari kebanyakan orang.

Chen Li sering melihat mereka memakai Han Fu yang mewah dengan rambut yang di gulung rapi dengan tusuk rambut. Ujungnya sering di hiasi permata, ukiran bunga atau kain warna-warni.

Sejak kecil, Chen Li menyukai wanita cantik. Dia sering memandang lukisan kuno yang kertasnya sudah menguning di ruang tamu rumahnya yang sederhana.

Lukisan itu memperlihatkan seorang wanita memakai Han Fu Hijau dengan dalaman putih. Sedang menatap ke samping sembari mengangkat gaunnya yang indah.

Chen Li sering memperhatikan wajahnya yang terlihat gembira. Simbol bunga matahari di antara alisnya terlihat bersinar. Dua alisnya walaupun ketika dia melihatnya lebih dekat kadang-kadang aneh, itu sejajar dengan bibirnya yang mungil. Dan satu lagi, hidungnya yang mancung itu terlihat menyegarkan. Dia tidak tahu apa rupa wanita dalam lukisan benar-benar cantik ketika menghadap ke depan, tapi dia sudah cukup gembira melihatnya menoleh.

Itu membuatnya tahu jika wanita itu pasti sedang berlarian di antara telaga warna biru dan gembiranya luar biasa seolah bertemu dengan orang yang dicintainya.

Alangkah indahnya jika wanita dalam lukisan itu nyata dan Chen Li-lah yang menjadi objek yang di sukai wanita itu.

Walaupun sudah menguning, kecantikannya masih menyebar seperti bunga layu yang aromanya masih kuat.

Ibunya jelas tidak memperhatikan lukisan itu dan mungkin diam-diam ingin membuangnya. Chen Li mengerti, ayahnya suka lukisan wanita cantik dan karena itu membuat ibunya cemburu. Namun, karena ayah sudah pergi dan hanya lukisan itu benda kesayangan selain buku antologi puisi untuk ibunya, ibu merasa perlu mempertahankannya. Tapi dia tidak membersihkannya dan bahkan melarang Chen Li melakukannya. Kata ibunya, “Biarkan saja lukisan itu seperti itu, termakan waktu dan hancur secara alami. Begitulah sering kali ayahmu menyukainya. Ayahmu menyukai wanita dalam lukisan, karena itu jauh lebih abadi dari pada wanita sungguhan. Ya, setidaknya dia tidak menua.”

Chen Li menurut dan baginya begitu seharusnya. Selain itu, dia bisa melihat berapa lama lukisan itu akan bertahan dan mungkin saja wanita dalam lukisan itu menjadi tua saat umurnya begitu panjang. Dia juga membayangkan lukisan itu mungkin akan segera dibuang oleh ibu.

Namun hingga kini, bahkan sudah menguning dan penuh debu, lukisan itu masih tetap di sana, menua secara alami dan seperti hanya pelukisnya saja yang memberikan perubahan kepadanya.

Dan kemudian dari waktu ke waktu, Chen Li mulai bosan dengan lukisan itu. Dia tidak bergerak, tidak bisa di cium ataupun di ajak berbicara. Oleh karena itu, dia sering menggantikan ibunya pergi ke pasar untuk membeli sayur-sayuran dan melihat para wanita cantik dan bahkan membayangkannya tanpa kain sehelai pun.

Saat memikirkan itu, dia menggeleng kepalanya dan berpikir itu tidak pantas. Namun dia masih saja memikirkannya dan berpikir dia sudah remaja jadi itu sudah hal yang wajar.

Dia hanya tertarik pada gadis remaja yang menebar aroma harumnya di antara aroma amis dan busuknya daging di pasar. Dia sering mencuri-curi padang pada seorang gadis yang menurutnya cantik dan menghirup aroma wanginya.

Tapi jelas sekali, Chen Li tidak boleh lama-lama dan segera membeli sayuran dan pulang.

Ke-esokan harinya dia melakukannya lagi dan menghitung jumlah gadis cantik yang di temukannya.

Sekarang, dia sudah memiliki hampir 50 wajah gadis cantik, entah itu dari golongan atas atau menengah, dan jelas tidak ada dari golongan bawah karena dari golongan bawah gadis-gadis seperti itu sering kali sibuk dan tidak mau memperhatikan tubuhnya.

Kemudian suatu sore dia bertemu Yun Xiao, gadis penjual air suci, yang suka menipu.

Waktu itu cahaya matahari yang jinga telah menutupi bumi dan membuat langit terlihat lebih bercahaya.

Chen Li ingat jika awan hitam di langit waktu itu terlihat bercahaya meskipun hitam. Dia berpikir, itu karena cahaya matahari itu yang mengangkat derajatnya sehingga dia dapat merebut perhatiannya.

“Kamu suka gadis cantik?” kata Yun Xiao tepat di depan wajahnya sembari memamerkan mukanya yang percaya diri, menganggapnya terlihat imut dan pantas di perhatikan.

Chen Li masih berjalan dan Yun Xiao masih di depannya, berjalan mundur. Itu membuat mereka terlihat aneh dan seperti bermain tatapan-tatapan.

Chen Li menganggap gadis itu hanya sebagai teman, tidak lebih dari itu; teman sederajat. Dan ketika dia melihat ekspresi gadis itu yang percaya diri, Chen Li tiba-tiba membencinya dan dia segera berhenti. Dengan marah berkata, “Tidak juga. Bagaimana aku pantas menyukai gadis cantik, bahkan merawat diriku sendiri belum bisa.”

Alis gadis itu sedikit tertarik ke tengah dahinya seperti ia berpikir keras. Dia lalu bertanya penasaran, “Apa harus merawat diri dulu baru boleh menyukai gadis cantik?”

“Tentu saja.” Chen Li sedikit membentak lalu menyamping dan lanjut berjalan.

Di bahunya ada tongkat panjang dengan dua ember air. Chen Li sering membantu Yun Xiao membawakannya. Baginya, hanya anak orang miskin yang boleh membantu orang miskin lainnya seperti kata ibunya. Selain itu, dia juga jadi punya teman berbicara selama berjalan ini.

Dengan membantu orang miskin, seperti Ibunya dan Chen Li juga menyadarinya, penderitaan hidup akan jauh lebih mudah di lalui. Ada banyak tangan-tangan yang akan terulur ketika musibah menimpa. Chen Li sangat sadar itu. Dia juga ingat bagaimana ibunya jatuh sakit dan dia kebingungan mencari obat, tapi beruntungnya orang miskin yang lain membantunya. Itu lebih dari cukup untuknya merasa bersyukur.

Dan itu juga memberinya kekuatan dan rasa layak saat melihat orang kaya lewat. Dia sering berkata dalam hati, ‘Kami orang miskin sedikit punya orang, tapi kami punya banyak orang ikhlas yang akan membantu kami saat jatuh.’

Baginya orang kaya itu bisa mengandalkan uang untuk mendapatkan segalanya, dan menurut Chen Li juga begitu, tapi dia sadar, jiwa tidak bisa di beli, ketulusan tidak bisa di munculkan dan cinta tidak bisa tulus.

Karena itulah, dia jauh lebih lega menjadi orang miskin walaupun sering merasa iri dengan orang-orang yang berpakaian mewah itu.

Wajah Yun Xiao keheranan. “Eh..., Kamu berbohong, bagaimana mungkin seperti itu.”

Dia segera berbalik mengejarnya Chen Li.

“Aku tidak berbohong.”

“Buktikan.”

“Menurutmu, orang miskin bisa menikahi gadis cantik?”

“Tentu saja. Kita tidak tahu bukan siapa jodoh kita.”

“Ah, kamu generasi doa.”

“Apa maksudmu?” Yun Xiao penasaran lagi.

“Maksudku generasi orang miskin yang hidup di antara mimpi. Aku yakin tidak ada gadis cantik yang mau menikah dengan orang miskin yang sering terlihat jelek. Dan orang cantik yang menikah dengan orang miskin akan menjadi jelek juga. Karena itu, gadis cantik tidak akan mau seperti itu dan apa kamu tahu, jika kecantikan jatuh ke orang miskin akan menjadi jelek. Kita orang-orang miskin seperti pisau yang sering di gunakan tapi tidak mampu di asah untuk sekedar menjadi tajam atau lebih cantik.”

“Chen Li, kamu membatasi diri,” tuduh Yun Xiao yang berjalan di sampingnya.

“Tidak,” ujarnya. “Aku tidak membatasi diri. Ini disebut melindungi diri dari mimpi. Kamu sering dengar bukan, orang miskin sering bermimpi. Aku tidak ingin bermimpi dalam dunia ini, aku harus hidup dengan sadar. Dan kamu juga jika ada kesepakatan untuk menikahi pria bangsawan, kamu juga akan melakukannya, dan menyampingkan perasa. Ibuku berkata, cinta tidak mampu di Potong dan di makan. Cinta tidak bisa menyumpal mulut bayi yang menangis meminta susu. Dan Cinta juga tidak bisa membuatmu hidup jauh lebih baik.”

“Chen Li, apa yang kamu katakan? Aku tidak mengerti, tapi seperti yang kamu katakan, aku akan menikahi pria kaya jika aku bisa. Aku lelah berbohong demi menjual air suci. Aku juga lelah membawanya susah-susah ke rumah dan menjernihkannya dengan batu alam. Aku juga ingin seperti para bangsawan, membaca buku dan tangan yang sering memegang pena dan kertas. Rasa-rasanya itu benar-benar menyenangkan.”

Yun Xiao mengangkat wajahnya dan membayangkannya. Wajahnya berseri-seri sebelum akhirnya Chen Li berkata, “Kamu sedang menghayal. Itu tidak baik, itu bisa membuatmu kecewa.”

“Tidak apa-apa, biarkan aku berkhayal. Setidaknya dunia ini jauh lebih baik.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!