Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.
Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SARAPAN DI ATAS BARA
Cahaya matahari pagi Melbourne yang pucat menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis yang terbuka tepat pukul tujuh pagi. Suara desis halus dari sistem pendingin udara yang beralih mode menjadi penghangat ruangan menjadi satu-satunya bunyi yang menemani kesunyian di kamar itu. Vivien terbangun dengan perasaan berat di dadanya, seolah-olah seluruh gedung pencakar langit ini sedang menekan jantungnya.
Ia melirik ke sisi sebelah ranjang. Kosong. Sprei sutra hitam itu masih rapi, hanya menyisakan sedikit lekukan yang menandakan bahwa Maximilian pernah berada di sana. Vivien menghela napas lega, namun kelegaan itu segera berganti dengan rasa waspada. Di rumah ini, tidak adanya Maximilian bukan berarti ia aman. Maximilian ada di mana-mana—dalam kamera pengawas yang tersembunyi, dalam kontrak yang ia tandatangani, dan dalam bayang-bayang ketakutannya sendiri.
Vivien bangkit, membersihkan dirinya dengan cepat, dan memilih pakaian yang paling sopan namun elegan: sebuah gaun knit berwarna cream yang memeluk tubuhnya dengan sopan namun tetap menunjukkan kelasnya sebagai seorang Aksara. Ia harus terlihat kuat, meskipun jiwanya sedang hancur berkeping-keping.
Saat ia melangkah ke ruang makan, aroma kopi kintamani yang kuat dan roti panggang menyambutnya. Maximilian sudah duduk di kepala meja, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang disetrika sempurna. Ia sedang membaca laporan keuangan di tablet digitalnya, sementara tangan kanannya memegang cangkir porselen putih.
"Duduk, Vivien. Sarapanmu sudah dingin," ucap Maximilian tanpa mengangkat wajahnya dari layar.
Vivien duduk di kursi yang paling jauh dari Maximilian. Seorang pelayan dengan seragam rapi meletakkan sepiring omelette dan buah-buahan segar di depannya, lalu membungkuk hormat dan menghilang secepat hamba sahaya di zaman kerajaan.
"Aku tidak lapar," ucap Vivien datar, hanya menatap piringnya.
Maximilian meletakkan tabletnya. Ia menatap Vivien dengan pandangan yang membuat selera makan siapa pun akan hilang seketika. "Di rumah ini, kau makan saat aku makan. Kau tidur saat aku tidur. Itu bukan saran, itu adalah bagian dari rutinitas yang harus kau pelajari jika kau ingin dana untuk pengobatan ibumu di Singapura tetap mengalir lancar."
Vivien mengepalkan tangannya di bawah meja. "Kau benar-benar menikmati ini, bukan? Memegang nyawa orang lain di ujung jarimu seperti Dewa?"
Maximilian menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang kini mulai Vivien benci setengah mati. "Aku bukan Dewa, Vivien. Aku hanya pria yang tahu cara menggunakan kekuasaan. Dewa memberi pengampunan, aku tidak."
Vivien terdiam sejenak. Ia teringat kehancuran alat perekamnya semalam. Ia menyadari bahwa menyerang Maximilian secara frontal adalah bunuh diri. Jika ia ingin menghancurkan pria ini, ia harus merayap masuk ke bawah kulitnya. Ia harus menjadi teka-teki, bukan target.
Vivien menarik piringnya, memotong sedikit omelette, dan mengunyahnya dengan tenang. Ia mengangkat wajahnya, menatap Maximilian dengan tatapan yang kini lebih lembut, hampir terlihat seperti kepatuhan yang tulus.
"Kau benar, Max. Aku minta maaf," ucap Vivien pelan.
Gerakan tangan Maximilian yang hendak menyesap kopinya terhenti sesaat. Matanya menyipit, mencari kebohongan di wajah istrinya. "Maaf? Kata yang langka keluar dari mulut seorang wanita yang semalam bersumpah akan menusuk jantungku."
"Aku sadar aku tidak punya pilihan," Vivien melanjutkan, suaranya dibuat serak seolah ia baru saja menyerah pada takdir. "Keluargaku hancur, ayahku mungkin akan dipenjara, dan hanya kau yang bisa menghentikan itu semua. Jika harganya adalah kebebasanku, maka aku akan membayarnya. Aku hanya ingin ibuku sehat."
Vivien menunduk, membiarkan seuntai rambutnya menutupi wajahnya, memberikan kesan rapuh yang sangat meyakinkan. Ia bisa merasakan tatapan Maximilian yang intens, seolah pria itu sedang mencoba membedah isi otaknya.
"Kau berubah pikiran dengan sangat cepat," ucap Maximilian curiga.
"Bukan berubah pikiran. Aku hanya lelah melawan dinding beton," Vivien menatap Maximilian kembali, kali ini dengan mata yang sedikit berkaca-kaca—sebuah trik yang ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun di sekolah akting saat remaja. "Bisa kita mulai lagi? Setidaknya, perlakukan aku seperti manusia di dalam rumah ini. Aku akan melakukan tugas-tugasku sebagai istrimu. Aku akan mendampingimu di acara-acara bisnismu. Tapi tolong... jangan buat aku merasa seperti narapidana."
Keheningan menyelimuti ruang makan itu selama beberapa menit yang terasa abadi. Maximilian meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang pelan. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Vivien, dan berdiri tepat di belakang istrinya.
Ia meletakkan tangannya di bahu Vivien. Vivien bisa merasakan kekuatan di jari-jari itu. Maximilian menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Vivien.
"Kepatuhan adalah perhiasan yang paling cocok untukmu, Vivien," bisik Maximilian. "Tapi ingat satu hal: aku bisa mencium bau pengkhianatan dari jarak satu mil. Jika ini adalah sandiwara, aku akan memastikan jatuhmu kali ini akan jauh lebih menyakitkan daripada jatuhnya keluarga Aksara."
Maximilian melepaskan bahu Vivien dan berjalan menuju pintu keluar. "Sore ini, kita akan menghadiri perjamuan di konsulat. Pakai gaun hitam yang sudah kupesan. Jangan terlambat. Supir akan menjemputmu pukul lima."
Setelah Maximilian pergi, Vivien mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Tubuhnya gemetar hebat. Ia meraih gelas air putih dan meminumnya hingga tandas.
Ia baru saja memulai permainan yang sangat berbahaya. Ia berpura-pura menyerah untuk mendapatkan kepercayaan Maximilian. Ia akan menjadi "istri sempurna" di depan publik, menjadi bayang-bayang patuh di dalam rumah, sambil terus mencari celah di mana Maximilian menyembunyikan rahasia kematian ayahnya.
Vivien melirik puing-puing alat perekam yang semalam dilempar Maximilian ke sudut ruang makan—yang belum sempat dibersihkan pelayan. Puing itu adalah peringatan, tapi bagi Vivien, itu adalah motivasi.
"Kau pikir kau sudah menang, Maximilian," bisik Vivien pada ruangan yang kosong. "Tapi kau lupa satu hal. Benang merah yang patah masih memiliki ujung yang tajam. Dan aku akan memastikan ujung itu yang akan mengakhiri kekuasaanmu."
Vivien bangkit dari meja makan, berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota Melbourne. Kali ini, ia tidak menatap hujan dengan putus asa. Ia menatap gedung-gedung tinggi itu sebagai papan catur yang harus ia menangkan.
Perang saraf ronde kedua baru saja dimulai.