Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Mencuci Uang 2
Suara benturan logam yang sangat berat dan pekat terdengar bertubi-tubi menghantam permukaan meja. Meja mahoni yang tebal itu bahkan berderit keras menahan beban yang muncul secara tiba-tiba.
Mata Ji Wuyue membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka, kehilangan kata-kata.
Di atas meja, bertumpuk rapi puluhan batang emas murni yang memancarkan kilau kuning yang menyilaukan mata. Lima puluh satu kilogram emas murni, tanpa stempel bank sentral, tanpa nomor seri identifikasi, seolah-olah emas itu baru saja diciptakan dari kehampaan.
"T-Tuanku..." suara Wuyue bergetar. Sebagai pemimpin sindikat bawah tanah, dia sering melihat orang memunculkan koin emas. Tapi memunculkan lima puluh kilogram emas murni dari udara kosong? Ini melampaui logika dunia persilatan. "Ini... sihir penyimpanan tingkat dewa... dari mana Tuan..."
"Jangan bertanya tentang hal yang tidak perlu kau ketahui, Wuyue," potong Ye Xuan tajam. Tatapan matanya mengunci mata rubah wanita itu, memberikan peringatan absolut.
Wuyue langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. "M-Maafkan kelancangan pelayan ini, Tuanku. Hukumlah mulut saya yang bodoh ini."
"Fokus saja pada tugasmu," lanjut Ye Xuan, mengabaikan permohonan masokis wanita itu. Pria dewasa itu mengetuk salah satu batang emas dengan jarinya. "Lima puluh satu kilogram. Nilainya di pasar gelap bisa menembus puluhan juta yuan. Sebarkan ini ke tiga puluh rumah lelang gelap yang berbeda, kasino-kasino di luar kota, dan pedagang perhiasan tak bersertifikat. Lakukan dalam porsi kecil. Aku ingin uang tunai bersih tak terlacak masuk ke rekening anonim luar negeriku dalam waktu dua minggu."
"Perintah Tuan akan segera dilaksanakan," jawab Wuyue dengan nada serius, otaknya langsung bekerja menyusun rute pencucian uang yang paling aman. "Jaringan bawah tanah kita bisa menyerap ini tanpa memicu alarm pemerintah."
"Bagus," Ye Xuan mengangguk pelan. "Tapi sebelum itu, siapkan uang tunai bersih senilai sepuluh ribu yuan untukku malam ini. Aku ada keperluan kecil di luar."
Wuyue sedikit terkejut. "Keperluan kecil? Apakah Tuan membutuhkan pengawalan Wuyue? Atau haruskah saya mengirim tim bayangan untuk membereskan urusan Tuan?"
"Tidak perlu," Ye Xuan menolak dengan halus namun tak terbantahkan. "Aku hanya akan pergi ke minimarket."
Satu jam kemudian, di sebuah sudut jalan raya yang mulai sepi di pinggiran Distrik Barat.
Ye Xuan turun dari taksi biasa, mengenakan jaket kulit hitam yang kerahnya dinaikkan dan sebuah topi bisbol yang menutupi sebagian wajahnya. Dia berjalan menyusuri trotoar yang sedikit becek, menjauhi area elit menuju deretan ruko yang terlihat kusam.
Langkahnya terhenti di depan sebuah ruko kecil yang lampunya berkedip-kedip redup. Di atas pintunya terdapat papan nama usang bertuliskan Pusat Lotere Nasional Jinghai - Cabang Barat.
Ye Xuan berdiri di depan ruko itu cukup lama. Hembusan angin malam meniup kerah jaketnya. Ingatan dari kehidupan lalunya perlahan membanjiri pikirannya seperti proyektor film tua.
"Di kehidupanku yang lalu, aku hanyalah seekor anjing pekerja yang rela menukar harga diriku demi beberapa lembar uang sewa..."
Monolog batin Ye Xuan terasa sangat pahit namun jernih. Dia memejamkan matanya, dan visualisasi masa lalunya muncul. Dia mengingat bau kopi basi di minimarket tempatnya bekerja siang dan malam. Dia mengingat rasa pegal di kakinya karena berdiri selama belasan jam. Dia mengingat wajah-wajah pelanggan arogan yang sering melempar uang receh ke wajahnya.
Namun, di antara semua penderitaan itu, ada satu memori yang tercetak sangat kuat di otaknya.
Sebuah televisi tabung kecil berukuran 14 inci yang selalu menyala di sudut langit-langit, tepat di atas mesin kasirnya. Berita itu disiarkan berulang-ulang, hari demi hari, merobek gendang telinganya di tengah malam yang sunyi. Berita tentang Jackpot Lotere Nasional terbesar dalam satu dekade terakhir. Ratusan juta yuan jatuh ke tangan seorang pemenang anonim yang tidak pernah mengambil hadiahnya karena dikabarkan dibunuh oleh sindikat lintah darat sebelum sempat mencairkannya.
Ye Xuan membuka matanya perlahan. Kegelapan di matanya terlihat semakin pekat. Angka-angka itu tidak akan pernah bisa ia lupakan, karena angka itulah yang selalu ia gumamkan sebagai doa kosong sebelum ia mati tertabrak malam itu.
'04... 17... 22... 38... 45... dan angka bonus 09,'
Ye Xuan melangkah masuk ke dalam ruko lotere tersebut.
Udara di dalam ruangan itu berbau asap rokok murah dan keringat. Beberapa pria paruh baya yang terlihat putus asa sedang duduk di kursi plastik, mencoret-coret kertas undian dengan harapan kosong. Di balik meja kaca berlapis jeruji besi, seorang pria gemuk botak sedang mengantuk sambil menonton televisi.
Ye Xuan berjalan mendekati meja tersebut. Dia mengeluarkan segepok uang tunai bernilai seribu yuan dari saku jaketnya dan meletakkannya di celah bawah jeruji kaca.
Sret.
Suara gesekan uang kertas itu membuat pria gemuk itu langsung membuka matanya. Melihat tumpukan uang tunai yang lumayan, pria itu langsung duduk tegak dan tersenyum ramah.
"Selamat malam, Bos Muda! Apakah anda ingin memborong nomor keberuntungan malam ini?" sapa pria gemuk itu dengan antusias.
Ye Xuan tidak membalas senyumannya. Dari balik bayangan topinya, Ye Xuan menyodorkan secarik kertas kecil yang sudah ia tulis sebelumnya.
"Aku mau beli satu kombinasi angka ini. Kalikan sisa uangnya untuk kombinasi yang sama hingga habis," ucap Ye Xuan dengan suara parau yang sengaja disamarkan.
Pria gemuk itu mengambil kertas tersebut dan mengerutkan keningnya. "Hanya satu kombinasi? Bos Muda, ini seribu yuan lhoo. Anda yakin tidak ingin mengacaknya? Probabilitasnya akan sangat..."
"Lakukan saja pekerjaanmu, atau aku akan membawa uangku ke kios lain," potong Ye Xuan dingin, aura intimidasi yang keluar dari suaranya membuat suhu di sekitar meja kaca itu seolah turun beberapa derajat.
"B-Baik, Bos! Akan segera diproses!" pria gemuk itu menelan ludah, merasa merinding tanpa alasan yang jelas. Jari-jarinya dengan cepat mengetik angka-angka tersebut ke dalam mesin cetak.
Klak... klak... klak... klak... tiiiit!
Mesin cetak tua itu mengeluarkan suara bising, memuntahkan gulungan kertas termal panjang yang berisi puluhan baris kombinasi angka yang identik. Pria gemuk itu merobeknya dan menyerahkannya kepada Ye Xuan dengan kedua tangan yang sedikit gemetar.
Ye Xuan mengambil kertas panjang itu, melipatnya dengan rapi, dan memasukkannya ke dalam saku bagian dalam jaketnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu berbalik dan berjalan keluar dari kios kusam tersebut, kembali menyatu dengan kegelapan jalanan Kota Jinghai.
Di luar, Ye Xuan mendongak menatap langit malam yang mendung. Pengundian Jackpot Nasional akan disiarkan secara langsung besok malam. Dia tahu persis bahwa angka-angka di sakunya adalah kunci pembuka gerbang kekaisaran finansialnya.
"Kemenangan hanyalah langkah pertama," batin Ye Xuan, senyum predatornya mengembang tipis. "Penyelenggara lotere di kota ini dikendalikan oleh anjing-anjing rakus. Mereka tidak akan membiarkan uang ratusan juta yuan keluar dari kantong mereka begitu saja kepada orang tanpa nama. Mereka pasti akan mencari alasan untuk menahan uangku."
Mata Ye Xuan memancarkan kilatan kejam.
"Dan saat mereka mencoba untuk menipuku... mereka akan menyadari bahwa mereka baru saja mencoba mencuri daging dari mulut seekor naga yang sedang lapar."
Langkah kakinya menggema pelan di atas trotoar, memulai hitungan mundur menuju badai finansial pertama yang akan mengguncang dunia bawah Kota Jinghai.